
.
.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran.
"makan dulu....ayo.." ucap kak alvin.
"hmm..." jawabku lalu turun dari mobil.
Terdengar helaan napas dari kak alvin, itu membuatku tersenyum namun aku mencoba menahannya.
Kami memasuki restoran dan duduk disalah satu kursi yang tersedia.
Tak beberapa lama setelah memesan, makanan sudah datang. Aku langsung menyantapnya Karena jujur saja perutku sudah keroncongan sejak tadi.
Kak Alvin terus menatapku yang menyantap makanan yg ada dihadapanku.
Lalu ia mengambil sebagian makannya dan memberikannya padaku. Refleks aku menatapnya.
"Makan yang banyak..." ucapnya.
Aku langsung menunduk, kembali memakan hidangan dalam diam.
Setelah selesai, kami langsung pulang kerumah.
.
.
Kini badanku begitu fresh Karena habis mandi, dan kak Alvin sekarang ini sedang mandi.
Aku menyiapkan peralatan sholat, berhubung aku belum sholat zuhur. Kalau kak Alvin nggak tau. Mungkin udah di kantor tadi.
Aku memakai mukenah lalu hendak mengerjakan sholat. Namun terdengar deheman dari kak alvin. Aku menatap kearah sumber suara.
Aku menaikkan kepalaku tanda menanyakan kenapa.
"Berjamaah..." ucapnya lalu berjalan menuju lemari pakaian.
Aku langsung mengambil sajadah satu lagi untuk kak Alvin. Setelah kak Alvin selesai memakai pakaiannya, kami menjalankan sholat zuhur berjamaah siang ini.
.
.
Setelah selesai sholat, aku mengambil laptop dan turun kebawah. Aku mengerjakan tugas kuliah di ruang keluarga. Dan kak Alvin pasti sekarang sedang sibuk di ruang kerja nya.
Mataku terus fokus pada laptop hingga tak menyadari kehadiran kak Alvin yang sudah duduk di sofa yg berada dibelakangnya ku.
Aku tersadar saat sebuah kepala menyender di bahuku. Deruhan nafasnya menghantam leherku.
Aku hanya diam, membiarkan dia melakukan hal semaunya. Aku terus fokus dengan laptop yg dihadapanku.
"masih marah yaa..." tanya nya manja.
aku hanya diam.
"Jangan marah lama'....dosa loh..." ucapnya yg masih bersender di bahuku.
__ADS_1
Aku mengubah posisiku menjadi menghadap nya sehingga kepalanya terlepas dari bahuku.
"Kakak sihh....jadi orang cemburuan amat... Cuman karena hal sepele kakak jadi ngambekk.... kaya anak kecil tau..." ucapku menahan tangis.
Kak Alvin menangkup kedua pipiku. Sebuah ciuman singkat mendarat di keningku.
"kakak cemburu itu karena takut.... nazwah bakal tinggalin kakak...." Jawabnya.
Aku berdiri dari dudukku beralih kedalam dekapannya. Kak Alvin memelukku penuh kelembutan.
Ia mengelus lembut rambutku.
Aku duduk di pangkuannya menyenderkan kepalaku di dada bidang milik nya. Aromanya membuat ku candu. Tubuhnya hangat membuatku tahan berlama-lama seperti ini.
Hingga tanpa sadar aku mulai tertidur pulas.
~ Author POV
Melihat nazwah yang tertidur pulas, alvin tak ingin menganggu, sehingga ia pun ikut tertidur dengan posisi yang masih sama. Nazwah berada di pangkuannya.
Ia memeluk tubuh mungil nazwah, bagaikan tak ingin kehilangan wanita itu.
Nazwah terbangun karena merasa gerah, matanya menangkap sosok laki'yang tak lain adalah suaminya
Posisi mereka masih sama seperti tadi. Nazwah berada diatas pangkuan alvin.
Tangan nazwah terangkat untuk mengelus pipi alvin sehingga membuat sang empu terbangun.
Nazwah tersenyum senang karena alvin sudah bangun.
Nazwah berdiri dari pangkuan alvin, pasti Kakinya sekarang kram karena diduduki oleh nazwah.
"mau kemana..." tanya alvin dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Mandi..." jawab nazwah.
"Emangnya udah jam berapa..." tanya alvin.
Mereka serentak melihat jam yg bertengger di dinding.
Alvin refleks bangun dari duduknya.
"Astagfirullah....udah jam 5..." panik alvin.
Ia hendak berjalan namun kakinya kram sehingga dia kembali terduduk di sofa.
Nazwah langsung mendekat ke arah alvin.
"kakak nggak papa..." tanyanya cemas.
"Kaki kakak kram..." jawab alvin.
Nazwah menunduk, ia merasa bersalah.
"maaf... gara' nazwah kakak jadi gini..." ucap nazwah.
Alvin tersenyum jahil, sebuah rencana jahil muncul di otak nya.
Alvin kembali berdiri lalu pura' terjatuh kesakitan. Padahal sebenarnya tidak terlalu sakit.
__ADS_1
"Auuuu.... sakit bangett..." rengek alvin.
Nazwah terlihat cemas.
"makanya kakak jangan bergerak dulu..." ucap nazwah.
"Tapi kakak mau ke toilet.... udah nggak tahan nihh..." ucap alvin berbohong.
"hmm....yaudah. sini Nazwah Popong..." ucap nazwah.
Alvin merasa menang.
Nazwah memopong alvin menelusuri tangga sampai ke kamar. Lalu ia mendudukkan alvin di pinggir tempat tidur.
"Kakak bisa kan jalan ke kamar mandi. kan udah deket...." ucap nazwah.
"Auuuu.... masih sakitt.... " rengek alvin.
"Masa nazwah ikut kedalam..." ucap nazwah.
"Aaa... cepet...udah kebelet ini..." ucap alvin berbohong, sebenarnya dia tidak benar-benar ingin buang air.
Tanpa pikir panjang nazwah memopong alvin ke kamar mandi.
"Udahh... cepetan..." ucap nazwah lalu membalikkan badannya.
Alvin tersenyum tipis.
"kenapa dia malu, padahal kan kami sudah suami istri..." ucap alvin dalam hati.
Ia memeluk tubuh nazwah dari belakang.
"Udah buang air nyaa..." tanya nazwah.
"Hmm... sekarang mau mandi..." jawab alvin.
"Yaudah... Nazwah keluar..." ucap nazwah lalu melepas pelukan alvin namun alvin malah memperkuat pelukannya.
"Mau dimandiin..." ucap alvin manja.
Mata nazwah membulat sempurna,
"Tapi..." ucapan nazwah langsung dipotong oleh alvin.
"auuu... sakit..." teriak alvin.
"Iya...iyaa... Makanya lepasin dulu..." ucap nazwah.
Alvin tersenyum bahagia, lalu ia melepaskan pelukan nya.
Merasa terlepas, nazwah langsung kabur. Dia berlari keluar dari kamar mandi.
"Nazwah...." panggil alvin sambil menggedor-gedor pintu yang dikunci oleh nazwah dari luar.
"Jalan ke pintu bisa...kok mandi sendiri nggak bisa..." teriak nazwah dari luar.
"Cepetan kak... keburu waktu sholat ashar habis...." sambung nazwah.
Alvin mengalah, ia akhirnya mandi sendiri.
__ADS_1