
Di belahan bumi yang lain.
Syahila di antar orang suruhan Zhey kesebuah rumah, entah di negara mana dia belum tahu. Namun dia di buat Repot, karena harus berbahasa di wilayah dia tinggal, warga di sana memakai bahasa inggris. Di rumah itu sudah ada pembantu yang melayaninya. Syahila pun kursus bahasa Inggris di tempat dia tinggal.
Satu bulan di sini Syahila bosan, akhirnya dia menggunakan Ijazah atas nama Malin yang ada dalam berkas berkasnya untuk melamar kerja di tempat dia tinggal. Reyhan pun kini dia masukak ke tempat penitipan anak, agar dia cepat ber komunikasi dengan anak-anak disini.
Hari ini Syahila memenuhi panggilan interview kerja di tempat dia melamar waktu itu. Dengan semangat Syahila berjalan menuju Halte bus untuk menuju kantornya. Syahila tersenyum kecil melihat dirihya berpakaian pakaian orang kantoran. Sekarang Syahila menjadi Malin.
Malin berdiri bersama calon penumpang lainnya menunggu bus yang akan membawa mereka. Saat bus singgah, para penumpang tertib masuk ke dalam bus itu. Perjalanan mereka di mulai. Malin turun di halte yang paling dekat dengan kantor yang dia tuju.
Langkah kakinya melangkah cepat menuju kantor itu. Setelah berbicara dengan receptionis kantor itu Syahila segera masuk lift menuju ruang interview kerjanya.
Di depan ruangan itu banyak para pelamar kerja lainnya, Syahila pun bergabung bersama mereka. satu per satu para pelamar itu masuk ke dalam ruangan itu, kini giliran Malin.
"Nama saya Malinka, di panggil Malin, saya janda mempunyai satu anak, suami saya Gezdy meninggal 4 minggu yang lalu. Saya tinggal di blok f no 18.
"Kenapa kamu memilih bekerja di sini?" Tanya Fandi.
__ADS_1
"Pasti hanya keberuntungan saya, saya tak bisa menjamin ke ahlian atau pekerjaan saya bagus, tapi saya tipe pekerja keras, saya akan lakukan pekerjaan saya secara profesional,
karena saya punya tuntutan hidup yang berat," Kata Malin.
Setelah tahap Seleksi, lulus 5 orang wanita cantik termasuk Malin. Mereka pun masuk ke ruangan bos mereka di temani Fandi.
"Selamat siang semua, perkenalkan saya Denny, saya direktur utama di perusahaan ini, ini adalah salah satu perusahaan saya yang berkembang di beberapa negara, saya harap kalian betah bekerja di sini," Seru Denny.
Fandi membagikan file kepada lima sekretaris baru bos nya itu.
"Malin dan Shasya, kalian bertugas di dalam ruangan mr.Denny. Angeline kamu bertugas di meja yang ada di depan ruangan, Nanda dan Ebora, kalian bertugas di ruangan yang ada di samping sana," Seru Fandi.
Mereka sungguh terkejut karena langsung bekerja, namun mereka fokus dengan semua tugas mereka masing-masing.
Setelah jam kerja ber akhir, Malin segera berlari ke halte, karena dia harus pulang, takut telat menjemput Zein di penitipan.
Malin berdiri santai menanti Zein, Zein langsung berlari ke pelukan mommynya. Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan sambil menunggu taksi yang lewat.
__ADS_1
Sore itu Denny melintas di jalanan itu, dia terpana melihat wanita bergandengan tangan dengan anak laki-laki nya, dia sangat kenal, itu sekretarisnya yang baru bekerja hari ini.
Denny menghampiri wanita itu,
"Hai Malin, mau aku antar?" Tanya Denny.
"Terimakasih pak, kami naik taksi saja," Malin melambai pada taksi, dia pun pergi meninggalkan Denny.
Denny tersenyum sendiri, entah kenapa ada perasaan lain dari hatinya, karena ini pertama kali nya dia di tolak wanita. Senang, bangga dan tertantang karena di tolak. Denny selalu tersenyum.
Tidak terasa satu bulan sudah Syahila bekerja menjadi Sekretaris Denny. Namun sekarang Lerry pembantunya yang menjemput Zein di penitipan.
Semua orang sudah pulang, namun Syahila dan Denny masih berkutat dengan tumpukan File.
"Pak Denny, boleh saya bawa pulang pekerjaan ini, entah kenapa kepala saya ...." Malin pun ambrug jatuh ke lantai.
Denny panik melihat sekretarisnya pingsan.
__ADS_1
"Fandi, bantu aku bawa dia ke rumah sakit," Teriak Denny memanggil asisten pribadinya. Denny mengangkat tubuh Syahila yang kini di kenal Malin, sedang Fandi segera mengunci ruangan Denny, dia membawa barang-barang Denny dan Malin.
Hati Denny berdebar kuat, ini pertama kali nya dia merasakan hal ini. Denny pun segera membawa Malin ke rumah sakit.