Takdir Yang Kejam

Takdir Yang Kejam
TIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Bugatti yang dikendarai oleh Arion memasuki halaman rumah milik Shire, rumah bertingkat tiga dengan cat warna putih itu berdiri megah di sebuah halaman yang cukup luas.


Arion memarkirkan mobilnya di dekat pintu gerbang, sebenarnya dia berniat untuk langsung pulang setelah Shire turun. Namun sayangnya dia terlambat karena Mamanya Shire keburu keluar dari dalam rumah dan berjalan menghampiri mobil Arion.


"Loh Re, kamu udah pulang? sama siapa?." Tanya Meisya saat melihat anaknya berdiri didekat pintu mobil.


"Em,,itu Ma, sama Arion, tadi dia yang nganterin aku." Jawab Shire dengan wajah malu-malu.


Merasa tidak enak kalau langsung pergi, apalagi melihat Meisya yang sudah berdiri di depan mobilnya terpaksa Arion pun turun.


"Selamat siang Tante." Sapa Arion dengan sangat terpaksa.


"Ehh,, ada Arion, ayo masuk dulu." Ajak Meisya sambil tersenyum.


"Ehh,, gak u,,,,"


"Udah, gak usah sungkan, anggap aja rumah sendiri, kebetulan juga Tante mau makan siang. Kamu pasti belum makankan?." Lalu tanpa permisi Meisya menarik tangan Arion dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Akhirnya dengan pasrah Arion mengikuti langkah wanita tersebut.


Melihat Arion yang mau mampir ke rumahnya Shire pun bersorak dalam hatinya.


Meisya langsung membawa Arion ke meja makan, kemudian wanita itu menyuruh seorang pelayan membawakan minuman untuk Arion.


"Gimana keadaan Kakekmu Rion? maaf, Tante belum sempat menjenguknya ke rumah sakit." Ucap Meisya yang kini duduk diseberang meja makan, sedangkan Shire duduk disebelah Arion.


"Gak apa-apa Tan, kondisi Kakek juga sudah membaik." Jawab Arion.


"Syukurlah kalau begitu begitu, ayo diminum dulu Rion,setelah itu nanti kita makan siang bareng-bareng." Kata Meisya saat pelayan itu menaruh segelas minuman dihadapan Arion.


"Terimakasih Tante." Lalu Arion pun meneguk minuman tersebut.


Tidak lama kemudian pelayan pun menaruh hidangan diatas meja, ada berbagai macam makanan yang tersaji.


"Ayo Rion, gak usah sungkan-sungkan." Kata Meisya sambil memberi isyarat pada putrinya agar melayani Arion.


Shire yang paham dengan kode dari Mamanya langsung berdiri kemudian mengisi piring Arion dengan nasi.


"Rion, cukup gak segitu?." Tanya Shire.


"Cukup." Jawab Arion singkat.


"Nih, kamu cobain deh ayam gorengnya, enak banget pokoknya. Ini juga capcay gak kalah mantap." Ucap Shire sambil mengisi piring Arion dengan lauk pauk.


"Udah cukup." Kata Arion datar.


Meisya yang melihat hal tersebut pun hanya tersenyum, kemudian mereka bertiga pun menikmati makan siang bersama-sama.


Arion dengan cepat menghabiskan makanannya, karena dia ingin cepat-cepat pergi dari rumah Shire.


"Tante, aku pulang dulu ya, dan makasih untuk makan siangnya." Ujar Arion sambil beranjak bangun.


"Loh? kamu gak mau ngobrol dulu disini?." Meisya berusaha untuk mencegah Arion pulang.


"Maaf Tan, aku lagi banyak tugas soalnya, apalagi udah mau ujian." Arion tetap pada pendiriannya.


Melihat Arion yang mau pulang, wajah Shire pun mendadak cemberut padahal dia berharap kalau Arion mau lebih lama dirumahnya.


