
Tiga bulan sudah Syahila menjalani kehidupan nya sebagai istri Rendra, istri yang sebenarnya, bukan istri rahasia lagi.
Hari ini acara pernikahan Zharima dan Leo. Hari bahagia yang ditunggu-tunggu Zha dan Leo selama ini. Mereka mengadakan akad nikah di sebuah mesjid, lalu melangsungkan Resepsi pernikahan malam harinya di sebuah gedung.
Acara berlangsung mewah, pernikahan seorang sutradara wanita terkenal, tentu setiap orang yang di undang tidak ingin melewatkan acara pernikahan ini.
Para tamu undangan mulai berdatangan memasuki gedung resepsi. Syahila dan Rendra pun ada di tengah tengah tamu undangan. Syahila sungguh risih, karena Rendra tidak mau melepaskan gandengan tangannya dari pinggul Syahila.
" Sayang ... lepas," rengek Syahila memohon agar Rendra melepaskan tangannya.
"Tidak mau," sahut Rendra, dia malah semakin meng eratkan gandengannya.
"Sayang ... aku malu " rengek Syahila.
" Buat apa malu? Kamu istriku " seru Rendra. Syahila pun pasrah menjadi pusat perhatian, karena Rendra yang selalu menggandengnya.
Pandangan Syahila dan Rendra fokos pada pasangan yang mendekat ke arahnya.
"Effan ...? " Sapa Syahila.
"Hai nyonya Rendra," sapa Effan.
"Monica?" Sapa Rendra.
"Malam pak Rendz" sapa Monica.
"Aw aw aw ,,, aku melewatkan semua ini di kantor ku? Sayang, Monica ini sekretarisku," seru Rendra.
Syahila dan Monica berkenalan.
"Saya sudah melihat bos bahagia, jadi saatnya saya meniti kebahagiaan saya," kata Effan menggandeng Monica.
"Aku merestui kalian," seru Rendra.
"Maaf boss ... sepertinya tangan bos juga ikut kejahit di baju nyonya," seru Effan.
Bukan melepas, Rendra malah semakin menarik tubuh Syahila merapat ke badannya.
"Ampun bos ... nyonya ngga bakalan lari," seru Effan.
"Yuk sayang kita cari pemandangan yang sehat saja, nanti otak kita tertular virus ena-ena 21++ yang ada di depan mata kita ini," seru Effan menarik Monica menjauh dari Rendra dan Syahila.
Di pelaminan.
Para undangan bergantian bersalaman dengan kedua mempelai dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Rendra dan Syahila pun bersalaman dengan kedua mempelai.
"Terimakasih sudah datang," seru Zha, dia langsung memeluk Rendra, kemudian memeluk Syahila. Leo pun memeluk Rendra, saat Leo ingin memeluk Syahila, Rendra langsung menarik Syahila menjauh dari Leo.
__ADS_1
"Yah Rend ... kamu peluk istri ku, aku tidak masalah," seru Leo.
"Istri kamu yang meluk aku," seru Rendra. Mereka pun tertawa bersama.
"Sya kamu sekarang agak montok, perutnya isi?" Tanya Zha.
"Iya isi, isinya makanan," jawab Syahila tertawa terbahak.
"Iih ... aku tanya serius!" Rengek Zha.
"Gimana enggak montok, aku ngga boleh ngapa-ngapain, cuma makan, tidur santai, terus aku juga dilarang olah raga. Ya harus terima nasib semakin gendut lah akunya," gerutu Syahila.
"Semontok apapun kamu, aku selalu cinta sama kamu," seru Rendra.
"Oh ya Zha, Leo, kami sekalian pamit pulang " kata Rendra.
Syahila dan Rendra pun meninggalkan gedung tempat resepsi Zha dan Leo berlangsung.
Rendra mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, tempat dia dan Syahila pertama kali bertemu.
"Kamu sakit sayang?" tanya Syahila.
"Tidak, aku ingin mengajak mu bernostalgia, aku sudah minta izin pada direktur utama rumah sakit ini," seru Rendra.
Mereka pun memasuki gedung rumah sakit itu, lalu menuju lift dan memasuki lift lalu menekan tombol lantai paling atas gedung rumah sakit itu. Mereka pun sampai pada tempat pertama kali mereka bertemu.
"Iya, di mana seorang wanita bodoh yang ingin masuk neraka tanpa hisab," jawab Syahila.
