
Sekitar pukul sembilan malam, sebuah motor matic masuk kehalaman parkir rumah sakit Alteza.
Sesaat kemudian, pemilik motor tersebut tampak setengah berlari masuk kegedung rumah sakit dan menghampiri meja bagian informasi.
"Ada yang bisa saya bantu?." Tanya petugas yang sedang berjaga disana dengan ramah.
"Saya mencari pasien atas nama Elmira Giavani." Jawab Hart yang terlihat sangat cemas. Ya, orang tersebut adalah Ayah dari Elmira.
Begitu dia dapat telfon dari pihak rumah sakit yang mengabarkan bahwa putrinya dalam kondisi kritis akibat kecelakaan, tanpa berpikir panjang lagi dia langsung meminjam motor pada tetangganya dan segera meluncur menuju ke kota.
"Pasien atas nama Elmira Giavani saat ini sudah ada di ruang ICU Pak, dia baru saja keluar dari ruang operasi." Petugas tersebut menjelaskan dengan ramah.
Setelah mengetahui dengan jelas letak ruang ICU Hart pun bergegas pergi, dia ingin segera memilihat kondisi putrinya.
Tidak lama kemudian Hart pun telah sampai diruang ICU, tampak dia sangat terpukul saat melihat kondisi putrinya terbaring tidak berdaya.
Beberapa peralatan medis juga tampak menempel di tubuh putrinya yang terlihat kurus.
Seorang dokter yang baru keluar dari ruang ICU menghampiri Hart.
"Apa anda orangtua pasien?." Tanya Dokter yang bernama Adrian tersebut, namanya tertulis jelas di nametagnya.
"Iya Dok, saya Ayahnya, bagaimana keadaan putri saya Dok?." Tanya Hart dengan cemas.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, terjadi perdarahan epidural akibat benturan yang keras di bagian kepalanya. Sehingga tadi saya bersama tim dengan segera melakukan tindakan operasi untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan. Selain itu dia juga mengalami patah tulang di bagian kaki kirinya, itupun juga sudah kami tangani dengan baik." Dokter Adrian menjelaskan panjang lebar.
Hart pun mengucapkan terimakasih, lalu dokter itupun mempersilahkan Hart untuk melihat kondisi putrinya tapi tidak bisa terlalu lama.
Dengan menggunakan pakaian khusus Hart masuk kedalam ruang ICU, hatinya benar-benar gundah saat melihat kondisi putrinya yang masih belum sadar.
"Siapa yang tega melakukan semua ini padamu Nak?." Gumam Hart sambil meraih tangan putrinya, namun sayangnya Elmira hanya terdiam dengan mata yang terpejam.
Pria yang menjadi Ayah bagi Elmira tersebut berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah, hatinya benar-benar cemas saat melihat putrinya yang tidak kunjung sadar.
Hart pun belum berani menduga-duga siapa pelakunya karena dia tidak mempunya bukti yang kuat.
Setelah batas waktu menjenguk habis Hart pun keluar dari ruang ICU dengan raut wajah sedih, dalam hatinya dia hanya bisa berdoa untuk kesembuhan putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya di hari minggu yang cuacanya sangat cerah terlihat Arion tengah sarapan bersama kedua orangtuanya.
Sedangkan kakeknya tengah bersantai dihalaman belakang sambil berjemur.
Arion terlihat sangat gelisah, semalam dia terus menerus teringat dengan kekasihnya, begitu juga dengan Tari yang mendadak perasaannya tidak enak.
__ADS_1
Selesai sarapan tanpa berkata sepatah pun Arion langsung masuk ke dalam kamarnya, dia kembali menghubungi kekasihnya dan ternyata kali ini panggilannya tersambung.
Namun sampai dering terakhir tidak ada jawaban, Arion pun kembali mengulangi panggilannya sampai kemudian panggilan tersebut terjawab.
Arion pun langsung mencecarnya dengan pertanyaan, karena dia mengira jika yang mengangkat panggilan tersebut adalah Elmira.
Namun jawaban dari seberang telfon membuat Arion tertegun, bahkan dia sampai mencubit pipinya sendiri berharap bahwa apa yang barusan di dengarnya hanyalah sekedar mimpi belaka.
Setelah mendapat penjelasan dari orang yang berada di seberang telfon, bergegas Arion menyambar jaketnya dan bergegas membuka pintu kamarnya.
Namun alangkah kagetnya saat dia melihat Mamanya telah berdiri di depan pintu kamar, sepertinya wanita itu hendak mengetuk pintu tapi urung karena sudah keburu terbuka.
"Ada apa Rion? kenapa wajahmu terlihat panik begitu?." Tanya Tari heran sekaligus penasaran.
