Takdir Yang Kejam

Takdir Yang Kejam
EMPAT PULUH EMPAT


__ADS_3

Arion yang tengah pusing memikirkan keberadaan Elmira memutuskan untuk mampir ke coffee shop milik Ezra.


Dan kini dia tengah bermain gitar sambil menyanyikan lagu galau.


Ezra yang melihat Arion seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia yakin jika temannya itu pasti sedang ada masalah.


Lelah bermain gitar dan mulutnya terasa kering Arion pun menaruh gitar di standnya, kemudian dia melangkah mendekati meja yang ada di dekat pantry.


"Zra, buatin ice kopi satu." Kata Arion dengan raut wajah datar.


"Siippp,,,,, tunggu bentar ya."


Lalu dengan cekatan Ezra membuatkan pesanan Arion, dia juga tidak ingin jika temannya itu terlalu lama menahan rasa haus.


Ezra meletakkan segelas ice kopi dihadapan Arion kemudian dia pun ikut duduk disana.


"Kok tumben sendirian? yang lainnya kemana?." Tanya Ezra.


"Aku yang lagi pengen sendiri." Jawab Arion sambil menyedot ujung pipet digelasnya, cairan kopi yang dingin membasahi tenggorokannya.


"Kenapa? lagi ada masalah?."


Arion pun mengganggukkan kepalanya.


"Aku gak tahu kemana pacarku pergi." Desah Arion terdengar seperti putus asa.


"Memangnya kalian habis bertengkar?."


"Tidak, tapi sepertinya dia salah paham gara-gara berita yang ada di internet."


"Berita apa?." Ezra memang jarang membaca berita dan dia juga jarang nonton televisi. Pria itu lebih suka main musik atau mendengarkan lagu.


Lalu Arion pun menceritakan akar permasalahannya dan Ezra pun mendengarkan dengan serius.


"Pantas aja dia salah paham Rion, dia baca berita kayak gitu terus kamu juga gak ngasi dia penjelasan apapun, ya wajarlah dia kayak gitu." Ujar Ezra.


"Apa kamu sudah bertanya tentang keberadaan dia dengan teman dekatnya?." Tanya Ezra.


"Dia tidak punya teman selain kita berempat." Jawab Arion.


Tapi tiba-tiba pria itu seperti teringat dengan sesuatu.


"Zra, aku pergi dulu ya, ini untuk ice kopinya." Arion pun berlalu pergi setelah menaruh selembar uang berwarna biru diatas meja.


Ezra pun sampai mengurungkan niatnya untuk bertanya karena Arion pergi dengan terburu-buru.


*****


Sebuah Buggati meluncur menuju Cafe Twist tempat Elmira bekerja, Arion berencana untuk menanyakan keberadaan kekasihnya tersebut pada partner kerjanya.


Sampai ditempat yang ditujunya Arion bergegas masuk kedalam, dan disana dia bertemu dengan Dita yang sedang ada di bagian kasir.


" Selamat sore Mbak."Sapa Arion.


Dita pun sontak terkejut saat melihat pria tampan berdiri di hadapannya.


"Selamat sore juga, mau pesan apa?." Tanya Dita.


"Maaf Mbak, saya bukan mau belanja, tapi saya kesini mau bertanya sama Mbak." Jawab Arion.


"Mau bertanya apa?." Dita terlihat heran sekaligus penasaran.


"Apa Elmira ada disini?." Tanya Arion.

__ADS_1


Dita menggelengkan kepalanya.


"Dia gak ada disini, soalnya jam kerjanya dimulai pukul enam sore, kalau mau kamu bisa aja dateng langsung ke kostnya." Kata Dita.


Arion pun merasa kecewa karena Elmira tidak ada disana.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi, terimakasih Mbak."


Lalu dia pun bergegas kembali ke mobilnya.


Arion duduk dibelakang kemudi sambil bersandar di jok mobil, dia melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Apa jangan-jangan dia pulang ke rumahnya? sayang aku tidak tahu dimana tempat tinggalnya." Gumam Arion sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menyesal kemarin tidak langsung menemui kekasihnya itu.


