Takdir Yang Tidak Kuduga

Takdir Yang Tidak Kuduga
MARI JALANI BERSAMA


__ADS_3

~ Entah mantra apa yang engkau berikan sehingga aku begitu nyaman dekat denganmu~


Cilla;)


"kok nggak diangkat" ucap kak alvin yg akhirnya membuka suara.


"Emang itu handphone siapa" tanyaku polos.


"Handphone siapa lagiii.....masa handphone gue kesingnya pink" ucap kak alvin kesal.


"hehe...maaf "ucapku cengengesan.


kuambil handphone itu dan mendapati nama kontak BUNDA♥️ pada layar.


Degg... jantungku bagaikan berhenti berdetak. Entah mengapa aku tidak sanggup untuk menekan tombol hijau itu agar panggilannya tersambung.


"Bunda...nazwa kangenn..." benakku.


melihatku diam mematung, kak alvin datang mendekat. Ia melihat kearah layar untuk memastikan siapa yg menelfon.


"Udahh...ayo buruan angkat" ucap kak alvin lembut sambil mengelus bahuku.


ia menatapku dengan tatapan penuh arti. bagaikan ia mencoba mentransfer kekuatan untukku.


aku menarik nafas panjang lalu menekan tombol hijau. Langsung terdengar suara dari seberang sana.


"assalamualaikum...haloo nazwa..." ucap bunda dari seberang sana.


tanpa kusadari perlahan tetesan air mata mulai turun dari kelopak mataku tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"haloo...nazz..." ucap bunda lagi namun aku masih diam tidak menjawab.


Setelah merasa lebih kuat, aku mulai membuka suara. Mencoba menetralisir semua rasa rindu yang sejak tadi melunjak.


"H..halo..bun" ucapku gugup.


"halo..nazwa..ahhk akhirnya kamu ngomong juga" terdengar suara lega dari seberang sana.


"bunda kira kamu kenapa-napa.." ucap bunda.


"Nazwah nggak papa kok bun" jawabku meyakinkan.


"syukurlah kalau gitu, kamu udah makan" ucap bunda.


"udah tadi sama kak alvin" jawabku seadanya.


"ohh... yaudahh" ucap bunda.


"Bunda sehat kann...ayah sama gibran dimana?" ucapku mencairkan suasana.


"bunda sehat... ayah udah berangkat kerja, kalau Gibran udah berangkat sekolah" jelas bunda.


"Jika gue sekarang berumur 20 tahun berarti Gibran udah berumur 12 tahun" benakku.


"oh yaa naz..bunda tutup telfonnya yaa...kayanya ada tamu. kamu baik' sama nak alvin. Jangan ngebantah suami kamu" ucap bunda.


"iya bun..." jawabku.


"klw gitu bunda tutup yaa..assalamualaikum" ucap bunda.

__ADS_1


"waalaikum salam" jawabku.


sambungan pun terputus. sekarang perasaan ku campur aduk. antara rindu,senang dan sedih.


Rindu dengan wajah bunda dan ayah


Senang mendengar kedua orang tuaku masih sehat dan baik-baik saja.


Dan sedih karena harus tinggal jauh dengan mereka.


Satu suara berhasil melenyapkan semua kekhawatiran itu sekejap. siapa lagi kalau bukan kak Alvin.


"udah nggak usah dipikirin, lo pasti ingat semua sedikit demi sedikit" ucap kak alvin lembut.


Namun hanya sekejap, ia langsung kembali ke mode datar nan dinginnya.


Aku masih mencoba mengingat, siapa sebenarnya kak alvin ini. apa dulu aku pernah bertemu dengannya?


wajahnya begitu tidak asing. Beberapa pertanyaan sangat ingin ku tanyakan padanya. Namun entah mengapa itu terasa begitu sulit.


"ahhhkk...udah lah nanti juga tau.." benakku.


"udah sekarang mendingan lo bantuin nyusun tuh baju" perintah kak alvin dingin.


"tadi katanya nggak usah dibantu..." jawabku.


"Yaa...dari pada lo bengong aja, nanti kesurupan pula" ucap kak alvin.


"ciee... khawatir yaaa..." godaku.


"ihhh...GR banget lo..." elak kak alvin.


kami pun mulai menyusun baju-baju ke lemari sambil sesekali ada candaan kecil dan tawa yang menghiasi.


jam sudah menunjukkan pukul 12.30, tidak hanya menyusun pakaian namun tadi kami juga sempat beberes rumah. Karena kata kak Alvin sudah dua Minggu terakhir ia tidak tinggal disini dan pembantu rumahtangga nya pun diliburkan hanya ada satpam yang menjaga rumah.


aku mulai akur dan terbiasa dengan keberadaan kak alvin.


"Kak mandi sana biar kita sholat Zuhur" suruhku yang hanya dijawab kak alvin dengan anggukan.


