
Seva yang sudah mengalami penindasan sedari dulu, tentu ia memiliki banyak kenangan pahit yang tidak ingin di ingatnya kembali. Karena itulah Pria yang sekarang sudah berevolusi berkat Sistem tersebut berniat untuk tidak menjadi pria yang memiliki belas kasihan kepada musuhnya.
...***...
Sementara itu di Mansion Darkness. Terlihat Drake sedang duduk di singgasananya sambil menatap para pemimpin wilayahnya.
"Kenapa berita ini tiba-tiba muncul dan kalian tidak ada yang tahu sama sekali masalah ini?" tanya pria dengan wajah ber codet tersebut dengan suara dingin.
"Tuan, kami juga bingung, kemarin saja Ven masih melakukan transaksi ke kota Vox, dan Helen juga masih menjadi pemimpin Hercules, kami tidak melihat sama sekali gerakan aneh dan tiba-tiba kelompok Sky ini terbentuk," jawab Noah pemimpin wilayah perbatasan.
"Lantas, kalian diam begitu saja?!" suara Drake masih begitu dingin.
Para bawahannya hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepala, mereka semua tidak berani sama sekali menatap bosnya.
"Jikapun Helen tidak menjadi pemimpin lagi, aku lah yang pantas menguasai wilayahnya, sejak dulu aku membiarkan dia menguasai wilayah tersebut karena kasihan padanya! Apa kalian tahu maksudku?!" bentak Drake marah.
"Mengerti tuan!" jawab mereka serempak yang tahu kalau bosnya itu menyuruh merek untuk menguasai wilayah milik Helen.
"Lakukan secepatnya!" perintah Drake tegas.
"Baik!" jawab mereka serempak yang langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Drake menatap tajam kedepan sambil mengepalkan tangannya, ia benar-benar marah karena wilayah yang seharusnya menjadi milik mafia Darkness di kuasai oleh orang lain.
"Sayang tenanglah, aku yakin bawahan kamu pasti dapat menguasai wilayah itu dengan mudah," ucap seorang wanita sambil merangkul Drake.
Wajah Drake yang tadinya tegang langsung rileks, ia menghela napas kasar. "Siapa sebenarnya orang yang tiba-tiba menguasai Venom dan Hercules, apakah dia sekuat itu?" tanyanya lembut kepada sang wanita.
"Tidak usah dipikirkan, lebih baik kita bersenang-senang saja," goda wanita itu sambil mengecup mesra bibir Drake.
__ADS_1
Pria itu tersenyum penuh arti, ia langsung membawa wanita tersebut ke kamarnya, untuk melampiaskan kemarahannya dengan birahi.
...***...
Ditempat Seva berada, pria itu sedang berdiri di balkon kamar Helen sambil memegang segelas Wine.
Seva sedang menyaksikan pemandangan Kota Original dari lantai tiga bangunan tersebut dengan santai.
"Kapan Luci akan kemari, sayang?" tanya Helen yang sedang duduk di kursi.
"Besok, dia akan kemari bersama Arlot dan bawahannya, mungkin mulai besok aku akan sibuk, kamu yang akur dengan Luci," ucap Seva tanpa menoleh.
"Aku mengerti, mana berani aku yang nomor dua ini macam-macam dengan nomor satu, yang ada nanti priaku ini akan marah," jawab wanita itu sambil memeluk Seva dari belakang dengan manja.
Seva menghela napas. "Jujur aku tidak akan bisa selalu bersama kalian jika keinginanku belum terwujud, mungkin nanti aku akan meninggalkan kalian berdua," ucapnya tanpa ragu.
"Kenapa? Mau kamu pergi lama baru kembali pun, aku akan tetap menunggumu, ingatlah kata-kata ku," jawab Helen yakin.
Helen melepaskan pelukannya, ia beralih merangkul Seva dari depan sambil mengecup bibirnya dengan lembut lalu berbicara. "Aku memang sudah gila, dan itu karena mu," jawabnya sembari menyunggingkan senyum manis.
