
.
.
"Naz... kita kemana lagi..." ucap Erick padaku yang berjalan disampingnya.
Kami sengaja berjalan agak dekat dengan kak Alvin. Begitulah perintah dari Zihan.
Dan betul saja, kak Alvin melihat ku dan Erick yang sedang berduaan. Aku menangkap basah matanya mengarah kepada ku. Dan akupun memulai aksiku
Aku melingkarkan tangan ku di lengan Erick.
"Kita kesana yuk...." ajak ku yang dijawab anggukan plus senyuman dari Erick. Dia sangat pandai berakting
Namun tiba' kak Alvin datang menghampiri kami dan menyeretku ketempat lain.
"lepasin...." titahku.
namun tak dihiraukan oleh nya.
Dia membawaku keatap gedung. setelah sampai di sana dia baru melepaskan ku.
"Jadi gini yaa sifat asli lo..." bentaknya.
"Maksudnya apa yaa... saya nggak ngerti apa yang anda katakan.... dan maaf, anda siapa yaa berani'nya nyeret' saya...." ucapku dengan nada tegas.
Dia terlihat emosi mendengar ucapanku barusan.
"Maaf saya nggak punya banyak waktu....permisi..." ucapku lalu hendak pergi. namun sebuah kalimat yang ia lontarkan berhasil membuatku mematung seketika.
"Dasar ******...." ucapnya.
Hatiku rasanya remuk, tubuhku lemas seketika. Air mata sudah berada di pelupuk mata. Sebentar lagi pasti akan lolos.
Jadi aku memilih pergi, tanpa membalas nya.
"Nazwah Shalsabilah Utami, saya jatuhkan padamu talak 1...." ucap kak Alvin.
Kalimat itu berhasil membuat air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku mengelapnya lalu pergi sejauh mungkin meninggalkan tempat ini.
"Hiks....hiks... bagaimana bisa dia dengan semudah itu... Memberiku talak...." Isakku.
Zihan hanya bisa diam, mencoba menenangkan ku hanya akan percuma saja. Hatiku terlanjur hancur. Ingin rasanya detik ini menghilang dari dunia ini. Ingin rasanya memori di otakku ini terhapus agar tak ada sesuatu yang menjadi beban dalam hidupku.
Zihan memelukku penuh kasih sayang, dia merasa menyesal telah memberikan ide bodoh yang membuat temannya ini lebih sakit hati.
"Nazz... lo tunggu sebentar disini... gue ada urusan sebentar..." ucap zihan.
"lo mau kemana... jangan bilang lo mau nyamperin laki' brengsek itu..." ucapku disela isakanku.
"Bentar kok..." ucapnya lalu pergi begitu saja.
"Ya Allah.... cobaan apa yang engkau berikan ini...." gumamku
** Author POV
"Permisi mau nanya... Pak Alvin Nugraha, sekarang ada dimana ya..." tanya zihan pada bagian informasi.
"Ada perlu apa ya mba..." tanya pegawai itu.
"Saya ada keperluan pribadi dengannya, Bisa tolong cepat..." ucap Zihan tak sabaran.
__ADS_1
"Tunggu sebentar..." ucap pegawai tersebut.
Pegawai itu menghubungi Sekretaris Pimpinannya itu. Memberitahu kan bahwa ada yang ingin bertemu.
"Maaf pak, ini ada yang ingin bertemu..." ucap Thania, sekretaris alvin.
"Ahh... mungkin itu Stella... Pasti dia Sekarang ingin memohon kepada ku..." benak Alvin.
"Suruh kesini.." titah Alvin. Thania mengangguk lalu memberitahukan pegawai itu untuk menyuruh tamu itu datang ke ruangan pimpinan mereka.
" mba disuruh keruangan pak alvin, mari saya antar...." ucap pegawai itu.
Dan zihan hanya mengangguk lalu mengikuti langkah pegawai itu. Kini ia sudah berada di depan pintu ruangan seorang Alvin Nugraha.
Dengan tak sabaran ia membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Alvin sedikit terkejut mendapati zihan yang datang ke ruangannya bukannya nazwah.
"untuk apa kamu ingin bertemu dengan saya..." tanya alvin.
"Ingin memohon untuk sahabat mu itu.... Agar aku dengan berbaik hati membujuknya pulang.." ucap alvin dengan sombongnya.
Ucapan alvin itu membuat Zihan tambah geram dengan manusia yang satu itu.
"ohh...atau kamu kesini mau kasih tau kalau nazwah... eh... ****** itu hendak bunuh diri...." ucap alvin lagi.
Zihan tak bisa menahan emosi nya.
"Saya nggak peduli.... mau dia bunuh diri... atau apapun itu... saya nggak peduli sama sekali..." sambung alvin.
"Udah puas ngomong nya...." celetuk Zihan.
"Gue nggak habis fikir yaa... lo yang notabene nya seorang CEO muda paling sukses di negeri ini bisa ngomong sekejam itu. Dan apa lagi itu tentang istrinya sendiri.... waw.... saya terkejut sekali..." ucap Zihan.