Akhirnya dengan perasaan kacau Arion memutuskan untuk pulang, dia hanya berharap bahwa dugaannya benar kalau Elmira sedang pulang kampung.


****


Elard yang merupakan kepala keamanan di AXA group sekaligus orang kepercayaan kakek Gibson , kini sedang berada diruang kerja Roger.


"Ada apa Tuan memanggil saya?." Tanya Elard begitu berdiri di depan meja kerja atasannya itu.


"Saya ingin kamu mengawasi gadis ini."


Lalu Roger menyerahkan foto beserta biodata milik Elmira.


"Awasi apa saja yang dilakukan oleh gadis tersebut, lalu kamu laporkan semuanya langsung pada saya." Titah Roger.


"Baik Tuan, apa ada lagi yang harus saya lakukan?." Tanya Elard.


"Tidak, untuk saat ini cukup itu saja, dan aku ingin kamu sendiri yang langsung mengawasinya." Kata Roger.


Elard pun mengangguk patuh lalu dia pun beranjak pergi, dan rencananya dia akan mulai pengawasannya besok.


****


Malam harinya, seusai makan malam Arion menemui Papanya yang sedang berada diruang tengah.


"Ada apa Rion?." Tanya Roger saat melihat Arion menghampiri dirinya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.


"Sebenarnya dari kemarin aku ingin bertanya, tapi baru kali ini aku ada waktu." Arion menjeda kalimatnya " Kenapa di internet ada berita yang mengatakan kalau aku dan Shire sudah bertunangan? padahal kenyataannya tidak seperti itu." Arion menatap tajam kearah Papanya.


"Tidak penting sekarang atau nanti, ujung-ujungnya kamu juga akan bertunangan dengannya." Jawab Roger santai.


Dia samasekali tidak mempedulikan kerisauan hati putranya.


"Oh ya, Papa denger kamu lolos ke babak selanjutnya, Papa harap kamu bisa menang, jangan permalukan nama baik Papa dan Kakekmu." Ujar Roger penuh penekanan.


Arion mengepalkan tangannya untuk meredam emosinya, selalu saja sepertj ini, keinganan Papanya harus dituruti dan dipenuhi sedangkan keinginan dirinya selalu diabaikan.


"Tapi Pa, aku gak mau berita seperti itu tersebar di media, bisa gak Papa hapus saja berita yang gak bener itu?." Tanya Arion sengit, dia mengabaikan perkataan Roger yang menyuruhnya untuk menang kompetisi.


"Memangnya kenapa sih? apa yang kamu khawatirkan tentang hal itu? apa kamu sedang menjaga perasaan gadis miskin itu?." Tanya Roger dengan sinis.


"Stop bilang Elmira gadis miskin, dia punya nama ." Ucap Arion datar "Dan ya, aku memang menjaga perasaannya, aku juga sudah pernah bilang kalau aku sangat mencintainya." Lanjutnya.


Roger mendengus kesal lalu bangkit dan berdiri dihadapan Arion.


"Papa juga sudah peringatkan kamu untuk menjauh darinya, tapi jika kamu masih bandel ingin bersama gadis itu, silahkan kamu keluar dari rumah ini dan tinggalkan semua fasilitas yang Papa berikan. Dan satu hal lagi, jika kamu nekat masih ingin bersamanya maka ancaman Papa sebelumnya akan benar-benar terjadi, gadis itu akan celaka." Roger menatap putranya dengan tajam.


"Tapi Pa....."


"Tidak ada tapi-tapian, pilihanmu hanya ada dua menjauhinya atau tetap bersamanya, dan kamu juga sudah tahu apa konsekuensi disetiap pilihanmu." Ucap Roger yang sudah tidak bisa dibantah lagi.

__ADS_1


Lalu tanpa menunggu jawaban apapun lagi Roger berlalu pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Arion yang masih tertegun seorang diri.


Sesaat setelah Papanya menghilang dari pandangan Arion, muncullah Mamanya dengan raut wajah khawatir.


"Rionn,,,apa kamu baik-baik saja?." Tanya Tari mendekati putranya.


