
.
.
.
Aku membuka mata, melihat keseluruhan penjuru ruangan yang didominasi warna putih. Tanganku terhubung dengan infus dan kepalaku diperban.
Tidak terlalu sakit namun badanku terasa sedikit lemas.
Aku mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi.
Hingga bayang kak Alvin muncul di kepalaku dan juga bayiku.
Aku mencoba mencerna semua, namun tetap saja aku tak faham dengan ini semua. Aku perlu penjelasan tentang apa sebenarnya yang terjadi.
Mengapa aku bisa pergi kemasa depan dan kembali lagi ke masa sekarang.
Ini tidak masuk akal, apa mungkin aku hanya bermimpi. Dan kak Alvin itu hanya sebuah ilusi.
Namun aku merasa itu sangat lah nyata.
Pintu ruangan terbuka, menapakkan bunda yang terkejut sekaligus senang melihat ku sudah sadar.
Aku sudah tahu kalau aku sedang dirumah sakit, karena terakhir kali aku kan sedang dalam kecelakaan angkot waktu itu. Dan untungnya aku selamat dan tidak terluka parah.
Bunda berlari menghampiri ku, dia memelukku erat seakan tak mau kehilangan.
Begitu juga denganku, aku memeluk bunda. Melepaskan kerinduan ku padanya.
Setelah cukup puas, bunda melepas pelukannya dan menatap ku lekat.
"Nazwah nggak papa kan... ada yang sakit...biar bunda panggil dokter.." ucap Bunda khawatir.
"nggak bun... nazwah nggak papa, bunda nggak usah khawatir.." ucapku.
"nggak khawatir gimana... kamu nggak bangun selama 3 hari. Ibu mana yang nggak khawatir cobaa..." ucap bunda.
"3 harii... " kagetku.
"Iyaa... Kamu fikir selama 3 hari ini bunda bisa hidup tenang gituu..."kesal bunda yg membuatku tertawa lucu melihat ekspresinya.
"kenapa ketawa... ohh...kamu senang bunda kaya gini... " ancam bunda..
"ehh.. nggak dong bundaku yg cantik..." manjaku.
~Skip 1 minggu kemudian
Tak terasa aku sudah 1 minggu setelah kejadian itu. Kejadian yang sampai saat ini masih membuatku bingung.
Tapi aku tak ingin memikirkan nya terus, karena itu hanya akan membuat ku strees.
Dan kalau dipikir-pikir, kenapa aku harus memikirkan nya. Bisa'aku kehilangan masa' sekarang ini demi memikirkan masa depan yg belum ku ketahui pasti seperti apa.
Yang pasti, masa depanku sudah dirancang oleh yang maha kuasa. Dan seperti apa itu, aku hanya perlu bersabar.
Sehari setelah pulang dari rumah sakit, aku sudah kembali bersekolah. Bunda sudah melarang nya namun aku sangat lah keras kepala.
Bukannya ingin membantah bunda, hanya saja aku sudah rindu dengan zihan. Begitu juga temanku yang lainnya.
Dengan terpaksa bunda akhirnya mengizinkan ku untuk masuk sekolah. Itupun karena berhubung ujian kenaikan kelas sudah dekat.
__ADS_1
Hari ini adalah hari Senin, seperti biasa akan ada upacara penaikan bendera.
Matahari tak bisa diajak berkompromi, dia bersinar begitu cerah dipagi ini.
Ditambah lagi pembina upacara yang sedari tadi tidak kunjung menutup amanat nya.
Semua peserta upacara sudah seperti cacing kepanasan. Hanya sebagian yang mendengar kan pak Darto yang memberikan amanat.
Sebagian lagi ada yang menggosip, menjahili temannya bahkan ada yg tidur dilapangkan.
Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
Sebenarnya aku juga sudah sangat bosan plus kepanasan si barisan. Tiba' sebuah ide muncul dikepala ku.
"zii... lo siap' yaa..." bisikku pada zihan yang ada disamping ku.
"siap' apa.." bisik Zihan.
Aku mengedipkan mataku. Lalu memulai aksi.
Tubuh ku tersungkur dilapangan, sontak semua peserta upacara menatap kearah barisan ku.
Bisa kudengar zihan sangat lihai memerankan peran nya. Dia sangat panik namun itu hanya akting.
Maaf kan hambamu ini yaa Allah.
Tiba' tubuh ku ada yang mengangkat. Dapat kudengar samar', banyak siswi yang menggosip ria. Entah siapa yang menggendong ku sehingga mulut mereka tak bisa berhenti mengumpati ku.
