
Malin dan Rendra tidak menyadari mereka satu penerbangan yang sama. Kini mereka sudah mendarat di kota Malin tinggal selama ini, Rendra melihat wanita yang menuntun dua anak kecil itu, dia tersenyum, tanpa susah payah dia bisa menemukan Malin. Rendra pun meminta supir taksi yang dia tumpangi mengikuti taksi yang membawa Malin.
Malin sampai di rumahnya, Zein dan Yumna langsung ke dalam bersama Larry, sedang Malin berjalan ke arah taman terbuka hijau, yang tidak jauh dari rumahnya. Setelah Malin pergi, Rendra meletakan kopernya di teras rumah Malin, dan membuntuti Malin.
Malin tersenyum saat melihat Rendra bersadar di pohon tersenyum padanya, Malin berlari ke arah Rendra, namun ternyata itu halusinasi nya saja. Malin pun duduk di bangku taman yang tidak jauh dari pohon itu, dia menangis memeluk kedua lututnya.
Rendra yang asli berdiri tepat di hadapannya.
Syahila menegakkan wajahnya, dia tersenyum melihat Rendra yang asli, karena dia mengira itu adalah halusinasinya lagi.
"Mas ..., kenapa kamu selalu datang, bisa kah aku hidup tenang tanpa mencintaimu," ringis Malin.
Rendra tersenyum lebar karena Malin berbicara bahasa tanah air mereka.
Malin bangkit dan memeluk Rendra,
"Mas ..., kenapa sangat mahal harga yang harus aku bayar supaya bisa bersamamu, aku pergi darimu, karena nyawa Reyhan dan nyawamu ancamannya bagiku," tangis Malin pecah dalam pelukan Rendra.
"Andai ancamannya nyawaku, dengan senang hati aku bekorban, agar kalian bahagia, kau sangat nyata mas...., aku rela mati setelah ini, aku sangat merindukan mu, selama 3 tahun ini aku tersiksa jauh darimu, aku sangat merindukanmu," ringis Malin meneggelamkan wajahnya di dada Rendra.
Rendra membalas pelukan Malin, membuat Malin sadar kalau itu bukan sosok halusinasinya. Malin tidak dapat melepaskan diri dari pelukan Rendra.
"Kau Syahilaku ...," lirih Rendra.
Rendra mencium bibir Syahila, Syahila pun membalas, mereka larut dalam pangutan mereka, melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam di hati mereka.
Syahila langsung mendorong Rendra.
"Anak anak!!!" Syahila lari ke arah rumahnya, dia takut Zhey menculik Zein dan Yumna. Rendra ikut mengejar Syahila.
Setelah sampai rumah Syahila langsung menuju kamar anak-anaknya, dia lega melihat Zein dan Yumna tidur.
"Selama ini kalian di sini?" Tanya Rendra.
"Iya, Zhey membuang kami kesini, dia mengancam akan membunuhmu dan Reyhan, Zhey yang menyediakan semua ini," jawab Syahila.
"Yumna anak ku?"
"Iya ..., kejadian penawanan itu ternyata aku sudah hamil kisaran 2 minggu," jawab Syahila.
"Kenapa cobaan berat datang saat kamu hamil, dulu Reyhan, sekarang Yumna," ringis Rendra.
"Kita pulang sayang ..., kau Syahilaku," seru Rendra.
"Tapi aku bukan istrimu lagi, Zhey sudah mengirim surat talaq mu," jawab Syahila.
"Tapi bolehkan aku menginap disini ?"
__ADS_1
"Untuk malam ini, Lerry, tolong siapkan kamar buat tamuku," seru Syahila.
****
Betapa bahagianya Rendra bisa bermain dengan kedua anaknya.
"Mommy ..., kapan papa datang?" Tanya Yumna.
"Maaf sayang ..., mulai sekarang panggil papa Denny om saja yaah, dia bukan papa kalian," lirih Syahila.
Syahila menidurkan anak-anaknya di kamar. belum selesai menutup pintu Rendra menarik kasar dirinya menjauh dari kamar Zein dan Yumna.
"Denny sering kemari?" Tanya Rendra.
"Iya bahkan setiap malam," jawab Syahila.
"Apa selama ini kamu bercinta dengan Denny? Apa selama ini kamu juga menjadi peliharaan Denny?" Rendra mencengkram kuat pergelangan tangan Syahila.
