
Nyanyian lagu love is gone dengan diringi petikan gitar terdengar di coffee shop milik Ezra. Dan suara tersebut terdengar sangat familiar.
"Btw, ngapain Arion ngajak kita kesini? bukannya tiap pulang kerja seharusnya dia pergi ke kantor papanya?" Tanya Brady pada Felix.
Tadi sepulang kuliah Arion mengajak mereka berdua nongkrong disini, sedangkan Dafa ada kesibukan membuat tugas sehingga dia tidak bisa ikut.
"Aku juga gak tahu, tapi kayaknya dia lagi ada masalah" Jawab Felix sambil menyeruput kopi latte yang dia pesan.
"Dia gak cerita sama kamu?"
Felix pun hanya menggelengkan kepala, lalu mereka berdua memperhatikan Arion yang sedang menghayati nyanyiannya.
Setelah selesai menyanyikan satu lagu, Arion pun menaruh gitar pada stand gitar yang terletak di pojok panggung.
Kemudian Arion pun bergabung dengan kedua sahabatnya.
"Rion,,bukannya kamu harus pergi ke kantor Papamu? kok malah ngajak kita maen kesini?" Tanya Brady sambil menatap sahabatnya.
Arion pun meminum kopinya terlebih dahulu sebelum menjawab.
"Aku lagi males, kayaknya aku gak bakalan mau ngebantu Papa lagi" Ucap Arion datar.
"Memangnya ada masalah apa lagi?" Tanya Felix penasaran.
"Papa dan Kakekku menjodohkanku dengan Shire, semalam dia dan kedua orangtuanya berkunjung ke rumahku"
"Whatt,,,?" Pekik Felix.
Pletakk,,,
Brady menjitak kepala sahabatnya itu, karena telinganya berdenging gara-gara teriakan Felix yang duduk disebelahnya.
"Gak usah teriak juga kali" Kata Brady sambil melotot.
Felix pun hanya nyengir sambil mengelus kepalanya.
"Jadi rencana itu masih berlanjut? terus apa yang akan kamu lakukan untuk menolak perjodohan itu? atau kamu mau meninggalkan Elmira?" Tanya Brady bertubi-tubi.
"Ya gaklah, aku udah janji sama Elmira bahwa apapun yang akan terjadi aku tetap memilih dia" Tampak Arion begitu yakin kalau dia akan terus mempertahankan perasaannya untuk Elmira.
"Aku setuju Rion, aku dukung pendirianmu itu" Kata Felix.
Dan Brady pun manggut-manggut.
****
Dafa baru saja selesai mengerjakan tugasnya di perpustakaan kampus bersama beberapa teman sekelasnya, saat dia mau keluar dirinya dihadang oleh Fani.
"Dafa,," Seru Fani.
"Apaan sih? minggir gak, aku mau lewat" Kata Dafa dengan ketus.
"Aku mau bicara sebentar sama kamu"
Dafa pun menghembuskan napas kasar, dan terlihat dia sangat jengkel.
"Daf,, kita duluan ya" Ujar temannya yang lain sambil berlalu pergi.
"Oke,," Sahut Dafa sambil mengancungkan jempolnya.
Kemudian dia menatap Fani dengan raut wajah datar.
"Mau ngomong apa? cepetan! aku gak punya banyak waktu" Ujar Dafa.
__ADS_1
"Em,,bisa gak kita ngobrolnya jangan disini, soalnya,,,,,"
"Disini atau tidak sama sekali" Potong Dafa.
"Baiklah, aku cuma mau bilang" Fani tampak menghela napas pelan "Tolong jangan jauhi aku, dan,,,, aku suka sama kamu Daf" Lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.
Fani merasa jika jantungnya saat ini berdetak dengan kencang, dia benar-benar mengagumi sosok Dafa yang dianggapnya sebagai pria yang baik.
Dafa tidak kaget lagi saat gadis dihadapannya itu menyatakan perasaannya.
"Bukannya aku sudah pernah bilang kalau aku gak suka sama kamu" Ucap Dafa.
"Aku akan berusaha untuk berubah menjadi orang yang lebih baik Daf, ya, aku akan melakukan itu demi kamu, jadi berikan aku kesempatan ya?" Ucap Fani dengan wajah memohon.
Dafa mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Fani, dalam hatinya dia bertanya-tanya, kenapa semua orang yang ada di dekat Shire sangat suka memaksakan kehendaknya?.
"Denger ya Fan, aku gak bisa terima kamu. Apalagi niat kamu berubah hanya demi aku, dan aku yakin perubahan diri seperti itu tidaklah tulus, dan biasanya berakhir dengan tidak baik. Jika kamu ingin merubah sikap dan sifatmu, berubahlah demi dirimu sendiri. Lagipula ini masalah perasaan Fan, kamu pasti tahu perasaan itu tidak bisa dipaksakan" Dafa mencoba menasehati Fani "Udahlah, jangan buang-buang waktumu untuk mengejarku Fan, lebih baik kamu fokus belajar agar cepat wisuda" Lanjutnya.
Tanpa menunggu jawaban, Dafa berlalu pergi meninggalkan Fani seorang diri yang terlihat masih mencerna kata-kata yang barusan keluar dari bibir pria yang dicintainya.
Dafa melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore, lalu dia pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.
