
''Daniel ... Kau sangat keterlaluan! Sebenarnya apa yang ada dipikiran mu itu hah? Sampai bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu kepada Guru keponakan mu?'' teriak Yessi meluapkan amarahnya kepada Daniel, Yessi benar-benar geram.
''Mbak, kamu lebih memilih percaya kepada wanita asing ini Mbak? Di banding Aku adik ipar mu yang kamu kenal lebih lama?'' ucap Daniel
''Lalu mbak harus percaya begitu kepada mu Niel? Yang jelas-jelas kamu sudah tega dan tidak berperasaan Daniel, kamu menghancurkan masa depan Risma.'' pekik Yessi
''Apa masa depan? Mbak dia itu sudah tidak perawan kok, dia--''
''Stop! Kamu lancang sekali bicara kayak gitu Daniel! Jelas-jelas Mbok Siti melihat bukti dari seprai putih itu, apa kau amnesia Daniel?'' Doni memotong ucapan Daniel
''Kak, Aku harus bicara kaya gimana lagi sih, agar kalian ini percaya? Aku sama sekali tidak memaksanya dia itu yang menggoda ku dulan.''
Plakk!
''Cukup! Sudah cukup menuduh ku lagi Pak Daniel yang terhormat, Orang berpendidikan seperti Anda ini seharusnya memiliki pikiran yang baik sesuai pangkat Anda tapi ternyata pikiran Anda itu begitu picik.'' umpat Risma tidak tahan di sebut menggodanya.
__ADS_1
''Kau! Siapa kau hah? Tutup mulutmu itu!'' bentak Daniel menunjuk-nunjuk Risma
''Niel, apa seperti itu kamu memperlakukan seorang wanita, menunjuk-nunjuk nya kaya gitu?'' tegur Yessi tidak suka.
''Mbak, wanita sepertinya tak pantas di hargai.'' ucap Daniel begitu tak berperasaan.
''Daniel, kau keterlaluan!''
Plakkkk!
Daniel memegang pipinya yang pedih hari ini dia mendapatkan banyak tamparan dari orang-orang di depannya ini, seketika Daniel menatap penuh benci dan dendam kepada Risma, 'Ini semua ulah mu wanita sialan, tunggu pembalasan ku!' batinnya berbicara.
''Daniel, kamu masih ingin di rumah saya dengan syarat bertanggung jawab atas perbuatan mu kepada Bu Risma ini atau ... Kamu memilih pergi dari rumah saya?'' Doni memberikan dua pilihan itu.
''Cih, aku tidak Sudi bertanggung jawab kepadanya. Lagian dia yang salah kenapa harus Aku yang menanggungnya.'' jawab Daniel sambil berdecih tidak Sudi.
__ADS_1
''Jadi kamu memilih pergi dari rumah?'' kembali tanya Doni menegaskan
Daniel bimbang tapi bila dia berada di rumah itu artinya dia harus bertanggung jawab begitu? Itu tidak mungkin terjadi.
Daniel tegaskan pada dirinya, dia sangat ogah bertanggung jawab.
''Aku sudah katakan aku tidak Sudi bertanggung jawab.'' jawabnya mantap
''Ook, mulai besok segera kemasi barang-barang mu dari rumah saya! Dan jangan pernah lagi menunjukkan batang hidungmu di hadapan saya, ingat itu!'' ucap Doni memberikan peringatan kepada Daniel bahwa dia tidak main-main.
Pertemuan menegangkan itu akhirnya selesai juga dengan keputusan Doni yang mengusir Daniel dari rumahnya, bahkan bukan mengusir di rumah saja tapi juga Doni sudah memutuskan hubungannya dengan Daniel, itulah keputusan bulat Doni.
Sebelum Doni juga Yessi pergi, Yessi meminta izin kepada Doni untuk berbicara berdua dulu dengan Risma.
Dua wanita itu kini duduk hanya berdua saja, ''Ris, aku mau minta maaf ya kepada Bu Risma, ini tidak akan terjadi kalau saya bisa melihat kejadian sebelumnya di rumah saya, pada Yui juga kepada Dika, andai saja saya tahu ini dari awal mungkin saya tidak akan ikut dengan Ayah nya Yui kemarin, dan kamu tidak akan menjadi korbannya. Bu Ris, saya begitu sangat menyesali kejadian ini. Kalau perlu Bu Risma bisa menghukum saya bagaimana dan apapun caranya hukum saja saya Bu, agar saya bisa tenang hati saya ini rasanya akan selalu merasa bersalah.'' ucap Yessi panjang lebar
__ADS_1