
Hal buruk kembali menimpa Roger di tengah-tengah kekacauannya yang terjadi di AXA Group.
Gibson yang menjalani perawatan di rumah sakit Alteza dinyatakan meninggal dunia, sepertinya pria tersebut terlalu syok sehingga kesehatannya terus menurun dan pada akhirnya dia menyerah dan menerima takdir kematiannya.
Karena hal tersebut mau tidak mau akhirnya Arion harus pulang ke mansion untuk ikut acara pemakaman sang kakek.
Sore harinya ketika acara pemakaman telah selesai Arion pun berniat untuk kembali ke tempat temannya yaitu Ezra. Tapi saat Arion akan naik ke lantai dua menuju kamarnya tanpa di duga dia berpapasan dengan Elmira.
"A–rion,,," ucap Elmira, terlihat gadis tersebut ragu-ragu untuk menyapa saudaranya tersebut.
"Oh,,, El, gimana kabar kamu?," tanya Arion yang juga tampak terkejut.
Dia menatap Elmira yang kini sudah bisa berjalan dengan menggunakan bantuan tongkat, dan sepertinya sebentar lagi kondisi kakinya akan kembali seperti semula.
Ada binar kerinduan didalam mata mereka masing-masing dan terlihat mereka ingin saling memeluk satu sama lain, tapi mereka berusaha untuk tidak melakukan hal tersebut.
"Kabar aku baik-baik aja, kamu sendiri gimana?," tanya Elmira.
Arion menganggukkan kepalanya, " Kabarku juga baik El, kamu cepat sembuh ya," ucapnya.
"Iya Rion, aku sudah tidak sabar pengen cepet-cepet kembali kuliah," kata Elmira sambil tersenyum tipis.
"Iya El, makanya cepet sembuh," balas Arion " Ya udah aku duluan mau ke kamar." Arion hendak melangkah pergi namun urung kala mendengar pertanyaan Elmira.
"Kamu mau pergi lagi? jika kehadiranku menganggumu biarkan aku saja yang pergi dari sini," ucap Elmira dengan lirih.
"Hei,,, jangan berkata seperti itu, kamu sangat berhak untuk tinggal di sini. Sekalipun aku pergi dari sini itu karena aku ingin hidup mandiri di luar sana, kamu juga berhak untuk mewarisi semua kekayaan yang dimiliki oleh papa El, jadi tetaplah disini," ucap Arion dengan nada meyakinkan, lalu dia melangkah pergi meninggalkan Elmira yang hanya bisa terdiam.
Elmira masih terpaku di tempatnya sampai kemudian lewatlah Roger yang hendak menuju lantai dua.
Pria itu tampak acuh tak acuh dengan kehadiran Elmira, dia merasa jika kehadiran gadis tersebut memang membawa kesialan di dalam hidupnya.
Gadis itupun tidak berucap apapun, selama dia tinggal di mansion sekalipun dirinya belum pernah bicara dengan pria yang menjadi ayahnya tersebut.
Lalu dengan menghela napas pelan Elmira berjalan menuju kamar dengan bantuan tongkat.
*
Roger mengetuk pintu kamar putranya dan tanpa menunggu jawaban dia langsung membuka pintu yang tidak terkunci.
__ADS_1
Arion yang sedang mengemas pakaian menatap sinis kearah pria yang baru datang.
"Mau kemana kamu?," tanya Roger sambil mendekat.
"Bukan urusan Anda," jawab Arion yang tampak enggan memanggil Roger dengan sebutan papa.
"Kenapa kamu mengungkapkan ke publik bahwa Elmira itu adalah saudaramu? apa kamu tidak tahu apa akibat dari perbuatanmu itu?," tanya Roger to the point, dia mengabaikan sikap Arion yang tampak tidak bersahabat.
Mendengar pertanyaan Roger yang sepertinya tidak mempunyai rasa bersalah sedikit pun pada saudara kembarnya, membuat Arion menghentikan aktivitasnya dan berbalik menatap tajam ke arah Papanya.
"Apa kamu tidak tahu? akibat dari ulahmu itu perusahaan kita mengalami kerugian hingga milyaran rupiah, apa kamu ingin membuat perusahaan kita bangkrut, hah?," sentak Roger tanpa mempedulikan ekspresi putranya yang sudah mati-matian menahan amarah.
