Takdir Yang Kejam

Takdir Yang Kejam
LIMA PULUH LIMA


__ADS_3

Esok harinya sepulang kuliah Arion mampir ke gedung AXA Group, dari kemarin dia ingin berbicara serius dengan Papanya. Dia yakin kecelakaan yang di alami oleh Elmira pasti ada sangkutpautnya dengan sang Papa. Apalagi mengingat ancaman yang pernah dilontarkan pada dirinya, membuat Arion semakin yakin bahwa Roger mempunyai andil dalam kasus ini.


Dengan memasang raut wajah datar Arion masuk kedalam gedung perusahaan, bahkan para staff yang menyapanya tidak dia hiraukan sama sekali.


Sampai di depan ruang kerja Papanya dia langsung masuk begitu saja.


Brakk,,,,


Roger yang sedang duduk dimeja kerjanya sampai terlonjak kaget. Dan dia bertambah emosi saat melihat pelakunya adalah putranya sendiri.


"Arion, apa-apaan kamu ini?." Roger menatap tajam kearah Arion yang berjalan mendekati mejanya.


"Aku mau bicara sama Papa."Kata Arion datar tanpa menghiraukan kejengkelan Papanya.


"Mau bicara apa?." Tanya Roger tanpa menurunkan nada bicaranya.


"Apa yang Papa lakukan pada Elmira?." Tanya Arion to the point.


"Apa maksud dari pertanyaanmu? memangnya apa yang terjadi pada gadis itu?." Roger balik bertanya pura-pura tidak tahu.


Arion berdecih kesal.


"Papa gak usah pura-pura, aku masih ingat dengan ancaman yang Papa katakan." Kata Arion dengan nada tinggi.


"Elmira kecelakaan karena tertabrak mobil pas menyebrang jalan, dan aku yakin bahwa apa yang terjadi pada Elmira itu karena ulah Papa sendiri."


Lalu dengan santainya Roger berdiri dan menghampiri putranya.


"Iya, memang Papa yang menyuruh orang untuk membuat gadis tidak tahu diri itu celaka."


" Sekarang kamu percayakan bahwa ancaman Papa tidak main-main."


Kata Roger sambil menatap tajam kearah Arion.


"Tapi kenapa Pa? kenapa Papa tega membuat Elmira seperti itu?." Arion menatap tidak percaya kearah Roger.


"Itu semua karena salahmu Rion, Papa sudah berulangkali mengingatkanmu untuk menjauhi gadis itu tapi kamu bandel, dan sekarang lihatlah akibatnya karena kamu sudah mengabaikan peringatan yang Papa berikan." Kata Roger yang kini balik menyalahkan putranya.


"Gadis itu terbaring dirumah sakit semua karena salahmu Rion, andai saja kamu mau menuruti apa yang Papa katakan hal ini tidak akan terjadi." Lanjut Roger tanpa menghiraukan Arion yang menatap dirinya dengan penuh amarah.


"Papa benar-benar tidak punya hati, kejam,,. " Desis Arion.


"Aku pastikan suatu hari nanti Papa akan menerima akibat dari semua perbuatan yang sudah Papa lakukan."


Lalu tanpa menunggu jawaban apapun Arion berlalu pergi dari hadapan Roger. Dan dia masih sempat membanting pintu untuk melampiaskan rasa amarahnya.


Pria paruh baya itu pun mendengus kesal melihat tingkah putranya.

__ADS_1


"Ck, dasar anak tidak tahu terimakasih, dia pikir bisa memiliki segalanya itu atas kerja keras siapa? mentang-mentang sudah besar sekarang bisa melawan dan mengancam orangtua seenaknya." Gumam Roger sambil kembali duduk dan bersiap untuk pulang.


Arion menyetop taxi yang kebetulan lewat, kunci mobil dan semua kartu debit serta ATMnya belum dikembalikan oleh sang Papa. Dan dia juga terlalu gengsi untuk memohon pada Roger.


Sehingga sampai saat ini dia pergi kemana-mana harus naik taxi atau nebeng dengan salah satu sahabatnya. Sedangkan untuk uang saku dia minta sama Mamanya.


*


*


Tari melangkah menuju ruang rawat inap tempat Elmira berada, dia baru saja menyelesaikan urusannya di luar dan berniat mampir sebentar sebelum pulang ke mansion.


Tampak Hart tengah duduk di kursi dekat ranjang pasien, dan pria itu langsung berdiri saat melihat kedatangan Tari.


