Takdir Yang Tidak Kuduga

Takdir Yang Tidak Kuduga
Hari kelulusan


__ADS_3

Tak terasa Aku sudah berada di semester akhir dan kini aku sudah menyelesaikan skripsi ku dan Baru menjalani sidang. Dan akhirnya hari ini, hari yang paling kutunggu-tunggu. Yaitu hari kelulusan ku.


Aku sangat bahagia, akhirnya aku bisa menyelesaikan studi ku. Dan dapat gelar sarjana.


Rencananya setelah lulus,aku akan membuka sebuah butik yang akan ku kelola sendiri. Sebelumnya aku sudah menanyakan hal itu kepada kak Alvin. Dan dia mengizinkan nya.


Asalkan aku jangan terlalu keras dalam bekerja.


Semua keluarga sudah berkumpul, kami berfoto bersama setelah acara selesai. Dan dilanjutkan acara makan' di rumah mama.


Setelah acara makan', kami berbincang bincang di ruang tamu.


mama mulai menanyakan apa rencana ku kedepan nya.


"sayang.. rencana kamu kedepan nya apa..." tanya mama.


"Rencananya sih ma, nazwah mau coba buka butik dengan uang tabungan nazwah. Nazwah mau usaha sendiri dulu ma.." jawabku.


yang langsung mendapat senyum bangga dari mama.


"Wahh... hebat juga yaa mantu papa ini.." ucap papa.


"Putri siapa dulu dong..." sambung ayah.


Kami semua tertawa kecuali Gibran yg sedari tadi hanya asyik dengan game nya.


Sorenya aku dan kak Alvin pamit pulang, sebelumnya ayah, bunda dan Gibran sudah pulang lebih dahulu.


"kak mampir ke toko buku dulu yaa..." ucapku sambil menunjuk kearah toko buku yang akan kami lewati.


Kak Alvin hanya mengangguk lalu membelok kan mobil dan memarkirkan nya didepan toko buku tersebut.


Aku keluar dari mobil yang diikuti oleh kak Alvin. Kami memasuki toko, aku langsung menoleh kiri kanan, menelusuri setiap rak buku untuk mencari buku yang kuinginkan.


Kak Alvin sedari tadi hanya mengikuti.


"cari buku apa sih sayang..." tanya kak alvin.


"Buku tentang motivasi membangun usaha di bidang busana..." jawabku.


lalu kembali mencari buku seperti itu.


Kak Alvin meninggalkan ku, mungkin dia ingin kembali ke mobil.


Beberapa menit kemudian, handphone ku berdering. Itu telfon dari kak alvin, langsung saja aku mengangkat nya.


"halo kak..." ucapku


"sini buruan kekasir..." ucap kak alvin lalu menutup telfonnya.


"ihh... kak Alvin nyebelin banget sihhh... main' tutup telfon gitu..." gerutuku.


Aku pun berjalan menuju kasir dan aku mendapati kak Alvin yang berdiri disana.

__ADS_1


Aku menghampiri nya


"kak... ada apa sihh... kan buku nya belum" ucapan ku dipotong oleh kak Alvin


"bukunya ini kann..." ucap kak Alvin sambil menunjuk kan buku.


"wahh...iya bener... kakak dapet dari mana...nazwah udah cari' dari tadi kok nggak dapet..." tanyaku.


"makanya nanya sama karyawan toko nya biar nggak usah repot-repot cari buku..." ucap kak alvin.


Aku memanyunkan bibirku kesal, karena Omelan kak Alvin itu sungguh membuatku kesal.


Kak Alvin membayar buku itu lalu meninggalkan ku keluar.


Aku Mengejarnya sambil kuhentak hentakkan kaki ku.


Aku memasuki mobil dengan wajah yang masih kesal plus bibir manyun.


Aku membuang muka, aku nggak mau liat mukanya. bisa' aku tambah kesal.


Selama perjalanan pulang tak ada obrolan, hanya sepi dan sunyi.


Tiba'ada sebuah ide untuk membalas dendam kepada kak Alvin.


