
Hari pernikahan semakin dekat, persiapan pun sudah selesai 100%. Hari besar yang dinantikan Zhey tiba juga. Semua keluarga besar Zhey berdatangan ke tempat acara Resepsi akan berlangsung, pagi jam 09:00 nanti akan diselenggarakan acara ijab kabul di gedung itu.
Effan tidak tega balik ke luar negeri sebelum pernikahan Rendra, dia kasihan pada Rendra yang hanya sendiri. Effan menunda kepulangannya untuk menemani Rendra di acara pernikahan nanti.
Zhey dan Rendra berada di kamar yang sama. Zhey sudah cantik didandani para petugas salon yang meriasnya, sedang Rendra sudah rapi dengan jas yang senada dengan kebaya yang dikenakan Zhey.
Zhey becermin memandangi dirinya, senyumnya tidak bisa lepas dari wajahnya.
"Sepertinya kamu menikmati momen ini Zhey," seru Rendra.
Wajah Zhey langsung berubah muram, dia lupa harusnya menyembunyikan mimik kebahagiaannya di depan Rendra.
"Maaf Rendra, aku harus latihan tersenyum dulu, aku hanya ingin membuat papa dan mama percaya kalau aku bahagia dengan pernikahan ini, walaupun akhirnya hanya penghinaan darimu yang aku dapat dari ikatan ini, biarkan aku tersenyum di depan orang banyak, cukup aku yang merasakan rasa sakit ini, menikah dengan pria yang tidak akan pernah menganggap aku istrinya!!!" Bentak Zhey.
Hati Rendra sangat sakit mendengar kata-kata Zhey.
"Apa maksudmu?" Rendra menahan Zhey dengan memegang pergelangan tangan Zhey. Di saat yang sama Jiya masuk ke kamar mereka.
"Ooh, pantas kalian belum turun juga, bisakah di lanjutkan nanti? Kita harus turun sayang, semua orang sudah menunggu di bawah," Seru Jiya.
Mereka bertiga turun kebawah menuju meja akad. Setelah semua persiapan selesai, Rendra dan Zhey duduk berdampingan di meja akad. Ini saatnya Rendra mengikrarkan ijab kabul di hadapan semua orang yang hadir.
Rendra menjabat tangan Darnanto.
***Darnanto : Bismillahirrahmaan nirrahiim ....
"Rendra Mahardi bin Jaya Mahardika aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan anak ku Arzheyty binti Darnanto, dengan mas kawin 100 grm emas di bayar tunai!!!"
"Saya terimaka nikah dan kawinnya Syahila Aziya binti Mukhlis dengan mas kawin tersebut tunai!!!" Ucap Rendra dengan lantang dan jelas.
Semua undangan menutup mulut mereka mendengar yang Rendra ucapkan.
"Rendra!!! Kamu serius ingin menikahi Zhey? Anakku Zhey Rendra, bukan Syahila, Syahila sudah tiada ingat itu.
"Maaf," lirih Rendra.
Ijab kabul di ulang kembali, namun Rendra masih menyebut Syahila, ini kali yang ketiga, tetap saja Syahila yang disebut Rendra.
"Rendra ... batalkan saja, cukup sudah kamu membuat papa dan keluarga besarku malu," Isakan tangis Zhey.
"Maaf, bisa kita ulang?" Tanya Rendra.
"Ini yang terakhir Rendra, mental ku sudah down," Seru Darnanto.
"Bismillahirrahmaanirrahiim, Rendra Mahardi bin Jaya Mahardika aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan anak ku Arzheyty binti Darnanto, dengan mas kawin 100 grm emas di bayar tunai!!!"
Rendra :
"Saya terima nikah dan kawinnya Arzheyty binti Darnanto dengan mas kawin tersebut tunai!!!"
"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu.
__ADS_1
"SAH!!!"
Rendra lega, akhirnya bisa mengucap akan dengan benar dan tenang.
Rendra menyematkan cincin pernikahan ke jari manis Zhey Kini giliran Zhey yang akan menyematkan cincin kawin ke jari Rendra. Mata Zhey melotot melihat cincin kawin Rendra masih tersemat di jari manis Rendra.
"Maaf, aku lupa," Rendra melepas cincin kawinnya dengan Syahila dan memasukan cincin itu ke sakunya.
Acara akad nikah pun selesai.
Rendra, Darnanto dan Denny bergantian saling berpelukan, karena mereka sudah jadi satu keluarga.
***
Kini Rendra dan Zhey berada di pelaminan mereka, menyalami para undangan yang antri bersalaman dengan mereka.
Hati Dave hancur melihat wanita yang dia cintai selama ini menikah. Namu Dave tetap berusaha tersenyum dan memberi ucapan selamat pada kedua mempelai itu.
"Selamat Rendra, tolong jangan sakiti Zhey, dia wanita terbaik yang pernah aku kenal," lirih Dave.
Rendra hanya tersenyum kecil, dia tidak mampu berjanji dengan hal yang pasti tidak bisa dia penuhi.
"Ooh Dave ... kamu sahabat terbaik ku, terimakasih Dave ...." Zhey memeluk Dave
Dave turun dan langsung pulang dari gedung itu, hatinya tidak sanggup lagi bertahan.
Rendra mengukir senyuman terbaik di wajahnya, demi menjaga harga diri Zhey dan keluarga besarnya.
"Sayang ... kita bisa kembali besok, karena Rendra benar-benar bahagia sekarang," seru Effan yang fokos mengemudikan mobilnya.
Acara resepsi pun selesai, Lizty sudah kabur duluan, dia masih takut bertemu Rendra.
