
"Baiklah jika itu mau mu," seru Rendra. Rendra pun bermesraan dalam mobil, Lizty menganga melihat itu, niatnya dia yang membuat Syahila cemburu, tapi dia yang terbakar sendirian melihat aktivitas orang di depannya.
"Teruskan saja, jangan pikirkan aku, aku duluan, aku takut telat kak Rend, jadi aku naik taksi saja, bye Sya, bye kak Rend," Kata Lizty sambil turun dari mobil. Namun Rendra dan Syahila tidak menghiraukannya. Membuat Lizty semakin geram.
"Waw ... aku suka strategi perang dinginmu sayang, aku sangat bahagia jika Lizty dan tante Ambar di sini selamanya," Seru Rendra.
"Sudah aku bilang, aku akan pertahankan cinta aku, walau aku harus bertidak bodoh seperti barusan," Rengek Syahila.
"Tidak mengapa sayang, tapi aku suka, love you mommy," ucap Rendra.
"Love you tu daddy ... sudah sana pergi kerja! Bye sayang ...." Seru Syahila, dia langsung turun dari mobil, Rendra pun segera melajukan mobilnya, meninggalkan rumah dan melaju menuju kantor.
Di kantor Rendra.
Lizty menunggu Rendra di ruang kerja Rendra mengenakan baju seksi yang sengaja dia bawa dari rumah, dan mengganti saat sampai di kantor Rendra.
"Ini beneran kamu Lizty?" Rendra kaget melihat penampilan Lizty.
"Iya kak, aku makin cantikkan?" Seru Lizty begitu percaya diri.
"Baju kamu ini, kamu koleksi, saat kamu umur berapa tahun? 4, 5, atau 7 tahun?" Tanya Rendra.
"Kak Rend gimana sih, ini keluaran terbaru dari butik ternama," Jawab Lizty.
"Ooh ... baju baru? Aku kira ini baju kamu waktu masih SD, maaf Lizty ... ukuran baju inj terlalu kecil buatmu." Seru Rendra.
Lizty kesal sendiri, bukannya membuat Rendra tergoda, malah Rendra meledeknya secara halus. "Aku pamit kak, soalnya aku mau pemotretan hari ini, untuk sebuah iklan, bye kak Rend." Kata Lizty sambil menahan kekesalannya pada Rendra.
Lebih baik dia pergi dari ruang kerja Rendra, sudah cukup besar kekalahannya. Selesai pemotratan, Lizty berjalan keluar kantor masih menahan luapan kekesalan karena tidak bisa menggoda Rendra.
"Bruukkk!!!" Lizty menabrak seseorang, dan dia terjatuh.
"Hei Lizty?!" Seru laki-laki itu.
"Kalau jalan lihat-lihat dong! Punya mata nggak sih!" Teriak Lizty. Lizty menegakkan wajahnya setelah bangkit di tolong laki-laki itu, matanya seakan melompat melihat laki laki yang menabrak dirinya, ternyata seorang anak pengusaha nomer satu di kota ini, jauh lebih populer dari Rendra, jauh lebih kaya pula.
"Kak Denny?"
"Hai Lizty ... senang sekali aku bisa bertemu artis idola aku di sini, lama banget ya kita tidak bertemu langsung, kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Denny.
"Aku jadi bintang iklan produk perusahaan Rendra kak." Jawab Lizty.
"Wah ... itu bagus, kita bisa bertemu setiap waktu di sini," Mata buaya Denny kambuh saat melihat wanita cantik dan seksi. Apalagi Lizty memakai pakaian minim, membuat jiwa nakal Denny mendidih.
"Aku mau pulang kak Denny, sampai jumpa lagi." Seru Lizty.
"Liz ... aku antar ya, sebagai permintaan maaf dari aku, karena buat kamu jatuh tadi." Seru Denny.
"Tidak usah kak," Jawab Lizty.
"Kalau begitu berikan nomer ponselmu, biar kita bisa saling beri kabar."
__ADS_1
"Mana ponsel kaka," Lizty menadahkan tangannya menanti Denny memberikan ponselnya.
Denny menyerahkan ponselnya ke tangan Lizty, Lizty pun menyimpan nomer ponsel di Hp Denny.
"Makasih Lizty." Seru Denny, Denny melakukan panggilan ke nomer Lizty.
"Nah itu nomer kaka, save ya," Pinta Denny.
"Iya kak, bye kak Denny," Lizty pergi meninggalkan Denny. Lizty masuk ke sebuah taksi, sedang Denny masih memandang ke arah Lizty yang sudah menghilang.
"Aduh aje gileee itu body ... heem ... sasaran berikutnya kamu Lizty," Gumam Denny.
*****
Sesampai rumah Rendra, Lizty langsung masuk kamar dan mengunci pintunya.
"Mah, aku tidak mau malu lebih jauh lagi, aku mundur mah, karena aku punya incaran baru, Denny Darnanto, anak pengusaha nomer satu, di kota ini," Seru Lizty.
"Mama ikut kamu saja sayang, tapi, sebelum kita pergi kita harus memberi pelajaran buat istri Rendra sialan itu," Seru Ambar.
"Caranya bagaimana mah?" Tanya Lizty.
"Ayoo ...." Seru Ambar.
