Takdir Yang Kejam

Takdir Yang Kejam
TIGA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Ujian tengah semester berakhir hari ini, tapi seluruh mahasiswa belum bisa bernapas lega. karena mereka belum tahu bagaimana hasil ujiannya.


Dafa keluar dari gedung fakultasnya untuk mencari ketiga sahabatnya, sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu karena kesibukan masing-masing menghadapi ujian.


Sambil berjalan pandangan Dafa memindai kesekitar area kampus, sampai kemudian tidak sengaja dia melihat Fani yang tengah duduk seorang diri di dekat pohon cemara yang berjejer di depan fakultas.


Gadis itu tampak berwajah murung, bahkan dia seolah-olah tidak peduli dengan sekitarnya.


Tapi Dafa tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut, lagipula dirinya dan Fani tidak begitu dekat.


Lalu pria itupun meneruskan langkahnya menuju kantin yang ada di dekat Fakultas MIPA, karena ketiga sahabatnya telah menunggu dirinya disana.


****


Dan benar saja, disana Arion dan kedua sahabatnya beserta kekasihnya sedang nongkrong sambil makan camilan.


Tengah asyik mereka ngobrol tiba-tiba seorang kakak tingkat menghampiri meja mereka, dia merupakan salah satu anggota BEM di kampus Light Stars.


"Kamu yang namanya Arion kan?." Tanyanya sambil menatap Arion yang duduk disebelah Elmira.


"Iya, ada apa ya?." Tanya Arion penasaran.


"Kamu di panggil ke ruang rektor, sekarang juga." Jawab pria tersebut.


Lalu tanpa menunggu jawaban dari Arion pria itu pun berlalu pergi, sepertinya dia mempunyai kesibukan lain.


"Rion, kamu ada melakukan kesalahan?." Tanya Felix.


Dengan cepat Arion menggelengkan kepala.


"Perasaan aku gak ada berbuat salah kok, kenapa kamu nanya kayak gitu?." Arion balik bertanya.


"Ya siapa tahu sewaktu ujian kamu nyontek, terus ketahuan lalu dipanggil tuh sama rektor." Ujar Brady seenaknya.


"Ck, sembarangan aja, aku ngerjain ujiannya dengan jujur, gak kayak kamu."Balas Arion.


"Udah, udah, mending kamu temui rektornya sekarang Rion, siapa tahu kamu udah ditunggu." Sela Elmira, dia juga merasa penasaran kenapa kekasihnya itu dipanggil oleh rektor.


"Baiklah, tapi kamu ikut ya? aku gak mau kalau kamu disini sama mereka." Kata Arion sambil menunjuk Felix dan Brady bergantian.


Melihat sikap Arion membuat kedua sahabatnya mendengus kesal.


"Ya udah, tapi aku nunggu diluar gedung ya." Kata Elmira mengiyakan.


Lalu mereka berdua pun beranjak bangun.


"Kalian mau kemana?." Tanya Dafa yang baru sampai.


"Mau ketemu rektor." Jawab Arion sambil berlalu.


Dafa pun hanya menganggukkan kepala kemudian bergabung dengan Felix dan juga Brady.


****


Arion masuk keruang rektor setelah seorang staff mempersilahkannya.


Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Arion pun membuka pintu dan dia lumayan kaget saat melihat Papanya ada disana.


Setelah mengucapkan salam Arion pun duduk disebelah Papanya.


"Jadi begini Rion, tujuan saya memanggil kamu kesini karena ingin memberitahukan padamu untuk ikut seleksi pemilihan putra dan putri kampus, acaranya dilangsungkan beberapa hari lagi." Ujar pria yang paruh baya yang berbadan gemuk tersebut.


Expresi Arion pun berubah kesal, dia yakin dalam hal ini pasti ada campur tangan Papanya.

__ADS_1


"Benar apa yang disampaikan oleh Pak Vian, kamu harus ikut berpartisipasi, selain itu kamu juga harus menang." Sambung Roger.


