Terikat Bersama Paman Muridku

Terikat Bersama Paman Muridku
Ciuman di kening


__ADS_3

Risma membawa adiknya pergi ke tempat yang cukup jauh dari pandangan Loius dan Daniel berada wanita itu ingin menjauhkan adiknya dari Louis.


"Mbak ada apa sih ini, kenapa tiba-tiba membawaku secara paksa gini?" tanya Reva merasa heran.


"Pokoknya kamu harus hati-hati dengan teman Kakak ipar mu itu ya Rev, jangan terlalu dekat dengannya." Risma memperingati adiknya.


"Tapi kenapa Mbak ? Apa dia orang jahat?" tanya Reva sekali lagi.


"Kakak tidak bisa menjelaskannya Rev, hanya Mbak minta kamu ingat dan dengarkan perkataan Mbak tadi ok." ucap Risma yang belum bisa mengatakan alasannya.


"Baiklah Aku tidak akan dekat-dekat dengan orang itu, kalau itu yang Mbak minta." Reva pun menyetujuinya.


"Baguslah, sebaiknya kamu fokus pada pelajaran saja." kata Risma.


"Iya mbak baik." Reva mengangguk patuh.


Acara tujuh bulanan sudah selesai kini saatnya mereka istirahat lebih tepatnya wanita hamil itu sedang berbaring di atas tempat tidur karena seharian ini dirinya sudah banyak melakukan aktivitas.


Krreeeekk


Daniel masuk kedalam kemudian duduk di pinggir ranjang menatap istrinya.


"Sayang kamu pasti kelelahan ya." ujarnya


"Iya begitu lah." sahut Risma tak bisa di bohongi memang dirinya cukup lelah.


"Yaudah biar aku pijitin kaki mu," kata Daniel dan tangannya mulai memijit di kaki Risma.


"Eh jangan, udah gak usah ya." namun wanita itu menolaknya.


"Loh kenapa ? Apa pijitannya kurang enak atau terlalu keras?" tanya Daniel


"Bukan begitu rasanya itu seperti tidak sopan, masa Istri di pijitin oleh suaminya udah gak usah gak apa-apa." ujar Risma.


"Oh soal itu, udah kamu diam saja nurut padaku biar ku pijit." tapi Daniel bersih keras ingin memijit Risma


"Yasudah kalau kamu kukuh ingin." sahut Risma kini membiarkan Daniel memijitnya.


"Khmm." tiba-tiba Daniel berdehem cukup keras.

__ADS_1


"Ada apa ?" tanya Risma merasa Daniel ingin mengatakan sesuatu.


Daniel tersenyum kecil karena senang Risma paham kode darinya.


"Begini aku ingin membahas tentang Loius dia---" belum sempat ia mengatakan sudaah keburu di potong oleh Risma.


"Apa? Kamu ingin mengatakan kalau teman mu itu benar suka pada adikku hah? Itu gak mungkin terjadi dan tidak akan pernah aku setujui, ingat adikku ini masih terlalu kecil untuk teman mu itu, jelas mereka tidak cocok." Risma berucap dengan tegas.


"Tapi gimana dong, aku rasa dia sungguh-sungguh suka pada adikmu. Aku tahu sekarang ini si Loius tidak sedang main-main." ujar Daniel


"Aku gak perduli tetap tidak ya tidak!" jawabnya cepat.


"Keras kepala sekali sih kamu, apa kamu gak kasian sama dia, yang memilliki perasaan pada Reva?" Daniel jadi membela Loius.


"Lalu apa kamu juga tidak kasihan dengan adikku ? Dia masih sangat kecil harus fokus dulu dengan sekolah dan karier nya, jangan dulu kenal sama pria, apalagi pria itu kalian." sindirnya.


"Tapi walaupun kami seperti ini kami aslinya orang yang baik kok, masa kamu belum merasakan ketulusan ku." tiba-tiba ucap Daniel.


"Maaf aku mengantuk dan tidak ada waktu membahas semua itu, kalau kamu masih belum mau tidur sebaiknya kamu di luar saja." ucap Risma dengan mengubah posisinya jadi miring membelakangi Daniel.


"Gak kok, aku juga sudah ngantuk." balas Daniel sambil ikut merebahkan tubuhnya sambil tangannya memeluk perut Risma.


" Tapi aku ingin begini, aku mau memeluk anak kita." Daniel pun tidak kalah dengan.


"Dasar keras kepala." Risma mengumpat


"Kau juga keras kepala, istriku." balas Daniel


"Apa maksudmu, aku keras kepala apa?" Risma merasa tak suka di katai seperti itu.


"Sudahlah sebaiknya kita tidur." ucap Daniel dengan mata mulai di pejamkan.


"Yaudah." Risma pun ikut memejamkan mata.


***


Besoknya...


Semua kembali dengan aktivitas seperti biasanya begitu juga dengan Reva yang kembali ke sekolah pagi ini, dan sebelum ia berangkat anak itu pun sarapan pagi dulu.

__ADS_1


"Pagi Bu, Mbak, Mas." ucapnya menyapa semua penghuni rumah.


"Pagi Nak,"


"Pagi Dek, pagi Rev." jawab Risma dan Daniel.


"Rev, kapan libur sekolah mu?" tanya Risma


"Minggu depan Mbak," jawab Reva memang Minggu depan adalah libur kenaikan kelas dan itu artinya Reva sudah mau naik ke kelas tiga SMA.


"Oh Minggu depan, Mbak harap kamu dapat juara Rev." ujar Risma lagi


"Semoga ya Mbak, aku minta doanya dari kalian. Agar aku bisa membanggakan kalian lagi." ucap Reva penuh harap .


"Amiin, tapi juara yang sesungguhnya itu adalah kamu selalu belajar Rev, itulah kunci kesuksesan." timpal Daniel.


"Mas mu benar Dek, percuma ingin juara bila jarang bahkan sama sekali tidak ingin belajar karena dengan belajar maka kamu akan semakin pintar." ucap Ibu Maya.


"Iya Bu, aku akan selalu belajar dan mendengarkan saran dari kalian, makasih banyak sudah mendunia ya." ucap Reva


"Iya Dek, jadilah kebanggaan bagi kami semua, agar kelak kau yang bisa mengangkat derajat Ibu kita." ucap Risma


"Amiin, semoga ya Mbak." balas Reva sekali lagi.


"Huum Mbak yakin kamu bisa." kata Risma seraya tersenyum pada Reva memberikan semangat untuk adiknya itu.


"Oh ya Rev, maaf ya sekarang Mas gak bisa anterin kamu ke sekolah karena Mas harus segera pergi ke tempat Abang nya Mas, sekalian sekarang aku harus pamit pergi." tiba-tiba ucap Daniel sambil beranjak.


"Loh kenapa mendadak dan itu makannya habiskan dulu." ucap Risma ikut berdiri.


"Aku sudah kenyang, yaudah aku pergi ya." kata Daniel


"Baiklah hati-hati." kata Risma.


"Iya kamu juga " sambil mencium kening Risma dihadapan Ibu Maya dan Reva.


"Eh!" Risma nampak malu.


"Byy!" Daniel melambaikan tangan pada Risma.

__ADS_1


"Hmm." Risma hanya mengangguk dengan wajah malu.


__ADS_2