Terjebak Bersama Sumpah Cinta

Terjebak Bersama Sumpah Cinta
Bab 54. Melamar Zhey.


__ADS_3

Setelah sampai di rumahnya Rendra langsung menelpon Effan.


"Ada apa pak?" Tanya Effan.


"Fan, kapan kamu balik ke luar negeri ?" Tanya Rendra.


"Mungkin minggu depan pak, ada apa? Apa ada masalah penting? Atau darurat? Jika ada aku akan usahakan lebih lama disini," Jawab Effan.


"Tidak ada masalah, aku akan menikah," seru Rendra.


"Waw ini luar biasa, dengan siapa anda menikah pak? Kuharap bukan menikahi pohon," Effan berusaha bercanda.


"Fan, aku serius, aku akan menikahi Zhey, adik Denny, kapan waktunya, aku akan kabari kamu nanti."


"Aku sangat senang mendengarnya pak, aku yakin nona akan bahagia di alam sana melihat anda bangkit dan bahagia," seru Effan.


"Berkat dirimu aku bisa bangkit, terimakasih Fan,"


"Sama sama pak, kalau aku masih di negeri ini, aku pastikan aku akan hadir di pernikahan anda," seru Effan.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, telepon pun ber akhir.


Kediaman Darnanto. Jiya mendangi Zhey ke kamarnya.


"Zhey ... kamu yakin mau menikahi duda putus asa itu? Mama senang kamu menikah, tapi mama khawatir, mama takut kalau kamu hanya sebagai pelarian nya saja"


"Aku kasian sama Rendra mah, lagi pula Rendra juga sosok penyayang, apa salahnya memberi Rendra kesempatan," seru Zhey.


"Baiklah sayang, kabari kakakmu, kalau kamu akan menikah dengan Rendra"


Zhey segera menelpon Denny.


"Hallo adik ku yang manis ...." sapa Denny.


"Hallo kaka ku yang guatengnya nggak ketolongan ...."


"Ada apa ini kamu telepon kaka, apa ada masalah?"


"Kak Denny, kaka harus atur waktu untuk kosongkan jadwal pada tanggal yang nanti aku kirim, karena adikmu ini akan menikah,"


"Waw ... menikah? Kaka senang sayang, dengan siapa?"


"Rendra," Jawab Zhey.


"Apa? Rendra? Kamu yakin mau menikah dengan duda putus asa itu? engan dirinya sendiri saja dia tidak sayang, bagaimana dia menyayangi mu?"


"Kaka punya ilmu kontak batin ya sama mama? Kompak banget ngata in Rendra duda putus asa, dia bukan putus asa kak, tapi dia berduka, dia sangat mencintai istrinya, tidak seperti kaka!!!" Sungut Zhey.


"Okey ... baiklah adikku yang akan menikah dengan pria pecinta, nanti kabari kaka kapan tanggalnya, kaka pasti datang sayang, bye Zhey ku,"


"Iya kaka, bye, sampai ketemu lagi," balas Zhey.


***


Rendra datang ke rumah Zhey melamar Zhey secara resmi, dia didampingi Effan. Makan malam terasa kaku, karena hanya Rendra dan Darnanto yang saling bicara. Effan menangkap rasa aneh, karena tidak melihat kalau Rendra menyukai Zhey, Rendra lebih asyik bicara pada Darnanto, itupun sebagian besar pembicaraan masalah bisnis.

__ADS_1


"Jadi kapan enak nya kita langsungkan pernikahan Zhey dan Rendra pah?" Jiya menyela pembicaraan Rendra dan Darnanto yang masih seputar bisnis mereka.


"Kamu mau nya bagaimana Rendra?" Tanya Darnanto.


"Saya ikut om saja, sekarang saya bukan pengusaha jadi setiap hari saya selalu kosong. jadi atur lah bagaimana enaknya om sekeluarga," jawab Rendra.


"Baiklah, kata orang semakin cepat semakin baik, maka om akan putuskan dua minggu dari sekarang kita akad dan langsung resepsi, bagaimana?" Tanya Darnanto. Semua orang setuju.


"Zhey, kabari Denny, kalau dua minggu lagi hari pernikahanmu," Seru Darnanto.


"Baik pah," Jawab Zhey. Zhey langsung mengirim pesan pada Denny.


"Lho Denny di mana om?" Tanya Rendra.


"Rendra ... bisa kamu rubah panggilan mu? berlatihlah memanggilku papa," seru Darnanto.


"Denny satu tahun terakhir ini dia mengurus perusahaan yang di luar negeri," terang Jiya.


"Tapi ku lihat Lizty masih di kota ini, apa mereka?"


"Lizty tidak mau melepas karier artisnya, mereka baik-baik saja," Jawab Jiya.


"Wanita aneh, suami punya segalanya masih saja dia sibuk sendiri," seru Rendra.