"Tapi aku gak berminat Pa." Bantah Arion sambil menekan nada suaranya.


"Tidak ada bantahan Rion, selain itu kamu juga punya banyak waktu luang karena kamu sudah tidak menbantu Papa lagi di kantor." Kata Roger dengan tegas.


Arion pun akhirnya tidak membantah lagi karena dia tahu semua itu percuma, kalau dia ngotot bisa-bisa terjadi keributan di ruang rektor tersebut.


"Jadi keputusannya sudah final ya kalau Arion bakalan ikut , kalau begitu kamu bisa langsung isi formulirnya." Lalu Pak Vian pun menyodorkan formulir yang masih kosong.


Dengan malas-malasan Arion pun mengisinya dengan di saksikan oleh Roger.


Setelah semua selesai Arion pun pamit pergi, begitu juga dengan Roger yang berniat untuk kembali ke kantornya.


Kemudian tampaklah Roger dan Arion berjalan beriringan keluar dari gedung rektor.


Elmira yang sedang menunggu Arion di depan gedung tampak penasaran, karena dia melihat kekasihnya berjalan dengan seseorang yang tidak dikenalnya.


Arion pun mempercepat langkahnya untuk menghampiri Elmira dan meninggalkan Papanya beberapa langkah dibelakang.


"Ada apa Rion? kenapa kamu dipanggil sama rektor?." Tanya Elmira begitu Arion sampai dihadapannya.


Belum sempat Arion menjawab tiba-tiba Roger sudah berdiri disebelahnya dengan raut wajah yang sulit di jelaskan.


"Dia siapa Rion?." Tanya Roger sambil memindai penampilan Elmira yang menurutnya sangat tidak berkelas. Namun saat Roger memperhatikan raut wajah gadis dihadapannya itu lebih seksama, dia merasa jika raut wajahnya sangat familiar.


"Dia Elmira Pa, dia juga satu jurusan denganku." Jawab Arion " El, ini Papa aku." Lanjutnya pada Elmira. Akhirnya dengan terpaksa Arion memperkenalkan Papanya pada sang kekasih.


Mengetahui jika yang berdiri dihadapannya itu adalah orangtua dari Arion, mendadak Elmira menjadi gugup bahkan tangannya pun sampai berkeringat.


"Se,, selamat siang Tuan." Sapa Elmira, dia tidak berani jika harus memanggil dengan sebutan Om. Dia sadar dengan posisinya yang tidak setara dengan keluarga Arion.


Roger tidak menghiraukan sapaan dari Elmira, karena sudut hatinya benar-benar merasa terusik. Apalagi saat melihat tanda lahir berwarna hitam disudut mata Elmira yang sebelah kiri.


"Nanti setelah makan malam temui Papa diruang kerja." Lalu tanpa mengatakan apapun lagi Roger berlalu pergi.


Arion dan Elmira pun hanya saling pandang sambil menatap punggung Roger yang sedang berjalan menuju mobilnya.


Kemudian mereka berdua pun melangkah beriringan untuk menemui ketiga sahabat mereka.


Saat melewati kantor BEM mereka melihat banyak mahasiswa yang antri disana, sepertinya mereka semua berniat untuk mendaftar dalam pemilihan putra dan putri kampus.


"Banyak juga ya peminatnya." Celetuk Elmira.


"Iya, aku juga tadi disuruh ikut sama Papaku." Kata Arion.


"Terus?." Gadis tersebut tampak penasaran.


" Ya, mau bagaimana lagi, aku gak bisa nolak perintah Papaku. Apalagi aku didesak didepan rektor, jadi gak mungkin aku melawan Papaku disana, akhirnya dengan terpaksa aku menyetujuinya." Jawab Arion.


" Ya baguslah kamu dapat dukungan dari Papa kamu." Kata Elmira sambil tersenyum.


"Ck, bagus apanya, kecuali kalau kamu ikut baru aku semangat ikut kompetisinya. Kamu ikut ya El?." Arion mencoba mengajak kekasihnya.


