
Rendra dan Gabby tidak sengaja bertemu Syahila yang tengah makan siang sendiran di sebuah Cafe.
"Anak anak di mana?" Tanya Rendra mengejutkan Syahila.
"Anak-anak main di rumah Denny, tante Jiya yang minta," jawab Syahila.
Saat yang sama Denny juga ada di Cafe itu.
"Lho ... kalian?" Seru Denny.
"Hai Den." sapa Syahila.
"Hai Sya ..., makasih sudah mau minjemin anak-anak kamu buat nenek yang lagi halu-halunya pengen punya cucu," seru Denny.
"Iya ..., maaf ya kalau mereka bikin repot," seru Syahila
Gabby dan Denny pura-pura tidak saling kenal.
"Siapa ini Rendra?" Tanya Denny memandang Gabby. Padahal Gabby adalah salah satu wanita Denny dulu.
"Ini Gabby, tunangan aku," seru Rendra.
Denny dan Gabby pun berkenalan. Gabby sangat lega karena Denny pura-pura tidak mengenal nya.
"Kita gabung satu meja saja ya," pinta Denny. Mereka semua setuju, mereka pun menempati kursi masing-masing.
"Sya, sejak kamu pergi dari negara itu, aku juga pulang, aku selalu mencari kamu Sya selama ini," lirih Denny.
"Setelah kamu mengembalikan data-data kami, aku pulang kemari," jawab Syahila.
Rendra hanya diam mendengarkan pembicaraan Syahila dan Denny, takut Gabby salah sangka nantinya.
"Kalian akarab banget," seru Gabby.
"Denny dulu bos aku, bahkan dia sangat akrab sama anak-anak, sampai sampai pusing aku dengan pertanyaan mereka karena mereka selalu menanyakan Denny," terang Syahila.
"Waw, kenapa kalian tidak menjalin hubungan, pacaran gitu," seru Gabby.
"Aku tidak mau, karena pacar Denny over dosis jumlahnya," sahut Syahila menahan tawa nya.
"Untung kamu bicara itu disini, kalo di hadapan Kamla, kamu harus tanggung jawab jika Kamla minta talaq," seru Denny.
"Tanggung jawab apa?" Tanya Syahila.
"Tanggung jawab isi posisi Kamla," sahut Denny.
Syahila tertawa lepas. Sedang Rendra kesedek air mendengar kata-kata Denny barusan.
__ADS_1
"Minum nya hati-hati sayang ...." lirih Gabby
"Oh ya aku pamit ya," seru Syahila.
"Anak-anak nanti aku yang antar ke alamat yang kamu kirim tadi," seru Denny.
Syahila mengangguk.
"Ya ampuun ... aku ada meeting penting sayang, aku pamit," seru Gabby lansung pergi meninggalkan Rendra.
"Sya aku nebeng ya, tadi aku sama Gabby," lirih Rendra.
Syahila mengangguk. Syahila dan Rendra pun pulang bersama.
Denny menatap kepergian Syahila dan Rendra.
"Sya ... ternyata aku dan Rendra bukan jodoh kamu," lirih Denny.
****
"Aku yang nyetir ya ...." pinta Rendra.
Syahila pun melempar kunci mobil ke Rendra. Rendra segera mengemudikan mobil itu, setelah Syahila juga masuk. Rendra fokos menyetir, sedang Syahila memandangi jalanan yang mereka lalui.
"Sya ..., aku akan tetap transfer uang buat mu dan anak-anak," seru Rendra.
"Aku sedih Sya, Gabby yang selama ini aku kenal bukan Gabby yang aku lihat hari ini." lirih Rendra.
"Terus?"
"Aku akan memutuskan pertunangan ini, selama ini aku coba meyakinkan hatiku kalau aku mencintainya, tapi ternyata tidak," lirih Rendra.
"Jangan mempermainkan hubungan mas, kamu punya satu anak perepuan, bagaimana perasaanmu jika Tuhan memberi karma pada Yumna karena kejahatan orang tuanya," lirih Syahila.
Rendra menepikan mobil dan berhenti di bahu jalan.
"Kenapa kita tidak bersama demi anak-anak kita?"
"Mas, kamu sudah menarik orang lain kedalam hidupmu, aku tidak mau membangun kebahagiaan di atas derita orang lain," jawab Syahila.
"Tapi aku mencintaimu, tidak mencintai Gabby," lirih Rendra.
"Terlambat, jika mas benar mencintaiku, mas tidak akan menjalin hubungan dengan orang lain, mas tahu kan kalau aku masih hidup" seru Syahila.
Rendra tidak bisa berkata lagi, dia pun melanjutkan perjalanan mereka.
___________________
__ADS_1
Denny pulang kerumah dengan wajah sedih nya.
"Papi kenapa?" Tanya Kamla.
"Tadi aku bertemu Rendra dan Syahila, aku kira mereka akan bersama, ternyata Rendra sudah bertunangan dengan wanita lain," lirih Denny.
"Siapa tunangan Rendra," tanya Jiya yang asyik bermain bersama Yumna dan Reyhan.
"Gabby," jawab Denny.
"Apa? Gabby si miss sosialita yang?" Lirih Jiya.
Denny mengangguk.
"Di mana mata Rendra! Syahila 1000% lebih baik dari Gabby," gerutu Jiya.
"Itu dia yang buat aku kesal mah," lirih Denny.
"Kasian Syahila, kamu bantu dia sayang," lirih Jiya.
"Syahila tidak akan mau mah," jawab Denny.
"Bantu diam-diam sayang, ku dengar dari Reyhan mereka akan masuk sekolah di International School, itu kan punya papi, papi jamin saja pendidikan kedua anak manis itu," lirih Kamla memandang ke arah Reyhan dan Yumna yang asyik bermain.
"Ya ampun ... istri ku very smart, ini ide yang paling the best," seru Denny memeluk Kamla.
"Mama setuju, secara pihak luar tidak ada yang tahu kalau sekolahan itu punya kita," seru Jiya.
"Iya mah, nanti aku atur." seru Denny yang masih memeluk erat Kamla.
"Berkat Syahila aku bisa jatuh cinta sama wanita luar biasa ini," seru Denny semakin meng eratkan pelukannya.
"Cucu mama kegencet!!!" Teriak Jiya.
Denny pun langsung melepaskan pelukannya pada Kamla, dia juga langsung lari dari hadapan Jiya.
"Oh ... chayang kamu ngga kenapa napa kan? Papinya kelewatan ya sayang," kata Jiya mengelus-elus perut Kamla.
"Mama ... dia baik-baik aja mah," lirih Kamla.
"Enggak, nanti kita usg setelah ini," kata Jiya dengan wajah cemberut.
" Mamah ...," lirih Kamla.
Sedang Denny malah cekikikan menertawakan tingkah mamanya yang sangat sangat over itu.
Sore harinya Denny mengantar Reyhan dan Yumna ke ruko Syahila.
__ADS_1