
Saat namanya di panggil Feng Lias maju ke depan di atas panggung, sehingga wajahnya terlihat seluruh murid melihatnya.
Wakil akademi mengambil sebuah kotak kayu lalu menyerahkan kepada Feng Lias.
"Terima kasih wakil sekte," ucap Feng Lias menerimanya sambil menundukkan kepala memberi hormat.
"Aku tidak pernah melihat ada sebuah lencana bisa berwarna biru, kamu benar-benar sudah mengukir sejarah," ucap Wakil sekte bangga.
"Terima kasih wakil sekte, saya undur diri," ucap Feng Lias.
"Sama-sama," angguk wakil sekte. Feng Lias pun kembali turun dari panggung di sambut oleh ke tiga temannya dan Hyundai dan Shu Hey Sato.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Hyundai kepada Shu Hey Sato.
"Aku hanya ingin melihat keberhasilan Feng Lias, tidak menyangka murid ini sudah mengukir sejarah, padahal Joong Hoon sudah lama berada di peringkat pertama, hari ini malah tergeser kan oleh murid baru," ucap Shu Hey Sato.
"Tentu saja, murid ku ini luar biasa, aku tidak akan mengantikan dia dengan apa pun," ucap Hyundai.
"Kamu benar, murid berharga adalah harta yang berharga," ucap Shu Hey Sato.
"Sini ku bantu bawakan," ucap Song Chen mengambil kotak kayu tersebut dari tangan Feng Lias dan membawakannya.
"Apa malam ini kita akan merayakan lagi?" tanya Shu Hei Sato.
__ADS_1
"Dasar peminum berat, kamu saja yang merayakannya, murid ku ingin beristirahat untuk latihan besok," ucap Hyundai.
"Baiklah, aku akan merayakan dengan murid-murid ku saja," ucap Shu Hey Sato.
"Murid sebanyak itu, siap-siap saja kau bangkrut," ucap Hyundai.
"Kalian pergilah beristirahat," ujar Hyundai kepada murid-muridnya.
"Baik guru," angguk mereka.
"Tapi untuk Feng Lias, kamu ikut aku sebentar kekediaman ku," ucap Hyundai.
"Baik guru," angguk Feng Lias.
"Berat sekali kotak ini, apa isinya?" tanya Song Chen.
"Sebaiknya kita buka Tungga Feng Lias datang, karena ini adalah pemilik kotak ini," saran Shi Ling.
"Kamu benar, jangan berharap untuk mengambilnya, tunggu dia memberikan kepada kita baru di ambil, ucap Song Chen.
"Aku tidak pernah melihat Feng Lias pelit, dia selalu baik dengan kita," ucap Jin Chan.
"Iya, mungkin karena kebaikannya dia menjadi banyak harta," angguk Song Chen membenarkan.
__ADS_1
"Ayo masuk dan tutup pintunya," ujar Hyundai. Feng Lias pun menutup pintu.
Mereka pun duduk saling berhadapan, di atas meja ada satu teko teh hijau dan 2 gelas keramik kecil. Hyundai menuangkan teh tersebut lalu menyodorkan kepada Feng Lias.
"Minumlah," ucap Hyundai.
"Terima kasih guru, tapi… guru memanggilku ke sini pasti ada yang ingin di bicarakan," tebak Feng Lias.
"Kamu benar, waktu di akademi aku melihat kau mengunakan pedang, apa itu pedang pusaka kuno?" tanya Hyundai.
"Benar, apa guru tahu sesuatu?" tanya Feng Lias.
"Apa kamu adalah penguasa raja di antara raja?" tanya Hyundai lagi.
"Ha? Apa seperti itu? Aku tidak merasakannya," ucap Feng Lias.
"Saat ini apa kamu tahu seluruh kerajaan di dunia ini sedang mencari penguasa raja itu? Mereka akan membawa penguasa itu untuk berdiam di kerajaannya, apa bila ada sang penguasa itu makan kerajaannya akan berjaya dan apa bila penguasa itu tidak berpihak kepada siapa pun dan membuat kerajaan sendiri, maka hanya kerajaannya saja yang terbesar dan di takuti, karena kamu punya pedang pusaka kuno itu lebih baik jangan kamu gunakan di sekte ini," pesan Hyundai.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih atas
__ADS_1