
Rendra sedang berjalan bersama beberapa pengurus mesjid menuju mesjid, karena acara tabligh akbar akan segera di mulai. Matanya terfokus pada wanita hamil yang sedang memasukan barang-barangnya ke bagasi belakang mobil travel. Dia sangat mengenali wanita hamil yang memakai baju tunik panjang.
"Syahila ..." gumam hati Rendra.
Saat yang sama Syahila merasa jantungnya berdetak kuat, ia memegang dadanya. Ada perasaan aneh yang ia rasakan. Matanya menyapu melihat keadaan sekitar, namun tidak melihat apapun, karena saat itu Rendra terhalang oleh jamaah yang bersalaman dengannya.
Rendra tidak fokus dengan orang orang yang berbicara padanya, dia fokos pada wanita hamil di seberang jalan sana.
Syahila langsung masuk ke dalam mobil, ia bersandar dan memejamkan matanya. Mobil pun terlihat akan meninggalkan tempat itu. Rendra ingin mengejar mobil itu. Namun dia di kelilingi oleh para pengurus mesjid yang mengucapkan terimakasih padanya.
"Effan!!!" Teriak Rendra.
Effan pun menoleh ke arah Rendra, Rendra memberi isyarat menunjuk arah mobil travel yang mulai melaju. Saat Effan melihat yang di maksud Rendra, dia melihat Syahila yang bersandar pada sandaran kursi mobil yang ia tumpangi. Effan pun berlari mengejar mobil itu, namun mobil itu sudah melaju meninggalkan area itu.
Effan mencatat nama travel dan plat mobil yang di tumpangi Syahila. Effan sungguh kecewa, terlambat mencegah Syahila. Ia pun berjalan ke arah Rendra.
"Itu Syahila ku kan?" Tanya Rendra penuh harap.
Effan mengangguk. "Maaf bos, aku terlambat mencegatnya, hampir saja usaha kita membuahkan hasil, tapi tenang bos, aku sudah catat nomor polisi mobil itu dan nama travelnya, sekarang aku mohon izin untuk mencari tahu kemana tujuan mobil yang ditumpangi nona." kata Effan.
"Istri ku Fan ... hampir saja kami bertemu." Lirih Rendra.
Effan menepuk bahu Rendra untuk menyemangatinya. "Kita pasti akan menemukan nona, semangat pak bos!" Effan pun pergi mencari kantor travel itu, sedang Rendra bergabung dengan para jamaah Tabligh Akbar.
__ADS_1
***
Effan sampai di kantor travel yang membawa Syahila. Dia langsung menemui pekerja Travel tersebut.
"Saya ingin tahu tujuan travel kalian yang ber nomor polisi ** **** **." Seru Effan.
"Oh itu travel kami tujuan kabupaten Hijau Mas!" Jawab petugas travel.
"Terimakasih, tadi saya melihat salah satu keluarga saya ada dalam travel itu, dia seorang wanita hamil," seru Effan.
"Oh ... wanita hamil itu memang salah satu penumpang kami, dia membeli tiket ke kabupaten itu." Seru petugas travel.
"Kami akan menelpon supirnya, agar anda tahu dimana wanita itu turun."
Petugas travel itu menelpon supir yang mengemudikan mobil yang di tanyakan Effan. Saat yang sama, Effan langsung berdiri karena ada yg bergetar di bawah pantatnya. Effan segera berdiri dan meraih ponsel yang berdering.
"Apakah ini ponsel supir itu?" Tanya Effan memperlihatkan ponsel yang baru dia pungut.
"Astaga, ponsel sopirnya ketinggalan disini, maaf pak kami tidak bisa bantu lebih banyak lagi," Seru petugas travel.
"Ini pun lebih dari cukup, setidaknya saya tahu dimana keluarga saya itu, terimakasih banyak atas bantuannya, saya izin pamit." Seru Effan.
Effan kembali menuju mesjid tempat tabligh akbar berlangsung, ia menunggu Rendra dalam mobilnya. Tak lama Rendra pun keluar dari mesjid, karena acara hampir selesai, dia langsung masuk ke dalam mobil Effan.
__ADS_1
"Bagaimana Fan ?," Tanya Rendra begitu tak sabaran.
"Travel yang di tumpangi Syahila ke daerah kabupaten Hijau Mas, kita akan fokos mencari nona Syahila di wilayah itu." Seru Effan. Effan langsung menyuruh orang-orangnya mencari Syahila di wilayah itu.
Namun kini dua bulan sudah sejak pertemuan itu Syahila masih tidak di temukan. Sedang di desa, Warung mak ijum semakin ramai, karena Syahila membelikan televisi, para warga pun semakin betah bersantai di warung mak Ijum.
Warung Ijum sudah tutup, Syahila dan Fatma bersantai nonton acara televisi. Mereka menonton Ftv, namun tiba tiba Fatma mengganti Chanel tvnya.
"Kenapa dipindah Fatma? itu seru Ftv nya." Seru Syahila.
"Males, pemain nya si Lizty pelakor." Seru Fatma.
"Wah ini seru pasti." Seru Fatma berhenti memindah mindah chanel saat melihat acara peresmian kantor PT. MAHARDIKA KARYA.
Fatma fokos menonton acara itu. Bayi Syahila bergerak ketika Rendra wawancara bersama reporter acara itu.
Syahila tersenyum merasakan pergerakan aktif bayinya.
"Kamu rindu daddy ya sayang, mommy juga." Rintih hati Syahila. Ia mengelus pelan perut besarnya.
Air matanya menetes, segera ia sapu dengan jarinya. Ia terus memandang Rendra di televisi.
"Mas ... kamu kurusan sekarang," lirih hati nya. Dia sangat sakit melihat keadaan Rendra yang nampak memprihatinkan. Namun ia masih tidak bisa memaafkan Rendra, hatinya sangat terluka saat melihat kejadian waktu itu. Saat wajah Rendra tenggelam di gunung himalaya wanita pada malam saat dia kabur.
__ADS_1
............