
~ Tidak ada yang sengaja di dunia ini melainkan itu semua merupakan bagian dari takdir~
Cilla;)
Kak alvin berjalan kepojok ruangan kemudian menekan tombol yang ada disitu.
Tiba' rak buku bergerak menampilkan sebuah ruangan kerja tersembunyi.
"wow...." ucapku kagum.
"pantesan nazwah cari kemana mana, nggak ketemu. ehhh...rupanya ada ruangan tersembunyi disini" ucapku lagi yang dibalas kak alvin dengan senyuman tipis.
"Cuman lo yang tau dan pastinya gue juga. Jadi bisa dirahasiain kann" tanya kak alvin yang kujawab dengan acuan jempol.
kami masuk kedalam ruangan itu yang sekelilingnya terdapat piagam dan lukisan' yang tergantung rapi di dinding.
ku perhatikan satu persatu, hingga mataku tertuju pada sebuah kertas yang sedikit kusam dilapisi bingkai kaca tergantung di dinding.
"Ini apa kak..." tanyaku sambil memperhatikan nya dengan seksama.
"sedikit familiar.."benakku.
"oh itu... skema rumah ini" ucap kak alvin yang sudah berada disampingku, aku hanya ber oh ria.
"kakak yang buat..?" tanyaku penasaran.
"nggak... itu punya adik kelas waktu SMA'-" ucapannya kupotong.
"ahh...pantesann...." teriakku.
"pantesan kenapa..." tanya kak alvin heran.
"ini punya nazwah...tuhh liat" ucapku sambil menunjuk ke bagian ujung kertas.
"NSU.." ucapku kak alvin.
"Nazwah Shalsabilah Utami" ucapku.
"pantesan nazwah cari' nggak ketemu...ehhh ada sama kakak...kok bisaa sihhh" sambungku.
" ohh...jadi itu kamu..." ucap kak alvin.
flashback on
(Alvin POV)
Pagi ini ada rapat osis, Diperjalanan menuju ruang osis aku tak sengaja menabrak ehh... dia yang nabrak... seorang siswi yg kiyakini kelas X karena terlihat dari seragam nya yang masih terlihat baru. siswi itu sedang membawa beberapa buku ditangannya, berjalan dengan tergesa-gesa.
prukkk... sebuah tambrakan terjadi. buku yg dibawa siswi itu berserakan di lantai. Dengan tergesa-gesa ia memungutinya.
"ohh...maaf kak aku nggak sengaja" ucapnya sambil menunduk sehingga aku tidak melihat wajahnya dengan jelas dan ia langsung pergi.
Tak sengaja aku melihat ada satu lembar kertas yang kuyakini milik siswi itu tertinggal di lantai. Aku memungutnya tanpa melihatnya lagi aku langsung memasukkannya kedalam saku celanaku karena aku dipanggil oleh Dimas, si ketua osis.
"Alvinn.... ngapain masih diam disitu...ayo buruan rapatnya udah mau dimulai" teriaknya.
"iya...iyaaa..." ucapku lalu berlari menghampirinya yang berdiri di depan ruang osis.
setelah rapat osis tadi aku dan peserta rapat lainnya kembali ke kelas untuk mengikuti pembelajaran.
Suara bell istirahat terdengar begitu nyaring. siswa siswi yang tadinya bermuka suntuk dengan pelajaran berubah menjadi muka berseri-seri.
Bu Ani selaku guru matematika yang mengajar dikelas ku menutup pelajaran dengan salam lalu berjalan keluar dari kelas. semua siswa langsung buru' keluar kelas, kemana lagi kalau bukan KANTIN. Tempat yang menjadi langganan setiap siswa.
Aku Dan kedua sahabat karibku, Dimas dan Sandi.
Sudah berada dikantin dengan semangkuk bakso ditemani teh manis menjadi santapan kami siang ini.
__ADS_1
saat sedang asyik bercanda ria, pandanganku tak sengaja tertuju pada seorang siswi yang sedang duduk di salah satu kursi kantin sendirian.
Aku menatapnya lekat.
"apa dia siswi yang tadi...? dari postur tubuhnya sih sama, tapi gue nggak tau pasti wajahnya" benakku.
"liatin apa sih bro" ucap sandi yang berhasil membuyarkan lamunanku.
Kedua sahabatku itu melihat kearah pandanganku.
"ohh... itu... dia klw nggak salah anak seni, kelas x ipa 2" ucap Dimas.
"ciee....ada yang lagi cinta pada pandangan pertama nihhh" ledek Sandi.
aku tak menggubris perkataan nya sama sekali, aku masih asyik memperhatikan siswi itu hingga tanpa sengaja ia menatapku balik.
sontak membuatku kaget, buru' ku alihkan pandanganku.
setelah beberapa menit, terlihat ia dan temennya pergi meninggalkan kantin.
