Takdir Yang Tidak Kuduga

Takdir Yang Tidak Kuduga
wedding


__ADS_3

.


.


Aku begitu gugup, aku memandangi pantulan ku di kaca. Aku terlihat begitu cantik memakai gaun putih ini.


Hingga bunda membuyarkan lamunanku, dan menuntun ku untuk turun.


Diluar sudah banyak tamu yang datang, Semua memandangi ku saat turun dari lantai dua. Dengan bunda dan mama berada disamping ku.


Aku menjadi pusat perhatian, itu membuatku tambah gugup.


Mama menuntun ku untuk duduk dikursi sebelah kak Alvin.


Dia juga memandangi ku dengan terang' an. Aku jadi salah tingkah plus malu.


Acara yang ditunggu- tunggu tiba, kak Alvin menyebutkan namaku dengan lancar dan dengan satu tarikan nafas.


Entah mengapa itu membuatku meneteskan air mata.


Disela-sela mendoa aku terus' an melap air mataku yang turun diujung mata dengan tissu


Kemudian aku mencium punggung tangan kak Alvin yang sekarang ini sudah sah menjadi suamiku.


Lalu kak Alvin mencium keningku ku lembut, seketika ada rasa aneh yang menubruk ku. Rasa hangat plus kaget.


Setelah selesai resepsi, tiba saatnya acara salam' an. Ini adalah bagian yang paling membosankan bagiku.


Karena aku harus terus berdiri, menerima ucapan selamat dari tamu' dan menyalami mereka.


Tamu yang diundang bukanlah sedikit. Aku sangat lelah.


Hingga pukul 14.00 semua tamu sudah mulai pulang. Akhirnya aku bisa istirahat, aku memilih untuk pergi kekamar sekalian mau sholat dulu.


Aku mengganti gaun dengan pakaian yang tadi kubawa dari rumah. Oh ya.. resepsi pernikahan dilangsungkan di hotel milik keluarga kak alvin. lebih tepatnya kingdom Hotel.


Setelah selesai berwudhu, aku keluar dari kamar mandi dan mendapati kak Alvin sedang terbaring di atas tempat tidur.


"Ke..kenaapa kakak disini.." tanyaku gelagapan.


Dia melirik ku.


"emang nggak boleh..." tanyanya balik.


"hm..boleh sihh..." jawabku.


Aku mengambil mukenah yang tadi ku bawa dari rumah.


"Tunggu bentar...." ucap kak alvin, lalu dia bangkit dari tidurnya berlari menuju kamar mandi.


Aku mengernyitkan keningku heran.


Tak beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah. mungkin dia habis wudhu.


Akupun menggelarkan sejadah satu lagi yg kudapatkan dari dalam lemari hotel.


Kami sholat zuhur berjamaah, hingga setelah mendoa. kak Alvin menjulurkan tangannya, aku faham dengan maksud nya. aku menerima uluran itu lalu mencium punggung tangan nya.


lalu kak Alvin mencium keningku.


Pandangan yang indah bukann...😉😉


Setelah selesai, kami turun kebawah menghampiri keluarga yang masih di aula.


"Sayang... ayo kesinii..." panggil mama.


Akupun menghampiri mama yang sedang dusuk bersama yang lainnya di salah satu kursi.


"iya ma..." tanyaku.


"kok gaunnya diganti..." tanya mama.


"hehe... nazwah tadi habis sholat jadi diganti.." jawabku.


"oh... iyalah cantik.." ucap mama.

__ADS_1


"Alvin kalian duluan saja pulang... Papa dan mama masih ada urusan.." ucap papa.


"Baik pa.." jawab kak Alvin.


"Kamu baik'yaa sayang..." ucap bunda.


"jangan nyusahin alvin lohh..." ucap ayah.


"ihh...ayahh... nazwah nggak pernah nyusahin orangg..." elakku.


"massaa..." ucap Gibran.


aku langsung menatap nya tajam.


Semua tertawa kecuali kak Alvin dan Gibran.


"Kalau gitu kami pamit pa,ma, ayah, bunda..." ucap kak alvin.


Semua mengangguk mengiyakan.


kami mengalami mereka bergantian kecuali Gibran tentunya.


"Ayo salam..." titahku pada Gibran.


"nggak mau..." tolaknya.


"dihh... gitu yaa... awas aja kalau kangenn..." ucapku.


"nggak bakalan..." jawabnya.


"Nanti malam juga nangis pasti..." ucap ayah.


aku tertawa geli sedangkan Gibran memanyunkan bibirnya kesal.


semuanya mengantar kami sampai kedepan


Kami keluar dan disambut sebuah mobil hitam yang sudah dihiasi.


