Takdir Yang Tidak Kuduga

Takdir Yang Tidak Kuduga
Abi Dianra


__ADS_3

Pagi ini aku sudah siap' untuk menyiapkan sarapan, berhubung aki sedang kedatangan tamu bulanan jadi aku nggak sholat.


Aku dan bi narsih memasak makanan untuk sarapan. Setelah selesai, kak Alvin turun dan menghampiri ku di ruang makan.


Kami makan dengan senyap, seperti biasa tidak ada pembicaraan.


Dan akupun bersikap biasa saja, seperti tidak ada yang terjadi.


Kak Alvin sudah selesai dengan sarapan nya begitu juga denganku.


"ekhmm... aku berangkat dulu.." ucap kak alvin memecahkan keheningan.


Aku mendekat kearahnya lalu mencium punggung tangan milik nya.


"iyaa sayang... hati' dijalan" jawabku.


Wajah kak Alvin yang tadinya begitu dingin, sekarang mulai mencair. Dia tersenyum lalu mencium kening ku.


"iya.. sayang.." ucap kak alvin lalu melenggang pergi.


Aku membereskan peralatan makan, berhubung bi narsih sedang keluar membeli bahan dapur.


Jam menunjukkan pukul setengah 2 siang, aku merasa bosan dirumah saja. Jadi aku memutuskan untuk berkeliling kota. sekaligus mencari tempat yang cocok untuk membuka butik.


Aku mengendarai mobil sendiri, tadi kang Cecep sudah menolak. katanya takut dimarahin kak Alvin, namun bukan nazwah namanya kalau tidak keras kepala.


Aku melajukan mobil warna putih ini menelusuri jalanan kota yang cukup lengang.


Karena orang' masih bekerja pada jam saat sekarang ini.


Aku menghentikan mobil ku di depan sebuah cafe.


aku masuk dan memesan minuman untukku.


Aku menghabiskan waktu di cafe itu, melihat orang' yang lalu lalang.


Hingga mataku tertuju pada seorang anak kecil yang memasuki cafe sendirian.


Umurnya kira' 7 tahunan, dia anak yang imut sekali. kalau boleh aku ingin membawanya pulang.


Terlihat dia memesan sesuatu pada pelayan lalu perlahan duduk tak jauh dariku.


Aku terus memperhatikannya, hingga tanpa sadar dia menangkap basah diriku yang memperlihatkan nya.


dengan gelagapan aku mengalihkan pandanganku.


Dia datang dan duduk di depanku.


"Ada apa tante, kok dari tadi ngeliatin Abi terus. Abi tau abi imut dan ganteng..." ucapnya percaya diri


"hehe... Nama Kamu siapa..." tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Abi dianra..." jawabnya.


Seorang pelayan menghampiri kami membawa nampan berisi makanan yang kuyakini pesanan dari Abi.


Anak itu langsung melahap makanan nya.


"Abi sendirian kesinii.. bunda abi dimana kok nggak ikut.." tanyaku.


"Bunda abi pergi Tante, ayah bilang bunda pergi ke surga" jawabnya.


Aku sedih mendengar jawaban nya, dia masih begitu kecil untuk kehilangan seorang ibu.


"Ayah kami dimana..." tanyaku lagi.


"Ayah bekerja di mal yang disana.." jawabnya sambil menunjuk kearah sebuah mal yang tak jauh dari cafe.


"kingdom mall... Ayah Abi bekerja sebagai apa disana..." tanyaku.

__ADS_1


"petugas keamanan tan.." jawabnya sambil menguap makanan nya.


"oo... jadi kamu sendirian kesinii....emang kamu nggak sekolah..." tanyaku.


Tiba'dia menghentikan kegiatan makan nya, lalu menatapku intens.


Bukannya takut, aku malah ingin tertawa melihat ekspresi nya yang sangat lucu itu.


"Ini kan hari sabtu tante...." jawabnya kesal.


Aku tertawa kecil.


"oh... iya.. Tante lupa.." jawabku.


Dia berdiri dari duduknya.


"Abi mau kemana..." tanyaku.


"mau pulang, udah mau sore.. Ayah bilang abi harus pulang sebelum ashar..." jawabnya lalu berjalan menuju kasir.


Aku mengikuti nya, saat dia hendak membayar. Aku memotong nya


"ini mba... sekalian sama punya anak ini.." ucapku pada kasir.


kasir tersebut menerima kartu kreditku. Abi menatap ku.


Kasir itu mengembalikan kartu kreditku, akupun keluar dari cafe meninggalkan Abi yang masih menatap ku heran.


Saat aku hendak memasuki mobil, terlihat Abi berlari kearah ku.


"tante..." panggil nya.


"Ini... Abi nggak mau minta', kata ayah abi nggak boleh terima uang dari orang karena ayah masih sanggup kasih abi uang..." ucapnya.


