
Denny benar benar memberhentikan Malin bekerja, kini Malin menghabiskan waktu bersama anak anaknya di rumah. Malin pasrah saat Denny bilang kalau dirinya cukup di rumah saja.
Semakin hari hubungannya dan Malin semakin dekat. Mereka memutuskan akan menikah dalam waktu dekat. Keluarga besar Denny sangat setuju dengan keputusan Denny.
Apalagi Zhey, dia sangat penasaran denga wanita yang membuat kakaknya jauh berubah jadi lebih baik.
Malin aktif di rumah bersama anak-anaknya, setiap pulang kerja Denny selalu singgah di tempat Malin. Bermain dengan Zein dan Yumna.
Denny tengah Asyik bermain bersama Zein dan Yumna, namun bunyi ponselnya menghentikan candaan mereka.
Denny segera mengangkat karena mamanya yang menelpon.
"Hallo mah ...."
"Denny, mama, papa, Zhey dan Rendra ada di kota Samhole, ayo bawa calon mu kemari, kota ini tidak jauh dari tempat kalian cuma satu jam penerbangan kalian sampai," pinta Jiya.
"Maaf mah, aku sibuk banget di kantor tidak bisa keluar kota dulu," Denny ber alasan.
"Kamu jahat Denny, jauh-jauh kami kemari untuk bertemu calon istrimu kamu tidak mau mendatangi kami, kami yang kesana apa kamu yang kesini!!!" Bentak Jiya. Jiya memutuskan telepon sepihak karena kesal.
Denny kehilangan keceriaannya, wajahnya kusut.
"Kenapa kamu? Kamu kehilangan setrika wajah? Wajah kamu over kusut," seru Malin
"Mamaku, oh tepatnya keluarga besarku ada di negara ini, mereka ingin bertemu denganmu."
"Kapan dan dimana?"
"Besok malam di Samhole."
"Aku belum siap ...."
__ADS_1
"Aku tahu, makanya aku sudah ber alasan sibuk, tapi mama marah, mereka jauh-jauh kemari ingin bertemu denganmu"
Malin merasa tidak enak dengan penjelasan Denny.
"Baiklah ... kita ke Samhole, aku bersiap dulu"
"Benarkah ...?"
Malin mengangguk.
"Jangan lupa data-data dirimu, aku khawatir mereka akan langsung menikahkan kita disana," Seru Denny.
"Ini masih pagi, jangan mimpi ketinggian!!!" Teriak Malin.
Mereka semua siap, tinggal menunggu mobil yang menjemput mereka.
"Ini pasporku dan anak anak, ini surat suratku, kamu yang pegang ya, aku takut kalo sama aku malah hilang," seru Malin.
Denny semakin bahagia, Malin mempercayai dirinya.
Wajah Malin nampak tidak nyaman.
"Kamu kenapa?" Tanya Denny
"Aku takut," jawab Malin.
"Tenang ... keluargaku semua baik," Seru Denny.
Denny menyewa dua buah kamar hotel untuk Malin dan anak-anaknya dan untuk dirinya.
Denny membelikan gaun untuk Malin dan Yumna, juga setelan jas buat Zein, untuk di pakai malam ini saat menemui orang tua Denny.
__ADS_1
Sepanjang sore Denny menghabiskan waktu di kamar Malin bermain bersama Zein dan Yumna, hingga Zein dan Yumna kelelahan dan tertidur.
"Terimakasih untuk semua kebahagiaan ini, jika aku tidak bertemu dengan mu, entahlah apa aku bisa merasakan kebahagiaan seperti ini," lirih Denny.
"Terimakasih juga, selama ini kamu menyayangi anak-anakku, aku tidak akan pernah bisa membayar semua jasa-jasa kasih sayangmu pada Zein dan Yumna," Lirih Malin.
"Kamu bisa membayarnya, tapi setelah menikah denganku, tidak perlu membalas cintaku, cukup sayangi aku dan izinkan aku mencintaimu sebanyak yang aku mau," lirih Denny.
Denny mendekatkan bibir nya pada bibir Malin.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu, sudah sore, karena aku harus bersiap juga mendandani princes kecilku," seru Malin menghindari ciuman Denny.
Denny tersenyum, semakin Malin menghindar semakin semangat dirinya.
Malam menyapa bumi belahan kota Samhole. Kini semua nampak menawan memakai pakaian yang di belikan Denny.
(penampilan Yumna)
(penampilan Zein)
penampilan Malin.
****
Denny menuju Restoran yang sudah di booking keluarganya untuk makan malam nanti.
__ADS_1
"Kenapa sepi?" Tanya Malin.
"Karena kita datang terlalu cepat," Jawab Denny. Malin hanya menggeleng mendengar jawaban Denny