"Elmira Ma, dia masuk rumah sakit dari kemarin."
"HAH?? masuk rumah sakit? kok bisa?." Tari benar-benar syok dengan kabar yang baru disampaikan oleh putranya.
"Aku belum tahu kejadian pastinya Ma, makanya sekarang aku mau pergi kesana." Jawab Arion.
"Ya sudah Mama ikut, kamu tunggu di depan, Mama mau ambil dompet sama tas, nanti kita suruh Pak Tio yang nganter biar cepat." Kata Tari yang kini ikutan panik.
"Tapi Papakan gak ngebolehin,,,,"
"Udah gak usah khawatir, Papa kamu gak ada di rumah, tadi sehabis sarapan dia langsung keluar bersama sopirnya." Setelah berkata seperti itu Tari langsung menuju kamarnya untuk mengambil barang yan ingin di bawanya.
Tidak lama kemudian mobil yang dikemudikan oleh Pak Tio meluncur menuju rumah sakit Alteza.
***
Seorang perawat menghampiri Hart yang duduk di depan ruang ICU.
"Selamat pagi Pak."
"Ii,,iya,,, ada apa ya?." Tanya Hart sedikit tergagap karena dirinya terlalu larut dalam pikirannya sendiri.
"Maaf kalau saya mengagetkan, saya hanya ingin menyerahkan barang milik pasien. Dan tadi juga ada telfon yang sepertinya berasal dari sahabatnya." Ucap perawat tersebut sambil menyerahkan tas selempang milik Elmira.
Hart pun menerimanya sambil mengucapkan terimakasih, kemudian perawat itu pun berlalu pergi untuk melakukan tugasnya yang lain.
Hart kembali duduk termenung sambil menatap putrinya yang masih terbaring didalam sana. Bahkan pria paruh baya itupun sampai tidak merasakan lapar sedikitpun saking cemasnya.
*
Mobil yang dikemudikan oleh Pak Tio telah memasuki kawasan rumah sakit Alteza.
__ADS_1
Begitu mobil berhenti Arion langsung melesat turun dan berlari masuk kedalam gedung rumah sakit.
Tari yang melihat hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian setelah menyuruh sopirnya untuk menunggu didalam mobil wanita itupun melangkah masuk menyusul Arion.
Beruntung tadi putranya itu sempat mengatakan kalau Elmira dirawat di ruang ICU, sehingga dia tidak perlu bertanya lagi ke bagian informasi.
Ketika Arion sudah hampir sampai di depan ruang tempat kekasihnya dirawat, dia memelankan langkahnya saat melihat seorang pria yang umurnya sedikit lebih Tua daripada Papanya tengah duduk sambil menundukkan kepalanya.
Arion menduga bahwa pria paruh baya tersebut pasti Ayah dari Elmira.
"Selamat pagi, Om." Sapa Arion.
Sontak Hart mendongak dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Iya, pagi, siapa ya?." Tanya Hart sambil menelisik penampilan pemuda yang ditaksir seusia dengan putrinya.
"Perkenalkan Om, nama saya Arion, saya adalah temannya Elmira. Bagaimana kondisi Elmira sekarang Om?." Tanya Arion yang terlihat sangat cemas, bahkan kini matanya sudah tertuju kedalam ruangan ICU dimana Elmira masih terbaring tak berdaya disana.
"Dia masih belum sadar, tapi kalau kamu mau menjenguknya kedalam, silahkan. Tapi tidak boleh terlalu lama." Jawab Hart sambil berusaha menahan perasaannya.
'Jadi ini pewaris dari AXA Group? sepertinya dia sangat mencintai Elmira, tapi bagaimanapun juga mereka tidak boleh bersama. Elmira harus berpisah dengannya'. Gumam Hart dalam hatinya sambil menatap Arion yang melangkah masuk kedalam ruang ICU.
Hart kembali duduk di kursi yang ada didepan ruangan ICU, dia menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya, dan siku yang bertumpu pada kedua pahanya.
Tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki yang datang dari arah sebelah kanan, tapi dia tidak menghiraukannya karena dia mengira bahwa yang datang adalah perawat yang mau mengecek kondisi pasien.
"Permisi, apa benar ini ruangan tempat Elmira di rawat?." Terdengar sebuah suara yang membuat Hart menoleh kearah sumber suara.
Tapi saat tatapan mereka bertemu, keduanya langsung terdiam tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
TO BE CONTINUE,,,
Terimakasih sudah mampir 🙏
Jangan lupa :
\=》Like
\=》Comment
\=》Favorit
\=》Vote
\=》Gift
__ADS_1
🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