Takdir Yang Kejam

Takdir Yang Kejam
EMPAT PULUH


__ADS_3

Pagi harinya Roger terlihat lesu, semua itu disebabkan karena dia semalam kurang tidur.


Tari yang melihat suaminya tidak seperti biasanya memberanikan diri untuk bertanya.


"Papa kenapa? kok kayak lesu gitu?".Tanya Tari.


"Gak apa-apa." Jawab Roger singkat sambil memakai jas yang sudah disiapkan oleh istrinya itu.


Melihat suaminya yang enggan bercerita membuat Tari tidak bertanya lebih lanjut.


Lalu mereka berdua pun menuju meja makan untuk sarapan bersama.


"Arion kemana?." Tanya Roger pada kepala pelayan yaitu Merly yang kebetulan berada di meja makan.


"Dia pagi-pagi sudah berangkat ke kampus Tuan." Jawab Merly.


Terlihat Roger seperti memikirkan sesuatu.


"Papa ada masalah lagi sama Arion?." Tanya Tari yang merasa curiga dengan sikap suaminya.


"Sedikit ." Jawab Roger singkat sambil mulai menyantap roti bakar yang menjadi menu sarapannya pagi ini.


"Masalah apa lagi Pa?." Tanya Tari dengan lembut.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Roger pun memutuskan untuk menceritakan sebagian permasalahan yang sedang dihadapinya pada sang istri.


"Aku cuma nyuruh dia untuk menjauhi gadis yang kini menjadi pacarnya." Kata Roger lalu dia menyeruput tehnya.


Tari pun tampak kaget, dia tidak menyangka jika putranya itu sudah mempunyai seorang kekasih.


"Lalu kenapa Papa memyuruh dia untuk menjauhi gadis yang di cintainya Pa?." Tanya Tari yang sering tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya.


"Gadis itu tidak pantas bersanding dengan Arion, dia berasal dari kalangan bawah." Jawab Roger tanpa mengatakan yang sebenarnya.


Tari pun hanya bisa menghembuskan napas kesal, percuma juga dia memberi pengertian pada suaminya yang arogan itu.


"Kalau bisa Mama bujuk Arion juga buat ngejauhin gadis itu." Kata Roger.


"Iya Pa." Kata Tari, walaupun dalam hati dia menentang sikap suaminya itu. Tapi demi menghindari perdebatan maka dia pura- pura menyetujuinya.


Selesai sarapan Roger pun berangkat ke kantor, tinggalah Tari bersama para pelayan dirumah tersebut.


****


Di sebuah desa yang jauh dari kota, terlihat seorang pria berusia hampir enampuluh tahun sedang berada di kebun sayurnya. Dia terlihat sangat telaten merawat aneka sayur-sayuran yang ditanamnya.


Walau usianya tidak muda lagi, dia begitu semangat bekerja tanpa kenal lelah.


"Selamat pagi Pak Hart, rajin sekali pagi-pagi sudah dikebun." Sapa salah satu tetangganya yang juga berprofesi sebagai petani sayuran.


"Hehe,, iya Pak RT, saya seneng aja liat sayuran yang tumbuh subur. Pak RT juga kok tumben pagi-pagi sekali sudah ke kebun?". Pria yang dipanggil Hart itu balik bertanya.


"Iya nih, saya juga pengen ngerasain udara pagi di kebun." Jawab Pak RT.

__ADS_1


Lalu mereka berdua pun terlibat obrolan seputar sayur-sayuran.


Sampai kemudian Pak RT menyampaikan sesuatu yang membuat pikiran Hart merasa sedikit terganggu.


"Oh ya , kemarin ada orang asing yang mendatangi saya, dia menanyakan sesuatu yang menyangkut keluarga Pak Hart sendiri." Ujar Pak RT.


"Siapa nama dia Pak? lalu dia bertanya apa saja?." Hart terlihat sangat penasaran.


"Namanya kalau gak salah Ervin Pak, dia cuma bertanya tentang asal-usul Bapak saja. Lalu saat saya menawarkan untuk mengantar langsung ke rumah Bapak dia menolak." Jawab Pak RT menjelaskan.


"Pak RT ketemu dimana? dan bagaimana ciri-ciri pria itu?." Tanya Hart.


"Saya ketemunya di warung Bu Ida, emm,, ciri-cirinya tubuhnya tinggi tegap, usianya mungkin sudah sekitar tigapuluh tahunan, kemudian pakaiannya itu rapi dan juga terlihat mahal Pak." Jawab Pak RT.


Hart pun tampak tercenung.


Apa mungkin dia itu orang suruhan mereka. Batin Hart.


Melihat Hart yang tidak meresponnya Pak RT pun merasa tidak enak.


"Maaf Pak Hart, apa saya salah ya sudah memberitahukan identitas Bapak sama pria itu? soalnya saya pikir dia itu salah satu kerabat Pak Hart dari kota." Ujar Pak RT.


