
Kini Arion lebih sering membantah perintah Papanya, apalagi dirinya terus-terusan di desak agar mau menerima perjodohannya dengan Shire. Hal tersebut benar-benar membuat Arion bertambah muak.
Arion dan ketiga sahabatnya termasuk Elmira sedang nongkrong di kantin, mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Gak terasa bentar lagi kita udah ujian tengah semester ya, padahal baru kemarin rasanya jadi mahasiswa baru disini" Ujar Dafa.
"Ho'oh,, tinggal dua minggu lagi, tapi denger-denger habis itu ada acara pemilihan putra dan putri kampus ya?" Ucap Brady sambil menatap sahabatnya satu persatu.
"Katanya sih gitu, dan itu memang acara wajib tiap tahun" Felix ikut berkomentar.
Sedangkan Arion dan Elmira lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik.
"Kalian bertiga ada yang berminat gak? atau mungkin kamu El, siapa tahu berminat jadi putri kampus" Kata Dafa sambil menoleh kearah Elmira.
Tapi gadis tersebut dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku gak berminat Daf " Jawabnya.
"Kamu gimana Rion? mau daftar gak?" Dafa mengalihkan pertanyaannya ke Arion.
"Ck, males banget aku ikutan kayak gitu"
Lalu tanpa canggung Arion meminum jus alpukat milik kekasihnya, padahal sedotannya bekas bibir Elmira namun sepertinya dia tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Tidak lama kemudian Dafa pun beranjak pergi karena jam kuliahnya mau dimulai.
Kini tinggal mereka berempat disana.
"Arionn,,,,"
Terdengar seruan memanggil Arion, pria itu pun menghela napas kasar saat menyadari siapa yang datang.
Elmira pun hanya bisa terdiam saat melihat Shire menghampiri kekasihnya bersama dengan Anggia.
"Rionn,,,nanti pulang bareng aku ya? aku pengen sekalian mampir ke rumah kamu" Ucap Shire seperti sengaja memprovokasi Elmira yang duduk disebelah Arion.
"Gak bisa" Tolak Arion mentah-mentah.
"Kok kamu gitu sih Rion? kan Papa kamu sendiri yang nyuruh kamu buat antar jemput aku" Ujar Shire mengingatkan.
Arion yang memang tidak ingin berurusan dengan Shire langsung berdiri sambil memegang tangan kekasihnya.
"Ya udah, kalau gitu suruh Papa aku jemput kamu"Ucap Arion sambil tersenyum sinis " Yuk El, kita pergi aja dari sini." Lanjutnya.
Elmira pun mengangguk patuh sambil mengikuti langkah Arion.
Melihat hal tersebut Felix dan Brady pun ikut-ikutan pergi.
"Ckck,,,ternyata kayak gini ya tampang cewek yang gak punya malu." Ujar Brady sebelum melangkah pergi.
"Heh, maksud kamu apaan?"Shire tidak terima dengan perkataan Brady.
"Selain gak punya malu kamu ternyata bodoh juga ya." Setelah berkata seperti itu Brady langsung pergi sambil merangkul bahu Felix.
Shire pun menghentakkan kakinya karena kesal, setelah itu dia pergi dari kantin dengan wajah masam.
"Awas aja kamu Rion" Gumam Shire yang masih bisa di dengar oleh Anggia.
"Sebaiknya kamu bilang aja sama Papanya Re, siapa tahu Papanya Arion bisa memisahkan Arion dengan gembel itu." Anggia mencoba memberi saran.
"Memang ada sih niatku untuk melaporkannya, tapi aku nyari waktu yang tepat" Kata Shire sambil terus melangkah menuju gedung fakultasnya.
Dan Anggia pun tidak merespon lagi perkataan temannya.
***
Roger tengah mempersiapkan pembukaan pusat perbelanjaan dan juga wahana bermain yang hampir selesai dikerjakan, tinggal lima persen lagi maka selesailah proyek tersebut.
Saat ini Roger sedang meninjau proyek yang hampir rampung tersebut, dan dia cukup puas dengan hasilnya.
Saat sedang berkeliling bersama mandor, tiba-tiba Ervin mendekat sambil membawa ponsel.
