
Sore harinya ketika Roger pulang dari kantor, kepala pelayan memberitahukan bahwa Ayahnya sedang menunggu di taman belakang mansion.
Pria tua itu telah pulang dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu, karena kondisinya yang sudah stabil. Hanya saja dokter menyarankan pada Roger agar ayahnya tersebut tidak terlalu banyak pikiran, dan jangan sampai ada sesuatu yang mengejutkan dirinya.
Bergegas Roger menemui Ayahnya, terlihat pria tua itu sedang duduk di atas kursi roda sambil memandangi langit jingga di ufuk barat.
"Kok Papa masih diluar? udaranya udah mulai dingin, gak baik buat kesehatan Papa." Kata Roger sambil duduk dikursi.
"Roger, beberapa malam ini Papa mimpi aneh." Kata Gibson tidak menghiraukan perkataan putranya.
Sejenak Roger tertegun, tidak biasanya sang Ayah ingin menemuinya hanya karena perkara mimpi.
"Papa mimpi apa?." Tak urung dia merasa penasaran juga.
"Papa mimpi didatangi sama ibu kamu, tapi dengan raut wajah sewaktu dia masih gadis." Kata Gibson dengan pandangan masih menatap lurus ke depan.
"Tapi mimpi itukan hanya bunga tidur, jadi gak ada yang perlu di khawatirkan Pa." Ucap Roger menghibur Papanya.
Terlihat Gibson menghela napas seperti melepaskan sebuah beban dihatinya.
"Tapi perasaan Papa mendadak tidak enak kalau habis mimpi seperti itu." Kata Gibson.
"Pa, inget kata Dokter, Papa gak boleh banyak pikiran. Aku gak mau nanti kondisi Papa drop lagi, percaya sama aku, itu semua hanyalah bunga tidur." Ujar Roger dengan raut wajah serius.
Walaupun dia sendiri sebenarnya juga merasa gelisah di dalam hatinya.
"Ya, mungkin benar seperti kata kamu, kalau itu semua hanyalah bunga tidur."
Lalu sepasang anak dan ayah itu mengubah topik pembicaraan, dan kini mereka membahas tentang bisnis.
Setelah dirasa cukup, Roger pun pamit pada Ayahnya untuk membersihkan diri karena sebentar lagi jam makan malam tiba.
Gibson pun kemudian meminta pada pelayan pribadinya untuk mendorong kursi rodanya masuk ke dalam mansion.
Saat makan malam Gibson ikut hadir di meja makan, namun menu makanannya berbeda dengan yang lainnya.
Selain itu Arion juga hadir disana, tapi dia lebih memilih untuk fokus menikmati makanan yang ada dipiringnya.
"Rion, kapan kamu mulai seleksi untuk acara pemilihan putra putri kampus?." Tanya Roger disela-sela makannya.
"Tiga hari lagi Pa." Jawab Arion singkat.
"Berarti nanti kamu bisa datang ke acara pembukaan mall dan wahana bermain milik perusahaan kita." Kata Roger .
Terlihat raut wajah Arion berubah kesal mendengar perkataan Papanya.
"Ngapain aku harus ikut Pa? gak ada gunanya juga aku datang kesana." Tolak Arion.
"Kamu harus datang Rion, agar kamu terbiasa bertemu dengan orang-orang dari kalangan bisnis." Ucap Gibson menimpali, pria tua itu benar-benar ingin melihat cucunya juga menjadi seorang pengusaha sukses seperti dirinya.
"Baiklah Kek, aku akan datang ke acara itu." Akhirnya Arion pun nurut.
"Jangan lupa nanti ajak Shire juga." Ujar Gibson.
"Loh? kok pake ngajak dia?." Arion langsung protes.
"Memangnga kenapa? diakan calon tunanganmu yang nanti akan kamu jadikan istri." Kata Gibson.
"Benar kata kakekmu Rion, nanti kamu ajak Shire juga ya." Roger ikut mendukung perkataan Ayahnya.
Sedangkan Tari hanya diam saja, dia seperti dianggap tidak ada disana.
Arion pun hanya mendengus kesal, tanpa berkata sepatah katapun dia beranjak pergi dari meja makan. Padahal makanan dipiringanya belum habis, tapi dia sudah keburu kehilangan selera makan.
"Rion makananmu belum habis." Tegur Roger.
__ADS_1
"Udah kenyang." Jawab Arion sambil berlalu pergi.
Roger pun tidak mencegah lagi, daripada dia ngotot yang ada nanti malah terjadi pertengkaran lagi. Apalagi disana ada Ayahnya yang suasana hatinya harus benar-benar dijaga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Roger pun tiba, hari ini adalah pembukaan mall dan wahana bermain milik AXA group.
Sekitar pukul setengah delapan tamu undangan pun mulai hadir, karena acara akan dimulai sekitar pukul sembilan pagi.
Roger dan Tari sedang bersiap di mansion, mereka berdua harus tampil sempurna layaknya pasangan suami istri yang bahagia.
Sedangkan Arion yang memang niatnya setengah hati untuk ikut, dia pun pergi menjemput Shire dengan wajah ditekuk.
"Udah siap Ma?".Tanya Roger pada istrinya.
"Sudah Pa, apa kita berangkat sekarang?." Tanya Tari dengan senyum penuh kepalsuan.
Roger pun hanya menganggukkan kepala sambil berjalan menuju mobil yang sudah siap di depan mansion.
Tidak lama kemudian mobil yang membawa Roger bergerak menuju lokasi acara, dengan dikawal oleh dua mobil yang berisi bodyguard.
***
Arion yang baru sampai dihalaman rumah Shire langsung turun dari mobil.