"Ohh,,,tidak apa-apa kok, Pak RT tenang saja." Ucap Hart sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, ngomong-ngomong, bagaimana kabar putri Bapak?." Tanya Pak RT lebih lanjut.


"Dia baik-baik aja Pak, kulihnya juga lancar." Jawab Hart apa adanya.


Karena hari makin beranjak siang dan udara yang awalnya sejuk berubah menjadi sedikit panas, mereka berdua pun memutuskan untuk pulang.


Hart mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, rumah yang ditempatinya sekarang sangat sederhana.


Kembali dia teringat dengan cerita tetangganya yang menjabat sebagai ketua RT itu.


"Kenapa setelah sekian tahun ada orang yang datang menanyakan tentang asal usulku? apa di kota ada yang mengenali putriku? tapi rasanya mustahil mereka mengingatnya." Tiada hentinya Hart menduga-duga di dalam hatinya.


Mendadak perasaan Hart gelisah.


"Tapi jika takdir mempertemukan mereka dengan putriku, aku bisa berbuat apa?." Gumam Hart sambil menyandarkan punggungnya di kursi rotan.


****


Arion dan Elmira tengah duduk di taman belakang Fakultas, mereka sengaja memisahkan diri dari Felix, Brady dan juga Dafa.


"Kenapa kamu ngajak duduk disini? biasanya kan kita kumpul bareng sama mereka bertiga." Tanya Elmira yang duduk disebelah Arion.


"Gak apa-apa, aku cuma pengen berduaan aja sama kamu." Jawab Arion sambil merangkul bahu kekasihnya.


Elmira pun hanya tersenyum simpul.


Semakin hari perasaan cinta diantara mereka semakin dalam, selain itu mereka juga hampir tidak pernah bertengkar. Mereka berdua selalu berusaha untuk saling memahami satu sama lain.


Mereka berdua hanya saling terdiam sambil menatap lurus kedepan, tampak beberapa rumpun bunga mawar sedang berbunga dengan lebatnya. Dahannya bergoyang ketika di terpa oleh angin, sehingga beberapa kelopak mawar yang sudah layu berjatuhan ke bawah.

__ADS_1


Elmira menikmati pemandangan tersebut, namun berbanding terbalik dengan Arion yang kini pikirannya agak berkecamuk.


Dia masih memikirkan alasan Papanya melarang dirinya berpacaran dengan Elmira. Karena saat Roger mengatakan alasannya, Arion bisa melihat sorot mata Papanya yang seperti menyembunyikan sesuatu.


Aku yakin Papa menyembunyikan sesuatu, tapi apa?. Gumam Arion dalam hati.


Lalu dia menatap kekasihnya yang duduk disebelahnya, setelah melihat kesekitarnya dan merasa tidak ada yang memperhatikan mereka berdua, Arion dengan cepat mencium pipi Elmira yang masih fokus memperhatikan taman bunga didepannya.


"Rionnn,,,,." Pekik Elmira sambil membulatkan matanya saking terkejutnya.


"Jangan aneh-aneh Rion, ntar ada yang lihat." Protesnya, walau tak urung wajahnya bersemu merah.


"Hehe,,gak ada yang liat kok." Ucap Arion sambil mengusap rambut kekasihnya yang kini panjangnya sudah melewati bahu.


"Tapi tetep aja, kamu jangan ngulangin lagi, malu tahu kalau ada yang lihat." Kata Elmira mengingatkan kekasihnya.


Arion pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


****


Di kantor AXA group terlihat Roger tengah memimpin sebuah rapat, dia membahas rencana pembukaan pusat belanja dan juga wahana bermain yang sudah selesai seratus persen.


"Ingat, saya ingin semua persiapannya sempurna. Karena media akan meliputnya, jadi saya harap kalian bekerja keras dan mengeluarkan seluruh kemampuan kalian untuk mensukseskan acara pembukaan nanti." Kata Roger panjang lebar.


"Baik Tuan, kami akan bekerja keras untuk mensukseskan acara tersebut." Salah satu Direktur menjawab untuk mewakili yang lainnya.


Lalu Roger pun mengakhiri rapat tersebut, dia pun keluar ruangan dengan diikuti oleh asistennya.


Sampai diruang kerjanya, Roger langsung menyuruh Ervin untuk mengirimkan undangan pada kolega dan juga beberapa pejabat yang ada di kota tersebut.


Ervin pun mengiyakan dan langsung berlalu pergi dari ruangan bosnya.


Setelah asistennya keluar, Roger pun duduk sambil menyandarkan punggungnya di kursi.


Tiba-tiba dia teringat kembali dengan dosa di masa lalunya, tapi mau bagaimana lagi, dirinya selalu tidak berdaya dihadapan Papanya.


Sekarang Roger hanya berharap, bahwa apa yang dikhawatirkannya tidak akan pernah terjadi.


TO BE CONTINUE,,,


Terimakasih sudah mampir 🙏


Jangan lupa :


\=》Like


\=》Comment


\=》Favorit


\=》Vote


\=》Gift

__ADS_1


🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹


__ADS_2