
.
.
~Author POV
Nazwah hanya terdiam, Sambil sesekali mencuri pandang kepada laki' yang sedang mengobrol dengan suaminya itu.
Ia masih belum percaya, idola nya sekarang ini berada tepat di hadapannya.
"Astagfirullah... Ganteng banget dilihat dari langsung..." ucap nazwah dalam hati.
"ekhmm...Ada apa dengan nyonya alvin ini... Kenapa sedari tadi dia hanya diam..." ucap Lee Minho bercanda.
"Saya juga tidak tahu, biasanya tidak seperti ini.." timpal Alvin.
Nazwah hanya terdiam.
"Ahh... Saya lupa... Istri saya ini mengidolakan kamu.." ucap Alvin.
"aigoo... benarkah... Ahh... terimakasih..." ucap Lee Minho sambil tersenyum manis.
"Sudah hampir siang, sebaiknya kamu istirahat dulu... nanti kita lanjutkan..." ucap alvin.
"ahh...iyaa... Saya permisi kalau begitu..." pamit Lee Minho, berdiri dari duduknya.
Setelah Lee Minho meninggalkan ruangan, nazwah menghembus nafas lega. Ia menyenderkan badannya pada kepala sofa.
"Akhirnya dia pergi juga..." ucap nazwah pelan.
"Emangnya kenapa..." Tanya alvin heran melihat sikap istrinya itu.
"Wajahnya sangat tampan... nazwah nggak sanggup melihatnya..." ucap nazwah keceplosan.
Wajah alvin seketika berubah menjadi dingin plus datar.
Dia berdiri dari duduknya meninggalkan nazwah.
"kakak mau kemana..." tanya nazwah.
namun alvin tak menjawab.
"Ada apa dengannya... Apa dia cemburu... ohh... Astaga..." gumam nazwah, lalu ia berlari mengejar alvin.
Nazwah mensejajarkan langkah nya dengan suaminya itu.
"kak... kakak cemburu yaa..." goda nazwah.
Seketika alvin mengehentikan langkah nya.
"Ngapain gue cemburu... nggak penting bangett...." ucap alvin cuek, lalu kembali melangkahkan kakinya.
kini mereka berada di ruangan kerja alvin, Sedari tadi mereka hanya diam. Alvin sibuk dengan laptopnya dan nazwah sibuk dengan handphone nya.
"arhhh... Apa yang menarik sih dengan handphone itu... Sampai' gue dicuekin..." kesal alvin dalam hati.
"Pasti dia sedang memamerkan pada teman-teman nya klw dia bertemu dengan Lee Minho..." Fikir alvin.
Kesabarannya mulai habis, ia berdiri dari kursi kerjanya. menghampiri nazwah yang sedang duduk di sofa.
Ia merampas handphone nazwah.
Dan betul dugaannya, ia sedang chatting an dengan zihan. Mereka membicarakan Lee Minho.
"Dasar..."gumam alvin sambil menatap tajam kearah nazwah.
Orang yang ditatap hanya bisa nyengir nggak jelas.
"Kak... balikin handphone nazwah yaa..." bujuk nazwah.
"nggak..." jawab alvin ketus.
"kak...." ucap nazwah membujuk.
__ADS_1
"nggak..." jawab alvin sedikit keras.
"KAKAK KENAPA SIHH... KOK JADI POSESIF GINI... NAZWAH NGGAK MAU BICARA SAMA KAKAK...." teriak nazwah Sambil menangis.
Setelah menyelesaikan ucapannya ia berlari keluar ruangan dengan air mata yang masih membekas di pipinya.
"Nazwah..." panggil alvin, namun nazwah sudah keburu pergi.
"Arghhhkk.... Kenapa jadi kaya gini sihh..." ucap alvin frustrasi.
~ Nazwah POV
Entah apa yang kupikirkan tadi, hingga membentak kak Alvin seperti itu. Cuman karena hal sepele, kami jadi berantem gini.
Tapi biarkan sajalah... Biar dia tau rasa... Kenapa jadi orang kok cemburuan banget.
Setelah tadi aku berlari keluar dari ruangan kak Alvin. Sekarang aku berjalan menelusuri jalanan tanpa tau tujuan.
Handphone ku ada pada kak Alvin, dan bodohnya lagi aku lupa membawa dompet yg kusimpan didalam tas. Dan tasnya ada diatas meja.
Aku merutuki nasibku saat ini.kaki jenjangku berjalan dibawah teriknya matahari siang ini.
Hingga aku sampai didepan sebuah taman kanak-kanak. Terlihat sepi karena pada jam sekarang ini, anak-anak sudah pulang.
Aku mendudukkan diriku disebuah ayunan yg ada disana. Sambil sesekali kaki ku bergerak agar ayunan ikut bergerak.
Aku menundukkan kepalaku menatap tanah, hingga Suara seorang gadis kecil berhasil membuat kepalaku terangkat menatapnya.
"Kakak... ngapain disini ..." tanya gadis kecil itu.