Aku masih penasaran dengan siswi itu, jadi aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
sekaligus ingin mengembalikan kertasnya yg terjatuh tadi.
saat sudah berada di depan kelas X ipa 2. terlihat ia dan temannya sedang berbincang'.
Ia memandangku hingga pandangan kami bertemu. seketika nyaliku menciut, jadi kuurungkan niatku dan memilih untuk kembali ke kelasku.
"ahh...lain kali aja gue balikin" benakku.
Malamnya, aku teringat soal kertas itu kembali. kuambil dari saku celana sekolah ku.
kubuka kertas yg terlipat itu sehingga menampakkan sebuah skema rumah.
"wow ... bagus banget idenyaa" pujiku.
flashback off
"ohhh....jadi kak alvin yang aku tabrak dulu, dan kakak juga yg liatin aku dikantin waktu itu" tanyaku yg dijawab kak alvin dengan anggukan dan senyuman.
"Kebetulan banget yaaa...." ucapnya menatapku lekat.
"nggak ada yg kebetulan..."ucapku.
"ini udah takdir dari Allah" sambungku lagi sambil tersenyum.
"ohh...ya kak... jadi rumah ini berdasarkan skema ini" tanyaku yg dibalas kak alvin dengan senyuman.
"kalau gituu...kakak udah melanggar hukum" ucapku sok serius.
"melanggar hukum gimana..." tanya kak alvin heran.
"kakak udah mencuri ide aku tanpa izin" ucapku sambil memanyunkan bibirku.
"Kann sekarang ini udah jadi rumah kamu...jadi sah' aja dongg.." ucapnya.
"ohh...iyaa yaaa" jawabku bingung sendiri.
"udah ahhh...ayo kita makan. kakak udah laper...." rengek kak alvin.
"yaudah ayok atuhhh..." jawabku.
lalu kami berjalan beriringan menuju ruang makan yg ada dilantai satu.
Sekarang makanan yang kumasak tadi sudah terhidang dimeja makan.
Kak Alvin membulat matanya melihat hasil masakanku.
__ADS_1
"kenapa kak..." tanyaku heran dengan ekspresi wajahnya.
"n..nggak kenapa-napa" ucapnya gugup.
Aku menaruh telur balado yg kumasak tadi diatas piringnya yg sudah berisi nasi terlebih dahulu.
"coba dirasain, enak nggak.." tanyaku exaotid.
"ii..iyaa" ucapnya lalu menyuapkan sesuap nasi kemulutnya.
"gimanaa....enak nggak" tanyaku.
"hmm...enakk..." ucapnya dengan bibir bergetar.
Aku pun mulai memakannya juga. satu sendokan pertama berhasil mendarat di mulutku.
satu kata yg tergambarkan pedes, pedes banget tapi aku suka.
"ohh...apa mungkin kak alvin nggak suka pedes" benakku.
Aku berdiri dari dudukku, menuju lemari es untuk mengambil air dingin.
aku menuangkannya kedalam gelas dan memberikan nya kepada kak alvin yg langsung disambut nya kemudian meneguknya hingga habis.
"Astaga...sampe segitunyaa... mukanya juga udah merah gitu" benakku.
Tak beberapa lama kemudian kak alvin berdiri dari duduknya lalu berlari menuju kamar.
" Apa dia sakit perut yaaa..." cemasku.
Aku berlari mengikutinya, dan betul saja. sekarang dia berada di dalam toilet.
aku merasa bersalah banget. Aku mencoba mencari kotak obat, siapa tau ada obat sakit perut didalamnya.
Namun nihil, hanya ada obat-obatan untuk luka. Aku merogoh kantongku mengambil handphone. lalu memesan obat di toko online. Tak lupa aku juga delivery makanan.
Sekitar 15 menit kemudian kak alvin keluar dari toilet dengan wajah pucat.
*Astaga baru satu hari disini udah bikin anak orang gitu aja kau nazwah😂
"kak...kakak nggak papa?" tanyaku khawatir.
*udah tau pucet gitu masih ditanya.
kak alvin menggeleng lemah lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Bell rumah berbunyi yg kuyakini itu adalah pesananku tadi.
"tunggu bentar yaa kak" ucapku lalu berlari menuju pintu depan.
setelah obat dan makanan sudah ditangan. aku membawanya kekamar, terlihat kak alvin sudah tertidur lemas.
Aku tidak tega membangunkannya,namun ia perlu makan dan minum obat.
"kak bangun minum obat dulu" ucapku sambil menggoyang lengannya.
kak alvin membuka matanya kemudian ia duduk dengan bersandar dikepala tempat tidur.
"ini makan dulu... terus minum obatnya" ucapku.
kak alvin hanya mengangguk, ia memakan makanan lalu meminum obat sesuai perintah ku tadi.
"maaf yaa kak...gara' masakan nazwah kakak jadi sakit perut begini" ucapku menunduk.
Kak alvin menangkup kedua pipiku.
"udah.. nggak papa" ucapnya tersenyum lembut.
__ADS_1