*paling cuman akting biar kak Al kasian lalu nolongin dia.
*dihh... sebel banget gue sm tuh cewek, beraninya ngerebut pangeran gue
*Dihh...so sweet banget... gue juga mau dong digendong gitu..
Begitulah celotehan mereka. Sungguh sangat alay.
Orang itu membaringkan ku diatas matras yang kuyakini di UKS.
Sebenarnya aku baru pertama kali melakukan akting ini, semoga tidak ketahuan. Dan entah mengapa setelah mengalami kecelakaan itu aku sedikit bandel.
Ok kembali ke yg tadi 👏
"Aku penasaran, siapa gerangan yang dengan baik hati menggendong ku. Jika dia tampan boleh nih jadi doi" ucapku dalam hati.
"Astaghfirullah... kenapa mikir yg aneh' sih" ucapku dalam hati.
"ekhm ... nggak usah pura' lagi... gue udah tau lo cuman akting.." ucapnya dingin.
Aku masih bertahan untuk melanjutkan aktingku.
"Bangun nggakk..."bentaknya tiba'.
"widihh...galak amat nih orang... nggak cocok jd doi.."benakku.
"Huff... bangun atau gue bakal..." ucapannya menggantung.
"atau apa" ucapku dalam hati.
"Gue bakal cium lo.." bisik nya.
"Astaghfirullah... gue harus gimana nihh.." benakku.
__ADS_1
"gue hitung sampe 3... satu..." ucapnya.
"waduhh... gimana nihh..." gumamku dalam hati.
"duaa.... tiii...." ucapnya sambil mendekatkan wajahnya. bisa kurasakan nafasnya menerpa wajahku.
"Tiiii..." ulangnya lagi.
"Iyaa...iyaa..gue ngaku..." ucapku akhirnya mengalah.
Dia menjauhkan wajahnya, lalu menatapku tajam.
"Dasar..." gumamnya.
"Diluar panas banget loh... Gue nggak tahan, baru juga kemarin aku keluar dari rumah sakit. apa kakak nggak kasian.." ucapku dramatis.
"nggakk.." jawabnya dingin.
"Sekarang gue bakal aduin lo ke BK, biar lo dihukum.."ancamnya.
"ja..jangan dong kak.... please... Kakak kasian dong sama aku." ucapku.
"ngapain gue kasian sama lo... emang lo siapa nya gue..." ucapnya.
"gue....gue adik kelas kakak... jadi sesama manusia harus saling menolong.." ucapku.
"Nggak usah cari alasan.." ucapnya.
"yahh...hmm... gini dehh... aku bakal turutin semua keinginan kakak asalkan kakak nggak aduin aku ke BK...ok..." ucapku.
Dia terlihat berfikir.
"ok...tapi janji yaa... SEMUANYA..." ucapnya.
"iya semuanya, asalkan nggak aneh'..." ucapku.
"terserah gue dong... Kan lo bilang semuanya" ucapnya.
"akhh... gue udah gila yaa... ngapain coba gue bikin perjanjian gitu... bisa' nih orang bakal minta yg aneh'..." benakku.
"ehh...nggak jadi deh..." tarikku.
"nggak boleh gitu... kamu udah janji..." ucapnya lalu pergi dari UKS.
Aku meratapi nasibku, aku sungguh bodoh.
Setelah upacara selesai, aku pun pergi ke kelas untuk mengikuti pembelajaran.
~Skip pulang
Hari ini pikiran sangat kalut, soal yang diberikan oleh pak Rio sangat sulit. Pak Rio adalah guru matematika kami, tadi pak Rio memberikan ujian dadakan.
Aku berjalan menelusuri koridor sekolah sendirian, zihan sudah pergi duluan karena ia dijemput mamanya.
Aku mendudukkan diriku di kursi halte. menunggu angkutan umum yang lewat. Sebenarnya aku masih sedikit trauma naik angkot. Namun apa boleh buat, hanya itu satu' nya yg bisa mengantar ku pulang.
sekolah sudah sedikit sepi, sedari tadi angkutan umum yang lewat selalu penuh. Aku masih setia menunggu dan menunggu.
Hingga sebuah motor ninja hitam berhenti didepan ku. Aku tak memperdulikan nya, sampai ia memanggil namaku.
"Nazwah Shalsabilah Utami.." ucap orang tersebut.
__ADS_1
aku langsung menengok orang tersebut, dan itu adalah....