"Jangan menggodaku terus, kamu belum sembuh total," ucap Seva datar.
Helen menggembungkan pipinya, ternyata Seva tidak bisa di ajak romantis sama sekali, padahal ia sudah memancingnya sedemikian rupa.
Seva melepaskan rangkulan Helen, ia bersandar ke penghalang balkon sambil menatap kedepan dengan tajam. Helen mengikutinya dengan patuh.
"Aku mungkin berterima kasih kepada kalian berdua yang sudah membuka awal kehidupan baruku. Namun, aku juga tidak suka dengan wanita lemah, ingatlah kata-kata ku baik-baik Helen," ucap Pria itu dingin.
Helen menelan ludah, ia merasa kalau dirinya benar-benar belum di anggap Seva, adapun kebaikan pria itu mungkin karena hanya merasa kasihan dengannya.
__ADS_1
Wanita tersebut menyimpulkan hal itu karena dari perkataan Seva, ia seolah tidak ingin memiliki beban sama sekali.
"Apa aku boleh bertanya satu hal?" tanya Helen dengan lembut.
Seva menganggukkan kepalanya lirih. Helen menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya lalu bertanya. "Kenapa kamu ingin menjadi pemimpin Mafia di seluruh dunia? Apa tujuanmu?"
Seva menoleh ke arah Helen, terlihat wajah seriusnya ketika menatap wanita yang pernah dibuatnya tidak berdaya itu.
Helen menelan ludahnya, bulu kuduknya merinding melihat perangai Seva yang begitu menakutkan.
"Karena aku membenci orang-orang seperti kalian, dengan aku menjadi pemimpin Mafia di seluruh dunia, aku bisa melenyapkan kalian dengan sesuka hati!" jawabnya dingin.
Helen terkesiap dengan perkataan Seva, ia tertegun menatap pria itu, berharap ada yang salah dari kata-katanya, akan tetapi ekspresi wajahnya begitu serius, tidak ada secuil pun keraguan di sorot matanya.
Wanita itu tidak bisa berkata-kata lagi, jika memang niat Seva seperti itu, kenapa dia harus menjadi pemimpin Mafia? Kenapa pria itu tidak bergabung dengan kepolisian atau militer? Berbagai pertanyaan muncul di benak Helen, karena ia tidak tahu dengan cara berpikir Seva.
Seva menghela napas. "Kamu mungkin bingung kenapa aku memiliki tujuan seperti itu, tapi jika kamu serius ingin terus berada di sampingku, kelak kamu akan tahu alasannya," ucap pria itu sambil berlalu meninggalkan Helen begitu saja.
Helen masih tertegun ditempatnya, ia masih mencerna kata-kata Seva dan mencoba menebak apa yang sedang direncanakannya, akan tetapi semua itu sia-sia, wanita itu tidak tahu sama sekali dengan pikiran pria itu.
...***...
Sementara itu di Mansion Ven, Luci sudah uring-uringan karena Seva tidak kunjung pulang juga.
"Arlot, pokoknya aku mau kesana sekarang juga!" seru Luci dengan wajah cemberut.
"Nona Luci, kita akan pergi ke sana besok, menunggu bawahanku berkumpul dulu," jawab Arlot tidak berdaya.
"Tidak pokoknya aku mau sekarang!" bentak wanita itu.
__ADS_1
Arlot dibuat bingung oleh wanita tuannya itu, jika ia datang ke sana mengantar Luci, takutnya Seva akan marah dengannya. Namun, jika terus seperti itu, ia yang terus-menerus dimaki Luci.
Pria itu merasa hidupnya jadi aneh setelah mendapatkan tuan baru, walaupun sekarang lebih enak karena tidak mendapatkan tugas berat oleh tuannya. Namun, pekerjaan menangani wanita nyatanya lebih berat dari tugas bertransaksi barang ilegal.