Rendra tengah menikmati makan malam bersama kedua orang tua Zhey, Denny, dan juga Zhey.
"Sayang ... kalian yakin mau pulang, saran mama kalian di hotel saja," Seru Jiya.
"Tidak bisa mah, aku punya pekerjaan di rumah," jawab Zhey santai.
"Ya sudah, enaknya kalian saja," Jiya mengalah.
Setelah makan malam mereka pulang dengan mobil masing-masing, namun tidak dengan Denny, dia tidak langsung pulang, melainkan melipir dulu ke tempat favoritenya.
Sepanjang perjalanan Zhey terus saja menangis, membuat hati Rendra sesak.
"Kenapa kamu menangis?" Rendra menepikan mobilnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya meratapi nasibku, jadi pengantin namun tidak akan pernah jadi istri selamanya, andai kamu tidak memperkosaku, mungkin aku bisa melanjutkan hidupku dengan pria yang mencintaiku, bukan pria yang kasihan padaku," ucap Zhey sambil menghapus air matanya.
Kata-kata Zhey sangat menusuk hati Rendra. Rendra melajukan mobilnya, lalu dia berhenti di sebuah apotek dan membeli sesuatu disana. Zhey tersenyum gembira melihat Rendra di apotek itu, dia sangat yakin apa yang di beli Rendra.
Rendra kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan kerumah Zhey.
__ADS_1
Sesampai di kediaman Darnanto Rendra dan Zhey berjalan ber iringan menuju kamar Zhey. setelah masuk kamar Zhey sengaja tidak memperdulikan Rendra. Dia langsung masuk kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Zhey keluar dari kamar mandi mengenakan lingerie seksi yang transparan. Mata rendra melotot melihat itu.
"Maaf, aku bukan menggodamu, aku sadar siapa diriku, tapi hanya ini baju tidur yang aku punya," ucap Zhey sinis.
Zhey duduk di meja rias sambil menyisir rambutnya.
"Kamu tidak perlu kasihan padaku, lagi pula ini bukan malam pertama, kamu sudah merenggut keperawananku, aku juga jera, sangat sakit," isak Zhey sengaja mempermainkan emosi Rendra.
Rendra mendekati Zhey, dan memeluk Zhey,
"Maafkan aku,"
"Sudah ... maafmu sudah kamu tebus dengan pernikahan semu ini, permisi aku mau tidur, aku lelah," Rengek Zhey.
Rendra menarik Zhey kepelukannya, lalu memangut bibir Zhey, namun dia berhenti karena tidak sanggup.
"Lupakan, sepertinya aku selamanya tidak akan pernah merasakan menjadi seorang istri, lagian aku tidak menginginkannya lagi, karena saat kamu melakukan hal itu padaku, itu sangat menyakitkan," seru Zhey.
Batin Rendra semakin kacau. Akhirnya dia meminum obat perangsang yang dia beli di apotek tadi.
"Maafkan aku Zhey, malam ini aku akan menggantikan rasa sakitmu waktu itu, dengan rasa yang sebenarnya, tapi maaf aku hanya menunaikan kewajiban ini kali ini saja dan untuk malam ini saja." lirih Rendra.
Rendra menunggu yang dia minum bekerja, obat itu mulai menjalar keseluruh tubuh Rendra.
Rendra langsung merebahkan Zhey di tempat tidur, dia langsung menyerang apa yang dia inginkan. Dia terus mencimi ceruk leher Zhey. Hingga leher Zhey yang putih dipenuhi warna merah.
Rendra mulai memasang aba-aba untuk mulai melakukan tugasnya.
Leguhan suara yang terlepas dari mulut Zhey semakin membuat obat itu berpacu. Rendra memanjakan tubuh Zhey. Obat itu semakin menguasai tubuh Rendra. Zhey tidak menyangka akan merasakan hal seperti ini.
Suara rintihan Zhey dan Rendra bersahutan mengisi malam sepi itu.
Di luar Jiya berjalan menuju kamar Zhey dengan membawa kado, Jiya berada di depan kamar Zhey, namun dia batal mengetuk kamar putrinya karena mendengar samar rintihan putrinya dan menantunya, membuat bulu kuduknya merinding. Jiya kembali, dia hanya tersenyum.
Denny melewati kamar Zhey juga dibuat merinding dengan suara yang dia dengar. "Gilaaa, pengantin baru," Denny memijat tengkuknya, Denny tidak mau kalah, dia melampiaskan keinginannya pada istrinya Lizty malam itu.
***
Pagi pagi mental semua orang menciut melihat leher Zhey yang penuh bintik merah, namun semua hanya diam. Sedang Lizty sudah pergi sejak pagi buta, dia tidak mau bertemu Rendra di rumah mertuanya.
"Sayang ... makanmu banyak sekali, sepertinya tenagamu habis di kuras Rendra," seru Jiya.
Zhey dan Rendra sama-sama diam tidak menjawab. Mereka kompak terus fokos pada makanan mereka.
****
Lebih dari 1 bulan pernikahan Zhey dan Rendra, namun Rendra benar-benar tidak menyetuh Zhey lagi setelah pertarungan malam pengantin mereka saat itu. Zhey tidak berani memberi obat perangsang pada Rendra, takut ketahuan kalau kejadian awal itu rekayasanya. Namun Zhey tidak menyerah, dia tetap mempertahankan rumah tangga yang sama sekali tidak di inginkan Rendra ini.
Rendra memulai kembali usaha yang selama ini tinggalkan. Untuk menyibukkan dirinya.
__ADS_1
Sedang Denny, dia kembali ke luar negri, meneruskan pekerjaan dan juga kegilaannya dengan para wanitanya.