System Super Kultivasi 2

System Super Kultivasi 2
BAB 93


__ADS_3

"Begitu ya, ya sudah kita akan cari jalan keluarnya sama-sama, lagian siapa tau kita bisa dapat harta kuno," ucap Feng Lias.


"Ha-ha-ha, katakan selamat tinggal, kalian akan bertemu dengan hewan tahap lll kekosongan, namun sekarang aku tebak hewan itu pasti sudah naik ke tahap selanjutnya, rasakan itu," ujar Joong Hoon tertawa. Ia pun pergi meninggalkan lubang tersebut.


"Ini sangat gelap, aku akan menyalakan api," ucap Feng Lias.


JURUS PERCIKAN API


Duuuaaaaaarrrrr!!


Feng Lias memeluk Xier Shu untuk melindunginya dari percikan jurus apinya.


Feng Lias membuat obor dari sisa tumbuhan di lubang itu, meskipun tidak bertahan lama dan ia harus membuatnya beberapa.


"Siapa dia? Punya dendam apa dia denganku?" tanya Feng Lias.


"Mungkin dia iri dengan pencapaian mu," jawab Xier Shu.


"Menjadi orang kuat malah banyak yang iri, menjadi orang lemah malah di tindas," ucap Feng Lias sambil menyusuri lorong.


"Karena sifat manusia pada dasarnya tamak dan serakah, ia tidak ada orang lain yang lebih darinya, tergantung setiap hati manusianya untuk berubah," jawab Xier Shu.


"Kamu benar," jawab Feng Lias. Mereka terus menyusuri lorong, namun tiba-tiba terdengar suara Auman yang samar-samar.


"Suara apa itu?" tanya Xier Shu.


Mereka kembali mendengarnya dengan jelas, suara itu semakin lama semakin dekat.


"Itu suara hewan, tapi tidak tahu itu level berapa," jawab Feng Lias.


"Hewan itu ada di dalam lubang seperti ini jangan-jangan sedang berhibernasi," tebak Feng Lias.


Mereka terus berjalan karena sudah terlanjur penasaran suara hewan apalah itu.


Dari kejauhan terlihat cahaya remang-remang yang menerangi sebuah sarang yang sangat besar.


"Hewan apa itu?" tanya Feng Lias dan mereka mendekat.


"Hey manusia! Lebih baik kalian keluar," ujar suara itu menyadari keberadaan Feng Lias dan Xier Shu.


"Hm… itu, maaf, kami tidak tahu jika di sini ada yang menghuninya, kami masuk ke sini bukan sengaja, tapi kami di jebak oleh seseorang," ucap Feng Lias menjelaskan agar tidak ada perkelahian.

__ADS_1


"Alasan apa pun itu kalian jangan mendekat dan cepat keluar!" sergah suara itu.


"Tapi… kami tidak tahu jalan keluarnya," jawab Feng Lias binggung.


"Cari sendiri!" bentak suara itu.


"Biar aku yang melawannya," ucap Xier Shu tapi Feng Lias langsung menahan tangan Xier Shu.


"Jangan, kita yang salah sudah masuk ke dalam tempatnya, ayo kita pergi," ajak Feng Lias.


"Tapi ini bukan salah kita," ucap Xier Shu.


"Iya tetap saja, jika seseorang masuk ke rumahmu tanpa seizin mu, dengan alasan apa pun kau pasti tetap marah, begitu juga dengannya," ucap Feng Lias menjelaskan.


"Kalian… cepat… pergi!" teriak Suara itu tiba-tiba saja tubuh tinggi itu tegak di hadapan Feng Lias dan Xier Shu.


"Ini bukanya ular langit merah?" tanya Xier Shu.


"Apa kalian tidak ingin pergi?" tanya Ular langit merah itu menetap tajam Feng Lias dan Xier Shu.


Dari sarang terdengar suara desisan anak-anak ular langit merah. Ular itu melihat ke arah anaknya dan mengangguk.


"Ini bukan salahku, kalian sendiri yang datang dan anak-anak ku menginginkan kalian sebagai santapannya, jadi bersiaplah kalian untuk menjadi makanan anak-anak ku," ucap ular langit merah itu.


