Takdir Yang Tidak Kuduga

Takdir Yang Tidak Kuduga
Ancol


__ADS_3

Paginya, Kak Alvin hari ini tidak pergi ke kantor.


Setelah selesai sarapan, kak Alvin menyuruh ku untuk bersiap.


"Naz... Kamu buruan siap'..." titah kak Alvin.


"emang kita mau kemana..." tanyaku


"nggak usah banyak tanya..." ucap kak alvin lalu berjalan menuju keluar rumah.


Tanpa menunggu lama, aku langsung pergi ke kamar.


Aku mencari baju yang akan ku kenakan. Dan hatiku tertuju pada jumpsuit maroon. Aku memadukan dengan high heels glass warna hitam.


Rambut ku kubiarkan tergerai bebas ditambah sedikit polesan make up tipis.


Terlihat simpel namun sangat bisa membuat ku tampak sangat cantik (menurutku 😁)


Aku menghampiri kak Alvin yang sudah stay di teras rumah.


"kak ayoo..." ucapku.


Kak Alvin malah bengong, dia melihat penampilan Ku dari atas sampai bawah.


"kenapa... ada yang salah yaa..." tanyaku heran.


"n..nggak kok... Kamu terlihat sedikit berbeda... tambah cantik.." ucap kak alvin melongo.


Aku tersipu malu.


"Kak ayo... jadi nggak nihh..." ucapku kesal karena kak Alvin sedari tadi hanya diam melihat ku.


"ah.. iyaa.. ayoo..." Ajak kak Alvin.


"ehh.. tunggu..kakak mau pake celana pendek gitu..." ucapku sambil menunjuk kearah celana kak Alvin.


"Ah... lupaa... tunggu bentar..." Ralat kak Alvin lalu berlari kedalam rumah.


Aku memilih untuk masuk kedalam mobil terlebih dahulu.


Tak berapa lama kemudian, kak Alvin datang. Dia mengenakan sweater abu' polos, jaket hitam dan black pants. Tak lupa sneaker putih.


Dia terlihat begitu tampan dan cool.


Kak Alvin memasuki mobil, Dan menghidupkan mobil.


Mobil melaju membelah jalan yang sedikit ramai.


Sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai di sebuah Ancol.


Aku tak menyangka kak Alvin akan membawa ku kesini.


"Ayo turun..." ajak kak Alvin.


Aku sebenarnya sangat suka pergi ke Ancol, namun aku trauma pergi ke Ancol.


Dulu aku pernah hilang alias terpisah dari bunda dan ayah. Saat itu aku masih berumur 6 tahun.


Dan juga aku sangat takut naik bianglala. Aku fobia ketinggian.


"kok malah diam... ayo turun..." ucap kak alvin.


"ah..iyaa..." jawabku.


Akupun keluar dari mobil, aku mencoba bersikap senatural mungkin.


Kak Alvin membeli karcis masuk, kami mulai berkeliling.


Sangat ramai karena ini weekend, jadi banyak pengunjung yang datang.


"Kak kesana yuk..." ajakku ke sebuah permainan menembak.

__ADS_1


Kak Alvin menggenggam tanganku menuju tempat tersebut.


Aku sangat suka menembak, bahkan dulu aku pernah bercita-cita menjadi atlet penembak.


Aku mencoba Menembak kearah sasaran.


Dan.. plakk....


pada tembakan pertama langsung tepat sasaran.


Kak Alvin menatapku tercengang.


Aku tersenyum penuh kebanggaan.


Aku mendapat sebuah boneka bear kecil sebagai hadiah nya.


"kakak... nggak mau coba..." ujar ku.


"Ahh... nggak usah" tolak nya.


"jangan gitu dong... ayo buruan.." titahku.


Dengan pasrah kak Alvin pun membidik sasaran.


"Tembakk..." teriakku.


Plakkk....


Tepat sasaran.


"wahh... ternyata kak Alvin jago juga yaa" benakku.


Sebagai hadiah nya kami mendapatkan boneka bear besar.


Aku sampai susah membawanya.


Kak Alvin berinisiatif untuk menitipkan nya dulu dan aku hanya menurut.


"GULALI" ucap kami bersamaan.


Kami pun berlari kearah gerai penjual gulali yang sudah didepan mata.


Setelah gulali sudah ditangan, langsung saja aku melahap nya. begitu juga dengan kak Alvin.


kak Alvin terlihat cool memakan gulali itu sedangkan aku terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali makan gulali. Sampai' kak Alvin tersenyum melihat tingkah ku.