Aku merogoh tasku untuk mengambil handphone. Aku menonton video' BTS, aku sengaja membesarkan volume nya sehingga bisa terdengar oleh kak Alvin.


"wahh... keren banget oppa ku ini..." ucapku sedikit keras agar kak Alvin mendengar nya.


kulihat kak Alvin bisa saja, aku makin mencari cara lain.


terlihat kak Alvin mulai memanas, ia meminggirkan mobil.


Aku tak memperdulikan nya, aku masih asyik dengan handphone ku.


Tiba'kak alvin merebut handphone yang kugenggam.


Dia melirik kearah handphone.


"awas aja yaa kalau nonton kayak gini lagi.." ucap kak alvin tegas.


"suka' nazwah dong..." ucapku lalu kembali merebut handphone ku.


"ohh... nggak mau nurut yaa... " ucap kak alvin


Lalu kak Alvin mendekatkan tubuhnya hingga aku terpojok.


"k..kakk mau ngapain.." ucapku gugup.


"Mau kasih hukuman gara' nggak patuh sama suami.." ucap kak alvin.


lalu bibirnya menyentuh bibir mungilku dengan cepat dan lembut. Aku meronta-ronta namun tenaga kak Alvin lebih besar.


Hingga beberapa menit kemudian kak alvin melepaskan ciumannya.

__ADS_1


Aku mengalihkan pandanganku, aku nggak mau melihat mukanya. Aku benci diperlakukan seperti itu.


Tanpa memperdulikan ku yang sedang marah, kak Alvin kembali melanjutkan perjalanan.


Setelah mobil terparkir di garasi, aku dengan buru' keluar dari mobil meninggalkan kak Alvin.


Aku berlari menuju kamar tanpa memperdulikan pertanyaan bi narsih. yang menanyakan apa perlu memasak makanan malam ini.


Tanpa kusadari air mataku perlahan menetes membasahi pipiku. Aku tidak suka dipaksa begitu, walaupun dia adalah suami ku sendiri


Aku langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. karena tadi buru'aku melupakan baju ku.


Dengan menggunakan piyama putih, aku keluar dari kamar mandi. Ternyata kak Alvin sudah berada di sana. Dia terus menatapku dengan perasaan bersalah. Aku tak peduli, aku bersikap cuek kepada nya.


Aku berjalan menuju lemari pakaian, setelah aku sudah mengambil pakaian ku, aku hendak kembali ke kamar mandi. namun kak alvin buru'mencekal ku.


Dia melingkar kan tangannya di pinggang ku. Aku hanya bersikap biasa saja.


"Maaf ya sayang..." bisik kak Alvin.


"lepasin.." Ucapku dingin.


namun kak alvin malah memperkuat pelukannya.


"nggak mau... kamu harus maafin aku dulu.." ucapnya.


"Lepasin..." ucap ku lagi.


Dia hanya diam.


"LEPASIN..." bentakku.


Yang membuat kak alvin kaget dengan ucapan ku.


Aku melepaskan diri lalu pergi menuju kamar mandi, Aku menutup pintu sedikit kuat.


Aki sedikit lama berada dikamar mandi, aku tidak ingin melihat wajahnya. Hingga jam menunjukkan pukul 10 malam.


Aku membuka sedikit pintu, aku melihat kak Alvin sudah tertidur.


Huff... aku menghembus nafas lega.


Aku berjalan menuju tempat tidur lalu ikut berbaring disampingnya. Aku menatap wajahnya yang begitu damai dan tampan.


Tanganku terangkat untuk mengelus pipinya.


"maafin Nazwah kak, nazwah nggak bermaksud gitu tadi... Cuman... nazwah kesel banget sama kakak..." bisikku pelan.


"maafin Nazwah yaa... I love you my husband.." Ucapku lalu memejamkan mataku.


Belum sempat aku tertidur, sebuah bisikan dapat terdengar jelas oleh telinga ku.


"I love you too my wife..." bisik kak Alvin.

__ADS_1


Mendengar itu membuat hatiku lega plus senang. Aku kira dia akan marah


__ADS_2