"Oh ya sudah kalau gitu, tapi nanti main lagi kesini ya Rion, kapan pun kamu mau datang aja langsung." Ujar Meisya yang sudah tidak bisa lagi mencegah kepergian pria yang dicintai oleh putrinya itu.


Setelah berpamitan Arion pun keluar dengan diantar oleh Shire.

__ADS_1


"Rion, makasih ya, kamu udah mau nganterin aku pulang." Kata Shire sambil tersenyum.


"Gak usah berterimakasih, lagian aku ngelakuin itu karena terpaksa." Ujar Arion dengan cuek.


Lalu tanpa berbasa-basi lagi Arion masuk ke dalam mobilnya, sesaat kemudian mobil itupun meluncur pergi meninggalkan kediaman Danish Najendra.


Dengan wajah cemberut dan hati yang kesal Shire pun kembali masuk ke dalam rumah.


"Ck,, susah banget sih naklukin hatinya Arion." Gerutunya sambil melangkah menghampiri Mamanya yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Kamu kenapa cemberut Re? kan tadi kamu udah dianter sama Arion." Meisya tampak heran meliaht raut wajah putrinya.


"Aku kesel Ma, Arion itu masih aja bersikap cuek sama aku." Keluh Shire sambil duduk disebelah Mamanya.


"Kamu gak usah khawatir Re, Kakek Gibson sama Om Roger kan sudah merestui kamu jadi istrinya Arion. Mama yakin kok nanti Arion pasti nerima perjodohan ini, pokoknya kamu tenang aja karena banyak yang mendukung kamu." Ujar Meisya membesarkan hati putrinya.


Mendengar perkataan Mamanya, Shire pun langsung tersenyum sumringah.


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Menjelang ujian tengah semester semua mahasiswa sibuk mempersiapkan diri. Tak terkecuali Arion dan Elmira beserta ketiga sahabatnya.


Karena kesibukkan itulah mereka tidak sempat berkumpul kecuali Elmira dan Arion, selain karena mereka merupakan sepasang kekasih jurusan yang mereka ambil juga sama. Sehingga mereka berdua bisa belajar bersama, sedangkan Felix memilih untuk belajar sendiri karena dia tidak ingin mengganggu kebersamaan pasangan tersebut.


****


Pagi ini terlihat Fani memasuki gerbang kampus, dia berjalan sambil memeluk buku modul yang tebal.


Gadis itu berjalan sambil menundukkan kepalanya, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.


"Fan,,,Fanii,,,."


" Fan, kamu lagi sibuk ya?." Tanya Anggia begitu sampai dihadapan Fani.


"Em,, iya, soalnya aku harus belajar, kan kalian tahu sendiri kalau ujian udah deket, selain itu jurusan kita juga beda jadi kita gak mungkin belajar bersama."Jawab Fani menjelaskan.


Shire menatap curiga kearah Fani.


"Sejak kapan kamu rajin belajar Fan? setahuku kamu itu gak peduli sama yang namanya belajar?." Tanya Shire dengan tatapan menyelidik.


Fani yang ditatap seperti itu mendadak gugup.


Tepat di saat Shire sedang menginterogasi temannya itu, lewatlah Dafa yang sedang menuju Fakultasnya.


Terlihat raut wajah Fani berubah saat tatapan matanya bertemu dengan Dafa, apalagi pria tersebut memandang dirinya dengan tatapan sinis.


Shire melihat hal yang janggal diantara Fani dan juga Dafa.


"Sepertinya aku tahu apa yang ada di pikiranmu saat ini." Kata Shire sambil tersenyum sinis.


Anggia yang belum paham hanya diam menyimak.


"Ma,,maksud kamu Re?." Tanya Fani tergagap.


"Kamu sukakan sama Dafa?." Walau Shire hanya menebak ternyata tebakannya sangat tepat.


Fani pun membulatkan matanya.


"Kok kamu tahu?." Fani terlihat kaget.


"Seriusan kamu suka sama cowok itu Fan?." Anggia ikut kaget.

__ADS_1


"Itu gak penting kamu suka sama dia atau gak, tapi yang jadi masalah adalah kenapa kamu menghindar dari kita berdua?." Tanya Shire.


