Terikat Bersama Paman Muridku

Terikat Bersama Paman Muridku
Teh nya manis, seperti orangnya


__ADS_3

''Bagaimana, kenyang ?'' tanya Daniel pada istrinya ketika makanan nya sudah habis.


''Iya sudah kenyang.'' angguk Risma membalasnya, dengan tanpa sadar.


Eh!


Risma menatap piring kosong lalu dia meraba mulutnya, 'Astaga apa aku makan sebanyak itu?' batinnya kaget.


Tapi perutnya benar-benar kenyang.


''Kenapa ?'' Daniel pura-pura tidak mengerti.


''Em gak apa-apa.'' dia menggeleng cepat tidak mau Daniel mengejeknya.


'Parah kamu Risma, tadi nolak makan karena disuapi dia malah sekarang justru kamu yang habiskan makanan itu, ah dasar kamu bikin malu saja.' Risma mengomeli dirinya sendiri merutuk dalam hati.


Sementara Daniel semakin terkekeh melihat nya, yang tak mau ngaku.


''Ibu Risma ... '' suara anak perempuan terdengar memanggil Risma dari arah depan.


Risma juga Daniel menoleh kearah asal suara. ''Yuizi.'' ucap Risma pelan dengan bibir tersenyum.


''Ibu , Yui kangen sama Ibu.'' ucapnya sambil memeluk tubuh Risma Guru nya disekolah yang paling baik.


''Sama Yui, ibu juga rindu sama kamu bagaimana kabar mu Yui? Sudah lama ya kita tidak bertemu.'' kata Risma.


''Yui sangat baik Bu, apalagi ketika mendengar Ibu kini menjadi Tante nya Yui karena ibu menikah dengan Paman kan. Yui begitu bahagia mendengar kabar itu Bu.'' ucap Yui dengan antusias.


''Ah iya Yui.'' hanya itu balasan Risma dia kikuk.


''Hai Ris, selamat ya kamu sekarang sudah jadi anggota keluarga kami.'' ujar Yessi memberikan selamat.


''Em iya Nyonya.'' kata Risma canggung


''Loh kenapa memanggil ku Nyonya, jangan dong Ris, panggil saja Mbak karena kau adik ipar ku!'' suruh Yessi


''Tapi ---''


''Sudah jangan banyak tapi, biasakan lah Ris!''


''Em baiklah.'' Risma mengangguk kecil.

__ADS_1


''Heh anak bandel, sekarang ini kau sudah jadi suami belajar hidup yang benar kau juga nanti menjadi Ayah maka hiduplah yang normal dan benar, jangan lagi nakal bermain wanita ingat itu Daniel!'' ucap Doni menasehati adiknya yang suka bermain wanita itu.


''Hm iya Kak, aku bakal berubah Aku tahu akan tugasku sekarang ini.'' balas Daniel


''Ya, tentu itu sangat bagus Niel, awas saja kalau kau berani lagi menyakiti Risma atau anakmu itu siap-siap ku bawa kau ke penjara.'' ancam Doni tak main-main.


''Cihh, ancaman mu itu gak asik.'' seru Daniel


''Makanya mulai sekarang sayangilah istri dan calon anakmu itu!'' sekali lagi ujar Doni.


''Iya Kak, Aku paham kenapa di ulang-ulang lagi sih.'' Daniel jadi muak padahal ini harusnya jadi hari bahagia bukan hari persindiran.


''Kakak harus mengingatkan kamu Daniel, karena kau adalah adik Kakak satu-satunya. Tentu Kakak tidak mau kau berbuat hal gila itu lagi dan terjerumus dalam dosa Daniel, apa kau mengerti!''


''Aku mengerti Kak, aku akan mulai berubah juga belajar jadi orang baik.'' sahut Daniel.


''Bagus itu Kakak pegang kata-katamu tadi.'' ucap Doni sembari menepuk-nepuk punggung adiknya ini.


''Tapi kak, apa sekarang aku sudah bisa kembali menikmati pasilitas ku kan? Ayolah Kak aku akan jadi Ayah masa aku nganggur sih.'' tiba-tiba Daniel merengek meminta kembali pasilitas kemewahan yang telah di rampas kakaknya akibat kelakuan dia kemarin.


''Sorry Niel, itu masih belum bisa kamu dapatkan.''


''Loh Kak, Kenapa tidak bisa sih?''


''Yasudah.'' Daniel menjawab dengan lesu dia juga butuh pasilitas itu tapi rupanya tidak semudah dulu dia mendapatkan nya.


''Ini siapa ya?'' tiba-tiba Bu Maya datang lalu menanyakan dua pasangan suami istri itu.


