Takdir Yang Tidak Kuduga

Takdir Yang Tidak Kuduga
Siuman


__ADS_3

Sudah 30 menit Nazwah berjuang didalam ruang operasi. Semua orang menunggu kabar dari dokter. Terutama alvin yang sedari tadi perasaannya tidak karuan. Dia mondar-mandir di depan pintu ruangan operasi.


Kedua orang tua nya dan kedua orang tua nazwah beserta Gibran hanya terduduk di kursi rumah sakit. menunggu nazwah keluar dari ruangan itu.


Lampu berubah, yang tadinya berwarna merah menjadi hijau.


Semua berdiri melihat dokter keluar dari ruangan itu. Dokter Hafizh beserta satu orang rekannya menemui keluarga pasien.


Mereka tampak tidak sabar mendengarkan kondisi nazwah.


"Operasi nya berjalan lancar, pasien dapat segera di pindahkan ke ruang inap" jelas dokter Hafizh.


Semua merasa lega mendengar ucapan dokter Hafizh.


"terima kasih dok.." ucap papa alvin.


"kalau begitu kami permisi" ucap Hafizh lalu meninggalkan keluarga nazwah.


Tak berapa lama beberapa perawat keluar dari ruang operasi mendorong tempat tidur Pasien yg tak lain adalah nazwah untuk dipindahkan ke ruang inap VIP.


Secara bergantian mereka menjenguk nazwah yg masih belum sadarkan diri.


Yang mendapat giliran pertama adalah keluarga nazwah yaitu ayah dan bunda nazwah beserta Gibran adik nazwah.


lalu orang tua alvin, kemudian terakhir alvin.


dia sangat lama berada disamping nazwah, ia menggenggam tangan wanitanya itu dengn lembut.


Menatap wajah cantik istri nya yg sedang tertidur.


"sayang... aku mohon bangun yaa... Kamu ngga kasian lihat ayah,bunda, Gibran, papa, mama dan terutama aku sedih gini..."lirih alvin.


Seorang suster masuk kedalam ruangan untuk memeriksa nazwah dan mengganti infus.


Hari sudah mulai malam, alvin masih tidak mau beranjak sekalipun dari samping nazwah.


Bahkan dia sampai meninggal kan kewajiban nya. Hingga mamanya masuk kedalam ruangan untuk menyuruh anaknya itu sholat dan makan.


Dengan berat hati dia meninggalkan nazwah, dengan syarat mama nya itu tidak boleh meninggalkan nazwah sedetikpun.


Setelah selesai sholat dan makan yang dibujuk oleh papanya agar alvin mau makan.

__ADS_1


Dan akhirnya dia nurut walaupun hanya sedikit karena dia sama sekali tidak memiliki selera untuk makan.


Alvin kembali menemani nazwah yg masih belum sadar juga. Sudah hampir tengah malam dan Alvin pun tertidur disebelah nazwah.


Paginya alvin terbangun dan mendapati nazwah yg masih setia menutup matanya.


"sayang... kamu nggak capek apa bobo terus.." ucap alvin pelan.


Di pergi untuk sholat subuh si musholla rumah sakit. Dan saat dia kembali, ia melihat dokter dan suster berlari kearah kamar nazwah.


Tanpa berfikir panjang dia langsung menyusul dan masuk kedalam kamar.


Dokter memeriksa keadaan nazwah, dan suster menyuntikkan obat ke infus nazwah.


"ada apa fiz.." tanya ku pada Hafizh.


"Tadi nazwah sedikit mengalami penurunan, Mungkin itu efek dari operasi dan untungnya cepat ditangani jadi sudah tidak apa'.." jelas Hafizh.


"terimakasih" ucap alvin.


"sama', klw gitu saya permisi..." pamit Hafizh.


"Sayang... bangun yaa... klw kamu bangun kakak janji bakal turutin semua kemauan kamu..." ucap alvin.