Seorang pelayan menyambut dirinya dan mengantarkannya masuk kedalam rumah.
"Tuan Muda, silahkan masuk." Kata pelayan tersebut dengan sikap sopan.
"Bisakah Mbak panggilkan Shire suruh keluar, saya mau nunggu disini saja." Kata Arion yang memang enggan masuk kedalam.
"Maaf Tuan Muda, tapi Nyonya Meisya tadi sempat berpesan pada saya agar membawa Tuan masuk kedalam." Ujar pelayan tersebut.
Lalu Arion pun mengikuti langkah pelayan tersebut masuk kedalam rumah.
Sampai diruang tamu Arion pun duduk disalah satu sofa, matanya memindai kesekeliling ruangan.
Sesekali dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat, padahal acara dimulai jam sembilan dan tempat acaranya agak jauh dari rumah Shire.
Pelayan yang tadi mengantar Arion pun kembali sambil membawa segelas minuman.
"Silahkan diminum Tuan Muda."
"Makasih, Mbak bisa panggil Shirenya gak, suruh dia cepetan." Kata Arion tanpa mempedulikan minuman yang ada dihadapannya.
"Baik Tuan Muda, kalau begitu saya panggil Nona Shire dulu." Pelayan itu pun berlalu pergi meninggalkan Arion seorang diri.
Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki menuruni tangga, lalu tampak Shire berjalan menuruni tangga dengan mengenakan pakaian semi formal.
"Rionn,,, maaf ya kamu lama nunggunya." Kata Shire sambil tersenyum manis, dia berharap pria dihadapannya itu terpikat.
Tapi sayangnya Arion menatap dengan raut wajah datar dan langsung beranjak bangun sambil berjalan keluar.
"Rionn,, tunggu." Teriak Shire sambil bergegas menyusul Arion keluar, dalam hati gadis itu merasa sangat kesal karena dirinya diabaikan begitu saja.
Sampai diluar Arion langsung masuk kedalam mobil, dan mau tidak mau Shire pun ikut menyusul dan duduk disebelah pria yang dicintainya itu.
Dengan sikap dingin dan raut wajah datar Arion mengemudikan mobilnya menuju tempat acara. Dan sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam, Shire juga tidak berani bertanya apapun dan akhirnya wanita itu memilih untuk diam.
***
Elmira duduk seorang diri di taman belakang Fakultas, dia merasa sedikit kesepian karena Arion tidak datang ke kampus.
Sambil duduk bersandar dia memandang lurus ke depan, entah apa yang ada di pikiran gadis tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba muncullah Felix dengan diiringi oleh Brady dan juga Dafa.
"Hay El, ternyata kamu disini? kita cariin loh dari tadi." Sapa Felix.
"Eh kalian, ada apa nyariin aku?." Tanya Elmira sambil tersenyum.
"Em,,kamu tahu hari ini Arion pergi kemana?." Tanya Felix tampak seperti mengkhawatirkan sesuatu.
Elmira pun menganggukkan kepalanya.
"Tahu kok, katanya dia menghadiri sebuah acara di kantor Papanya. Memangnya ada apa?." Elmira terlihat penasaran.
Ketiga pria itupun saling pandang.
"Gak apa-apa kok, kita cuma mau nanya aja." Jawab Felix sambil nyengir.
"Kita mau ke kantin, kamu mau ikut gak?." Tanya Brady.
"Nggak, aku gak ikut, kalian bertiga aja yang kesana." Tolak Elmira, dia merasa sedikit aneh jika hanya bersama mereka bertiga. Selain itu dia sudah terlanjur nyaman duduk disana.
"Kalau gitu kita pergi dulu ya." Kata Brady.
Kemudian mereka bertiga pun meninggalkan Elmira sendirian.
Sampai dikantin ketiga pria itu langsung duduk di tempat biasanya.
"Sepertinya Elmira belum membaca berita tentang pertunangan Arion dan juga Shire." Ujar Felix.
"Bener, kalau dia tahu gak mungkin dia bisa setenang itu." Sambung Dafa.
Sedangkan Brady masih fokus membaca berita terbaru di ponselnya, yaitu berita yang bertajuk Pewaris AXA Group Telah Bertunangan.
Diberita tersebut terpajang wajah Arion dan Shire, terlihat keduanya sedang tersenyum.
"Kasihan Elmira, aku yakin dia pasti sakit hati banget kalau denger Arion bertunangan." Ujar Brady sambil memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Tapi kalian ngerasa aneh gak sih? Arion gak pernahkan bilang apapun tentang pertunangannya dengan Shire, tapi kenapa tiba-tiba udah ada berita kayak gini?." Dafa menatap kedua temannya bergantian.
Keduanya pun tampak memikirkan perkataan Dafa.
"Bisa jadi beritanya keluar duluan, terus acaranya belakangan. Atau Arion yang memang sudah menyembunyikan sesuatu dari kita." Felix berspekulasi.
"Gak mungkin Arion menyembunyikan hal sebesar itu pada kita, apa kalian gak lihat jika senyumnya di foto itu terlihat seperti dipaksakan? itu artinya dia sedang dalam keadaan tertekan." Ujar Brady yang mempunyai pemikiran berbeda dari kedua sahabatnya.
"Iya sih, dan kemungkinan besar ini adalah ulah Papanya." Kata Dafa.
Kemudian mereka bertiga pun terdiam, larut dalam pemikiran masing-masing.
TO BE CONTINUE,,,
Terimakasih sudah mampir 🙏
Jangan lupa :
\=》Like
\=》Comment
\=》Favorit
\=》Vote
\=》Gift
🌹🌹🌹💙💙🌹🌹🌹
__ADS_1