''Eh Bu, perkenalkan saya Kakak ipar Daniel dan ini suami saya Kakak kandung Daniel.'' Yessi yang menjawab sembari memperkenalkan mereka.


''Ooh jadi ini keluarganya Nak Daniel, saya ibunya Risma.''


'' ibu ini ibunya Risma jadi mertuanya adik saya, salam kenal ya Bu.'' kata Yessi


''Iya, senang bertemu kalian.'' kata Bu Maya


''Maaf Bu, apa ibu sudah tahu yang terjadi antara Risma dengan adik saya?'' tanya Doni dengan hati-hati barangkali Bu Maya ini belum tahu apa-apa.


''Saya sudah tahu semuanya, bagaimana Daniel ini memfitnah anak saya bahkan ragu ketika Risma mengandung anaknya, padahal Risma berniat baik ingin mengatakan sebenarnya tentang muridnya itu, tapi pemuda ini justru menorehkan luka pada Putriku!'' Bu Maya merasa sakit hati lagi bila mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


Risma yang mengalami morning sickness tanpa kehadiran seseorang di sampingnya saat itu, padahal bila dalam waktu tersebut lebih nyaman kalau berada di samping Ayah bayi itu. Tapi kenyataannya pahit yang di alami Risma.

__ADS_1


''Bu,'' Risma ikut sesak dia langsung mendekap ibunya.


''Bu, tolong maafkan sikap saya saat itu saya memang benar-benar kehilangan akal waktu itu sehingga saya tak dapat berpikir dengan benar, Risma tolong maafkan lah saya!'' ucap Daniel meminta maaf.


''Bila kamu ingin di maafkan oleh saya kamu cukup cintai dan sayangi Putriku juga anaknya, agar kamu tidak terus terbayang oleh rasa bersalah mu itu lakukann apa yang saya suruh kepadamu tadi!'' kata Bu Maya memberikan kesempatan untuk Daniel.


''Baik Bu, baik saya berjanji akan mencoba melakukan nya tapi beri saya waktu karena kami tidak saling kenal, tentu butuh waktu untuk kami bisa bersama.'' kata Daniel serius.


''Ya tentu saya beri kamu waktu, lakukann mulai dari sekarang,''


''Lalu apa kamu bisa membuka hatimu padaku? Ah maksudku, bagaimana bisa aku belajar cinta padamu bila kamu tidak membuka hati.'' Daniel bertanya pada Risma di hadapan semuanya lagi.


Risma semakin tegang kaku, ''Em ... Kita coba saja, aku juga butuh waktu.'' balas Risma dengan suara pelan karena tercekat di tenggorokan.


''Hm baiklah, kita sama-sama memulainya.'' kata Daniel tak memaksa lagi.


**


Semua tamu undangan sudah pada pulang kini waktu pun telah larut malam.


''Hah Aku sangat lelah sekali, padahal tidak melakukan apapun.'' Daniel terkekeh dengan ucapannya sendiri pria itu duduk menyender pada kursi.


''Ini, minum lah dulu.'' tiba-tiba saat ia sedang duduk ada tangan yang menyodorkan teh hangat untuknya.


Daniel menatap wajah itu dan tersenyum pada si wanita yang menunduk tak balas tatapannya.


''Terimakasih, istriku.'' balas Daniel sembari mengambil teh nya.


Sssrrrttt


Daniel menyeruput teh yang hangat manisnya pas.


''Hmm ternyata enak juga ini manisnya pas, seperti yang membuat. Oh ya kamu pintar juga ya buat teh nya.'' Daniel terus memuji Risma.


''Makasih tapi itu hanya teh doang kok, dan ya itu bukan aku yang buat tapi Ibu.'' ujar Risma.


''Hah? Ppppfffftttt.'' Daniel mencipratkan teh nya ke udara lewat mulut ketika dia sedang minum.


''Jadi Ibu yang buat bukan kamu gitu?'' dia menatap Risma tak percaya.


''Ya benar, itu ibu yang suruh untuk aku berikan padamu.'' jawab Risma sambil menahan tawa.

__ADS_1


''Hahhh padahal aku sudah memujinya manis, artinya ibu mertua ku dong yang manis.'' gumam Daniel sembari duduk melorot lesu.


Hahaaa dasar pria ini, baru di bohongin gitu saja udah lesu dasar payah. Emang enak aku kerjain, padahal memang itu aku yang inisiatif membuatkan untuknya, karena dia terlihat lelah. Rasakan saja lah wajahnya yang terkejut tadi membuatku ingin sekali tertawa di depan wajahnya. batin Risma


__ADS_2