Feng menghalangi Xier Shu untuk melindunginya.


Ular langit merah itu langsung menyerang Feng Lias dan ia pun segera menghindar, karena Medan yang terlalu sempit, Feng Lias terpaksa harus menahan mulut ular langit merah itu saat ingin menyerangnya.


JURUS LEDAKAN API


Duuuaaaaaarrrrr!!


Jurus itu masuk ke dalam tubuh ular langit merah, seketika ular itu menjerit kesakitan dan ia meliuk-liukkan tubuhnya.


"Apa sudah selesai?" tanya Feng Lias.


Ular itu kembali menegakkan kepalanya dengan mata memerah.


"Eh itu ternyata tidak berpengaruh dengannya," ucap Feng Lias heran.


"Tentu saja, karena aku adalah ular langit merah, kau hanya manusia tidak akan bisa mengalahkan ku," ucap Ular langit merah.

__ADS_1


"Hey! Naga nakal cepat kau keluar, ini adalah sejenis denganmu, mungkin kau masih lapar," ujar Feng Lias.


Seketika naga emas keluar dari cincin penyimpanan Feng Lias.


"Apa kau tidak bisa mencari tempat yang lebih besar sedikit, ini sangat sempit dengan seukuran ku," ucap Naga emas menatap Feng Lias sayup.


"Kau… kau naga emas legendaris?" tanya Ular langit merah.


"Iya, kau mengenalku?" tanya Naga emas.


"Naga… naga emas, bukannya kau… tidak pernah hidup bersama manusia? Kenapa kau ada bersama manusia?" tanya ular langit merah itu.


"Jangan bertanya lagi, itu sangat memalukan," ucap naga emas melipat kaki atasnya (Bayangi saja cara ia melipat kakinya Ha-ha-ha) sambil memanyunkan mulutnya.


"Ha-ha-ha, tidak menyangka naga hebat yang di takuti oleh seluruh hewan mana pun kini malah menjadi pembantu seorang manusia," ejek ular langit merah itu.


"Kau jangan mengejekku, kau sendiri hidup melata sendirian, meskipun ini memalukan setidaknya dia penguasa dunia, dari pada aku harus di tangkap secara paksa, setidaknya aku mengikutinya dengan ikhlas. Kau sendiri? Hati-hati sajalah, saat ini kau tidak bertuan dan semua orang juga mengincar mu, dan saat itulah kau akan menjadi tawanan mereka Ha-ha-ha," ucap Naga emas tertawa.


"Apa? Dia Penguasa dunia? Kenapa terlihat lemah?" tanya Ular itu tidak yakin sambil memicingkan matanya melihat ke Raha Feng Lias.


Naga emas mendekati ular langit merah dan berbisik. "Lebih baik kau ikut saja dengannya, ya meskipun dia tidak terlalu baik dan mulutnya cerewet, setidaknya dia termasuk orang baik juga, tidak memaksa keinginan seperti orang lain, dia penguasa dunia, ingat itu," ucap Naga emas sambil menyenggol ular langit merah mengajaknya bergabung.


"He-he-he, setidaknya ada teman di jadikan korban yang ikut di cerewetin Feng Lias," ujar Naga emas dalam hati sambil tertawa.


"Hm… baiklah jika begitu, setidaknya itu tidak merugikan jika mengikutinya dari pada aku nanti di tangkap oleh orang-orang yang kejam," angguk Ular langit merah setuju.


"Maafkan aku aku tidak mengenalmu penguasa dunia, aku akan bersedia mengikuti mu," ucap Ular langit merah itu menundukkan kepala.


Feng Lias melihat ke arah Naga emas curiga. "He-he-he," naga emas menyengir.


"Baiklah, aku terima kamu, tapi kamu jangan menyusahkan seperti naga nakal ini," ucap Feng Lias.


"Heh! bilang aku nakal," ucap Naga emas manyun.


"Baik Tuan," angguk Ular langit merah.


"Tunggu dulu! Kau harus bersumpah darah dulu denganku," ucap Feng Lias.


"Bersumpah darah? Bagaimana melakukannya?" tanya ular langit merah itu binggung.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2