Arion menatap datar kearah Mamanya.


"Menurut Mama apakah seseorang akan merasa baik-baik saja ketika disuruh untuk menjauhi orang yang dicintainya?." Tanya Arion sinis.


Terlihat Tari menghela napas pelan, dia berharap malam ini dirinya bisa berbicara banyak dengan putranya itu.


"Boleh Mama minta waktumu? Mama ingin bicara sama kamu, tolong sekali ini saja dengarkan penjelasan Mama." Ucap Tari terlihat memohon.


Sejenak Arion berpikir tapi pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


Lalu mereka berdua pun duduk di sofa saling berhadapan dengan diselingi sebuah meja kaca persegi.


"Bagi kebanyakan orang di luar sana, mereka mengatakan jika Mama beruntung bisa menikah dengan orang seperti Papamu, dan beruntung bisa menjadi menantu dikeluarga ini. Tapi pada kenyataan tidak seperti itu, jika kamu menderita dengan sikap Papamu yang terlalu mengatur hidupmu, Mama lebih menderita dari itu Rion."


Arion diam menyimak perkataan Mamanya, dia sama sekali tidak tahu apa yang dirasakan Mamanya selama ini, yang dia tahu hanyalah sosok yang ada dihadapannya itu tidak pernah membelanya disaat dirinya mendapatkan hukuman.


"Satu kali pun Mama tidak pernah merasa bahagia berada dikeluarga ini, Papamu tidak pernah sungguh-sungguh menganggap Mama sebagai istrinya. Dan Kakekmu tidak pernah menganggap Mama sebagai menantu dirumah ini." Suara Tari terdengar seperti menahan tangisan, dan benar saja tanpa bisa ditahan dua bulir air mata lolos dari kelopak matanya.


Mulut Arion serasa terkunci melihat Mamanya mengeluarkan air mata, perlahan perasaan bersalah merasuki hatinya.


"Selama ini melihatmu di pukul, ditampar bahkan dicambuk, hati Mama sangat sakit melihatmu diiperlakukan seperti itu, dan lebih sakit lagi saat Mama tidak bisa melakukan apapun untuk membelamu. Tapi bukan berarti Mama tidak pernah menegur Papamu untuk memperlakukanmu dengan lebih baik, sering Mama melakukan itu Rion tapi yang terjadi malah Mama yang dicaci, dibentak bahkan terkadang juga ditampar." Tari mengusap air matanya yang kembali mau menetes.


"Maafkan Mama Rion, yang tidak bisa menjadi Ibu yang baik untukmu, Mama terlalu lemah hingga tidak bisa membelamu. Mama tahu selama ini kamu pasti menderita karena sikap Papamu itu. Maafkan Mama Rion,, maafkan Mama,,,,." Tari tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tangisnya yang mau pecah.


Bergegas Tari mendekap mulutnya sambil berlari menuju kamarnya, dia tidak ingin jika tangisnya pecah disana dan di dengar oleh seisi mansion.


Arion hanya tertegun tanpa bisa berkata apapun, sekarang dia benar-benar merasa bersalah pada wanita yang telah melahirkannya itu.


Dia tidak menyangka jika selama ini Mamanya menahan tekanan batin seorang diri.


"Seharusnya aku yang minta maaf Ma." Gumam Arion sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Lalu diapun beranjak pergi menuju kamarnya dan memutuskan besok akan berbicara lagi dengan Mamanya.


Sampai dikamarnya Arion merebahkan tubuhnya dikasur yang empuk, pandangannya menerawang menatap lampu yang melekat diplafon kamar tidurnya.


Pikirannya melayang tertuju pada gadis yang dicintainya yaitu Elmira, dalam hatinya dia merasakan kerinduan yang begitu dalam.


Dan tanpa sadar akhirnya Arion terlelap dengan lampu yang masih menyala.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TO BE CONTINUE,,,


Terimakasih sudah mampir 🙏


Jangan lupa :


\=》Like


\=》Comment


\=》Favorit


\=》Vote


\=》Gift

__ADS_1


🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹


__ADS_2