Fani menundukkan kepalanya.


"Jawab Fan,,,!." Kata Shire penuh tekanan.


Akhirnya setelah memantapkan hatinya Fani pun mengatakan yang sebenarnya.


"Iya, aku memang suka sama Dafa, tapi dia nolak aku karena aku pernah bersikap jahat sama Elmira. Dia nyuruh aku untuk merubah sikapku yang buruk itu, dan dia juga mengingatkanku, kalau perubahan itu tak akan terjadi jika aku masih berada dalam pergaulan kalian berdua." Ujar Fani dengan jujur.


Shire dan Fani tampak syok mendengar perkataan teman mereka.


"Jadi,,,kamu nganggap aku ini membawa pengaruh buruk untuk dirimu Fan? dan sekarang kamu mau memutuskan hubungan pertemanan kita? wahh,,,,aku benar-benar tidak nyangka kalau sifat kamu kayak gini." Ucap Shire sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ckck,,, kamu emang bener-bener gak tahu terimakasih ya Fan, kamu lupa siapa yang udah ngebuat kamu diterima di kampus ini?." Anggia ikut-ikutan memojokkan temannya itu.


"Maaf, bukan maksud aku kayak gitu. Tapi aku sadar jika apa yang selama ini kita lakukan pada Elmira itu adalah hal yang salah." Kata Fani mencoba menyadarkan temannya.


Gadis itu sudah bertekad untuk merubah sikapnya yang buruk, dia tahu akan ada resiko yang dia terima jika membuat masalah dengan Shire.


"Ohh,, jadi sekarang kamu mau nyalahin aku gitu? kamu mau ngajarin aku sekarang?. Seharusnya kamu sadar Fan, kamu itu hanya anak seorang pelayan dirumahku, kalau bukan karena aku yang meminta pada orangtuaku untuk membiayai kuliahmu, kamu gak mungkin sekarang bisa ada disini." Ujar Shire sambil menatap Fani dengan pandangan merendahkan.


Mendengar perkataan temannya itu Fani pun sadar, jika keputusannya untuk menjauh dari Shire adalah hal yang benar. Selama ini dirinya hanyalah dijadikan pengikut oleh Shire, selain itu beberapa kali dia juga pernah memergoki ibunya diperlakukan kasar oleh Shire maupun kedua orangtuanya.


Namun selama ini Fani selalu menahan diri bahkan selalu mengikuti apapun yang di perintahkan oleh gadis tersebut, karena dia tidak ingin ibunya kehilangan pekerjaan.


"Oke kalau itu yang menjadi keinginanmu, mulai saat ini kita gak usah temenan, karena aku juga gak mau punya teman yang sok suci kayak kamu. Dan lihat aja nanti, kamu bakalan nerima akibatnya karena sudah berani bersikap kurang ajar padaku." Kata Shire dengan nada mencemooh.


Fani pun hanya terdiam.


"Yuk Anggia, kita tinggalkan saja manusia yang tidak tahu terimakasih ini." Ajak Shire pada temannya yang lagi satu.


Anggia pun menganggukkan kepalanya, namun sebelum pergi dia masih sempat berucap pada Fani.


"Siap-siap aja kamu jadi gembel." Kata Anggia sambil tersenyum mengejek.


Lalu Shire dan Anggia pun meninggalkan Fani yang masih terpaku ditempatnya.


Setelah kedua mantan temannya pergi, Fani pun melanjutkan langkahnya menuju Fakultas Hukum dengan perasaan yang lebih lega.


Dia tidak tahu apakah kedepannya nanti Dafa mau menerima dirinya atau tidak, tapi yang terpenting adalah mulai saat ini dia akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


TO BE CONTINUE,,,


Terimakasih sudah mampir ๐Ÿ™


Jangan lupa :


\=ใ€‹Like


\=ใ€‹Comment


\=ใ€‹Favorit


\=ใ€‹Vote


\=ใ€‹Gift


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2