"Kamu benar sayang, menantu kami yang satu itu aneh, tadi sore dia datang, tapi saat mama kamu bilang kalau kamu akan melamar Zhey malam ini, eeh ... dia buru-buru pergi," seru Darnanto.


Effan tertawa mengakak teringat Lizty.


"Kenapa nak Effan?" Tanya Darnanto.


"Tidak pak, kalau saya ingat Lizty saya akan ingat drama perang dingin yang berjudul Kekuatan Cinta," seru Effan.


"Wah tante tidak tahu yang itu, karena menantu kami itu sangat banyak membintangi film," Seru Jiya.


"Nanti nyonya tanyakan saja langsung pada Lizty tetang film Kekuatan Cinta itu," seru Effan yang masih menahan tawan


Senyuman terukir di wajah Rendra teringat bagaimana Syahila mengerjai Lizty.


Setelah makan malam selesai Rendra dan Effan pamit pulang.


***


Di kantor Denny.


"Malin!"


"Iya pak Denny," Malin segera mendekat pada bosnya.


"Tolong kosongkan semua jadwal rapat 2 minggu kedepan, karena aku akan pulang ke tanah air, adikku akan menikah," Seru Denny.


"Baik pak," Jawab Malin.


"Malin!!!"


"Iya pak ...,"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku lupa silahkan lanjutkan pekerjaan kalian," seru Denny


Malin segera kembali ke mejanya bersama Shasya, untuk mengosongkan dan membatalkan semua pertemuan pada tanggal yang diminta Denny.


Sedang Denny keluar ruangan membawa setumpuk berkas di tangannya. Dia berjalan ke arah ruangan Ebora dan Nanda.


"Ebora, tolong kamu susun dan cek ulang semua ini dan fotocopy," perintah Denny.


Ebora langsung menerima berkas yang Denny serahkan.


"Nanda, tolong kamu cek laporan ini," seru Denny.


Ebora langsung pergi dari ruangannya, tertinggal Denny dan Nanda. Setelah Ebora keluar Denny mengunci pintu itu, dia tersenyum nakal pada Nanda. Denny memberi kode nakal pada Nanda. Nanda faham apa maksud Denny.


Nanda berjalan ke arah Denny sambil melepas satu per satu kacing bajunya.


"Kamu lapar sayang?" Desah suara Nanda sambil berjalan kearah Denny. Sedang semua kancing baju sudah dia buka semua, menyuguhi mata Denny pemandangan yang indah. Tanpa buang waktu Denny menikmati semua yang tersuguh didepan matanya.


"Sangat sayang, ayo ...." Denny meng isyarat.


Kegilaan Denny berlangsung dalam ruangan itu. Dia menggempor Nanda habis-habisan. Nanda tersenyum setelah kegiatan mereka selesai.


"Bagaimana sayang? Maafkan aku jika aku kurang ...."


"Kamu luar biasa sayang," ucap Denny sambil melum*t liar mulut Nanda.


Denny dan Nanda kembali bekerja, seolah tidak terjadi apapun diantara mereka, Denny membuka kunci pintu itu sebelum Ebora kembali.


***


Saat jam makan siang Angeline masih sibuk di mejanya, karena suasana kantor sepi, karena semua orang keluar makan siang.


"Angel sayang," lirih Denny.


Angeline faham apa mau Denny. Denny menarik Angeline kedalam kamar pribadi dalam ruangannya. Lagi-lagi Denny melepaskan kegilaannya pada Angeline.


"Sayang, aku keluar ya ... sudah selesai kan?" Tanya Angeline sambil mengec*p halus bibir Denny berulang kali.


"Sebenarnya belum, tapi kamu harus keluar sayang, semua orang pasti sudah selesai makan siang,"


Angeline segera memakai pakaiannya yang berserakan. Lalu kembali ke meja kerjanya. Melanjutkan pekerjaannya.


Belum cukup juga dua wanita sebagai pelampiasannya, Denny mengirim pesan pada Ebora untuk menemaninya malam ini di sebuah hotel.


Hanya Malin yang tidak perduli dengan Denny, membuat perasaan Denny semakin mencintai ibu dua anak itu.


***


Zhey dan Rendra fitting baju pengantin mereka di sebuah butik, Zhey sangat bahagia, namun dia sembunyikan kebahagiaan itu di balik wajah murung dan masamnya.


"Kenapa kamu menjaga jarak dengan ku?" Tanya Rendra.


"Aku hanya istri pada status Rendra, untuk apa aku dekat dengan mu? Pernikahan ini saja hanya kedok menutupi aib ku," sungut Zhey.


Rendra kembali mengingat Syahila, saat mereka melakukan pernikahan yang hanya karena kesepakatan dan perjanjian.

__ADS_1


"Syahila, kenapa hatiku berkata kamu masih hidup," ringis hati Rendra.


__ADS_2