
Zhey sangat kesal, habis sudah kesabarannya menanti Rendra, namun Rendra tidak kunjung bisa move on dari Syahila. Zhey menyusun rencana. Dia ingin menjebak Rendra. Zhey berangkat menuju rumah Rendra, dia singgah di sebuah restoran membeli makanan, untuk makan malam mereka di rumah Rendra nanti. Zhey memasukan sesuatu ke makanan yang dia siapkan buat Rendra. Zhey melanjutkan perjalanannya menuju rumah Rendra.
Setelah turun dari mobil, Zhey membawa makanan yang dia beli sebelumnya, dia berdiri santai menunggu yang punya rumah membukakan pintu, setelah menekan bel. Rendra yang membukakan pintu, betapa terkejutnya Zhey melihat perubahan Rendra.
"Apa aku sekarang sedang bermimpi?" Zhey kagum dengan perubahan Rendra. Renda kembali tampan seperti dulu, bukan Rendra yang kucel dan lusuh karena tenggelam dalam dukanya.
Rendra tersenyum dan menggeleng.
"Apa Syahila dan Reyhan hidup kembali? senyummu itu, aku sudah sangat lama tidak melihatnya,"
"Syahila selalu hidup dalam hatiku," Jawab Rendra.
Betapa terluka hati Zhey mendengar jawaban Rendra.
"Aku senang kamu bangkit dari dukamu, aku bawa makan malam, mau makan malam bersamaku?" Zhey mengukir senyum di wajahnya menutupi kepedihan hatinya.
"Ayo, masuk lah ...."
Zhey dan Rendra menyantap makanan yang di bawa Zhey di meja makan.
"Mana para pembantumu? Mereka tidak terlihat," seru Zhey.
"Mereka pulang kampung, mungkin besok pagi mereka kembali," jawab Rendra.
"Aku senang kamu bisa bangkit, aku tidak akan kemari lagi, karena kamu sudah sangat baik dan aku yakin kamu tidak butuh teman sepertiku lagi," Zhey mecoba memainkan emosi Rendra.
"Zhey, datanglah jika kamu ingin, aku senang berteman denganmu," seru Rendra.
Selesai makan malam Zhey dan Rendra bersantai di ruang tamu, Zhey selalu menatap jam tangannya, menghitung waktu, untuk mengetahui perkembangan obat racikannya yang dia masukan dalam makanan Rendra.
Zhey mulai tersenyum melihat Rendra yang mulai aneh, itu tanda obatnya bekerja.
"Rendra, aku pamit pulang ya, sudah malam,"
"Syahila sayang ... jangan pergi mas sangat rindu kamu, mas sangat yakin kamu masih hidup buktinya sekarang kamu berada di hadapan mas," Ucap Rendra yang di bawah pengaruh obat yang Zhey masukan dalam makanannya.
Rendra menarik Zhey, kepelukannya, lalu Rendra mendorong Zhey yang dia kira Syahila mentok di sofa dan meng*cup habis bibir Zhey. Pertarungan lidah yang imbang, karena Zhey sangat menikmatinya. Zhey menikmati persilatan lidah mereka yang saling menjelajahi apa yang mampu di jelajahi, namun saat matanya tidak sengaja melihat CCTV Zhey langsung melawan. Dia menarik dirinya.
"Rendra!!! Hentikan! Aku Zhey temanmu, bukan Syahila!!!" Teriak Zhey.
Namun Rendra yang di bawah pengaruh obat tetap menyudutkannya. Zhey senang melihat CCTV itu, Zhey melanjutkan sandiwaranya.
"Rendra .... lepaskan aku!!!" Teriak Zhey. Padahal dia menikmati apa yang dilakukan Rendra padanya. "Sial!!! Andai tidak ada cctv itu, aku bisa menikmati semua ini, emm tapi banyak untungnya sih," gerutu hati Zhey
Rendra melepaskan paksa pakaian Zhey. Zhey hanya pura-pura melawan, padahal dia sangat menikmati perlakuan Rendra.
__ADS_1
"Rendra!!!! Jangan!!!" Teriak Zhey.
"Teruskan sayang," dalam hati Zhey.
Rendra terus meracau menyebut nama Syahila.
Rendra menarik diri untuk melepas baju dan celananya, kesempatan itu dimanfaatkan Zhey untuk kabur menuju tempat yang tidak tersorot kamera cctv.
Saat Zhey sampai di sudut itu, Rendra mengejarnya dan menyudutkannya kembali.
Zhey menghitung sudut kamare cctv itu, dia yakin sudut itu tidak tersorot.
"Zhey membuka kedua kakinya mempersilahkan Rendra memasuki miliknya. Tentu saja Rendra semangat, karena bayangannya adalah Syahila.
Zhey menikmati pelayanan Rendra. Namun dia terus berteriak "Rendra...!!!, jangan.....!," Teriak Zhey berulang tanpa henti.
Sedang dirinya menikmati yang Rendra perbuat padanya. Zhey tidak tahan dengan pelayanan Rendra.
"Rendraaaaa" Teriak Zhey bahagia.
Rendra diam, Zhey segera merubah posisi dan kini dia berada di atas. Dia aktif melakukanya sendiri, namun di terus berteriak, "Rendra ... jangan!!!!"
Sedang Rendra yang mengira Zhey itu Syahila menikmati hal itu, Zhey menggila bergerak aktif di atas sana, dia berteriak terus, pekikan teriakan solah dia tersakiti.