"Kak mau es krim..." rengekku yang masih mengunyah gulali.


"Habisin dulu itu gulali nyaa..." ucap kak alvin


"nggak mau... nazwah mau nya sekarang..." Rengekku.


Kak Alvin menarik nafas panjang. lalu mengiyakan.


Dengan semangat aku langsung berlari menuju kedai es krim yang tak jauh dari sana.


"Kang... es krim nya dua yaa... Aku maunya rasa strawberry... klw kakak maunya rasa apa.." ucapku.


"Kakak nggak, kamu aja..." tolak kak Alvin.


"ohh.. yaudah... satu strawberry satu lagi vanilla ya kang..." jelasku.


"kan... kakak nggak mau... kok malah dipesenin.." ujar kak Alvin.


"Ehh... itu buat nazwah, bukan buat kakak..." jawabku.


Si akang penjual es krim memberikan es krim sesuai yang kupesan.


Sebelumnya aku memberikan gulali yang sebelumnya ku pegang kepada kak Alvin. Agar aku bisa memegang kedua es krim yg tadi kupesan.


Dengan pasrah kak alvin menuruti semua keinginanku. Dan tak lupa ia membayar 2 es krim yang sekarang sudah kumakan bergantian.

__ADS_1


Aku mendudukkan diriku di sebuah kursi dekat penjual es krim. Meninggalkan kak Alvin yang masih berurusan dengan penjual es krim tersebut.


Setelah acara pembayaran selesai, kak Alvin menghampiri ku kemudian duduk disebelah ku yang sedang asyik menjilati 2 es krim yg kugenggam.


Kak Alvin tersenyum tipis.


"kakak... mau coba nggak... yang rasa vanilla enak lohh... tapi strawberry juga enakk.." ucapku.


Aku menodongkan 2 es krim itu ke kak Alvin.


"kakak mau yang mana..." ucapku.


Kak Alvin menatap es krim dan aku bergantian.


Tiba' kak alvin malah mencium bibirku.


Sontak saja aku kaget dibuatnya.


"kakak..." teriakku, sedangkan orang yang diteriaki hanya tersenyum penuh kemenangan.


"Itu bibir nya belepotan, dari pada sayang..." Ucap kak alvin jahil.


"ihhh.... kakak... Ini ditempat umum lohh..." ucapku malu.


"biarin... Kan udah sah... jadi boleh dong.." ucap kak alvin.


Pipiku rasanya panas, pasti sekarang sudah merah.


Aku kembali memakan es krim yang hampir meleleh itu. Untuk mendinginkan diriku yang memanas.


Kak Alvin terkekeh melihatku yang salting.


"Udah puas nggak makannya... Biar kita keliling lagi..." ucap kak alvin.


"tunggu ini belum habis..." jawabku lalu melahap eskrim itu dengan cepat.


"Waduh cepet amat... itu bibir nya belepotan lagi... sini biar kakak bersihin..." ucap kak alvin.


"ehh... nggak usah.. nazwah bisa sendiri..." tolakku.


"Takut dicium lagi yaa..." Sindir kak Alvin.


Aku hanya terdiam lalu mulai menggelap bibirku dengan tissu yang ada ditas ku.


"udah ayoo... kita kemana lagii.." ajakku


Tanpa menjawab kak Alvin langsung menarik tangan ku menuju wahana permainan...


"Bianglala..." ucapku pelan.


"Ayo... kakak udah beliin tiket nya nihh.." ucap kak alvin Sambil memperlihatkan dua buah tiket yg dipegangnya.


"kapan dia membelinya.." benakku.


Kak Alvin menarik tanganku untuk masuk dalam antrian.


"tunggu kak..." ucapku namun kak alvin tak mendengar nya karena suara bising mesin yang cukup keras.


Aku sudah keringat dingin, kaki ku bergetar.


Dan tibalah giliran kami untuk masuk kedalam sangkar.


Kak Alvin menggenggam tangan ku. Dan kami pun masuk.


Bianglala mulai berputar diikuti jantung ku yang sudah berdetak dengan kencang.


Mungkin sekarang ini aku sudah seperti mayat hidup sanking pucat nya.


Aku memejamkan mataku untuk menetralisir rasa takut ku.


Aku menggenggam bajuku kuat, seakan sebagai pegangan ku jikalau aku jatuh.

__ADS_1


"Ya Allah... Tolong selamatkan hambamu ini..." lirih ku dalam hati.


__ADS_2