
Semua orang masuk kamar mereka masing masing, Malin harus rela tidur sendiri, karena Jiya membawa Zein dan Yumna tidur di kamarnya. Malin baru keluar dari kamar Jiya setelah mengantarkan baju ganti buay Zein dan Yumna.
"Kalau kau tidak ingin sendiri, tidur denganku saja," kata Denny.
"Oh ..., kau menggoda kakaku karena kau menyerahkan dirimu," Zhey baru keluar dari kamar ibunya.
Plakkk!!
Tamparan keras dari Denny mendarat di pipi Zhey. Zhey memegang pipinya yang perih, menatap tajam ke Syahila.
"Kenapa kamu dan suami mu kompak mengganggu calon istriku? Apa salah Malin pada kalian?!" Teriak Denny.
Rendra keluar dari kamarnya karena mendengar suara samar dari luar kamarnya. Dia melihat Zhey memegangi pipinya yang merah.
Sedang Denny dan Malin langsung meninggalkan Zhey, dan masuk ke kamar mereka masing masing.
"Kenapa pipimu?" Tanya Rendra menatap Zhey.
Zhey tidak menjawab, dia langsung masuk kamar, hatinya sakit, pertama kalinya Denny menyakitinya.
***
Pagi hari di negara itu.
Denny keluar dari kamarnya, senyumnya melebar saat melihat pintu kamar Malin terbuka lebar, Denny masuk kedalam kamar Malin, terlihat Malin sedang termenung menatap ke arah luar jendela. Denny mendekat dan langsung memeluk Malin dari belakang.
"Pak Denny," Malin kaget.
"Apa? Pak ? Aku bukan bos mu lagi, aku kekasihmu, ups salah ... aku calon ayah anak-anakmu nanti," bisik Denny.
"Maaf, sepertinya hubungan ini tidak bisa berlanjut, aku takut,"
"Hubungan ini terus berlanjut sekalipun seluruh isi bumi menentangnya," seru Denny meng eratkan pelukannya.
"Aku punya rahasia besar, aku tidak bisa mengatakan padamu, setiap hubungan itu saling percaya bukan? Aku percaya padamu, tapi, aku tidak bisa mengatakan rahasia besar dalam hidupku, karena jika aku katakan, nyawa anak-anak ku dalam bahaya, bahkan mengancam jiwa mereka. Andai yang terancam nyawaku, dengan senang hati aku membuka rahasia ini, tapi yang terancam nyawa anakku," Kata Malin.
__ADS_1
"Sebesar itu?"
Malin mengangguk.
"Jika bahayanya sebesar itu, simpan saja rahasia itu," seru Denny.
"Tapi ...,"
"Simpan saja, aku perlu dirimu, bukan rahasia mu," Denny membalikan tubuh Malin menghadapnya, Denny pun mengecup bibir indah wanita di hadapannya itu.
Jiya langsung masuk kamar Malin, berniat memanggil Malin karena Yumna merengek meminta ibunya. Namun Jiya di suguhi pemandangan hangat di depan matanya. Saat yang sama Rendra lewat di depan kamar Malin dan melihat adegan hangat itu. Tentu hatinya sangat sakit.
"Maaf, mama bukan mau ganggu, tapi Yumna mencarimu Malin," Seru Jiya mengejutkan Malin dan Denny. Mereka pun refleks melepas pangutan mereka.
Denny dan Malin salah tingkah di depan Jiya.
Malin pun melangkah menuju kamar Jiya.
***
Setelah selesai sarapan, Yumna merengek ingin berenang. Malin berusaha menenangkan Yumna, namun gagal, semuanya kembali ke kamar mereka, sedang Denny, Zein dan Yumna berenang di kolam renang yang ada di hotel itu, Malin hanya duduk di tepi kolam renang dewasa, menonton ke asyikan anak-anaknya bersama Denny bermain di kolam renang dangkal.