Syahila meringis kesakitan karena Rendra kasar padanya.
"Iya! Bahkan kami berciuman setiap malam, tapi aku tidak pernah tidur dengannya!" Teriak Syahila.
"Bohong!!! Aku sangat kenal siapa Denny, di tengah orang saja kalian tidak malu berciuman, apalagi kalau hanya berduaan!" Teriak Rendra.
"Sehina itu aku Rendra? Okey ... anggap aku sering bercinta dengan Denny, menyerahkan diriku setiap malam, kita impas, karena kamu sudah menikahi Zhey, pasti kalian juga bercinta setiap malam bukan?" Lirih Syahila.
"Kau tidak percaya padaku kalau aku tidak pernah tidur bersama Denny, dan kau mengharap aku percaya kalau kau 2 tahun menikah hanya dua kali menyentuh istri mu ?, oh ... ayolah Rendra, aku mantan istrimu, aku masih sangat tahu bagaimana beringasnya nafsu ranjang mu."
"Tapi Denny bukan aku, pasti kamu juga simpanan Denny bukan?" Lirih Rendra.
Syahila geram dengan tuduhan Rendra, dia mengambil koper Rendra dan membuangnya ke teras rumahnya. Lalu mendorong Rendra.
"Anggap kami semua sudah mati! Jangan pernah lagi kembali kemari!" Teriak Syahila. Syahila menutup pintunya dengan keras.
Rendra duduk termenung di teras rumah Syahila.
Denny yang baru datang di antar sopir
nya terkejut melihat Rendra ada di rumah Malin. Denny meminta supirnya agar menunggu.
"Rendra ...." sapa Denny.
Rendra menegakkan wajahnya,
"Denny ... Malin Syahila ku Den ...." ringis Rendra.
"Soal itu nanti kita bicarakan, kamu pulang dulu ke apartemenku," Denny meminta supirnya agar mengantar Rendra ke apartemennya. Rendra pun sudah masuk mobil Denny.
__ADS_1
"Ini password apartemenku," lirih Denny.
"Hanya aku? Kau?"
"Aku akan bermalam di rumah Malin mencari tahu kejelasan hubungan kami kedepannya," jawab Denny.
Rendra pergi ke apartemen Denny, sedang Denny melangkahkan kakinya menuju rumah Syahila.
Berulang kali Denny mengetuk pintu, akhirnya Syahila membukakan pintu buat Denny.
"Kenapa kau menyimpan rahasia sebesar ini dariku?" Tanya Denny.
"Bukankah kamu bilang tidak permasalahkan rahasia besarku?" Jawab Syahila.
"Oh ..., jadi ini rahasia besarmu, bagaimana kamu bisa berada sejauh ini?"
"Zhey membuangku kesiani, Zhey juga yang menyediakan semua ini, data diriku, juga tempat tinggal, semuanya." jawab Syahila.
Syahila menceritakan semuanya tentang Zhey.
Denny sangat kecewa dengan perbuatan Zhey.
"Mereka anak-anak Rendra?" Tanya Denny.
Syahila mengangguk.
"Kau dan Rendra sudah bercerai, bagaimana kelanjutan hubungan kita?" Tanya Denny.
"Aku bingung," jawab Syahila.
"Jangan di jawab dengan mulut mu, jawab dengan hatimu."
Denny ingin memeluk Syahila, namun Syahila menghindar.
"Aku memelukmu karena aku ingin tau apa jawaban dari hatimu." lirih Denny.
Denny menarik Syahila dalam pelukannya.
"Pejamkan matamu, apapun yang terjadi, jangan buka matamu," seru Denny.
Denny menyudutkan Syahila ke dinding rumah, lalu mencium pipi Syahila, dan turun bibirnya bergerilya di leher jenjang Syahila. Syahila larut, namun bayangan Rendra dan Denny muncul bersamaan. Denny memangut bibir Syahila dalam.
Syahila kaget, dia mendorong Denny. Denny tersenyum padanya.
"Malam ini aku menginap di sini, aku akan tidur di ranjang Zein. Selamat malam," Denny masuk ke kamar Zein.
Perasaan Syahila kacau, dia masuk ke kamarnya, berbaring dengan membawa rasa bimbangnya.
__ADS_1