"Untung Tuhan mengirim perantara yang menyelamatkanku," seru Syahila, dia langsung memeluk Rendra, menyesali perbuatan bodohnya di masa lalu, yang putus asa dan ingin bunuh diri di tempat itu. Syahila menangis menenggelamkan dirinya semakin dalam dipelukan Rendra.
"Sudah sayang ... aku nggak rela kamu nangis, ayo ... berbahagialah, jika kamu bahagia, aku juga bahagia sayang,"
"Sayang, kebahagiaanmu adalah tujuanku, memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku," ucap Rendra lagi sambil meper erat pelukannya.
"Terima kasih sayang, terima kasih atas semuanya, kamu sudah sangat banyak membantuku." Syahila semakin erat memeluk Rendra.
"Terima kasih juga sayang, karena kamu sudah membantuku mengabulkan permintaan ter akhir ibu, sayang ... relakah kamu menghabiskan waktumu bersamaku? Dulu kita sama-sama terjebak dalam sumpah cinta? Sumpah karena cinta kita pada orang tua kita, mau kah kamu menemaniku dalam hubungan ini selamanya?" tanya Rendra.
Syahila mengangguk.
Mereka menikmati waktu malam melihat pemandangan dari lantai atas tersebut.
Mereka segera pulang kerumah, karena berada di atap gedung itu tidak nyaman lagi. Hawa dingin malam mulai menusuk tulang. Sesampai rumah Rendra kembali menggendong Syahila saat turun dari mobil hingga menuju kamar mereka.
"Berat sayang?" Tanya Syahila.
Rendra cuek, dia fokos dengan langkahnya.
__ADS_1
"Makanya sayang, izinkan aku olah raga biar kamunya enteng angkat aku," rengek Syahila.
"Enggak ... kamu nggak boleh olah raga, kamu olah raganya di kasur aja sama aku, biar kamu cepat olah raga gendong bayi nanti," seru Rendra.
Wajah Syahila berubah menjadi murung, menampakan kesedihan.
"Kenapa sayang?" Rendra panik.
Syahila turun dari gendongan Rendra, dia segera berjalan ke kamarnya. Rendra berlari menyusulnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Rendra, dia terkejut melihat Syahila menangis.
"Maaf sayang, sepertinya aku belum bisa membahagiakanmu dengan memberimu anak, sudah tiga bulan kita nikah aku tidak kunjung hamil juga,"
"Sayang, kamu jangan memikirkan masalah anak, aku akan mencintaimu selamanya, walaupun kita tidak punya anak selamanya, aku rela asal terus bersama kamu," lirih Rendra.
"Cinta kamu dan kasih sayang kamu, serta ke ihklasanmu mendampingiku, itu lebih dari segalanya, aku tak perduli hal lainnya sayang," bisik Rendra sambil menciumi Syahila.
"Jangan kamu rasa ini bikin anak, tapi ini ibadah kita sayang," kata Rendra mendalami aksi nya.
"Hoyaaa????" Syahila menantang Rendra.
Rendra menyingkap gaun seksi yang dikenakan Syahila, lalu menjalankan misinya. Bahkan keduanya masih berpakaian sempurna.
"Kamu sangat seksi sayang dengan baju ini," leguh Rendra.
*****
Satu tahun sudah pernikahan Syahila dan Rendra, kebahagiaan selalu setia meliputi biduk rumah tangga mereka. Hari ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan Effan dan Monica.
Kehadiran Syahila dan Rendra sangat berarti bagi Effan, namun mereka tidak bisa lama, karena Rendra ada urusan. Setelah bersalaman dengan Effan juga Monica, Rendra pun pamit pulang bersama Syahila.
Saat ingin masuk mobil Syahila merasa pusing, dia langsung masuk ke dalam mobil, Syahila langsun tidak sadarkan diri ketika sudah duduk dalam mobil. Rendra panik melihat Syahila pingsan, dia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampai rumah sakit Syahila langsung di tangani tim medis. Rendra bingung harus apa, dia sangat khawatir.
"Anda suami ibu Syahila?" Tanya Dokter.
"Iya," jawab Rendra.
"Mari bicara di meja kerja saya," ajak Dokter. Mereka kini duduk di kursi yang ada didepan meja kerja sang Dokter.
"Berapa lama kalian menikah?" Tanya Dokter.
"Satu tahun dok," sahut Rendra.
"Oh, Istri anda harus berjuang selama 9 bulan kedepan," Seru Dokter.
Rendra panik mendengar perkataan Dokter.
__ADS_1