
Warga desa ramai berkumpul di warung mak Ijum. Sarapan pagi sambil nonton tv. Pagi-pagi begini warga suka nonton berita. Berita di televisi menyiarkan keadaan pasca kecelakaan yang di alami oleh karyawan PT. MAHARDIKA KARYA. Banyak yang
g di evakuasi kerumah sakit terdekat.
Berita terus mengabarkan kalau Direktur utama PT.Mahardika Karya juga mengalami kecelakaan, hal itu di benarkan langsung oleh Effan yang kini melakukan wawancara bersama reporter berita yang meliputnya.
"Benar sekali bos besar kami terluka parah, mohon maaf semua rekan media saya mau menjaga pak Rendra." Kata Effan pamit pada wartawan yang terus mewawancarai dirinya.
Syahila yang mematung menonton berita tersebut, tiba-tiba berteriak histeris mendengar kabar itu. Ijum langsung mendekatinya, lalu memeluk Syahila yang terus menangis.
"Ada apa neng Hilya?" Tanya Ijum.
"Suami saya bekerja di sana, suami saya juga kecelakaan mak ..." Isak Syahila.
Para Warga ikut menangis melihat kepedihan Syahila.
"Lokasi itu tidak terlalu jauh dari sini." Kata Umar.
"Maksud aku lokasi rumah sakit dimana para korban di rawat." Terang Umar lagi.
"Tolong bantu saya untuk sampai di sana," pinta Syahila.
Tidak butuh waktu lama, tranpostarsi buat Syahila sudah siap. Syahila pun langsung berangkat menuju rumah sakit itu, setelah mendapat mobil rental yang di carikan Umar.
***
Di Rumah Sakit.
Ternyata Rendra baik-baik saja, tak seperti yang di kabarkan Effan. Rendra menggeleng melihat berita wawancara Effan bersama awak media. "Gila kamu Fan! Kamu nyumpahin aku?" Teriak Rendra.
"Maaf bos, ini rencanaku, semoga nona datang kemari saat mendengar berita ini dari tv, di manapun dia, dia pasti mendengar kabar ini," seru Effan.
****
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kini Syahila sampai di rumah sakit, ia segera menuju meja informasi. Ia menanyakan di mana korban kecelakaan dari para karyawan Mahardika Karya di rawat.
"Anda siapa?" Tanya petugas.
"Saya istri dari salah satu yang bekerja di sana," Jawab Syahila.
"Tapi anda sedang hamil. Anda harus menyetujui surat pernyataan, bahwa anda tidak akan menuntut pihak rumah sakit jika sesuatu terjadi pada bayi anda," Kata petugas sambil menyodorkan kertas. Syahila pun segera tanda tangan pada kertas itu.
Di saat yang sama Lizty dan ibunya lewat dibelakang Syahila, Lizty dan ibunya langsung menuju kamar Rendra, sedang Syahila di antar perawat ke ruangan dimana para karyawan PT. Mahardika Karya di rawat.
__ADS_1
Syahila mendekati meja perawat disana.
"Maaf di mana suami saya di rawat?" Tanya Syahila.
"Siapa nama suami ibu?"
"Rendra!" Jawab Syahila.
Perawat itu samar mendengara Indra.
"Di sana, ranjang nomer Tiga"
"Terimakasih ..." Jawab Syahila.
Syahila pun berjalan menuju ruang yang dimaksud perawat itu. Ia berjalan sampai ujung, namun tidak menemukan Rendra.
Rendra dan Effan berjalan menuju ruangan para karyawannya di rawat. Di lorong rumah sakit ia bertemu dengan Lizty dan Ambar.
"Kak Rendra ... aku panik banget pas tau dari berita kaka kecelakaan," Lizty langsung memeluk Rendra.
"Tante senang kamu baik baik saja sayang " Ambar bersandar di bahu Rendra.
Saat yang sama pula, waktu itu Syahila baru keluar dari ruangan para korban kecelakaan di rawat. Hatinya kembali terluka, melihat suaminya di peluk wanita yang berprofesi sebagai artis itu. Air matanya menetes, hatinya sangat sesak, Syahila mengelus perut besarnya melihat kejadian ini.