Aku memeluk bunda, tanpa kusadari air mataku menetes.


"kan bisa telfon..." ucap bunda.


"udah... nggak usah nangis... Itu kasian alvin udah nunggu.." ucap bunda sambil melepaskan pelukan kami.


Aku tersenyum kecil lalu memasuki mobil.


Aku melambaikan tangan kearah mereka, begitu juga dengan mereka.


Mobil melaju dengan kecepatan normal.


selama perjalanan, kami hanya terdiam. Aku masih sedikit sedih, dan kak Alvin hanya sibuk dengan handphone nya.


"Baru juga tadi nikah, udah dicuekin. gimana kalau setahun..." benakku melirik kak alvin.


Kami sampai di sebuah rumah warna putih berlantai dua.


"wahh... Bagus bangett..." ucapku memandangi rumah yang didepan mataku kagum.


"aayo masuk..." titah kak Alvin.


Akupun mengikuti langkah kak Alvin memasuki rumah megah itu.


Saat aku masuk aku disuguhkan dengan pemandangan yang begitu indah. Arsitektur rumah begitu indah.


Dengan masih melihat' sekeliling. aku tak sengaja tergelincir dan jatuh.


Plukk... Keningku mencium lantai.


Sedikit nyeri namun yang paling dominan adalah malunya.


Kak Alvin terlihat tertawa kecil melihat ku yang terjatuh.


Aku kembali berdiri, sambil sesekali mengelus keningku yang pasti sekarang sudah merah.


"Bukannya nolongin malah ketawa.." kesalku.

__ADS_1


"siapa yang nyuruh jalan hadap atas.." ucapnya.


"betul juga sihh..." benakku.


Aku menyusuri tangga, menuju kamar. Saat aku membuka pintu. kamar yang bernuansa abu'itu dihiasi bunga mawar.


Ternyata kak Alvin sedang mandi, Aku berinisiatif untuk membersihkan bunga mawar yang berserakan di tempat tidur dan lantai.


Kak Alvin keluar dari kamar mandi dengan maaih menggunakan handuk yg melilit tubuhnya bagian bawah. sedangkan bagian atas dibiarkan terekspos.


Sontak aku terkejut dan menutup mataku.


"kakk... kenapa nggak pake baju..." teriakku.


"emang kenapa...kita kan udah muhrim jadi nggak dosa kan..." ucapnya dengan santainya.


"ii..iya yahh..." gumamku.


aku membuka mataku perlahan, tapi aku tetap tak ingin memandang kearah nya.


Aku masih sibuk memunguti bunga mawar itu.


Hingga tanpa kusadari kak Alvin sudah berada didepanku.


Aku mendongakkan kepalaku menatapnya.


Dia menyeringai, itu membuatku gugup. Apa yang akan dia lakukan,


"Kk..kakak.. mau ngapain.." tanyaku gelagapan.


Dia merebut kantong plastik yang kugenggam lalu menarikku paksa hingga aku menubruk dada bidangnya yang masih telanjang itu.


Aku menelan ludah ku susah payah.


Dia mendekat kan wajahnya kearah ku.


"Astaghfirullah... ya Allah selamatkan aku.." ucapku dalam hati.


Dia tersenyum manis.


"Pergi mandi biar kita sholat"bisik nya.


"huff... aku kira ada apa..." benakku.


Aku menjauh darinya lalu pergi buru'ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai, aku lupa pula mebawa baju ganti. Dan hanya ada handuk putih disana.


"arghhhkk... mana mungkin aku keluar dengan begini..." gumamku menatap pantulan tubuhku pada kaca besar yg ada dikamar mandi.


Aku membuka sedikit pintu kamar mandi untuk melihat apakah kak Alvin masih disana, dan dia tidak disana.


Aku cepat' keluar menuju kemari pakaian. Aku mencoba mencari pakaian ku disana namun tak ada.


"ahhh... kan koperku masih di mobil..." gerutuku.


Pintu terbuka menampakkan kak Alvin dengan koperku.


"cari ini..." ucap kak alvin.


"ii..iyaa.." jawabku


Dia mendekat kearahku yang masih terdiam ditempat sambil sesekali menurunkan handuk yang hanya sepahaku itu.


Kak Alvin memberikan koperku dan membisikkan sesuatu.


"Sexi..." ucapnya menggoda.


seketika pipiku rasanya panas, aku buru' masuk kedalam kamar mandi membawa koper ku.


"Ya Allah... Bagaimana ini..." benakku.


Setelah selesai memakai baju dan berwudhu.


aku keluar dari kamar mandi lalu mengambil sajadah.

__ADS_1


Kak Alvin pergi mengambil wudhu.


__ADS_2