Aku tersenyum mendengar penuturan nya.


"Nggak papa... Sekalian tante berterimakasih karena udah temenin Tante tadi... ini uangnya simpan aja yaa... " ucapku.


"nggak tan... Abi mau pulang ke rumah, makasih tante cantik..." ucapnya sambil tersenyum manis.


Ahkk... ingin rasanya aku mencubit pipinya itu.


"hati' yaa..." ucapku.


dia hanya mengangguk lalu pergi.


Aku melajukan mobilku menuju ****** mall. Setelah memarkir mobil, aku mulai mencari toko penjual peralatan menjahit.


pertama aku ke toko penjual mesin jahit, lalu ke toko kain.


Setelah semua sudah lengkap aku hendak pulang. Saat aku melewati restoran yang ada disana, mataku tak sengaja menangkap dua orang yang sedang asyik bercanda ria disana.


Seorang laki'dan perempuan yang terlihat begitu akrab. Aku mencoba berfikir positif, aku terus memperhatikan mereka.


Hingga kesabaran ku terlampau habis saat wanita itu memegang tangan laki' yang tak lain adalah kak Alvin.


Tanpa mau terlarut, aku memilih untuk pulang saja. Aku tidak mau membuat keributan di sini. Aku berjalan menuju parkiran dengan air mata yg sudah bercucuran.


Tanpa sengaja aku menabrak seseorang karena tadi aku berlari.


Orang tersebut membantu memungut belanjaan ku yang terjatuh. Aku mencoba berdiri Namun kaki ku sangat lemah.


"kamu tidak papa..." tanya orang tersebut.


Aku hanya diam, sesekali suara isakan berhasil keluar dari bibirku.


Laki' itu menatapku heran.


"Biar saya bantu..." tawarnya.

__ADS_1


"tidak papa... saya bisa sendiri..." jawabku sambil mencoba untuk berdiri.


Namun badanku oleng dengan cepat laki'itu menangkap ku.


"Anda terlihat begitu lemah, biar saya bantu..." ucapnya.


"terimakasih... Mobil saya yang itu.." ucapku.


Dia memopong ku menuju mobil, dan dia juga membawa barang belanjaan ku.


Dia mendudukkan ku si kursi penumpang disebelah supir.


"Rumah anda dimana..." tanyanya yang sudah duduk dikursi pengemudi.


"Komplek xx.." jawabku lemah.


Dia melajukan mobil membelah jalanan yang sudah mulai ramai. Aku mencoba melupakan kejadian tadi, aku mencoba menenangkan diri ku untuk berfikir positif namun tidak bisa. Semua fikiran buruk terus menghantui ku.


Air mata yang tadinya sudah berhenti, sekarang kembali membasahi pipiku.


Laki' itu melirik kearah ku.


"Kalau boleh tau, kenapa lama sesedih itu... Matamu sudah sembab begitu... maaf kalau lancang. Ceritakan saja, saya akan jadi pendengar yang baik dan budiman..." ucapnya sambil tersenyum.


Aku melihat senyum yang terukir di wajahnya, seketika aku mengingat anak laki'yang kutemui di cafe tadi.


"Kamu bekerja dimana..." tanyaku mengalihkan


"di kingdom mall, aku petugas keamanan disana..." jawabnya.


"ahh... pantas saja kamu berpakaian seperti seorang mata'..." ucapku.


dia tersenyum.


"Kalau boleh tau kamu kenapa nangis..." tanyanya.


"hmm... hanya kesalahan kecil saja," jawabku.


"oh ya... maaf yaa udah ngerepotin... kamu tinggal dimana..." ucapku.


"saya tinggal di dekat mall..." jawabnya.


"maaf bangett... kamu jadi bolak balik nantinya.." ucapku merasa bersalah


"nggak papa kok..." jawabnya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil sudah berada didepan rumah.


Kami keluar dari mobil.


"makasih yaa sekali lagi... Ayo mampir dulu..." ajak ku.


"ahh.. tidak usah... saya langsung balik aja... kalau gitu saya permisi..." pamit nya.


"tunggu... ini ongkos pulang, sekalian buat beli makan nanti... jangan ditolak nanti saya marah lohh..." ucapku.


Sambil memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.


"ini terlalu banyak..." ucapnya.


"nggak boleh ditolak..." perintah ku.


Dia tersenyum.


"terimakasih, kalau gitu aku pamit.." ucapnya lalu pergi.


Aku memasukkan mobil kedalam garasi. terlihat mobil kak Alvin sudah terparkir di sana


Aku memasuki rumah dengan mata yang masih sedikit sembab.

__ADS_1


Aku sangat lelah, kaki ku berjalan menelusuri tangga menuju kamar.


Saat aku membuka pintu kamar...


__ADS_2