"Rendraaaaa" isak Zhey begitu memilukan, air mata kebahagiaannya menetes. Zhey sengaja, berharap nantinya Rendra mengecek rekaman jam saat ini nanti.
Zhey sangat bahagia karena Rendra menggaulinya, seolah memperkosanya, setidaknya dengan cara ini Rendra akan menikahinya. Zhey terus pura-pura melawan Rendra.
"Rendra ... kamu jahat," isakan tangis palsu Zhey.
Zhey menikmati gempuran Rendra. Rendra semakin mempercepat aksinya karena. Membuat teriakan Zhey semakin histeris karena merasakan puncak Kenikm*tan. Akhirnya Rendra terkulai di samping Zhey. Zhey terus pura-pura menangis sambil melihat jamnya, dia memperkirakan waktu Rendra sadar.
***
Beberapa jam kemudian ...
Rendra tersadar dari pengaruh obat Zhey. Dia sangat terkejut melihat dirinya polos, matanya menyisiri seisi ruang tamu, Rendra tidak bisa berkata lagi, melihat baju Zhey robek dan berserakan di lantai. Matanya membulat melihat Zhey tidak sadarkan diri di dekatnya yang sama polos dengan dirinya.
"Zhey ... bangun ... tolong jelaskan apa yang terjadi di antar kita," Rendra mengguncang tubuh Zhey. Namun Zhey masih pura-pura tidak sadar.
Rendra mengangkat tubuh Zhey menuju kamar tamu, lalu membaringkan Zhey yang pura-pura pingsan itu di tempat tidur, setelah menyelimuti Zhey, Rendra meraih handuk yang ada di kamar itu dan melilitkannya di pinggang. Dia langsung menuju meja kerjanya, mencari tahu kejadian yang sama sekali tidak dia sadari.
Zhey tersenyum bahagia setelah Rendra pergi, dia langsung memposisikan tubuhnya dengan nyaman untuk tidur.
***
__ADS_1
Sesampai ruaang kerja Rendra langsung memutar ulang rekaman cctv di rumahnya.
Mata Rendra seakan melompat melihat rekaman CCTV di ruang tamu rumahnya, karena dia melihat dirinya memperkosa Zhey. Rendra menghidupkan audio rekaman itu. Teriakan Zhey amat memilukan, sedang dirinya terus menyebut Syahila.
"Apa yang aku lakukan?" Rendra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyesali perbuatannya, kenapa dia malah melecehkan wanita yang selama ini membantunya.
Rendra pergi kekamarnya untuk mandi dan menyegarkan dirinya, setelah berpakaian lengkap dia kembali ke bawah, dia memungut semua pakaian yang berserakan di ruang tamu. Mata Rendra membulat melihat noda merah di lantai porselen rumahnya yang bewarna putih. Rendra segera membersihkan itu.
Selesai memungut baju Zhey yang sobek, lalu dia masuk ke kamar Zhey dan tidur di sofa di kamar yang di tempati Zhey.
***
Pagi-pagi buta Rendra terbangun karena mendengar isakan tangis dari arah tempat tidur. Dipandanginya, ternyata Zhey yang menangis, Rendra mendekati Zhey.
"Terimakasih atas penghinaanmu ini Rendra!!!" Isak Zhey.
"Zhey ... maafkan aku, kerinduanku pada istriku membuatku sangat tertekan, Maaf Zhey."
"Maaf mu tidak akan mengembalikan harga diriku," ringis Zhey.
Hati Rendra sangat sakit melihat Zhey yang begitu terpukul, wanita mana yang tidak terluka karena mahkotanya di renggut secara paksa. Rendra berbaring di samping Zhey.
"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu,"
Zhey seakan ingin melompat mendengar kata-kata itu karena itu tujuannya. Zhey hanya diam.
"Aku akan menikahimu, tapi aku belum bisa mencintaimu, aku menikahimu untuk menebus kesalahanku dan menyelamatkan harga dirimu yang aku runtuh," ucap Rendra.
"Maafkan aku Zhey ...." Rendra memeluk Zhey yang terus saja menangis.
Zhey mulai berhenti menangis, Rendra melepaskan pelukannya. "Hei, sudah pagi, mandi dulu, aku akan mengambilkan baju Syahila yang masih ada di atas." Rendra bangkit lalu melangkah menuju pintu.
Zhey bangun dan dia sengaja menjatuhkan diri ke lantai.
"Awhh ... sakiiit ...." pekik Zhey.
Rendra berlari ke arah Zhey.
"Maafkan aku Zhey, pasti sangat sakit, karena aku melakukan secara paksa dan kasar padamu." Hati Rendra semakin hancur melihat Zhey yang menangis lagi, namun hancur lagi karena dia teringat momen pertamanya dengan Syahila. Saat melihat Syahila menahan perih karena momen pertama mereka.
Rendra mengangkat Zhey menuju kamar mandi, perlahan dia dudukan Zhey dalam bathub.
"Jika selesai panggil aku, aku ke atas dulu mengambilkan baju ganti buat mu," Kata Rendra. Zhey membuang wajahnya. Rendra meninggalkan kamar mandi itu, dia menuju kamarnya untuk mengambil baju Syahila buat Zhey.
Setelah Rendra pergi senyum Zhey sangat lebar, dia sangat bahagia, karena rencana liciknya berjalan sangat bagus, bahkan dia tidak menyangka akan sebagus ini hasilnya.
__ADS_1