
Aku kira itu kak Alvin, namun dugaan ku salah besar.
Orang itu langsung masuk dan mengunci pintu kamar.
"Kenapa bisa kamu disini..." tanyaku.
"Wahh... Ternyata kamu masih ingat sama aku yaa... aku ucapkan terima kasih. Dan aku ucapkan selamat, ekting mu tadi sangat memukau..." ucap nya penuh kesombongan.
"Tidak usah banyak bacot... pergi kamu sekarang juga..." bentakku.
"wahh... berani juga kamu yahh... Aku hanya ingin menawarkan sesuatu... gimana kalau adegan ekting tadi kita buat jadi nyata" ucapnya lalu mengeluarkan sebuah pisau dari dalam jaketnya.
"Kamu mau apa... LINDAA..." teriakku.
Dia menyeringai licik lali mulai mendekat kearah ku.
Yap... dia adalah Linda. Kenapa bisa dia ada disini, bukannya dia dipenjara. Mungkin dia sudah bebas atau malah kabur dari penjara.
Tanpa kusadari, Linda sudah tepat berada didepan ku.
Dia mengambil ancang-ancang untuk menusuk kan pisau nya kearah ku. Namun dengan cepat aku bisa menghindari serangannya.
Dia terlihat marah, Dia kembali menyerang ku beberapa kali namun aku masih bisa menghindar.
Hingga pada serangannya yg terakhir berhasil menggores lenganku. Dengan cepat aku membelokkan tangannya hingga mengenai perutnya.
Pisau itu mengenai perutnya, darah mulai bercucuran dan dia terlihat mulai lemas.
Namun dia masih mencoba untuk mengerang ku. Untuk menghindari nya aku mendorong nya hingga tersungkur dilantai.
Buru' aku keluar untuk memanggil kak alvin, aku sangat panik, aku takut jika dia sampai mati.
"Kakk...." teriakku memanggil.
Semua orang terlihat berlari menghampiri ku, melihat lenganku yang terluka, sontak semua orang khawatir.
Kak Alvin langsung berlari menyusuri tangga menghampiri ku yang masih dilantai dua.
Diikuti yang lainnya.
Aku langsung memeluk kak Alvin erat, aku sangat ketakutan.
"Ada apa sayangg..." tanya kak alvin khawatir.
"i.. ituu..." tunjukku kearah kamar.
Kak Alvin langsung membuka pintu kamar, kami masuk kedalam diikuti yg lainnya.
Kak Alvin kaget melihat Linda yg tergeletak di lantai bersimbah darah.
"Aku takut kak..." lirihku.
Kak Alvin memelukku lebih erat sambil mengelus lembut rambutku.
__ADS_1
~ Author POV
Semua orang kaget melihat kejadian ini, Begitu juga dengan alvin.
Rendy yang berada di sana, langsung menelfon ambulans, setelah memeriksa Linda sebelumnya.
Beberapa menit kemudian suara ambulans datang di ikuti suara sirene dari mobil polisi.
Linda dibawa kerumah sakit yang ditemani oleh Rendy.
Polisi mulai memeriksa dan menanyai orang' satu persatu. Terutama nazwah
Dengan rasa takut dan trauma, nazwah menurut untuk pergi kekantor polisi untuk menjelaskan semua rincian kejadian yang menimpanya.
Dia ditemani alvin yang selalu berada disisi nya.
Sesampainya di kantor polisi, nazwah mulai menjelaskan semua kejadian dari awal sampai akhir secara jelas. Para petugas polisi mendengar kesaksian nazwah.
"Baiklah, Anda boleh pulang. Dan kami akan mengabarkan kelanjutan nanti..." ucap salah seorang petugas polisi.
" Terimakasih pak,..." jawab nazwah lemah
Dia keluar dari ruangan menghampiri alvin yang setia menunggu nya didepan pintu ruang interogasi.
"Ayo kita pulang sayang.." ucap alvin lembut, nazwah hanya mengangguk mengiyakan.
mereka memasuki mobil, membelah jalanan kota yang mulai lengah karena ini sudah hampir larut.
Melihat nazwah yang hanya diam membisu, alvin membuka percakapan agar bisa menghibur nazwah.
Nazwah melirik kearah alvin lalu tersenyum tipis. kemudian kembali larut dalam fikiran nya.
"Udah nggak usah dipikirin... ini semua salah nya sayang... bukan salah kamu..., kakak nggak bakal biarin dia menganggu kita lagi.." jelas alvin
Suasana kembali hening hingga mobil berhenti di sebuah gedung yang amat sangat besar dan mewah.
Dimana lagi kalau bukan kingdom hotel.
"Ayo turun.." ajak alvin.
Nazwah melihat sekeliling, dia heran kok mereka kesini bukannya kerumah.
"Kok kita kesini kak..." tanya nazwah bingung.
"kita nginap di sini... Rumah masih di selidiki polisi..." jawab alvin.
"ayoo..." ajak alvin lagi karena nazwah masih diam ditempat.
Mereka memasuki hotel, Tidak perlu check-in terlebih dahulu, karena alvin kan pemilik hotel.
Alvin memandu nazwah menuju ruangan nya.
Mereka akan menginap disana, karena ruangan itu juga di lengkapi kamar, sebagai mana layaknya sebuah apartemen.
__ADS_1
Nazwah menghempaskan tubuhnya diatas king size itu. Tubuh seakan mau remuk karena sangat capek hari ini.
Dan soal lengannya yang terluka tadi sudah diobati oleh Rendy. Dan nazwah sebelum berangkat ke kantor polisi, dia tadi mengganti baju karena bajunya dipenuhi oleh darah.
”nggak mandi dulu..." ucap alvin.
"nanti aja,..." jawabku.
Kak Alvin sibuk dengan handphonenya, mengabaikan ku yang sekarang ini sungguh merasa lapar.
"kak..." panggil ku manja.
"hmm.." jawab kak Alvin.
"nazwah laper..." rengekku.
kak Alvin langsung mengalihkan pandangannya dari handphone yg digenggam nya.
"yaudah ayo kita makan.." ajak kak Alvin.
"Maunya makan martabak..." rengekku.
"martabak..." ulang kak Alvin.
Dia melirik jam tangannya.
"Tapi udah lewat tengah malam sayang... penjual martabak udah pada tutup jam segini..." jelas kak Alvin.
Aku langsung cemberut. entah mengapa aku jadi seperti ini. Tiba' saja aku sangat ingin makan martabak. Padahal biasanya aku tidak terlalu suka martabak.
"Besok aja yaa..." bujuk kak Alvin.
"huff... iya dehh..." jawabku pasrah.
"Tapi sekarang kakak makanan nya kakak yg masak yaa..." bujukku.
"iyaa sayang..." jawab kak Alvin.
Aku langsung bangkit dari tempatku menghampiri kak Alvin yg berjalan menuju dapur.
Aku mendudukkan diriku di kursi dapur, memperhatikan kak Alvin dengan seksama.
Ia terlihat mencari sesuatu yg bisa dimasak untuk kami makan malam ini.
"Cuman ada mie instan.." gumam kak Alvin.
"Mie instan pun jadilah..." jawabku semangat.
kak Alvin tersenyum.
"yaudah tunggu sebentar yaa princess.." ucap kak alvin.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Sekitar 5 menit kemudian, mie instan sudah matang. Kak Alvin menyajikan nya di mangkok untuk ku dan untuknya.
Kami menyantapnya sambil menonton tv, Walau hanya mie instan tapi aku sangat...sangat..sangat senang memakannya. karena itu masakan dari suamiku yang super super tampan nan manis...😁😂✌️.