__ADS_1
"Maaf Tuan, ada telfon dari istri Tuan" Ucap Ervin sambil menyerahkan ponsel tersebut.
Dengan alis tertekuk dia menerima panggilan tersebut.
"Ada apa?" Tanya Roger to the point.
"Pa, cepat kesini, Ayah masuk rumah sakit Pa" Jawab Tari dari seberang telpon terdengar panik.
"APAAA,,?? baiklah aku akan segera kesana"
Bergegas Roger menyerahkan ponsel pada asistennya " Vin, kita ke rumah sakit Alteza sekarang, cepatt,,!" Pria tersebut terlihat sangat panik.
Tanpa banyak tanya Ervin segera berlari menuju mobil disusul oleh Roger.
Sesaat kemudian mobil pun meluncur menuju rumah sakit.
****
Tari tengah berdiri dengan gelisah di depan ruang pemeriksaan, sesekali dia menoleh ke lorong koridor berharap suaminya segera datang.
Sekarang Tari hanya bertiga, yaitu bersama pelayan yang khusus merawat Ayah mertuanya dan juga sopir yaitu Pak Tio.
Tidak lama kemudian Roger pun datang tergesa-gesa dengan diringi oleh asistennya.
"Papa dimana?" Tanyanya sambil menatap tajam istrinya.
"Lagi didalam, diperiksa sama dokter Pah" Jawab Tari.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya lagi.
Lalu Tari pun menceritakan kronologinya.
"Tadi aku lagi dikamar, tiba-tiba aku mendengar teriakan Lusi minta tolong,,,,"
"Lusi, ceritakan apa yang terjadi?" Roger memotong begitu saja perkataan istrinya, dan kini beralih menatap pelayannya.
Lusi yang ditanya secara mendadak tampak terkejut.
"Ngomong yang jelas!" Bentak Roger dengan tatapan nyalang.
Lusi pun bertambah ketakutan, tapi bagaimanapun juga dia harus menceritakannya pada Roger.
Sedangkan Tari langsung terdiam, saat suaminya lebih memilih untuk mendengarkan keterangan pelayannya daripada dirinya.
"Begini Tuan, tadi saya meninggalkan Tuan Besar dihalaman belakang, lalu saya tinggal masuk kedalam karena Tuan Besar ingin makan buah-buahan. Lalu ketika saya kembali ternyata Tuan Besar sudah tersungkur dari atas kursi roda sambil memegangi dadanya." Kata Lusi mengakhiri ceritanya.
Saat Roger hendak berkata, Dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan.
Dokter tersebut menyapa Roger dengan ramah, itu karena Dokter Eric merupakan Dokter pribadi keluarga Roger.
"Bagaimana keadaan Papa saya Dok?" Tanya Roger dengan tidak sabaran.
"Mari ikut saya, sementara Tuan Besar akan dipindahkan keruang perawatan VVIP" Jawab Dokter Eric.
Diruang kerjanya Dokter Eric menerangkan secara terperinci mengenai penyakit yang diderita oleh Kakek Gibson.
"Jadi yang terjadi barusan itu adalah serangan jantung ringan, Tuan sudah tahukan jika selama ini kondisi jantung Tuan Besar sudah tidak terlalu sehat. Selain itu gula darahnya juga tinggi, jadi makannya memang harus benar-benar dijaga. Tapi bukan itu saja, suasana hati dan pikirannya juga jangan sampai buruk. Jangan biarkan Tuan Besar memikirkan sesuatu yang berat, karena itu bisa juga berdampak pada kesehatannya." Dokter Eric menerangkan panjang lebar.
"Jadi sebaiknya bagaimana?" Tanya Roger.
"Kondisinya masih bisa untuk dirawat disini, nanti saya akan menghubungi teman saya diluar negeri agar mengirimkan obat khusus untuk Tuan Besar" Ujar Dokter Eric.
"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk Papa saya" Ucap Roger sebelum meninggalkan ruang kerja Dokter Eric.
Kini Roger berjalan menuju ruang VVIP, karena Papanya sudah dipindahkan keruangan tersebut.
Begitu masuk, Roger melihat disana juga ada Danish selaku pemilik rumah sakit.