"Apa hanya itu yang ada di pikiran Anda? tidakkah Anda merasa bersalah pada Elmira? pada putri yang telah Anda abaikan bertahun-tahun," cerca Arion terlihat begitu marah terhadap Roger.
Sejenak pria paruh baya itu terdiam sambil menatap Arion dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sampai kapan pun anak Papa cuma kamu Arion, ingat itu!," balas Roger dengan tegas, lalu tanpa menunggu jawaban dari Arion dia berlalu pergi dari kamar anaknya.
Telinga Roger masih sempat mendengar suara gelas di banting dari arah kamar Arion, namun dia acuh tak acuh dengan hal tersebut dan hatinya masih tetap tidak mau mengakui Elmira sebagai putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tapi sayangnya sejauh ini Roger masih tetap tidak mau menerima kehadiran Elmira, dia tetap memasang wajah sinisnya pada gadis tersebut.
Apalagi setelah Arion pergi lagi dari mansion, Roger menganggap itu semua juga gara-gara kehadiran gadis tersebut.
Sedangkan Hart memilih untuk kembali ke rumahnya yang ada di desa, walau dia merasa berat untuk meninggalkan Elmira yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri. Tapi karena dia tidak mau lagi ikut campur urusan keluarga konglomerat tersebut, akhirnya dia memilih untuk kembali ke desa dan berpesan pada Elmira bahwa gadis itu boleh datang kapanpun untuk menemui dirinya.
Lain pula yang terjadi dengan Tari, sejak kejadian tersebut dia tidak peduli lagi dengan suaminya. Apalagi setelah ayah mertuanya meninggal, dia pun semakin berani mengutarakan pendapatnya pada Roger tanpa takut mendapat teguran seperti sebelumnya.
Seperti malam ini, saat mereka berdua di dalam kamar Tari kembali mengingatkan suaminya bahwa Elmira adalah putrinya, dan sudah seharusnya pria tersebut bersikap layaknya seorang ayah dan bukan malah bersikap cuek dan sinis.
"Sudah berapakali aku bilang, aku tidak mau mengakui dia sebagai putriku. Aku hanya punya seorang putra yaitu Arion," ucap Roger dengan tegas.
"Bagaimanapun kau membantahnya, dia tetap darah dagingmu, dia putrimu yang terlahir dari rahimku," balas Tari tak mau kalah.
"Terserah, jika kamu menganggap dia adalah putrimu, silahkan. Tapi jangan menyuruhku untuk melakukan hal yang sama dengan dirimu, karena bagiku dia hanyalah pembawa sial."
Setelah berkata seperti itu Roger berjalan keluar, dia mengurungkan niatnya untuk tidur sekamar dengan istrinya dan lebih memilih untuk tidur di ruang kerjanya.
__ADS_1
Melihat hal tersebut Tari hanya bisa menghela napas kasar.
"Dasar pria keras kepala," gumam Tari sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Wanita itu pun tidak menyadari jika pertengkaran singkat tersebut di dengar oleh Elmira yang hendak menemui dirinya, namun langkah gadis tersebut terhenti saat mendengar papa dan mamanya bertengkar. Lalu dia bergegas pergi saat menyadari jika papanya hendak keluar dari dalam kamar.
*
Elmira duduk di atas kasurnya dengan berurai air mata, telinganya dengan jelas mendengar perkataan papanya yang mengatakan bahwa dirinya adalah pembawa sial.
"Hiks–hiks–hiks ,,,"
Hanya terdengar isak tangis didalam kamar tersebut, sesekali Elmira memukul pelan dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa? kenapa papa begitu membenciku? benarkah aku anak pembawa sial?," gumam Elmira di sela isak tangisnya.
"Tuhan,,, apa salahku? kenapa takdir hidupku seperti ini?."
Elmira memeluk kedua lututnya sambil bersandar di tempat tidurnya, air matanya pun masih mengalir di kedua pipinya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa begitu lelah, lelah dengan kenyataan pahit yang terus menerus menimpa dirinya.
Sampai kemudian tanpa sadar dirinya tertidur dengan posisi bersandar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE,,,
Terimakasih sudah mampir 🙏
Jangan lupa :
\=》Like
\=》Comment
\=》Favorit
\=》Vote
\=》Gift
__ADS_1
🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