
Setelah Gabby pergi Denny sangat senang, karena dia kemana Gabby pergi. Denny sangat yakin kalau Gabby menyusul Chandra ketoilet pria. Karena Gabby sering melakukan hal itu bersama Denny dulu, jika mereka tidak sengaja bertemu. Dan Gabby melayaninya di dalam toilet.
Tinggal Denny, Rendra, dan Syahila di meja itu. Mereka saling diam tanpa bicara satu sama lain.
"Eh Sya ... kamu belum pesan minuman ya? Tunggu ya, aku pesankan minuman buat mu," seru Denny yang langsung meninggalkan meja itu. Dia sengaja meninggalkan Syahila agar bisa berduaan dengan Rendra.
Rendra berpindah duduk ke sisi Syahila. Membuat Syahila semakin tidak karuan.
"Kamu selalu cantik Sya," lirih Rendra.
Syahila hanya menunduk, dia tidak mampu memandang Rendra.
"Sya ..., kamu selalu ada di sini, sedikitpun tempatmu di sini tidak pernah terganti," lirih Rendra, meraih tangan Syahila dan meletakkannya di dadanya.
Batin Syahila bergemuruh, air matanya menetes menahan perasaan hatinya yang berkecamuk.
"Hei ... jangan kau keluarkan ini, ini sangat beharga," lirih Rendra mengusap air mata Syahila dengan jemarinya. Dan menarik Syahila dalam pelukannya.
"Kenapa mas, kenapa semua ini sangat berat, kenapa?" Ringis Syahila dalam pelukan Rendra. Syahila merasakan kembali tempat yang paling nyaman yang selama ini tidak dia rasakan, berada dalam pelukan Rendra.
"Maafkan aku Sya, andai aku mendengarkan bi anik waktu itu agar aku lebih bersabar, aku yakin kita bisa bersama lagi, namun aku malah menarik Gabby kedalam kehidupanku."
Mendengar nama Gabby, Syahila langsung menarik dirinya dari pelukan Rendra.
"Maaf mas, aku lupa kalau ada Gabby di sisi kamu," lirih Syahila kembali pada posisi duduknya.
"Sya ...,"
"Ini Sya minuman kamu, maaf ya tadi aku asyik ngobrol sama teman aku," seru Denny yang baru datang.
Rendra tidak jadi melanjutkan perkataannya.
"Eh Chandra sama Gabby belum balik?" Tanya Denny
"Belum," jawab Rendra sambil bergeser menjauh dari Syahila.
Denny tersenyum puas, karena dia melihat dari kejauhan. Dan dia sengaja kembali saat melihat aura ketegangan menyeruat.
"Rend, kamu cari Chandra di toilet pria, kamu Sya, cari Gabby di toilet wanita," pinta Denny.
Syahila dan Rendra berjalan ber iringan menuju toilet.
Flash back.
Di toilet.
Chandra berdiri di depan pintu toilet pria memainkan ponsel nya, Gabby tiba-tiba mendorong nya masuk kedalam.
"Gabby! Apa-apaan kamu!" Bentak Chandra.
"Kamu yang apa-apaan? Kenapa kamu bersama Syahila!" Bentak Gabby.
"Kamu ninggalin aku, sama siapa aku apa perduli kamu!" Seru Chandra.
"Kamu masih cinta sama aku?" Lirih Gabby sambil menciumi leher Chandra.
"Aku selalu cinta sama kamu Gabby, aku berjuang sampai di titik ini hanya untuk dirimu," lirih Chandra.
__ADS_1
Gabby dan Chandra larut dalam Syahwat birahi mereka di dalam toilet itu, dan lupa mengunci pintunya.
Flash back off.
Syahila masuk kedalam toilet wanita, dia ketuk satu per satu pintu tidak ada Gabby, dia pun keluar dari toilet itu.
Rendra masuk ke dalam toilet, dia heran mendengar suara aneh dari bilik toilet itu, perlahan Rendra membuka pintu toilet itu, matanya di suguhi adegan panas yang berlangsung di atas closed. Darahnya mendidih melihat tunangannya mesum dengan pria lain dalam toilet.
Gabby dan Chandra larut dalam pertempuran mereka, hingga tidak menyadari sepasang mata yang melihat mereka.
"Rendra!!!" Seru Chandra, saat dia menegakkan wajahnya, dia sangat terkejut melihat Rendra yang melihat adegan mereka.
Rendra menatap tajam ke arah Gabby dengan pandangan jijiknya, Rendra langsung pergi dari tempat itu.
Gabby memperbaiki rok mininya, dan langsung mengejar Rendra.
"Sayang ...," Gabby memanggil Rendra.
"Pertunangan kita putus, antara kita tidak ada ikatan apa-apa lagi," seru Rendra sambil melepas cincin pertunangan dengan Gabby dan memberikan cincin itu pada Gabby. Rendra pergi meninggalkan Gabby.
"Kenapa sayang ...." lirih Chandra memeluk Gabby.