***
Rendra merasakan firasat tidak enak, dia langsung mengotak atik laptopnya, untuk meng akses CCTV yang ada di rumahnya. Terlihat Syahila duduk santai di sofa tamu. Senyum Rendra merekah melihat sosok yang tertangkap kamera CCTV itu.
Senyum Rendra hilang, Saat melihat Ambar dan Lizty terlihat memarahi Syahila. Rendra pun langsung pulang, dia takut Syahila kenapa-napa.
****
"Kamu ini dasar wanita tidak tahu malu Syahila, bercinta di depan mataku," Bentak Lizty.
"Lizty ... ini rumah kami, kami suami istri, di manapun kami bercinta itu hak kami," Jawab Syahila.
"Apa kamar kalian tidak nyaman sehingga harus bercinta di setiap sudut rumah ini? Di sini banyak orang," Bentak Ambar.
"Tante ... ini rumah kami, terserah kami mau apa, pembantu kami saja tidak marah melihat kami bercinta," Jawab Syahila.
"Ooh ... kamu mau usir kami Haa!!!" Teriak Lizty.
"Okey ... kamu mengusir kami, ya sudah kami pergi," Seru Ambar.
"Tante ... Lizty ... kalian apa-apaan sih, aku tidak mengusir kalian," Seru Syahila.
"Itu salah Lizty, kenapa tengah malam naik ke atas, di sana ranah pribadi kami," Seru Syahila.
"Dasar wanita murahan, di mana harga diri kamu!!!" Teriak Ambar.
"Yang murahan itu anak tante, yang tidak punya harga diri itu tante, kalian tidak tahu malu, tante juga anak mau jadi pelakor bukan di nasehatin malah di dukung, siapa yang murahan?" Seru Syahila.
__ADS_1
"Kamu!" Ambar ingin menampar Syahila, namun Syahila yang duluan menamparnya.
"Oh ... sekarang kamu berani sama tante," Kata Ambar memegang pipinya karena perih kena tamparan Syahila.
"Saya bukan berani, saya cuma mempertahankan harga diri saya, dan membela diri saya, karena saya bukan wanita tidak bermoral seperti kalian," Bentak Syahila.
"Kamu, benar-benar!" Lizty mendekat pada Syahila ingin menamparnya, namun Lizty tersungkur ke lantai karena mendapat tamparan keras dari Syahila.
Semua pembantu langsung melindungi Syahila, mereka takut majikan mereka di keroyok dua wanita gila itu.
"Awas kamu, aku akan adukan ke Rendra, para pasukan babu mu itu tidak akan bisa membelamu!" Teriak Lizty.
Lizty dan Ambar langsung ke kamar mereka, membenahi semua barang-barang mereka.
"Kita lihat saja sayang, warna merah di pipi kita menjadi senjata kita membuat Rendra marah pada wanita itu," Seru Ambar.
"Iya mah, mah kita perjelas," Lizty memoles blush on ke bekas tamparan Syahila, agar semakin jelas merahnya.
Rendra sampai rumah, dia lega melihat Syahila baik-baik saja, dan dikawal semua pembantu nya. Lizty dan Ambar keluar dari kamar sambil menarik koper mereka.
"Kak Rend, kami pamit, Syahila mengusir kami," Rengek Lizty.
"Nak Rend, termakasih sudah menampung kami, tapi istri kamu bukan cuma mengusir kami, dia malah berani menampar kami," Ambar memperlihatkan pipi nya yang merah.
Rendra melotot memandang Syahila, dia pun berjalan mendekati Syahila, Ambar Dan Lizty tersenyum kecil.
"Tuan ... kejadiannya tidak seperti yang tuan kira." Lirih Anik.
Rendra berdiri tepat di hadapan Syahila.
"Apa tangan ini yang kau gunakan untuk menapar tante Ambar dan Lizty?" Tanya Rendra.
Syahila mengangguk. Rendra langsung menciumi telapak tangan Syahila, hingga membuat semua orang terkejut melihat hal itu.
"Sayang ... jangan pernah gunakan tangan halus yang penuh cinta ini untuk menyentuh orang-orang yang tidak tahu malu itu," Kata Rendra.
Syahila tersenyum melihat Rendra terus mencium telapak tangannya.
"Lain kali, kalo kamu tampar mereka, bilang dulu ke aku, bair aku sewa orang untuk melakukannya, jangan sakiti tangan kamu sayang," Lirih Rendra.
"Gimana, apa kamu sudah merasa cukup untuk menampar mereka? kalo belum biar mas yang lanjutkan," Kata Rendra menatap tajam ke arah Lizty dan Ambar.
Lizty dan Ambar pun langsung lari menyeret koper mereka keluar dari rumah Rendra. Semua orang tertawa melihat kejadian itu.
"Ide CCTV kamu luar biasa sayang, sehingga mas bisa melihat kejadian itu," Kata Rendra.
"Kekuatan Cinta menang nyonya," Seru Anik.
"Perang dinginnya sudah nih?" Tanya Rendra.
"Tamat!" Seru Ainah.
__ADS_1
"Yah ... aku tidak dapat jatah lagi dong kalo di luar kamar," Rengek Rendra.
Syahila langsung memeluk suaminya, membuat semua pembantu mundur teratur dari ruangan itu. Membiarkan majikan mereka berpelukan di ruang tamu.