
Syahila merasa bersalah, walau Denny selama ini hanya akrab dengan anak-anak nya namun beberapa bulan ter akhir denny mulai mengisi hatinya.
Andai insiden kemarin tidak terjadi mungkin dia akan menikah dengan denny tanpa hambatan. Namun lagi-lagi cintanya di uji, Rendra atau Denny.
'Siapakah yg akan memenangkan hati Syahila?'
Kehadiran Rendra dihidupnya menjadi dilema besar di hati Syahila. Cintanya pada Rendra sedikitpun tidak berkurang, namun cintanya pada Denny mulai tumbuh. Syahila tidak bisa tidur, akhirnya dia menunaikan sholat istiqharah, meminta petunjuk keputusan apa yang harus dia ambil.
***
Pagi pagi Syahila mengetuk pintu kamar anak-anaknya.
"Ada apa?" Tanya Denny, saat dia membukakan pintu
"Sarapan sudah siap, ayo kita sarapan dulu," lirih Syahila.
Syahila, Denny dan anak-anak asyik dengan sarapan mereka.
"Pagi nona ada tamu," seru Lerry.
Rendra berjalan di belakang Lerry.
"Pagi mas, mari kita sarapan sama-sama," seru Syahila.
Lerry segera mengambilkan piring buat Rendra. Mereka asyik mengunyah sarapan mereka, tanpa saling bicara.
"Sya ... kamu sudah tentukan pilihanmu?" Tanya Rendra yang tidak tahan lagi berdiam diri.
"Sudah." jawab Syahila datar.
"Siapa pilhanmu? Aku? Apa Denny?" Tanya Rendra.
"Maaf, aku pilih anak-anakku," jawab Syahila.
"Itu bukan pilihan Sya ..., tapi itu kamu tidak memilih siapapun diantara kami," lirih Denny.
Zein dan Yumna hanya diam, karena para orang tua ini tidak berbicara dengan bahasa inggris.
"Aku lebih memilih pergi, karena aku tidak ingin mengecewakan kalian berdua," jawab Syahila.
"Jika kau memilih Denny, aku tidak akan kecewa Sya, asal kau bahagia, aku masih ingat kata-katamu dulu, mencintai tidak harus memiliki," lirih Rendra.
"Aku juga, sekalipun kamu memilih Rendra, aku tidak akan memusuhinya, kami akan tetap berteman seperti dulu," seru Denny.
"Bukan itu, jika aku memilih Rendra, tapi aku menghianatinya, karena di hatiku sudah ada kamu. Namun jika aku memilihmu, aku tidak bisa bohong, Rendra selalu ada di hatiku," ringis Syahila.
"Apa ke inginan mu?" Tanya Denny.
"Kembalikan aku menjadi Syahila," pinta Syahila.
"Baik, aku akan mengembalikan semua data-datamu secepatnya," seru Denny.
"Aku pamit pulang ke tanah air hari ini," lirih Rendra.
"Iya, hati-hati," seru Syahila.
Mereka kembali melanjutkan sarapan mereka.
****
Seminggu sudah di lalui Syahila hanya berdiam diri di rumah karena kejadian itu. Namun kedatangan Denny membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Dimana anak-anak?" Tanya Denny.
"Mereka di penitipan."
"Data-data mu sudah pulih kembali," Denny memberikan data diri Syahila.
"Terimakasih,"
"Jangan berterimakasih, ini tidak seberapa dengan perbuatan keji Zhey padamu, kuharap kamu mau memaafkan dia, entah di mana Zhey, sejak hari itu dia kabur," lirih Denny.
"Aku sudah lama memaafkannya, dia hanya memperjuangkan cintanya, hanya saja dia jatuh cinta pada orang yang salah, dan meraih cintanya dengan jalan yang salah," lirih Syahila.
"Rendra sudah menceraikannya, Rendra juga cerita kalau dia menikahi Zhey karena ...."
"Karena Rendra memperkosanya, dia pernah cerita, dia bilang hanya pernah menyentuh Zhey dua kali, saat memperkosanya dan saat malam pernikahan," seru Syahila.
"Kemana kamu setelah ini?"
"Aku tidak tahu Den."
"Ku harap kamu masih disini agar aku masih bisa bermain dengan Reyhan," seru Denny.
Syahila hanya tersenyum.
"Aku kemari hanya untuk menyerahkan itu, aku pamit Sya,"
Syahila mengangguk.
"Sya ... bolehkah aku ...."
Syahila langsung memeluk Denny, dia mengerti maksud Denny.
"Terimakasih atas warna cinta yang kamu beri untuk aku dan anak-anak, terimaksih atas semua kebahagiaan yang pernah kamu beri. Andai Zhey tidak mendorongku, maka rahasia besar ini akan menjadi rahasia selamanya, dan aku pastinya akan menikah denganmu. Tapi ini berat, aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa berhenti mencintai Rendra," Syahila menangis dalam pelukan Denny.