Sekarang aku dan kak Alvin sedang menjalankan kewajiban kami sebagai umat Islam yang baik dan budiman.


Setelah membaca doa, kak alvin membalik badannya menghadapku. ia menjulurkan tangannya yang langsung kusambut dengan lembut. kucium punggung tangannya dengan hati ikhlas, sebuah senyuman terukir diwajah kami berdua.


kak alvin mendekatkan wajahnya, jantungku berdegup kencang. kututup mataku Sampai sebuah benda lembut menyentuh keningku.


perlahan kubuka mataku, hal pertama yang kulihat adalah senyum indah nan manis dari kak alvin yang membuatku meleleh seketika.


"oh..ya Allah sungguh indah ciptaanmu ini" benakku.


"pipi lo kenapa merah gitu" tanya kak alvin menggodaku.


"ahh...masa sihh...nggak ahh..." ucapku malu.


Aku berdiri untuk melarikan diri.


"mau kemana..? gitu aja udah malu, gimana nanti pas ehkm..ekhm" ucap kak alvin yang kalian pasti sudah tahu arah pembicaraannya.


"ihh...apaan sih kak.." ucapku malu lalu pergi keluar dari kamar setelah merapikan mukenah dan sajadah yang kukenangan tadi.

__ADS_1


"hufff... untung aja gue bisa cepet-cepet keluar, klw nggak.... ihhh...mikirinnya aja udah bikin merinding" gumamku.


sekarang aku sedang di dapur, niatnya mau masak tapi nggak tau mau masak apa. Dan satu hal yang harus diketahui bahwa aku nggak bisa masak😭.


paling cuman bisa masak telor sama masak air (anak sd juga bisa kalii). kubuka lemari es untuk mencari bahan makanan yang ada.


Tapi nihil, cuman ada telor itupun tinggal satu biji.


aku berniat untuk pergi ke minimarket terdekat. Namun langkahku terhenti oleh ucapan kak alvin.


" Nggak usah sok-sok an mau ke minimarket dehh... emang lo tau jalannya?" teriak kak alvin yang baru turun dari lantai dua.


"ehh...kak Alvin...hehe...soalnya nggak ada apa-apa yg mau dimakan" ucapku cengengesan.


"udah kamu buruan siap-siap, kita mau makan diluar" ucap kak alvin.


"diluar mana..? dan tunggu...tumben kakak pake kata kamu" ucapku.


"pokoknya turutin aja. Dan emang nggak boleh.. oh yaudah'- " ucapan kak alvin kupotong.


"ehhh...iyaa..iyaa..boleh kok" ucapku sambil tersenyum lalu berlari menuju kamar.


"Dasar..."ucap kak alvin pelan tapi aku masih bisa mendengarnya karena perlu diketahui telingaku ini tajem banget ;v


~skip restoran


"waw... bagus banget..."ucapku kagum melihat dekorasi restoran yang begitu indah nan mewah.


"pasti makanan disini mahal-mahal.."bisikku pada kak Alvin yang dibalasnya dengan wajah datarnya.


kami sudah duduk disalah satu meja, seorang pelayan datang membawa daftar menu.


"selamat datang pak..bu" sapa pelayan wanita tersebut.


" silahkan dilihat daftar menunya..." ucap pelayan itu sambil memberikan buku daftar menu dan ia sesekali menjelaskan makanan favorit di restoran itu.


kubuka lembar demi lembar buku tersebut dan melihat semua makanannya begitu menggiurkan tapii...


"OMG... harganya mahal banget.." benakku.


"kami pesan...steak nya dua terus minumnya orange jus dua" ucap kak alvin pada pelayan restoran yang mulai menulis pesanan.


"baik. saya ulangi...steak dan orange jus nya masing-masing dua" ucap pelayan itu yang dijawab kak alvin dengan anggukan.


"kalau gitu tunggu sebentar yaa" ucap pelayan itu sopan lalu pergi mengambil pesanan.


Sambil menunggu pesanan, aku coba mengalihkan rasa bosanku yang dari tadi hanya diam melihat kak alvin yang sibuk dengan handphonenya dengan membuka handphoneku juga.


Baru ini aku membuka handphone setelah terakhir bunda menelfonku. kuaktifkan data seluler dan mulai muncul banyak notifikasi. kutunggu sampai tak ada lagi yang masuk agar nanti tidak ada gangguan.


kulihat ada 53 pesan yang belum dibaca dari grup. dan beberapa pesan lainnya yang tidak kukenal.


kubuka satu persatu, kebanyakan pesannya berisi ucapan selamat atas pernikahanku dengan kak Alvin. mataku tertuju pada satu grup yang sedikit familiar.


yapp...itu grup yang kami buat saat SMA.


"masih ada rupanya.." benakku.


terlihat ada banyak percakapan yang didominasi oleh zihan dan amanda.

__ADS_1


*notif\= amanda itu teman sekelasku. bangkunya ada didepanku.


__ADS_2