
Ternyata kedatangan Zha tidak seindah yang Rendra Khayalkan. Hatinya hampa karena Zha malah tidak menganggapnya.
Syahila hanya Syahila, nama itu terus terukir dalam benaknya, Kenapa Saat Zha datang dia malah merindukan Syahila. Itu yang dia tanyakan pada dirinya.
Rendra kembali bekerja ke kantornya, pikirannya kosong, dia terus berpikir, kenapa dia tidak bahagia dengan kedatangan Zharima, bahkan sekarang dia hanya teringat Syahila. Dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, akhirnya Rendra memutuskan untuk menemui Syahila.
***
Zharima dalam perjalanan menuju rumahnya, mereka menertawakan kebodohan Rendra.
"Aku nggak nyangka pah, bertahun-tahun, si Rendra masih aja bodoh!!!" Ledek Zha.
"Apa isi kado dari Rendra sayang?" Tanya Joy.
"Awww, berlian mamy .... " seru Zha setelah membuka kotak kecil pemberian Rendra.
"Lihat pah, si gila memberiku berlian,"
"Waw cantik sekali sayang," seru Joy.
"Semoga kamu bisa mengendalikan Rendra Zha, kendalikan dia agar perusahaan papa bangkit," seru Dandi.
"Okey papa," sahut Zharima.
*****
Rendra menuju mall tempat Syahila bekerja. Sampai di tempat yang di tuju Rendra langsung berjalan menuju tokonya, sesampai di toko dia langsung menemui manajer Ming.
Syahila dan Lia merasa heran dengan kedatangan big boss mereka.
"Tumben big bos kemari dan nyelonong saja ke ruangan pak Ming," bisik Lia.
"Namanya juga Bos," jawab Syahila.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian pak ming keluar bersama Rendra.
"Syahila," Ming memanggil Syahila.
Syahila segera mendekati Pak Ming.
"Iya Pak Ming," sahut Syahila.
"Pak Rendra memintamu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, silahkan kamu ikut pak Rendra," kata Ming.
Syahila tidak berani menolak, dia segera mengambil tasnya dan mengikuti Rendra. Hingga kini mereka berdua berada di dalam mobil Rendra.
"Pak, kalau anda tidak suka saya bekerja silahkan pecat saya, saya tidak akan marah." rengek Syahila.
"Sya ... aku butuh teman."
Syahila melihat kesedihan di wajah Rendra.
"Maafkan saya."
Syahila mengangguk.
Senyuman terukir di wajah Rendra, dia segera melajukan mobilnya menuju pelabuhan untuk ke pulau yang dia tuju. Jalanan nampak lengang.
"Sya, kamu ingat mobil ibu?"
"Iya ingat, kenapa?"
"Kamu bisa menyetir?"
"Hah, dalam mimpi pun aku tidak berani mimpi menyetir."
"Kamu harus belajar sekarang, Karena aku ingin memberikan mobil ibu untukmu," seru Rendra.
__ADS_1
"Aku tidak mau."
" Kalau kamu tidak mau, aku akan memperkosamu di sini," seru Rendra.
Syahila melihat keadaan sekitar, jalanan sungguh sepi, hanya mobil Rendra yang melintasi jalan itu.
"Baik, aku siap belajar menyetir," jawab Syahila pasrah.
Rendra memperlihatkan cara menyetir.
"Gimana? Faham?" Tanya Rendra.
Syahila bingung.
"Turun! Kita tukar posisi!" Seru Rendra.
Kini mereka bertukar posisi, sekarang Syahila yang duduk di kursi supir. Syahila memulai dengan apa yang di ajarkan Rendra tadi. Perlahan mobil melaju pelan.
"Hemm ... bagus, coba tambah sedikit kecepatan Sya," seru Rendra. Syahila nampak tegang.
"Hei ... jangan tegang, ini mudah " kata Rendra
Mobil terus melaju perlahan,
"Kamu berhenti sampai di sana, karena kita sudah sampai pelabuhan," seru Rendra, setelah sampai pada yang dimaksud Rendra, kini Syahila bertukar tempat lagi.
"Selamat Sya, kamu bisa sedikit, nanti kapan kapan berlatih lagi," seru Rendra sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Syahila.
"Terima kasih," jawab Syahila menerima uluran tangan Rendra.
"Wah ... kamu tegang sekali, tanganmu dingin, santai aja Sya, jangan tegang," seru Rendra.
Syahila hanya mampu tersenyum
__ADS_1
Karena merasa nyaman bersama Syahila, Rendra tidak menyadari apa yang dia lakukan dengan Syahila, karena larut. Dia menggandeng Syahila menaiki kapal yang akan menuju pulau tujuan mereka. Syahila juga lupa siapa dia dan Rendra. Kini mereka berada di pulau itu, Rendra membeli baju pantai untuknya dan Syahila.
Rendra memesan satu meja untuk mereka pribadi. Dia menarik Syahila ke bibir pantai, sungguh lepas dia bermain dengan Syahila. tawa keduanya lepas saat bermain dibibir pantai. Perasaan keduanya begitu lepas.