
Syahila merinding melihat Naura yang tengah di tangani tim Dokter.
"Apakah Naura sering seperti itu?" tanya Syahila.
"Bahkan lebih parah jika keinginannya tidak dipenuhi," jawab Harri.
"Apa keinginan Naura?"
"Dia ingin punya mama," jawab Harri.
"Kenapa anda tidak menikah lagi?"
"Jika kamu mau menunggu di sini, aku akan ceritakan alasannya,"
Naura kembali mengamuk, karena dikhawatirkan amukan Naura berbahaya, dokter sangat terpaksa menyuntik Naura dengan suntikan penenang. Naura pun tak sadarkan diri di bawah efek obat penenang.
Harri langsung menemui Dokter yang menangani Naura, sedang Syahila duduk di ruang tunggu bersama Reyhan dan Yumna.
"Sayang ..., Naura sakit, kalian keberatan nunggu di sini?" tanya Syahila.
"Enggak moms, kita tidak keberatan kok nunggu disini," jawab Reyhan.
Naura kini berada di ruang perawatan, Syahila dan anak-anak nya tetap mendampingi Naura.
"Bisa kita bicara?" tanya Harri.
Syahila mengangguk.
"Reyhan Yumna, om minta tolong jaga in Naura sebentar ya, om mau bicara sama mommy kalian," seru Harri. Reyhan dan Yumna mengangguk.
"Ikut aku Sya ...." lirih Harri.
__ADS_1
Syahila dan Harri pergi ke pojok dari ruangan Naura.
"Sejak dia bisa bicara, dia selalu merengek minta ibu padaku, aku tidak bisa mewujudkannya karena ada alasan yang tidak bisa aku jelaskan pada anakku," lirih Harri.
"Kenapa tidak bisa?"
"Aku bisa memberi mereka ibu, tapi ... aku tidak bisa memberi hak batiniah seorang istri," kata Harri. Harri mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Apa maksud anda?"
"Senjataku tidak berfungsi, sejak kematian ibu Naura, bagaimana aku bisa menikah lagi," lirih Harri.
"Entah berapa banyak wanita yang aku lamar, tapi, mereka menolak karena aku tidak bisa memberi nafkah seorang istri," lirih Harri.
"Mengapa anda tidak coba lamar wanita yang sudah menopause?"
"Naura yang tidak mau, dia marah padaku, dia berteriak, 'Papa ..., aku minta mama! Bukan minta oma! Yah, aku bisa apa lagi," lirih Harri.
"Ma-ma-maafkan aku," lirih Syahila terbata.
"Hei dimana ayah anak-anak mu? Maksudku mantan suamimu?"
"Dia ada di kota ini, kami sudah lama bercerai," jawab Syahila.
"Sejak kapan kau mengenal Denny?"
"Aku pernah jadi sekretaris perusahaannya yang di luar negri," jawab Syahila.
"Dulu Denny sering bercerita tentang wanita yang bernama Malinka, Denny bilang hanya wanita itu yang membuat dirinya merasakan sesuatu, yang selama ini belum pernah dia rasakan, kau kenal dengan Malinka?" tanya Harri.
Syahila berusaha menahan tawanya, karena ini rumah sakit, namun dia tidak sanggup menahan. Syahila menarik nafas dalam dan mengembuskannya, agar mengurangi tertawanya.
__ADS_1
"Kau Malinka?" tanya Harri.
Syahila mengangguk.
"Jadi ... kau Malinka yang membuat Denny jatuh cinta dan patah hati?" seru Harri
"Aku tidak tahu hal itu, panjang ceritanya hingga aku jadi Malinka dan menjadi Syahila kembali,"
"Tapi Denny jauh sangat berubah, menjadi lebih baik, saat dia jatuh cinta pada Malinka," lirih Harri.
"Denny memang pribadi yang baik, hanya saja tertutup oleh kebiasaan buruknya dulu," sahut Syahila.
"Tunggu ..., jika kau Malinka berarti itu anak-anak Rendra?"
"Iya, mereka anak anak Rendra, kau kenal Rendra?"
"Dia salah satu rekan bisnisku, tapi saat dia menikah aku tidak bisa datang, saat itu ibu Naura sakit," lirih Harri.
"Sore pak, ini keperluan yang anda minta," seru sopir Harri.
"Astaga sudah sore? Maaf kami pulang dulu," lirih Syahila.
"Sya, boleh minta nomer ponselmu?" tanya Harri.
Syahila memberikan ponselnya pada Harri, Harri memasukan nomer ponselnya, di ponsel Syahila, lalu me missed call.
"Itu nomer ku," lirih Harri sambil mengembalikan ponsel Syahila.
"Baik pak, kami pulang dulu," lirih Syahila.
"Bisakah kamu panggil nama ku saja, Harri, apa sulit?" tanya Harri.
__ADS_1
Syahila hanya tersenyum. "Anak-anak, pamit dan salim dulu sama om Harri, nanti kita kemari lagi buat jenguk Naura," seru Syahila.
anak-anak pun berpamitan pada Harri, mereka meninggalkan rumah sakit, dan kembali pulang ke ruko.