Aku mendongakkan kepalaku menatap gadis kecil yg berdiri didepan ku. Aku tersenyum melihat wajah imutnya yang belepotan es krim strawberry yg sedang dimakannya.
"Hehe... kakak cuman lagi pengen naik ayunan....boleh kan..." Ucapku.
"bolehh... tapi kan kakak udah gede...kok masih main ayunan..." ucap nya.
"Hehe... Sini..." ucapku menyuruh nya duduk di ayunan yg bersebelahan dengan ku.
Diapun menurut.
"Vika... Vika Amanda Putli..." ucapnya. pengucapan huruf R nya masih kurang jelas
"Vika sekolah disini..." tanyaku.
"iyaa..." jawabnya yg sambil sesekali menjilati eskrim yg ada ditangannya.
"Kok belum pulang... Kan udah siang..." ucapku.
"Bunda belum pulang kelja... Biasanya sebentar lagi juga datang.." jawabnya.
"Emang bunda vika kerja apa..." tanyaku.
"Kelja di mall..." jawabnya.
"Ohh...mall yg mana..." tanyaku lagi.
"kakak udah kaya lagi intelogasi Vika..." ucapnya kesal.
"haha... kamu lucu banget sihhh... boleh nggak kakak bawa pulang..." candaku.
"nggak mau... nanti yang temenin bunda vika siapa..." tolaknya.
"ohh...yaudah..." jawabku.
"Kalau ayahnya Vika kerja apa..." tanyaku.
"Nggak tau..." jawabnya.
"kok nggak tau..." ucapku.
"Vika nggak pelnah ketemu ayah, jadi vika nggak tau... bunda bilang ayah kelja di lual negli... " jawabnya polos.
"Ahh... pasti bunda dan ayahnya bercerai..." benakku.
__ADS_1
"Nazwah suka es krim strawberry yaa... kalau kakak juga suka, tapi lebih suka rasa vanilla " ucapku mengalihkan pembicaraan tadi.
"Kalau kakak mau beli es klim, disana...ada penjual es klim yang enak...." ucapnya sambil menunjuk kearah sebuah tokoh dekat taman kanak-kanak.
"ohh yaa... kalau gitu kakak nanti kesana ahh.." ucapku.
"Vika..." panggil seseorang.
Kami pun menatap orang tersebut yg tak lain adalah ibu Vika.
"bunda...kok bunda lama bangett...." ucap vika yang sudah berlari kearah bundanya.
Aku tersenyum ramah kearah bundanya vika.
"Bundanya vika yaa..." ucapku.
"Ahh..iya.." jawabnya.
"Anaknya lucu... oh iyaa... kenalin nama saya Stella.." ucapku sambil mengulurkan tanganku.
ia membalas Uluran tangan ku itu.
"Wendy..." jawabnya.
"Lagi jemput anaknya juga.." tanya Wendy.
"ahh.. Nggak... Tadi cuman lagi kesini aja..." jawabku.
"oh... Kalau gitu kami permisi dulu ya.. soalnya saya harus kembali bekerja setelah ini..." ucap Wendy.
"Ahh...iyaa... Sampai jumpa Vika..." ucapku sambil melambaikan tangan.
Dan vika membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.
Saat mereka hendak berbalik, sebuah mobil memasuki area sekolah.
Dan sang pengemudi keluar dari mobil dan tak lain adalah kak Alvin.
Ia menghampiri kami.
"ahh...pak direktur... Selamat siang..." sapa Wendy.
Kak Alvin hanya tersenyum tipis. Wendy dan Vika melanjutkan perjalanan mereka.
Kak Alvin datang mendekat kearah ku.
Aku memasang wajah ngambek.
"Aku cari' kemana mana, rupanya disini... Udah kaya anak kecil aja kamu naik ayunan..." ucap kak alvin.
"biarin.." jawabku ketus.
"huff... ayo sayang kita pulang...udah siang ini.. kamu belum makan..." bujuk kak Alvin.
"biarin..." jawabku ketus.
"Ohh... jadi nggak mau nihh..." ucapnya.
aku hanya diam.
Tiba' kak Alvin menggendongku dari ayunan, aku terus meronta dan memukul dada bidangnya.
Namun ia tetap tidak mau menurunkanku.
"kak... turunin nazwah..." ucapku.
Namun kak alvin tidak mau mendengar ucapan ku. Dia membawaku memasuki mobil.
Ia mendudukkan ku di kursi penumpang. lalu ia duduk di kursi kemudi.
mobil melaju meninggalkan kawasan taman kanak-kanak.
Selama perjalanan aku terus memalingkan wajah ku, tanpa mau menatap sedikit pun kearah kak Alvin.
__ADS_1
Aku tahu ini sebenarnya salahku dari awal, namun biarkan saja lah... Kali ini aku ingin melihat bagaimana sikapnya menghadapi sikap ku.
Apa dia akan kehabisan kesabaran atau gimana..? kita lihat aja....😅😁