"Rion,,kan aku udah bilang kalau aku gak mau ikut kompetisi yang kayak gitu." Tolak Elmira "Tapi tenang aja, aku bakalan jadi pendukungmu yang paling setia." Lanjutnya.


"Iya deh." Kata Arion sambil merangkul bahu Elmira.


Sejenak mereka saling tatap sambil melempar senyum, terlihat sangat romantis dan membuat para mahasiswi merasa iri melihatnya.


****


Selama perjalanan menuju perusahaan, Roger hanya terdiam dengan alis yang tertekuk. Sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu yang sangat berat.

__ADS_1


Tadinya dia habis meninjau proyek yang seminggu lagi akan diresmikannya, sebuah mall dengan wahana bermain di tempat yang sama telah berdiri diatas tanah bekas pemukiman kumuh. Namun dia mendapat kabar bahwa ada ajang pemilihan putra dan putri kampus, tapi Arion tidak terlihat mendaftarkan dirinya.


Sebagai seorang konglomerat yang disegani dan juga sebagai donatur nomor satu di kampus Light Stars, Roger juga ingin melihat putranya memenangkan kompetisi tersebut. Apalagi nantinya siapapun yang menang maka akan dijadikan duta kampus, dan Roger ingin agar putranya itu menjadi salah satunya.


Maka dari itu, Roger pun berkunjung ke Light Stars dan bertemu langsung dengan rektornya untuk membujuk Arion agar mau ikut kompetisi.


Sampai di kantornya dia bergegas menuju ruang kerjanya, kemudian dia memanggil sekretarisnya karena ada tugas yang akan diberikannya.


Tidak lama kemudian Ervin pun datang.


"Ada apa Tuan memanggil saya?." Tanya Ervin yang kini berdiri di depan meja kerja bosnya.


"Saya ingin kamu menyelidiki seorang gadis dengan nama Elmira, dia teman sekelas Arion, cari tahu semuanya dan saya ingin nanti jam enam sore sudah ada laporannya." Titah Roger.


"Baik Tuan." Kata Ervin patuh.


Lalu Ervin pun dengan segera melaksanakan perintah bosnya, dia mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mengumpulkan informasi yang di butuhkan oleh bosnya.


****


Belum juga sampai di kantin Arion dan Elmira berpapasan dengan ketiga sahabatnya.


"Kalian mau pulang?." Tanya Arion.


"Maunya sih gitu, tapi kalau kamu mau nongkrong kita ngikut aja, ya gak?." Felix menatap Brady dan Dafa bergantian.


"Boleh juga tuh, hitung-hitung refresh otak sehabis bertempur dengan soal ujian." Jawab Brady yang terlihat bersemangat.


"Aku juga ngikut aja." Kata Dafa.


Arion kemudian menoleh kearah Elmira.


"Kamu mau ikut?."


"Maaf Rion, aku mau istirahat aja, soalnya nanti sore aku harus kerja lagi. Karena selama ujian aku kan udah libur kerja, jadi gak enak kalau harus libur lagi." Jawab Elmira.


Arion pun mengerti dengan posisi kekasihnya, dan dia tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Pernah Arion menyuruh Elmira untuk berhenti bekerja karena dia kasihan dengan gadis tersebut, dan berjanji akan memberikan uang untuk biaya hidupnya.


Tapi dengan tegas Elmira menolaknya, dia tidak ingin menjadi beban untuk orang lain, selain itu dia masih sanggup untuk mencari uang sendiri.


Tidak lama kemudian Arion pun mengantar Elmira pulang, sedangkan ketiga sahabatnya mengikuti dibelakang dengan membawa mobil masing-masing.


Dari tempatnya Elmira mereka kembali memutar arah dan pergi menuju coffee shop langganan mereka berempat.


****


TO BE CONTINUE,,,


Terimakasih sudah mampir 🙏


Jangan lupa :


\=》Like


\=》Comment


\=》Favorit


\=》Vote


\=》Gift

__ADS_1


🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹


__ADS_2