"Den, raih kebahagiaanmu yang lain, buka hatimu, masih banyak Malin di luar sana yang belum kamu temui. Jangan buang waktumu hanya untuk menungguku. Bangun rumah tangga dengan wanita yang mampu mencuri hatimu," lirih Syahila.
Denny mengangguk.
"Tidak mudah Sya, tapi aku akan berusaha," seru Denny.
"Aku pamit, aku harus bekerja," lirih Denny.
Syahila mengecup bibir Denny.
"Sampai ketemu lagi," lirih Syahila.
Denny pun pergi dari rumah Syahila.
Setelah Denny pergi, Syahila bersiap pulang membawa anak-anaknya ke tanah air yang selama ini dia tinggalkan. Dia memberikan rumah yang selama ini dia tinggali buat Lerry. Setelah berpamitan pada Lerry Syahila pun pergi menuju bandara.
***
Syahila sampai di kota kelahirannya, dia langsung memesan taksi online. Tujuannya ke rumah Rendra, untuk mengambil kunci ruko ayahnya.
Kini Syahila turun dari taksi tepat di halaman rumah Rendra, Syahila langsung masuk karena pagar tidak di kunci. Dia menekan bel rumah, dan menunggu si penunggu rumah membukakan pintu.
Anik membuka pintu, matanya seakan melompat melihat sosok yang berdiri di depan matanya membawa dua anak kecil. Anik pun pingsan.
"Bi Anik!" Teriak Syahila panik.
Mendengar samar suara teriakan, Rendra dan Ainah pun berlari menuju sumber teriakan itu. Namun Ainah mematung melihat wanita di samping Anik.
__ADS_1
"Bantu aku angkat bi Anik Sya," pinta Rendra.
Syahila pun membantu Rendra mengangkat tubuh Anik, dan membaringkan Anik di sofa panjang ruang tamu.
"Hello Zein, hello Yumna," sapa Rendra.
Zein dan Yumna hanya membalas dengan senyuman.
"Do you still remember me?" Tanya Rendra.
Zein dan Yumna mengangguk.
"Hai bi Ainah ...," sapa Syahila.
Ainah menangis dan langsung memeluk Syahila.
"Mommy ..., is that me?" Tanya Zein menunjuk foto dirinya sewaktu kecil.
"Yes honey," jawab Syahila.
Zein asyik memandangi foto-foto yang berjejer di dinding rumah Rendra.
"Wow ... mommy very beautiful," seru Yumna menunjuk foto pernikahan Syahila dan Rendra.
"Honey ..., this is daddy," seru Syahila.
"Hai daddy," seru Zein dan Yumna bersamaan.
Rendra pun memeluk kedua anaknya. dia sangat bahagia Zein dan Yumna memanggilnya daddy.
"Nyonya ...," lirih Anik yang baru sadar, dia melihat Syahila memeluk Ainah.
Syahila melepaskan pelukannya pada Ainah, dan langsung memeluk Anik.
"Saya syok, bagaimana nyonya bisa ...,"
"Ceritanya panjang bi Anik," Jawab Syahila.
"Itu Reyhan nyah?" Tanya Anik. Syahila mengangguk.
"Yang cantik itu?" Tanya Anik.
"Dia Yumna, adik Reyhan."
"Nyonya ...." ringis Anik meng eratkan pelukannya.
"Nyonya nginep sini kan?" Tanya Ainah.
"Tidak bi, saya cuma mau ambil kunci ruko ayah, kami tidak tinggal di sana, hanya jaga-jaga," jawab Syahila.
"Bermalamlah disini Sya," pinta Rendra.
"Maaf mas, aku tidak bisa, aku bukan istrimu lagi, lagian urusanmu dengan Zhey belum selesai, aku bermalam disini hanya menambah masalah, aku tidak mau anak-anak jadi korban Zhey lagi," jawab Syahila.
"Zhey sudah pergi Sya ..., entah di mana dia," lirih Rendra.
"Baiklah, kunci ruko ayahmu ada di laci di meja kerjaku, ambilah sendiri, aku ingin bermain dengan anak-anakku," seru Rendra.
Rendra membawa Zein dan Yumna bermain di luar. Sedang Syahila langsung ke ruang kerja Rendra mencari kunci ruko ayahnya.
Tangan Syahila tidak sengaja menyenggol sesuatu, sehingga jatuh ke laptop Rendra yang masih terbuka. Syahila melihat video yang terputar bulan yang sama dengan bulan kelahiran Yumna. Syahila penasaran apa yang terjadi di tanggal itu, dia memperjelasnya.
__ADS_1
Syahila duduk dan mempercepat rekaman cctv di tanggal awal bulan itu. Matanya melotot saat melihat Rendra memperkosa Zhey, Syahila membuka audio rekaman cctv itu. Terdengar jelas Rendra selalu menyebut namanya.
Syahila menangis, melihat itu, dia tidak menyangka Rendra sekacau itu karena kehilangan dirinya.