Perlahan air matanya menetes, ini semua berhasil membuat nya menjadi laki' cengeng. Dari yang dulu nya dia sama sekali tidak peduli dengan apapun kecuali keluarga dan perusahaan. Sekarang dia sudah luluh, es dingin yang menyelimuti hatinya sudah mencair. Itu semua karena nazwah, istri yang berhasil mengubah hidup alvin yang dulunya sangat monoton menjadi lebih berwarna.


Alvin tertidur dengan mata yang sembab karena menangis. Tadi malam dia memang tidak tidur dengan pulas. sesekali dia terbangun untuk memastikan nazwah sudah bangun atau belum.


Tidurnya terusik karena sebuah tangan mungil mengelus lembut rambutnya. Ia perlahan membuka matanya untuk mengetahui pelakunya.


Dan ternyata... itu nazwah.


Ia menatap alvin lekat, dengan wajah yang masih pucat dia mencoba tersenyum senang namun alvin dapat merasakan dibalik senyuman itu terdapat banyak penderitaan yang ia coba tutupi.


"sayang... Kamu udah siuman, sebentar aku panggilin dokter..." ucap alvin semangat.


Nazwah menggelang lalu menarik tangan alvin untuk tetap berada disamping nya.


Alvin yang mengerti kemauan istrinya itupum menurut, ia kembali duduk disamping Nazwah.


Dan wanita itu langsung memeluk alvin dan alvin pun membalas pelukannya itu.

__ADS_1


"kak... maafin Nazwah... nazwah memang ceroboh... nazwah emang bodoh, keras kepala..." ucap nazwah mengumpat.


"jangan gituu sayang..." ucap alvin melepas pelukan mereka dan menatap nazwah.


"nazwah nggak dengerin kata' kakak untuk hati', jadinya... kita harus kehilangan anak kita.." ucap nazwah sesenggukan.


"ini bukan salah kamu sayang, ii..ini udah takdir dari Allah. Mungkin ada rencana besar yang Allah siap kan untuk kita, jadi jangan mengeluh dan menyalahkan dirimu yaa..." ucap alvin.


"Lagian anak kita udah ada di surga, dia pasti bakalan sedih jika liat mamanya sedih. Jadi kamu harus bahagia biar anak kita bahagia disana.. ok.." sambung alvin sambil mengelap air mata nazwah.


Nazwah mengangguk pelan lalu kembali memeluk alvin.


Setelah puas berpelukan mereka melepaskan pelukan nya dan nazwah tersenyum simpul.


"nah.. gitu dong senyum... kan tambah cantik" goda alvin.


nazwah tersenyum malu-malu.


Tak berapa lama kemudian keluarga nazwah datang. Mereka yang melihat nazwah sudah siuman langsung merasa gembira. Dan kemudian keluarga dari alvin pun datang.


Mereka semua mencoba menghibur nazwah agar tidak terlalu memikirkan yang telah terjadi. Karena itu semua sudah takdir dari Allah yang tidak seorang pun didunia ini bisa mengelak nya.


**Satu Minggu kemudian.


~ Nazwah POV


Tak terasa aku sudah satu Minggu di rumah sakit, aki sudah mulai mencoba mengikhlaskan kepergian nya. Dan menerima semuanya dengan lapang dada.


Selama seminggu ini kak Alvin selalu berada di sisiku. Dari pagi hingga siang dia ke kantor, dan dari sepulang dari kantor sampai malam kak Alvin berada di rumah sakit.


Dan selama seminggu ini ada beberapa temanku terutama zihan datang menjenguk ku. Soal kuliah, aku diberi izin dua Minggu.


Awalnya aku bingung kenapa bisa kampus memberikan izin selama itu, padahal saat ini para mahasiswa/i sedang sibuk-sibuknya dengan tugas' dari dosen.


Tapi rasa bingung ku semua terpecahkan setelah mengetahui bahwa sebenarnya kepala yayasan adalah teman dekat dari papa nya kak Alvin.


setelah seminggu merasa bosan plus suntuk di rumah sakit akhirnya aku bisa pulang ke rumah.


Aku sangat senang, akhirnya terbebas dari tempat ini.


Aku sudah merindukan keadaan rumah.

__ADS_1


__ADS_2