Terjebak Bersama Sumpah Cinta

Terjebak Bersama Sumpah Cinta
Bab 57. Restu


__ADS_3

Sejak tadi malam perasaan aneh yang Denny pendam, semakin besar. Pagi ini dia sangat semangat pergi ke kantor, karena di kantor dia akan bertatap muka dengan Malin.


Denny menyusuri lorong kantor menuju ruangannya dengan wajah yang selalu mengukir senyuman.


"Pagi pak ...." Sapa Shasya dan Malin bersamaan ketika melihat Denny memasuki ruangannya.


"Pagi ...." jawab Denny dengan seringai senyum kebahagiaan karena melihat wajah Malin.


Mereka semua mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, tidak ada lagi waktu untuk saling sapa.


"Malin!!! Hari ini kamu temani saya rapat," seru Denny.


"Baik pak," Jawab Malin. Malin langsung mempersiapkan berkas yang akan di bawa pada rapat siang ini.


"Shasya, tolong kamu antar berkas yang sudah aku tanda tangani ini ke ruangan Ebora dan Nanda dan bantu mereka," seru Denny.


Ebora meninggalkan ruangan Denny membawa tumpukan map di tangannya.


"Apa persentasi hari ini?" Denny bertanya pada Malin.


Malin membawa laptopnya menuju meja kerja Denny. Setelah Malin meletakan Laptop di depan Denny, Denny menarik Malin hingga Malin terduduk di pangkuannya.


"Tolong lepasin saya," Malin ketakutan.


"Aku menunggu jawabanmu tadi malam," bisik Denny meneggelamkan wajahnya di bahu Malin.


"Pak, tolong saya sedang bekerja!!! Saya bukan penggoda," Malin berusaha melepaskan dirinya


Denny tersenyum melihat ketakutan di wajah Malin, jauh berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini memberinya kepuasan.


"Baiklah, ayo kita bekerja" seru Denny melepaskan tubuh Malin dari pangkuannya.

__ADS_1


Mereka pergi menghadiri rapat. Di sebuah Restoran, selama perjalanan Malin hanya diam. Denny berusaha mengajak bicara, namun Malin hanya menjawab seperlunya.


Mereka kembali ke kantor, karena rapat sudah selesai. Malin tidak bisa keluar dari mobil karena Denny mengunci pintu mobilnya.


"Malin ... sampai kapan kau menggantungku?" Tanya Denny.


"Pernikahan itu bukan cuma antara dua manusia, tapi juga dua keluarga, saya yatim piatu, hanya anak-anak saya keluarga saya, sedang bapak? Bapak punya keluarga lengkap, apa kata mereka bapak menikahi janda dua anak seperti saya dan bisa di bilang saya wanita tidak jelas," seru Malin.


"Tapi aku sangat mencintai kamu," ucap Denny.


"Malin, beri aku kesempatan, okey .... kamu tidak harus membalas perasaanku, tapi cukup terima cintaku,"


"Pak ...."


"Malin ... apa kamu tidak mau menerima aku karena aku laki-laki yang buruk?"


"Bukan begitu pak, saya akan jawab pertanyaan bapak, tapi ceritakan dulu siapa aku pada keluarga bapak, jika mereka bisa menerima saya, saya akan maju, jika mereka menolak, tolong bapak jaga jarak dengan anak-anak saya, jangan memberi harapan mereka lebih dalam lagi pak," Lirih Malin.


Denny tersenyum, dia mulai faham maksud Malin. Denny membuka kunci pintu mobilnya. Mendengar suara kunci terbuka, Malin segera keluar dari mobil Denny.


"Apa kamu bahagia?"


"Sangat papa, belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini," Jawab Denny.


"Apalagi kamu tunggu? Lamar dia!!!" Seru Darnanto.


"Dia menunggu restu kalian semua," Jawab Denny.


"Restu kami? Jika kamu bahagia, restu kami bersama kamu Denny,"


"Terimakasih pah," lirih Denny, panggilan pun berakhir.

__ADS_1


Denny segera berlari masuk kedalam kantor. Di depan lift Malin masih berdiri menunggu pintu lift terbuka. Saat pintu lift terbuka Malin masuk lift tersebut.


"Tahan!!!" Teriak Denny.


Malin menahan pintu lift itu agar terbuka.


"Terimakasih," ucap denny dengan senyuman di wajahnya.


Pintu lift tertutup, lift mulai naik, hanya Denny dan Malin yang ada dalam lift tersebut.


Denny menekan tombol Stop, hingga lift berhenti.


"Apa maksud anda?" Malin terkejut karena Denny menghentikan liftnya.


Denny tersenyum. "Semua keluargaku tidak keberatan aku menikahimu, mereka memberi restu, sekarang apa jawaban mu?"


Malin mengangguk. "Demi anak-anakku yang sangat mencintai anda," lirih Malin.


Denny menarik Malin dalam pelukannya.


"Terimakasih Malin, aku belum pernah sebahagia ini," Denny merasakan gejolak dalam dirinya. Perasaan aneh yang baru dia rasakan.


Merasa kalau Malin risih dia peluk Denny melepaskan pelukannya. Denny terus tersenyum, dia mengoperasikan Lift itu jalan kembali.


"Hari ini, hari terakhirmu bekerja, fokoslah pada anak-anak, sayangi dan perhatikan anak anak dan diriku," lirih Denny.


Malin tersenyum kecil. Setelah keluar dari lift mereka menuju tempat masing-masing. melanjutakan kembali pekerjaan mereka, Malin sibuk dengan tugas-tugas yang ada di mejanya.



Denny tidak bisa melepaskan Malin.dari pandangannya, matanya terus ingin melihat Malin.

__ADS_1


Denny meraih ponselnya mengirim pesan pada adik nya kalau dia tidak perlu lagi KB pria. Lalu mengirim pesan pada keempat sekretaris kalau mereka bebas dan tidak perlu melayani Denny dan Denny mengirim uang yang lumayan besar, sebagai hadiah perpisahan.


Malin sangat memberi dampak perubahan positif pada Denny.


__ADS_2