"Syahila ...?" Gumam Effan.
Rendra menoleh ke arah Effan, lalu menoleh ke arah mata Effan memandang. Hati Rendra bahagia melihat sosok wanita hamil di depannya, namun wanita itu menangis memegangi perut besarnya.
Syahila panik saat menyadari Effan dan Renda memandang ke arahnya, dia ingin lari, tapi tidak bisa, ia pun berjalan sekuat yang dia mampu untuk pergi dari dua laki-laki itu.
Senyum Rendra hilang saat melihat Syahila pergi. Effan pun langsung mengejar Syahila. Tapi Effan kehilangan jejak Syahila. Karena Syahila bersembunyi di salah satu ruangan pasien.
Rendra dan Effan terus berpencar mencari Syahila.
Syahila menatap lekat wanita bercadar di ujung ruangan tempat dia bersembunyi. Syahila mendekati wanita yang terus menangis itu.
"Assalamu alaikum ukhti." Sapa Syahila.
"Wa alaikum salam," Sahut wanita yang masih menangis.
"Ukhti, boleh saya minta tolong?" Pinta Syahila begitu lirih.
"Apa?" jawab perempuan itu dengan lembut.
__ADS_1
"Bolehkan saya membeli satu setel lengkap baju ukhti, saya sangat perlu, saya di kejar orang, saya bukan orang jahat, saya janji, saya tidak akan menyalah gunakan cadar," Syahila memohon, agar wanita itu mau memberikannya.
Wanita itu faham, dia meraih tasnya, lalu dia memberikan gamis biru dengan kerudung dan niqabnya. Dengan senang hati Syahila menerimanya.
"Tidak usah beli ... ini buat uhkti," sahut perempuan itu, setelah memberikan pakaiannya.
Syahila terdiam memandangi baju dan wanita itu, tiba-tiba mata syahila terpana melihat lembaran kertas yang terlihat nominal 3 juta.
"Boleh saya minta tolong lagi?" Tanya Syahila.
Wanita itu mengangguk.
"Saya minta kresek besar itu," Pinta Syahila.
Wanita itu pun memberikannya.
Syahila izin memakai baju yang ia pinta dari wanita itu, Syahila sudah memakai gamis panjang kerudung lebar dan cadar. Syahila memasukan tasnya ke dalam kresek besar.
"Ukhti ... apakah anda mau berjanji demi adik kecil yang berbaring itu?" Syahila memandang sayu ke arah anak kecil yang terbaring diranjang rumah sakit itu.
"Janji apa?" Wanita itu balik bertanya.
"Janji kalau ukhti tidak akan menolak pemberian saya," kata Syahila.
Wanita itu setuju. Syahila membuka tasnya, dia meraih uang 5 juta. Lalu Syahila menyerahkan uang itu ke tangan wanita yang bercadar itu.
"Anda sudah menolong saya, izinkan juga saya menolong anda, anggap saya membeli baju anda," kata Syahila.
Wanita itu menangis memeluk Syahila. Dia berat menerima pemberian Syahila, namun ia benar benar membutuhkan untuk pelunasan pengobatan anaknya.
"Terimakasih ..." wanita itu terisak sambil memeluk Syahila.
"Sama sama," Jawab Syahila sambil menepuk lembut punggung wanita yang memeluk dirinya.
"Saya Hamida," Wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Syahila,"
Hamida sangat lega ia bisa melunasi pengobatan anaknya. Sedang Syahila lega dan merasa aman jila keluar mengenakan pakaian seperti ini. Dia yakin Rendra dan Effan tidak akan mengenali dirinya karena berpakaian seperti ini.
Syahila pun pamit pulang pada Hamida. Dia berselisihan dengan Rendra saat di lorong rumah sakit. Bayinya dalam perut tiba-tiba bergerak saat dia berpapasan dengan Rendra. Syahila pun tersenyum merasakan pergerakan aktif bayi dalam perutnya.
Rendra dan Effan benar-benar tidak mengenali Syahila, Syahila pun bebas melenggang keluar dan meninggalkan Rumah sakit itu.
__ADS_1