Terikat Bersama Paman Muridku

Terikat Bersama Paman Muridku
Mengantarkan ke sekolah


__ADS_3

Risma berbalik kembali ke meja makan dengan wajah menunduk malu menyembunyikan pipinya yang memanas.


"Ciehhh, so sweet sekali sih Mbak sama Mas Daniel, ih bikin iri saja deh." celetuk Reva


"Eh huss, gak boleh bilang gitu gak sopan kamu." ibu Maya pun menegur


"Ih Ibu, kenapa marahin Aku sih." Reva mendelik pada ibunya


"Kamu masih kecil, belajar yang benar." sahut Risma ikut menegur adiknya


"Loh dimana salahku sih? Mbak tuh yang mesra mesraan di depan Aku, lagian aku udah besar kali." ucap Reva


"Udah besar apanya, kamu masih kecil, jangan ikut ikutan orang dewasa ya!" Risma memperingati


"Ya nggak lah aku juga tahu kok Mbak, tapi Mbak tuh yang harusnya jaga kemesraan jangan di depanku dong jadinya mata ku ini ternoda kan." Reva mengejek Risma dengan mencebik-kan bibirnya.


"Eeee itu anu Rev, ini salah Kakak ipar mu, kamu jangan nyalahin mbak dong." sekarang gantian Risma meminta pembelaan.


"Huu kalian sama aja." sahut Reva


"Udah siang ayo Mbak antarkan kamu ke sekolah." ujar Risma akan mengantarkan Reva karena Daniel sudah pergi.


"Eh gak usah Mbak, aku naik angkot saja ke sekolah Mbak di rumah aja ya." Reva menolaknya


"Ya gak apa-apa sudah ayo Mbak antar kamu ayo." Risma akan beranjak tapi lagi di cegah oleh Reva.


"Udah Mbak mah di rumah jagain Ibu, lagi hamil besar gitu juga biar aku pergi sendiri ya." jelas Reva tak membiarkan Kakak nya kecapean.


"Hmm sudah dewasa rupanya adik mbak ini ya, yaudah kamu hati-hati jangan pergi kemana-mana sekolah yang benar!" pagi itu Risma memberikan banyak nasihat untuk Reva.


"Siap mbak, lagian mana pernah aku keluyuran." balas Reva


Reva pun menyalami tangan ibu Maya dan juga Risma, setelah itu dia berangkat menuju jalan untuk menyetop mobil angkot.


Tapi saat di tengah perjalanan menunggu datangnya angkot yang pagi ini tak kunjung datang tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di sisi tubuh Reva membuatnya bertanya-tanya mobil siapa itu.


Kemudian seorang pria dengan memakai kacamata hitam turun dari mobil mewah tersebut dan berjalan menghampiri Reva.

__ADS_1


Membuat dahi Reva mengkerut menebak siapa pria ini terlihat tidak asing.


"Hai kamu mau ke sekolah?" tanya orang itu.


"Iya." jawab Reva


"Kenapa jalan kaki? Oh ya sekolah mu dimana?" kembali tanyanya.


"Itu di sana," jawabnya menunjuk arah depan tapi dengan mata masih memperhatikan pria dewasa ini.


"Oh gimana kalau kakak antarkan kamu ke sekolah mu ya." tiba-tiba menawarkan.


"Eh tunggu apa aku sama Om saling kenal gitu?" balas Reva


"What! Om?" pria tadi memekik


"Iya, Om kenapa?" ucap Reva bingung dengan reaksinya.


"Astaga masa tampan begini di bilang Om, yang benar saja." Pria itu menggerutu.


"Eeee Om ini kok wajahnya terasa tidak asing sih?" ujar Reva rupanya belum mengingat.


"Anu Om, iya." Reva mengangguk


"Saya ini temannya Kakak ipar mu, dan baru semalam kita berteman loh kenapa kamu sudah lupa lagi." Loius pun menjelaskan siapa dirinya.


"Ooh iya iya, sekarang aku ingat duh maaf ya Om." ucap Reva dengan meringis


"Hahh Om lagi Om lagi, apa saya terlihat tua di matamu gadis cantik ?" ucap Louis dengan menghela nafas jengkel.


"Itu anu, duh apa aku salah sebut?" gumam Reva tapi Louis ini kan sudah tidak muda tentu sangat jauh dengannya dan Reva harus memanggilnya apa? Kalau Kakak ah itu terlihat kemudaan.


"Sudah terserah mu deh, tapi mau kan Kakak antar ke sekolah mu ayo." kembali ajak Louis


Tapi tiba-tiba Reva ingat dengan pesan Mbak nya bahwa dia tidak boleh dekat-dekat dengan pria ini, entah kenapa alasannya namun Risma kukuh tak membolehkan Reva berdekatan dengan pria asing. Tapi kan Loius ini temannya Daniel dan kenapa Risma melarangnya kini itu yang ada dalam pikiran Reva.


Saat melihat jam di tangannya rupanya hari sudah sangat siang akhirnya Reva mau ikut dengan Loius yang menawarkan tumpangan, apalagi mobil angkot sedari tadi belum juga datang semakin membuat hari siang dan itu bisa membuat Reva telat.

__ADS_1


"Em Om, eh!" Reva tak jadi bicara saat melihat tatapan Loius yang seolah tak suka dia panggil dengan sebutan Om.


"Iya apa?" tapi Loius membalasnya juga


"Itu Om ini benar temannya mas Daniel ?" tanya Reva


"Ya, memang kami berteman, bukannya kamu juga tahu soal itu kan? Dan sebelumnya saya pernah ke rumah mu waktu itu loh." jawab Loius


"Hah benarkah kapan itu Om ? Kok Aku gak ingat ya?" tanya Reva penasaran.


"Dulu saat mengantarkan si Daniel agar bertanggung jawab pada Kakak mu." ungkap Loius


"Oh yang itu, duh aku mah lupa lagi Om hehe." ujar Reva dengan tertawa kecil


Deg!


Tiba-tiba senyuman itu membuat hati Loius berdebar cepat, dan terasa nyesss.


'Astaga senyumnya bikin meleleh.'


"Om ... Berhenti!" tiba-tiba Reva memekik menyuruh Loius menghentikan laju mobilnya, Pria itu spontan langsung menginjak rem dan ia pikir Reva marah karena sudah di tatap cukup lama tadi.


"Ada apa kenapa kamu berteriak?" tanya Loius


"Itu Om, disana sekolah ku sudah terlewati." beritahu Reva menunjuk ke belakang.


"Ah sekolah mu," sahut Loius cukup lega ia pikir bocah ini akan marah karena dia menatapnya tadi.


Loius memundurkan lagi mobilnya dan berhenti tepat di gerbang sekolahnya Reva.


"Omm makasih banyak ya atas tumpangannya." ucap Reva dengan tulus


"Sama-sama dan harusnya saya yang berterima kasih padamu karena sudah mau ikut di mobil saya." balas Loius


"Iya, yaudah aku masuk dulu ya Om, dahhh!" Reva melambaikan tangan kemudian berlalu pergi.


"Hahaha dasar bocah, mau pergi pakai lambai tangan begitu, iya dadahh juga belajar yang pintar gadis cantik!" Louis berteriak padahal Reva sudah masuk.

__ADS_1


Setelah itu Loius pergi ke restoran. Dan mungkin dia juga harus berterima kasih pada seseorang karena berkat bantuan orang itu dia bisa satu mobil dengan Reva, si gadis kecil.


__ADS_2