"Maaf Tuan Roger, tadi saya ada rapat penting sehingga saya terlambat mendengar kabar kalau Ayah Tuan dalam keadaan tidak sehat" Kata Danish sambil menjabat tangan Roger.
"Tidak apa-apa Tuan Danish, yang penting Ayah saya sudah mendapat penanganan yang baik disini" Ucap Roger.
__ADS_1
Lalu Roger pun mendekati ranjang pasien, disana Ayahnya tidur dengan beberapa alat medis yang menempel ditubuhnya.
"Tuan tidak usah khawatir, Tuan Besar lagi tidur karena pengaruh obat." Danish mencoba menghibur Roger yang masih terlihat cemas.
Roger pun menganggukkan kepalanya.
****
Sore harinya saat pulang kuliah Arion mengantar kekasihnya pulang, setelah itu dia langsung nongkrong di coffee shop milik Ezra. Sedangkan ponselnya dia silent agar tidak berisik jika Papanya menghubungi dirinya.
Seperti biasa, sampai di sana dia akan memainkan satu atau dua lagu sebelum menikmati kopi yang dipesannya.
"Kok tumben sendiri?" Tanya Ezra begitu melihat Arion datang.
"Mereka lagi sibuk." Jawab Arion singkat sambil berlalu menuju stand gitar.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara merdu Arion membawakan sebuah lagu.
Sekitar pukul tujuh malam Arion pun pulang, dia mengendarai mobil dengan santai menuju mansion.
Sampai dimansion dengan bersiul dia masuk kedalam setelah seorang pelayan membukakan pintu.
Dan Arion sudah tidak kaget lagi saat melihat Papanya berdiri diruang tengah dengan bersedekap. Karena niat Arion memang ingin membuat Papanya kesal sesering mungkin, itu dia lakukan sebagai wujud pemberontakan terhadap Roger yang sudah seenaknya menjodohkan dirinya.
"Kenapa kamu tidak mengangkat telfon Papa dari tadi siang?"Tanya Roger dengan tatapan tajam.
"Kan sudah aku bilang, telpon dari Papa itu membuat ponselku ber,,,,,"
"Kamu tahu gak kalau kakek kamu masuk rumah sakit, hah? kakek kamu kondisinya sedang tidak baik tapi kamu malah keluyuran" Bentak Roger.
Bukannya terkejut, Arion malah mengendikkan bahunya sambil tersenyum sinis.
Kemudian dia maju mendekati Papanya.
"Itu bukan urusanku Pa, mau dia sehat atau sekarat aku tidak peduli. Karena apa? karena selama ini dia tidak peduli sama aku, bisanya hanya menuntut sama seperti Papa. Jadi disaat seperti ini jangan suruh aku untuk peduli, MENGERTII,,!" Nada bicara Arion yang semula rendah mendadak tinggi diakhir kalimat.
Sepertinya dia benar-benar sudah tidak tahan dengan perlakuan Papanya selama ini.
Bughhh,,,
Bukan tamparan yang diberikan oleh Roger pada putranya, melainkan pukulan yang mengenai rahangnya hingga membuat Arion jatuh terduduk.
Tampak darah mengalir dari sudut bibir Arion.
"Sudah berani kamu, hah? sudah berani melawan orangtua? kamu mau jadi anak durhaka, iya?" Bentak Roger dengan berapi-api.
Arion hanya terdiam sambil mengusap sudut bibirnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia berlalu pergi dari hadapan Papanya.
Dia juga tidak mempedulikan teriakan Roger yang menyuruhnya untuk berhenti, namun sesaat kemudian terdengar sumpah serapah dari mulut pria arogan tersebut.
Semua pelayan dirumah tersebut memilih untuk berdiam di dapur saat pertengkaran itu terjadi, tidak satu orang pun yang berani mendekati area ruang tengah.
Dengan menahan emosinya Roger masuk kedalam kamar utama, mungkin malam ini dia akan tidur disana karena istrinya sedang ada dirumah sakit menemani Ayahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE,,,
Terimakasih sudah mampir 🙏
Jangan lupa :
\=》Like
\=》Comment
\=》Favorit
\=》Vote
\=》Gift
__ADS_1
🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