
Di kantor AXA group sedang mengadakan rapat untuk membahas masalah saham yang terus menurun, banyak yang mengusulkan pada Roger untuk mengalihkan kepemimpinan pada Arion.
Mereka berharap dengan bergantinya kepemimpinan maka para investor kembali mau berinvestasi di AXA group.
Namun Roger tidak bisa langsung memutuskan dan sepertinya dia masih belum rela jika harus melepaskan posisinya.
Hal tersebut kembali memicu rasa tidak suka para petinggi di perusahaan tersebut, mereka menilai jika Roger merupakan orang yang sangat egois.
***
Jam kuliah di kelas Elmira telah berakhir, begitu dosen keluar dari ruang kelas para mahasiswa pun berbondong-bondong ikut keluar.
Dan seperti biasa Elmira, Arion dan juga Felix menunggu sepi barulah mereka keluar sebab mereka bertiga enggan untuk berdesak-desakan.
Elmira yang ingin berbicara dengan saudara kembarnya tersebut bergegas menghampiri kursi tempat Arion duduk.
"Arion,,, " sapa Elmira mendekat ke arah meja saudaranya tersebut.
Pria tersebut langsung menoleh kearah sumber suara, sesaat mata mereka saling bentrok namun dengan cepat Arion memalingkan wajahnya.
"Ada apa?," tanya Arion sambil menahan gemuruh di dalam hatinya.
"Emm, itu, aku mau bicara sama kamu," jawab Elmira dengan sedikit ragu.
Felix yang mengerti jika ada hal penting yang akan dibicarakan oleh mereka berdua, maka dia lebih memilih untuk menyingkir.
Setelah sahabatnya pergi Arion kembali menatap Elmira.
"Mau bicara apa?," tanya Arion datar.
"Apa hari ini kita bisa pulang bareng?," tanya Elmira penuh harap.
Arion terdiam sejenak, entah kenapa dia merasa tidak sanggup berada lama-lama di dekat Elmira.
Dia masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri, Arion membenci dirinya saat mengingat bagaimana dia dulu memperlakukan Elmira.
"Maaf, aku tidak bisa El, aku ada urusan," jawab Arion sambil bangkit berdiri dan hendak berlalu pergi.
Namun dengan cepat Elmira mencekal lengan Arion.
"Tunggu,,,!,"
Arion kembali menatap Elmira dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Kembalilah ke mansion," ucap Elmira lirih.
Arion menghela napas sembari perlahan melepaskan cengkraman tangan saudarinya itu.
"Maaf El, aku sudah memutuskan untuk hidup mandiri, dan aku juga merasa nyaman menjalani kehidupanku yang sekarang.
__ADS_1
"Lagipula sudah ada kamu yang menggantikan diriku di rumah itu, selama ini kamu sudah banyak menderita karena ulah papa, dan sekaranglah waktunya kamu menikmati hidup yang lebih baik dari sebelumnya," ujar Arion panjang lebar.
"Apa kamu membenciku?," tanya Elmira dengan menahan sesak di dadanya apalagi tadi Arion menyingkirkan cengkraman tangannya, hal yang tidak pernah Arion lakukan selama ini.
Elmira merasa jurang pemisah diantara mereka semakin hari semakin lebar.
Arion pun hanya mengulas senyum tipis.
"Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, mana mungkin aku bisa membencimu, kamu itu saudaraku El." Arion mengelus pelan pucuk kepala Elmira "Pulanglah, hari sudah semakin sore," lanjutnya, lalu dia pun melangkah pergi meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi sedari tadi.
Elmira pun tidak mencegah lagi kepergian pria yang pernah menjadi kekasihnya itu, dia berdiri mematung sampai punggung Arion menghilang di balik pintu kelas.
Tanpa sadar dua butir air mata lolos dan meluncur melewati pipinya yang mulus, hatinya benar-benar merasa sakit menghadapi kenyataan saat ini.
Dia menemukan kedua orangtuanya, hidupnya pun sudah tidak sesulit dulu tapi dia kehilangan cintanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa setahun sudah Elmira tinggal di mansion bersama Roger dan juga Tari. Namun sikap Roger terhadap Elmira masih tetap seperti dulu, cuek dan acuh tak acuh. Beberapakali Elmira ingin tinggal sendiri karena tidak tahan melihat sikap Roger, tapi Tari selalu berhasil mencegah dan meyakinkan putrinya tersebut untuk tetap tinggal di mansion.
Selama setahun juga Roger mati-matian berusaha untuk memulihkan kondisi perusahaan namun masih tetap belum stabil, dia juga sudah mencoba beberapakali menyuruh Arion untuk membantunya tapi anaknya itu selalu mengabaikannya. Bahkan tanpa segan-segan Arion menyuruh Roger untuk melibatkan Elmira dalam memulihkan kondisi perusahaan, karena Arion yakin jika saudarinya itu lebih mampu dibandingkan dirinya. Jelas saja Roger menolak mentah-mentah saran dari putranya itu, karena dia masih belum bisa menerima gadis tersebut sebagai putrinya.