Rendra berada di balkon kamarnya, balkon kamar hotel yang Rendra tempati persis mengadap kolam renang. Dia memandangi Malin dari atas sana. Rendra meraih ponselnya dan merekam kejadian di bawah itu.
"Sayang ..., kami membilas tubuh dulu," teriak Denny membawa Zein dan Yumna masuk ke kamar mandi.
Malin duduk sendirian di tepi kolam renang menunggu Denny dan anak-anaknya. Namun seseorang mendorong Malin, hingga Malin tercebur kedalam kolam Renang Dewasa, sedang Malin tidak bisa berenang.
Rendra kaget melihat Malin tenggelam di kolam renang, Rendra meletakan ponselnya dan lansung berlari keluar dari kamar nya menuju kolam renang.
Denny dan anak-anak baru selesai ganti baju, dia melihat lihat Malin di area kolam renang, namun tidak menemukan Malin. Denny pun langsung masuk ke dalam hotel, karena mengira Malin sudah kembali kekamarnya.
Sesampai di kolam renang Rendra langsung menceburkan dirinya, menolong Malin yang sudah tenggelam di dasar kolam renang. Rendra mengangkat tubuh Malin ke permukaan, lalu membaringkan di sisi kolam renang.
Rendra melakukan bermacam cara untuk menolong Malin, namun Malin tidak sadar, Rendra panik, dia tutup hidung Malin, lalu memberikan nafas buatan pada Malin. Ada perasaan aneh saat dia memberikan nafas pada Malin. Malin belum sadar, ini kali ketiga Rendra memberi Malin nafas buatan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan pada calon kaka iparmu Rendra!!!" Bentak Darnanto yang datang bersama Jiya.
"Maaf pah, Malin tenggelam," Rendra mengulangi memberi nafas buatan nya yang keempat.
"Uhuk uhuk uhuk !!!" Malin sadar dan terbatuk batuk.
"Cepat bawa dia ke kamar, aku akan menelpon dokter," seru Darnanto.
Rendra mengangkat tubuh Malin, di ikuti Jiya, mereka segera masuk ke hotel. Sedang Darnanto menunggu dokter yang dia telepon barusan. Rendra terbayang saat menggendong Syahila, air matanya menetes, namun tidak bisa dia hapus karena tangannya menahan tubuh Malin dalam gendongan nya.
Malin setengah sadar, hatinya sungguh tidak karuan berada dalam dekapan Rendra, bayangan saat jadi Syahila seakan kembali, Malin berusaha tersenyum, namun masih berat, dia kembali tak sadarkan diri.
Denny panik karena tidak menemukan Malin di manapun.
"Ada apa kak?" Tanya Zhey.
"Kamu lihat Malin?"
Zhey menggeleng, dia meninggalkan Denny lalu masuk ke kamarnya.
Denny menunggu lift terbuka, saat pintu lift terbuka betapa terkejutnya Denny melihat Malin tak sadarkan diri dalam gendongan Rendra.
"Mommy ...." ringis Zein dan Yumna.
"Malin tenggelam, cepat bawa ke kamar, papa mu sedang menunggu dokter di bawah," seru jiya.
"Bawa ke kamarku," pinta Denny.
Denny berusaha menangkan anak anak Malin, setelah Denny membuka pintu kamar nya, segera Rendra masuk dan merebahkan Malin di tempat tidur Denny. Rendra mengibas ngibaskan tangannya karena pegal menggendong Malin dari bawah sampai ke atas sini.
"Terimakasih ...." kata Denny.
Rendra mengangguk, dan langsung pergi ke kamarnya, untuk mengambil ponselnya. dalam kamar dia berteku Zhey. Renda cuek, setelah mengambil ponsel nya, Rendra kembali lagi ke kamar
Zhey heran, kenapa Rendra menatap tajam dirinya, dia pun mengikuti Rendra, dia heran kenapa Rendra malah masuk ke kamar kakanya.
__ADS_1