Terjebak Bersama Sumpah Cinta

Terjebak Bersama Sumpah Cinta
Bab 50. Papa...


__ADS_3

Malin yang pingsan kini tengah di periksa Dokter.


"Sakit apa Dok?" Tanya Denny.


"Dia tidak sakit, seperti nya dia hamil, setelah dia sadar kita kan pastikan sama-sama." Seru dokter.


Setelah Malin sadar, dokter langsung melakukan usg pada Malin, untuk memastikan kehamilan Malin. Denny berdiri di samping tempat Malin berbaring. Mata Denny fokus melihat layar monitor yang sama sekali tidak dia mengerti.


"Selamat pak, bu ..., janin kalian hampir dua bulan," Kata Dokter yang masih menjalankan alat USG nya di perut Malin.


"Maaf Dok tapi dia ...."


"Terimakasih Dok, bagaimana keadaan yang di dalam sana?" Denny memotong kata-kata Malin


"Sangat sehat dan baik, dijaga ya pak kandungan istrinya." Seru Dokter.


"Oh itu pasti dok," Seru Denny.


Setelah selesai pemeriksaan, Denny mengantar Malin pulang. Malin Bingung dan sedih, andai saja saat ini Rendra bersamanya, tentu ini adalah hal yang indah. Namun sekarang dia harus menikmati ini sendirian. Tak terasa air mata nya menetes karena merindukan Rendra.


"Kenapa kamu menangis?" Tanya Denny.


"Tidak ..., aku hanya merindukan suamiku, andai dia bersama kami, pasti ini adalah hal yang sangat--"


"Jalani hidupmu dengan semangat, dia sudah tenang di alam sana, melihat kamu dan anak-anakmu bahagia, dia juga bahagia," Ucap Denny memotong kata-kata Malin.


Malin teringat saat dia menjadi Syahila, Rendra selalu menjaganya saat hamil Reyhan, senyum pun mengembang di wajah nya.


"Senyummu manis," Seru Denny.


"Aku teringat bagaimana suami ku menjagaku saat hamil Rey, maaf maksudku Zein." Jawab Malin.


"Kau beruntung pernah bahagia, sedang aku, aahh sudahlah, di mana rumah mu?" Tanya Denny. Malin menyebutkan alamatnya. Mobil Denny pun melaju ke alamat yang di tuju.

__ADS_1


"Maaf pak, saya merepotkan Anda, terimakasih banya pak," Ucap Malin saat ingin turun dari mobil Denny


Denny hanya tersenyum.


Malin turun dari mobil Denny, Zein yang sedari tadi menunggu mommynya di teras rumah, langsung berlari kecil ke arah Malin.


"Mommy!" Teriak Zein.


Malin pun langsung menyambut Zein dengan tangan terbuka, dan memeluk anaknya.


Denny terpana melihat Malin sosok ibu yang penuh cinta. Lamunannya buyar saat Malin mengetuk kaca mobilnya.


"Iya Malin?"


"Pak perkenalkan ini anak saya Zein." Seru Malin.


"Hai Zein ...." Sapa Denny.


"Bukan papa sayang, om Den," Seru Malin.


Denny merasakan hatinya bergetar hebat saat dia di panggil Zein papa.


"Maaf pak, Zein jarang bertemu sosok laki-laki dewasa, makanya bila ketemu dia memanggil orang itu papa," Terang Malin.


"Tidak apa-apa, aku senang mendengarnya, selamat malam Malin," Kata Denny,


"Malam pak," Jawab Malin. Denny pun meninggalkan area tempat tinggal Malin.


***


Setelah mengetahui kehamilan Malin, Denny meminta Fandi memberikan Malin pengecualian, karena Malin tengah hamil. Denny tidak tega memecat Malin, hanya karena hamil, dia kasihan pada Malin yang berstatus janda, Malin harus membiayai hidupnya dan kedua anaknya nanti.


****

__ADS_1


Sekarang, jadwal Denny kembali ke tanah air. Denny pulang kerumahnya. Dia di sambut Darnanto dan Jiya.


"Pah, kenapa perusahaan Rendra sangat menurun?" Tanya Denny, karena melihat laporan pemutusan kerja sama dari perusahaan Rendra.


"Rendra seperti mayat hidup, dia melepas pekerjaannya, di persahaannya hanya di jalankan orang orang kepercayaan nya, sedang Rendra mengurung diri di rumah." Jawab Darnanto.


"Pemabuk cinta," Seru Denny.


"Kamu benar, Rendra sangat mencintai istrinya, saat istri dan anaknya mati, jiwa Rendra juga ikut mati," Kata Darnanato.


Denny sangat terkejut kalau sahabatnya mengalami duka sebesar itu.


"Aku belum pernah bertemu istri Rendra, pasti dia sosok yang luar biasa," Seru Denny.


"Kau benar, Syahila sosok yang luar biasa, anak mereka saja sangat manis dan menggemaskan, tapi aku heran kenapa semua foto Syahila tidak ada lagi di semua media online," Kata Darnanto.


"Pasti Rendra pah yang menghapus semua itu, karena pasti sakit melihat kebahagiaan mereka dulu," Kata Denny.


"Sayang ..., kapan kamu dan Lizty memberi mama dan papa cucu," Jiya datang membawa minuman.


"Ma ..., untuk saat ini belum bisa, karena aku masih sibuk dengan perusahaan kita di luar negri. Lizty juga sibuk syuting, aku pulang saja dia tidak ada di rumah, mana bisa punya anak kami," Denny membela dirinya.


Seminggu di tanah air Denny tidak juga melihat batang hidung istrinya itu, Denny tidak ambil pusing, dia menghabiskan malam malamnya dengan wanita yang dia inginkan.


Namun entah kenapa wajah Malin selalu melintas di pikirannya, karena pengaruh alkohol yang dia minum Denny melihat wanita penghiburnya itu Malin, dia menghabiskan malam dengan wanita penghibur yang dia kira Malin.


Saat pagi menjelang, Denny baru sadar, itu bukan Malin, itu wanita penghibur yang dia bayar untuk menemani malamnya. Denny sangat tersiksa dengan perasaannya, Dia pun kembali ke negara di mana Malin tinggal.


***


Zhey menjadi teman Rendra, Zhey selalu menampakan kesedihannya di hadapan Rendra, karena tidak mampu menolong Syahila dan Reyhan. Rendra kasihan pada Zhey yang selalu menyalahkan dirinya sendiri karena kematian Syahila dan Reyhan.


Rendra menerima Zhey, jika Zhey datang berkunjung padanya. Zhey setia menjadi teman bicara Rendra.

__ADS_1


__ADS_2