"Rendra memutuskan pertunangan kami," ringis Gabby.
"Jangan sedih ..., kan ada aku ..., yuks kita terusin yang tadi," seru Chandra.
Gabby tersenyum nakal, dan kembali masuk ke toilet pria bersama Chandra.
Syahila mematung melihat Rendra memutuskan pertunangan dengan Gabby, tapi Gabby malah tidak perduli dan dia masuk kembali kedalam toilet pria dengan Chandra begitu mesra. Syahila pun pergi dari area itu.
"Kenapa Rend?" Tanya Denny melihat wajah Rendra yang kesal.
Rendra duduk di kursinya menahan kekecewaannya, sedang Denny sangat bahagia berhasil menarik Gabby dari sisi Rendra.
"Permisi aku pulang ya," lirih Syahila sambil mengambil tasnya.
"Iya hati-hati Sya," seru Denny.
Syahila pergi dari club itu, dan berdiri di tepi jalanan menunggu taksi.
"Aku juga pulang Den, mumet ini kepala aku," lirih Rendra.
"Iya hati-hati Rend," seru Denny.
Rendra berada dalam mobilnya, dia berhenti, saat melihat Syahila berdiri di pinggir jalan.
"Sya ..., nunggu taksi?" Tanya Rendra.
Syahila mengangguk.
"Masuk, aku antar kamu," seru Rendra.
"Tidak usah mas," jawab Syahila.
"Sya ..., aku butuh teman sekarang," lirih Rendra.
Syahila pun masuk ke mobil Rendra, segera Rendra melajukan mobilnya mengantar Syahila pulang.
__ADS_1
Rendra menyetir mobil sambil menyanyi mengikuti lagu Bruno Mars Just The Way You Are.
"Kamu nggak sedih mas?" Tanya Syahila.
"Ngapain sedih, aku bahagia tahu lebih cepat perilaku Gabby sebelum semua jauh lebih serius," jawab Rendra.
"Sya ..., bisa kita kembali bersama?" Tanya Rendra.
"Aku belum yakin mas,"
"Apa masih belum cukup penderitaan kita," lirih Rendra, matanya fokos memandang jalanan di depannya.
"Tidak semudah itu mas, sekarang ada anak-anak, aku ingin suami yang bisa membuat anak-anak nyaman, sekalipun dia bukan ayah kandung mereka," jawab Syahila.
"Hanya itu? Maksudku ... syaratnya hanya anak anak? Bagaimana hati mommy nya?"
"Hati mommy mereka sudah kamu curi, apalagi?"
Rendra menghentikan mobilnya di tepi jalanan.
"Aku ingin semuanya, bukan cuma hati dan jiwanya, juga orang nya, agar setiap saat bersama ku," lirih Rendra.
Rendra mendekatkan wajahnya pada wajah Syahila.
Plakk!
Syahila memukul bahu Rendra.
"Awhh ...," Rendra meringis.
"Daddy anak-anakku yang tersayang ..., tolong antar mommy ini pulang, kasian mereka kalau mommy nya tidak pulang-pulang, sudah malam ini," rengek Syahila.
"Hei ... anak-anak sama siapa?"
"Sama calon papa kedua mereka," jawab Syahila sambil tertawa terbahak.
Rendra hanya menggeleng mendengar jawaban Syahila.
Mobil Rendra sampai di halaman ruko Syahila, Syahila pun turun, namun lagu di mobil Rendra beralih pada lagu A Thousand Year, Syahila mematung mendengar lagu itu, teringat saat dia pertama kali melihat Rendra setelah sandiwara kematiannya.
Rendra juga mengingat kenangan yang sama, ingat saat Syahila bernyanyi lagu itu di malam ulang tahun Denny.
"Kau bernyanyi lagu itu penuh penjiwaan," lirih Rendra.
"Boleh aku jujur?"
"Apa?" Tanya Rendra.
"Aku tidak bermaksud bernyanyi lagu itu untuk Denny, namun naskah musik yang ada di hadapan para pemain musik lagu itu, aku kaget, namun saat melihatmu di depanku ... Aku seakan bernyanyi buat mu," lirih Syahila.
"Aku hanyut dengan kenangan masa lalu kita, sehingga aku tidak sadar diri kalau suara ku seperti tikus kegencet pintu!!!" Seru Syahila.
Syahila memutup mulutnya dengan tangannya, malu karena keceplosan bicara.
"Bye Rend ...." Syahila langsung pergi meninggalkan Rendra.
Rendra seakan terbang mendengar perkataan Syahila barusan. Dia menundukkan wajahnya pada setiran mobil, karena sangat bahagia. Selama ini cintanya dan cinta Syahila selalu bersambut walau terpisah jauh.
__ADS_1
Rendra melajukan mobilnya menuju rumahnya, dengan bernyanyi asal asalan mengikuti reff lagu A Thousand Years. Mengekspresikan rasa bahagianya.