****
Arion sampai di mansion sekitar pukul delapan malam, karena sehabis dari coffee shop dirinya mampir ke toko musik untuk membeli gitar.
Seorang pelayan membukakan pintu untuk dirinya, lalu Arion pun melangkah masuk kedalam mansion.
Saat dirinya hendak menapaki anak tangga untuk menuju lantai dua, tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar dari arah belakang.
"ARIONN,,,"
Sesaat Arion memejamkan matanya sebelum menoleh kearah sumber suara.
"Kamu masih bertanya ada apa, hah? kemana kamu sepulang kuliah? kenapa tidak datang ke kantor? Papa telfon juga gak kamu angkat" Roger terlihat sangat marah, matanya berkilat menatap kearah putranya.
Tapi bukannya takut, Arion malah menyunggingkan senyum sinis kearah Papanya.
"Aku lagi males Pa, dan sepulang kuliah aku pergi ke toko musik untuk lihat-lihat gitar. Dan satu lagi, aku memang sengaja silent ponselku, karena terlalu berisik" Jawab Arion dengan wajah menantang.
Roger pun mengepalkan tangannya karena merasa diremehkan oleh putranya sendiri.
"Mulai berani kamu mengabaikan Papa,hah? udah ngerasa hebat kamu?" Bentak Roger.
Arion mendengus kesal.
"Aku hanya belajar dari Papa, Papa sendiri yang duluan mengabaikan perasaan dan keinginanku, jadi jangan salahkan aku jika aku meniru apa yang sudah Papa lakukan sama aku"Jawab Arion dengan nada tajam.
Dengan wajah bergetar Roger mendekati putranya.
Plakkk,,,plakkk,,,,,
Saking marahnya Roger sampai menampar pipi Arion sebanyak dua kali.
Dan Arion pun kembali menyunggingkan senyum sinis kearah Papanya sambil mengusap pipinya.
"Ringan sekali ya tangan anda? tapi ingat satu hal, jangan salahkan aku jika suatu hari nanti pukulanku yang akan mendarat dirahang Anda sendiri. Karena apa? karena aku hanya meniru sikapmu" Ujar Arion tajam, lalu dengan sikap yang dingin dia berlalu pergi menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Mungkin mulai saat ini dirinya akan benar-benar memberontak pada Papanya, dia tidak peduli dengan akibat yang akan di dapatnya nanti.
"Semakin hari sikapnya semakin kurang ajar" Umpat Roger sambil mengepalkan tangannya.
****
__ADS_1
Sedangkan di cafe Twist Elmira tengah membersihkan meja yang baru ditinggal oleh pelanggan. Malam ini pengunjung cafe tidak terlalu ramai, sehingga gadis tersebut bisa sedikit bersantai sambil membaca buku.
Tapi baru beberapa lembar dia membacanya pikirannya sudah tertuju pada Arion, dia teringat percakapannya dengan sang kekasih tadi siang sewaktu di kampus.
"El, papa sama kakekku ngotot mau menjodohkanku dengan Shire, bahkan semalam dia datang kerumahku bersama keluarganya" Arion mengatakan dengan jujur, dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Elmira.
Raut wajah Elmira berubah, hatinya berdenyut sakit mendengar perkataan Arion.
"Terus?"
"Ya aku tetep nolak El, aku gak mau dijodohin kayak gitu. Seperti yang aku pernah bilang, apapun yang terjadi, aku akan tetap memilih kamu"
"Apa orangtuamu sudah tahu tentang hubungan kita?
"Belum El, nanti aku akan mengatakannya diwaktu yang tepat"
Elmira pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu baca buku apa melamun?"
"Eh,, apa?" Elmira tampak kaget saat tiba-tiba Kenzi sudah duduk dihadapannya.
"Tuhkan bener, kamu ngelamun dari tadi, mikirin apaan sih?" Tanya Kenzi kepo.
"Gak kok Kak, aku gak mikirin apa-apa" Jawab Elmira sambil nyengir.
Kenzi tahu jika partner kerjanya itu menyembunyikan sesuatu, tapi dia tidak mau mendesaknya.
"Pacarmu gak kesini?" Akhirnya Kenzi menanyakan hal yang lain.
"Gak Kak, dia lagi sibuk" Jawab Elmira.
Lalu mereka pun terdiam.
Akhirnya jam pun menunjukkan pukul sepuluh malam, Elmira dan Kenzi pun menutup cafe.
Saat mau pulang sebuah taxi sudah menunggu di depan cafe, taxi tersebut memang khusus datang untuk menjemput Elmira atas perintah dari Arion.
Arion yang tahu jika kekasihnya selalu pulang malam, akhirnya berinisiatif menyewakan taxi dan bayar sewanya setiap satu minggu sekali.
Elmira kini sudah berada didalam taxi, sepanjang jalan dia memikirkan hubungannya dengan Arion kedepannya.
Sebenarnya dia sudah menduga jika hubungannya dengan Arion pasti banyak menemui rintangan, tapi perasaan cintanya jauh lebih besar dibandingkan rasa khawatirnya.
Sehingga Elmira lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya dibandingkan menerima kenyataan yang ada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE,,,
Terimakasih sudah mampir 🙏
Jangan lupa :
\=》Like
\=》Comment
\=》Favorit
\=》Vote
\=》Gift
__ADS_1
🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