"Gue kesini nggak mau mohon' apalagi harus bujuk lo balikan sama nazwah. nggak... sama sekali tidak. Justru gue kesini... mau berterima kasih karena Karena akhirnya sahabat gue udah terlepas dari laki'berengsek kaya lo.... laki' yg hanya melihat dari luar aja tanpa ingin tahu yang terjadi sebenarnya...." Ucap Zihan.
"Laki'yang nggak punya kepercayaan sama istrinya sendiri.... Yang lebih percaya dengan apa yang ia lihat.... namun itu belum tentu benar..." sambung Zihan.
Alvin terdiam, mencerna kata-kata Zihan.
Ia terlihat seperti orang bodoh.
"Sekali lagi makasih.... dan satu permintaan gue.... tolong jangan sekali-kali lo ketemu nazwah lagi.... Lo hanya akan membuatnya tambah sakit hati...." ucap Zihan lalu pergi dari ruangan itu.
Zihan merasa puas sudah mengeluarkan semua unek-unek nya yang tertahan sejak tadi.
Kini ia kembali pergi mencari nazwah yang mungkin masih menunggu nya.
Alvin masih terdiam, hingga ia berhasil memahami setiap ucapan zihan.
Alvin buru' menghubungi Sekretaris nya.
"Tolong cari tahu siapa laki' yang bersama Stella tadi..." titah alvin.
"baik pak." jawab Thania, sekretaris alvin.
Alvin memutuskan sambungan telepon. Ia memijit pelipis nya yang terasa pusing.
Tak berapa lama, telfon berdering. Ia langsung mengangkat nya.
"halo...gimana...udah dapat..." tanya alvin.
__ADS_1
"Laki' itu bernama Erick Susanto, umur 24 tahun. Bekerja di cafe Harmony, kingdom mall. Setelah kami bertanya kepadanya apa hubungannya dengan ibu Stella. dia berkata dia hanya dibayar untuk melakukan sandiwara untuk hari jadi bapak. Jadi dia mengikuti semua rencana ibu Stella..." jelas Thania.
"ok...makasih..." ucap alvin lalu langsung menutup telfon.
"Arghhhkk.... pasti ini ide Zihan....Dasar anak itu..." geram Alvin.
Alvin bangkit dari kursinya, bergegas mencari keberadaan Zihan yang mungkin belum jauh.
"Sayang.... Tunggu...aku datang.." ucap alvin dalam hati.
"Nazz.... Ayoo... Gue udah selesai ini semua..." ucap Zihan pada nazwah yang duduk menundukkan kepalanya.
"Nazz...." panggil zihan namun tak kunjung mendapat jawaban dari sang sahabat.
Zihan mendekat kearah nazwah, mendongakkan kepalanya dan mendapati nazwah yang sudah tak sadarkan diri.
Zihan langsung panik, ia buru mencari taxi untuk membawa nazwah ke rumah sakit.
"Nazwah.... Sebentar yaa.... dikit lagi nyampe kok..." lirih Zihan.
Ia tak bisa membendung air matanya dikala melihat sahabatnya itu tak kunjung sadar.
Setelah sampai di rumah sakit, nazwah langsung dilarikan ke UGD.
Zihan menunggu dokter yang sejak tadi belum selesai memeriksa keadaan nazwah.
Zihan sudah menelfon keluarga nazwah dan mereka sedang dijalan menuju rumah sakit.
Tak berapa lama, bunda dan ayah nazwah datang menghampiri Zihan yang masih berdiri diambang pintu UGD.
"Gimana zii... Nazwah nggak papa kan..." tanya bunda cemas.
"Dokter belum keluar bun..." jawab zihan tak kalah cemas.
"Alvin dimana.... dia belum datang..." tanya ayah nazwah.
"hmm..." belum sempat Zihan menjawab, dokter keluar dari ruang UGD.
"gimana dok... keadaan putri saya.." tanya bunda nazwah.
"pasien baik' saja, dia hanya terlalu kelelahan, dan janinnya juga baik' saja..." ucap dokter.
"janin..." ucap Zihan dan bunda serentak.
"yaa... pasien sedang mengandung, sudah memasuki 2 bulan..." Jelas dokter.
"Benarkah... nazwah nggak bilang sama bunda...." ucap bunda.
"Zihan juga baru tau...." ucap zihan.
"Apa Pasien sudah bisa dijenguk dok.."tanya ayah nazwah.
"sudah..., pasien akan dipindahkan keruang inap
.. kalau begitu saya permisi dulu.." ucap dokter.
"Makasih dok..." ucap ayah nazwah.
"Ahh....ayah... kita akan punya cucu..." ucap bunda senang.
"iyaa... Alvin kok belum datang... Dia dimana sihh.... Dia harus mendengar kabar bahagia ini.." ucap ayah nazwah.
__ADS_1
"Astaga... bagaimana ini.... gimana jelasinnya.." ucap Zihan dalam hati.