
.
.
Kak Alvin hari ini pulang terlambat, aku menyambutnya yang sudah memasuki rumah.
"Kak.... Gimana....ada jadwal kosong nggak..." tanyaku.
"Kita bicara nanti yaa..." ucap kak alvin lusuh.
"Nazwah udah nggak sabar...." rengekku.
"BISA NGGAK, SEKALI AJA NGGAK NGEBANTAH...." Teriaknya.
Aku tertunduk, baru pertama kalinya aku diteriaki oleh nya. Rasanya begitu menyakitkan. Tanpa kusadari, air mataku menetes.
"Iya... Nazwah ngerti..." Ucapku lalu pergi lari keluar dari rumah.
Aku tak ingin bertengkar, lebih baik aku pergi saja mencari ketenangan..
Aku berjalan menelusuri jalanan kompleks yang sedikit sepi.
Aku tak tahu harus kemana, ditambah lagi aku tak membawa uang sepeser pun.
Aku berhenti di Kursi yang ada di tepi jalan.
Aku menundukkan kepala ku, hingga sebuah deheman seseorang membuat kepalaku terangkat menatap orang tersebut.
"ekhmmm...." ucap orang tersebut.
Aku melihat dan mendapati seorang laki-laki bertampang seperti preman berdiri tepan di depan ku.
Aku menjadi takut melihat penampilannya yang amburadul.
"Permisi.... Ada apa yaa..." Ucapku gemetar.
"Menurut mu...." ucapnya dengan nada kuat.
"Aku nggak punya uang...." Ucapku.
"Nahh...gini nihh.... Kenapa sihh...semua orang takut sama gue... Dan Sekarang lo... lo nganggap gue preman gituu..." ucapnya kesal.
"Saya kira kamu preman.... Karena tanpangmu..." ucapku sambil menatapnya dari atas kebawah.
"seperti preman..." sambung ku.
__ADS_1
Dia duduk disebelah ku, aku sedikit meninggir agar kami tidak terlalu dekat.
"Santai aja....gue orang baik kok....nama gue Tino.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya namun aku tak membalasnya.
"Jangan tegang gitu dong... santai aja... gue itu orang normal seperti pada umumnya yang pengen punya pekerjaan... punya keluarga yg harmonis.... dan punya rumah seperti yang ada di kompleks ini...." curhatnya.
Aku hanya diam mendengarkan curhatannya.
"Tapi semuanya terasa begitu mustahil bagi orang seperti ku, Aku ini hanyalah sampah dimata banyak orang" ucapnya sedih.
"kamu nggak boleh bilang gitu..." ucapku.
"Kenyataannya memang benar.... aku hanya sampah masyarakat..." ucapnya.
"Kamu sekarang tinggal dimana, dan pekerjaan kamu apa..." tanyaku.
"Rumah gue dimana aja.... Ditaman, di teras toko dan banyak lagi yang bisa menampung ku, dan soal pekerjaan.... Mana ada yang mau mempekerjakan seorang narapidana seperti aku..." ucapnya.
"narapidana...." ucapku dalam hati, aku sedikit takut mendengar kata itu, namun aku mencoba sebiasa mungkin untuk terlihat biasa saja.
"Emang kamu udah pernah coba ngelamar kerja..." tanyaku.
"Belum sihh... Semenjak keluar dari penjara 1 tahun lalu, aku hanya keluyuran kesana kemari. Terkadang membantu orang' di pasar, mereka memberikan upah sebagai balasannya. terkadang mereka memberiku makan...." jawabnya.
"Nahh..itu berarti masih ada yang peduli sama kamu.... jadi jangan pesimis. Tetap semangat walau terasa berat..." ucapku.
"kamu umur berapa sih... kayanya masih muda banget..." ucapku.
"19 tahun..." jawabnya.
"Masih muda banget... Masa depan kamu masih panjang... kamu nggak bisa tahu rencana apa yang sudah Allah tetapkan untukmu dimasa depan.... jadi jangan pantang menyerah ya.." ucapku.
"siap kak..." ucapnya.
"Anak pintar..." ucapku.
Kami pun tertawa bersama hingga seseorang datang menghampiri kami.
"ohh.... ternyata disini.... Lagi berduaan dengan laki'lain.... baguss...." ucap kak alvin.
Yaa...itu kak Alvin, dia menghampiri kami dengan tatapan tajam. Sepertinya ada kesalahpahaman disini.
"maksud kakak apa sihh..." ucapku.
"Nggak mau ngaku... ohhh... Yaudah...nggak papa... lanjutin aja... tapi jangan harap menginjakkan kaki dirumah gue lagi..." bentaknya.
__ADS_1
"Emang yaa... Kakak itu nggak berubah sama sekali.... Benar mimpi aku... kakak itu nggak punya kepercayaan kepada orang lain. Kakak selalu berburuk sangka kepada orang lain" ucapku.
"ok...fine... nazwah nggak bakal nginjakin kaki dirumah kakak lagi.... Jika itu mau kakak, Dan nazwah harap kakak bahagia mulai saat ini.." ucapku lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Tino mengejar ku, namun kak alvin hanya diam ditempat.
Aku berjalan melewati pinggir jalan raya yang lumayan sepi karena sudah malam dan seperti cuaca sedang tidak bersahabat.
Tino terus mengikuti hingga langkahku berhenti tepat disebuah jembatan.
"eittss... bentar.... jangan bilang lo mau bunuh diri, Seingat gue tadi lo nasehatin gue agar tidak putus asa tapi sekarang kenapa lo yang putus asa..." ucap Tino.
"siapa bilang gue mau bunuh diri, gue hanya mau liat sungainya..." ucapku.
"ohh...kirain mau bunuh diri.." ucap Tino.
"buat apa gue bunuh diri hanya demi satu laki' brengsek itu..." ucapku.
"Nahh...gitu dongg... Semangat... buktikan padanya kalau dia salah karena ninggalin lo.." ucap Tino dan aku hanya mengangguk.
"Sekarang lo mau kemanaa..." tanya Tino.
"Kerumah sahabat gue..." jawabku.
"ohh...kalau gitu gue anterin..." ucapnya.
"nggak usah...." tolakku.
"ayooo.... rumahnya dimana..." ucapnya memaksa.
"jalan melati, no 124" ucapku.
"ohh... lumayan jauh yaa... hmm...kalau gitu lo naik taxi aja... ayoo..." ucapnya sambil menarik tanganku.
Tino memanggil taksi untukku dan ia juga membayar biaya taksi
"Pak tolong anterin teman saya ini ke jalan melati no 124... " ucapnya pada supir taksi
"siap mas..." jawab sang supir taksi.
"buruan masuk, gue tau lo pasti nggak bawa uang kan, jadi tenang aja gue udah bayarin.... tapi janji yaa kembaliin. uang itu sangat berharga bagiku, itu hasil kerja kerasku hari ini..." ucapnya.
"makasih... pasti aku bayar..." ucapku.
Tino mengetuk mobil pertanda untuk mobil melaju.
__ADS_1
Tino melambaikan tangannya dan aku juga melambaikan tanganku.
"Tino kamu orang baik... aku yakin kamu akan jadi orang yang sukses nantinya..." ucapku dalam hati.