"Selamat sore Nyonya." Sapa Hart.


Tari pun membalas dengan anggukan kepala sambil tersenyum, lalu dia langsung beralih menyapa Elmira yang sedang duduk bersandar.


"Selamat sore El, gimana keadaanmu? sudah lebih baik?." Tanya Tari dengan penuh perhatian.


"Selamat sore juga Tante." Balas Elmira "Aku masih sedikit lemas Tan, gak enak juga rasanya pake gips kayak gini." Lanjutnya.


"Yang sabar ya, kamu pake kayak gitukan biar kondisi kakinya cepat pulih." Kata Tari menghibur gadis tersebut.


Sejenak Tari dan Elmira ngobrol sedangkan Hart menunggu di luar ruangan.


"El, Tante pamit pulang dulu ya, besok Tante kesini lagi." Ujar Tari sebelum beranjak pergi.


"Iya Tan, makasih karena udah perhatian sama aku." Kata Elmira sambil tersenyum "Aku jadi ngerasa punya seorang Ibu."Lanjutnya.


Tari memaksakan dirinya untuk tersenyum walau hatinya berkecamuk mendengar perkataan Elmira, ingin rasanya dia memeluk gadis tersebut dan mengatakan yang sebenarnya. Namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan kebenarannya.


Karena tidak ingin kelepasan bicara Tari pun bergegas pergi meninggalkan Elmira.


"Nyonya mau pulang sekarang?." Tanya Hart ketika melihat Tari keluar dari dalam ruangan rawat inap.


"Iya Tuan, besok saya kesini lagi." Jawab Tari "Oh ya, bagaimana? apa sudah ketahuan siapa yang sudah menabrak Elmira?." Tanyanya, karena itu juga merupakan salah satu tujuan Tari datang kesini.


"Mereka mengatakan akan menyelidikinya Nyonya, jadi kita hanya bisa menunggu saja kabar dari mereka."Jawab Hart.


"Baiklah, kalau nanti Tuan sudah dapat kabar hubungi saya secepatnya." Ucap Tari.


Hart pun mengiyakan permintaan tersebut.


Lalu wanita itupun berlalu pergi meninggalkan Hart seorang diri.


*

__ADS_1


*


Saat makan malam Roger serta Tari dan Arion tampak duduk di meja makan, mereka fokus menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing. Jadi di dalam ruangan tersebut hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring.


Arion yang tidak tahan berada lebih lama di dekat Papanya, dia lebih memilih untuk mengakhiri makan malamnya lebih cepat.


"Rion, makananmu belum habis." Tegur Tari saat melihat isi piring Arion masih banyak.


"Aku udah kenyang Ma, aku duluan."Kata Arion sambil beranjak pergi.


Tidak lama kemudian Roger menyusul pergi dari meja makan tanpa berkata sepatahpun pada istrinya.


Tari hanya bisa menatap sengit kearah suaminya, dia tidak menyangka jika suaminya menyimpan rahasia besar pada dirinya. Dan dia bertekad akan segera menuntut penjelasan dari pria tersebut.


Didalam kamarnya Arion berbaring dengan posisi telentang, dia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa sudah saatnya aku hidup mandiri? tidak mungkin rasanya aku terus-terusan bergantung padanya." Gumam Arion.


Selama ini dia merasa hidupnya terlalu mudah dengan segala fasilitas yang diberikan oleh Papanya, dia menduga hal itulah yang membuat hidupnya selama ini selalu diatur dengan seenaknya.


"Jika aku mandiri dan tidak menggunakan fasilitas milik Papa mungkin dia tidak akan mengusik hubunganku dengan Elmira." Gumamnya lagi.


"Tapi pekerjaan apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan uang?."


Selama hidupnya dia tidak pernah melakukan pekerjaan apapun, yang dia tahu hanya membelanjakan uang karena dia memiliki kartu kredit yang tagihannya di bayar oleh Papanya.


Arion terus berpikir untuk mencari jalan keluar agar keinginannya untuk hidup mandiri bisa terwujud.


Lelah dengan pikirannya sendiri tanpa sadar dia pun terlelap, walaupun sebelum itu dia masih sempat membayangkan wajah gadis yang dicintainya yaitu Elmira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TO BE CONTINUE,,,


Terimakasih sudah mampir 🙏


Jangan lupa :


\=》Like


\=》Comment


\=》Favorit


\=》Vote


\=》Gift

__ADS_1


🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹


__ADS_2