Sedangkan Arion yang selama setahun ini bekerja di coffee shop milik Ezra semakin mahir meracik kopi dan minuman lainnya, bahkan dia sudah mempunyai niat untuk membuka coffee shop sendiri suatu hari nanti. Dan sekarang dia fokus untuk mengasah ketrampilannya dan juga mengumpulkan modal untuk mewujudkan impiannya.
Hubungan Arion dan Elmira masih tetap seperti diawal status mereka sebagai saudara terungkap, Elmira yang merasa jika saudaranya itu menghindari dirinya memilih untuk pasrah, bahkan didalam kelas pun mereka lebih memilih untuk duduk saling berjauhan.
***
Namun saat akan menuruni tangga dia berpapasan dengan Roger, dan seperti biasa pria tersebut akan menunjukkan sikap dinginnya.
"Selamat pagi, Pa," ucap Elmira dengan menundukkan kepalanya, sebenarnya dia merasa canggung memanggil pria di hadapannya dengan sebutan papa, tapi bagaimanapun juga Roger merupakan ayah kandungnya.
Mendengar ucapan salam dari Elmira, Roger pun hanya mendengus sinis.
"Jangan berharap kamu bisa membuat saya luluh, sampai kapanpun saya tidak akan pernah mengakuimu sebagai putriku," ujar Roger datar.
Elmira pun menatap sendu kearah Roger, sebenarnya selama ini dia sudah pasrah jika dirinya tidak di terima oleh pria yang menjadi ayahnya tersebut.
"Tapi apa salahku Pa? bukan aku yang minta untuk dilahirkan di keluarga ini," ucap Elmira lirih.
"Entah itu mau kamu atau bukan tapi tetap saja saya tidak bisa menerimamu di rumah ini, bagi saya kamu itu adalah pembawa sial karena kamulah penyebab ayah saya meninggal," kata Roger dengan tajam, sedikit pun dia tidak merasa kasihan saat melihat wajah Elmira pucat kala mendengarkan perkataannya.
"Jadi, jika kamu punya rasa malu sebaiknya kamu keluar dari rumah ini, karena yang berhak tinggal disini hanyalah Arion," ujarnya lagi.
Elmira hanya bisa terdiam, mendengar perkataan papanya yang benar-benar tidak menginginkan kehadirannya dirinya membuat dadanya terasa sesak.
"Maaf Pa, jika memang Papa tidak menginginkan kehadiranku, baiklah, aku akan pergi dari rumah ini," ujar Elmira sambil berusaha untuk tersenyum sambil menatap lekat ke arah Roger.
"Terimakasih karena selama setahun ini aku sudah di ijinkan tinggal disini, walaupun selama ini Papa mengabaikan kehadiranku, tapi bukannya aku dendam dengan perlakuan Papa namun sebaliknya aku tetap menyayangimu," lanjutnya dengan lembut.
__ADS_1
Entah apa yang dirasakan oleh Roger kini malah dia yang tertegun mendengar perkataan Elmira.
Lalu tanpa menunggu reaksi dari papanya Elmira berlalu pergi menuruni anak tangga satu persatu, namun sebelum itu dia masih sempat melempar senyum sekali lagi kearah Roger.
Roger pun masih tetap tidak memberikan reaksi apapun, karena dia masih tidak mengerti dengan perasaan asing yang menyelinap di hatinya.
BRUGGHH,,,,,
BRAKKK,,,
"Aaaaaa,,,,,,,"
"Elmiraaaa,,,,,"
Roger yang hendak melanjutkan langkahnya menuju lantai tiga mengurungkan niatnya kala mendengar keributan di lantai satu.
Bergegas dia turun ingin melihat apa yang terjadi, apalagi setelah dia mendengar teriakan para pelayan dan juga istrinya yang terdengar sangat histeris.
Sampai di lantai satu mata Roger langsung membulat saat melihat kondisi Elmira yang sedang dalam keadaan telentang di dekat anak tangga paling bawah, dengan mata terpejam dan darah mengalir dari kepalanya.
Mendadak lutut Roger terasa lemas, dengan perlahan dia berjalan mendekat kearah Elmira namun dia langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku, hah?," pekik Tari dengan berurai air mata, dia hendak menyerang suaminya namun beberapa pengawal dengan sigap mencegahnya.
"Tenang Nyonya," ucap seorang pengawal sambil memegangi Tari.
Roger terdiam dengan tatapan nanar tanpa menghiraukan kemarahan istrinya, mendadak hatinya disusupi rasa penyesalan yang begitu besar. Lalu tanpa basa-basi dia mengangkat tubuh Elmira yang tidak berdaya sambil memerintahkan sopirnya untuk menyiapkan mobil untuk membawa Elmira ke rumah sakit.
Tari yang melihat hal tersebut bergegas menyusul suaminya dan ikut masuk kedalam mobil.
Sesaat kemudian mobil yang membawa Elmira kerumah sakit pun berlalu pergi.
TO BE CONTINUE,,,
Terimakasih sudah mampir 🙏
Jangan lupa :
\=》Like
\=》Comment
\=》Favorit
\=》Vote
\=》Gift
🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹
__ADS_1