Terjebak Bersama Sumpah Cinta

Terjebak Bersama Sumpah Cinta
Bab 72. Permintaan Naura.


__ADS_3

Setalah Syahila pergi Safa kaka Naura datang, dia menemani papanya menjaga Naura. Namun teriakan Naura membuat Safa dan Harri panik. Naura kembali mengamuk saat dia mencari Syahila, namun Syahila sudah tidak ada di ruangan itu.


Dokter masuk keruangan Naura, dan memeriksa keadaan Naura, Karena terus mengamuk Naura sangat terpaksa di ikat oleh tim Dokter.


"Dokter ... bagaimana adik saya?" tanya Safa, dia terus menangis, sambil memandangi adik kecilnya yang terus meronta.


"Ini kasus langka, kami perlu memeriksanya secara lebih dalam lagi. Tapi tidak ada kelainan dari semua yang ada di tubuhnya, saya rasa ini hanya ke inginan besar yang ia pendam selama ini," kata dokter.


"Apakah itu berbahaya dok jika ke inginannya tidak kami penuhi?" tanya Harri.


"Saya belum tahu pastinya, tapi jika naura mengamuk seperti ini terus menerus saya khawatir akan perkembangan mentalnya," kata dokter,


Harri terduduk lemah di lantai melihat anaknya yang terus meronta. Hatinya sangat sakit melihat anak seperti ini.


"Suster? Apa tidak di suntik lagi? Saya tidak tega melihat adik saya seperti itu," lirih Safa.


"Maaf, dia masih kecil, berbahaya kalau selalu diberi obat penenang," jawab suster.


"Papa, papa harus kuat demi kami," lirih Safa berusaha menyemangati papanya yang nampak frustrasi.


"Jika keinginan nya tidak merugikan pihak manapun, tolong penuhi keinginannya, namun jangan juga memanjakannya. Hal ini terjadi karena dia sering dimanjakan," lirih Dokter.


Setelah selesai memeriksa Naura, tim dokter pun meninggalkan ruangan Naura.


"Papa ..., dari dulu Naura hanya ingin mama, kenapa permintaan Naura sangat berat bagi papa?" tanya Safa.


"Safa, papa sudah berusaha untuk mencarikan wanita yang mau jadi mama kalian, tapi mereka akhirnya mundur," ringis Harri.


papa sudah berusaha sejauh ini sayang, tapi wanita yang papa lamar selalu mundur kata hari.


"Siapa sosok wanita yang di cari Naura pah?" tanya Safa.


"Dia Syahila, wanita yang menemukan adikmu tadi siang, sepertinya adikmu menyukainya," lirih Harri.


"Pah ..., boleh pinjam ponsel papa sebentar?" tanya Safa.


Harri memberikan ponselnya pada Safa. Setelah memegang ponsel papanya, Saffa langsung mencari kontak yang bernama Syahila, setelah dapat Safa menyalin nomer itu di ponselnya.


"Ini pah, aku sudah selesai, oh ya pah ..., aku keluar dulu ya ..., soalnya aku ada tugas kuliah," lirih Safa.


"Iya, hati-hati ya sayang,"


Safa langsung keluar dari rumah sakit, dia berjalan cepat menuju mobilnya. Setelah duduk di kursi mobil nya Safa langsung menelpon nomer Syahila.


"Hallo ...." sapa Syahila.


"Hallo tante Syahila? Ini aku Safa kakaknya Naura.


"Hai Safa, bagaimana keadaan Naura?"


"Tante ... boleh Safa ke rumah tante? Ini tentang Naura tante."


"Boleh Safa, nanti tante kirim alamat rumah tante lewat pesan ya,"


"Iya tante, selamat malam,"


"Iya, malam Safa."


Panggilan telepon berakhir.


Pesan masuk ke ponsel Safa, pesan itu dari Syahila yang mengirimkan alamat rumahnya, segera Safa melajukan mobilnya menuju alamat itu.

__ADS_1


Syahila turun ke tepi jalan menanti kedatangan Safa, Syahila membuka pagar halaman ruko, agar mobil Safa bisa langsung masuk.


Sebuah mobil memelankan lajunya, lalu berhenti tepat di hadapan Syahila.


"Tante Syahila? Aku Safa,"


"Langsung parkir kedalam aja mobilnya" seru Syahila.


Safa pun melajukan perlahan mobilnya memasuki halaman ruko. Setelah turun dari mobil Safa langsung memeluk Syahila.


"Tante ... tolong adik aku tante ...." ringis Safa, dia menangis dipelukan Syahila,


"Ayo ... kita bicaranya di dalam saja Safa," kata Syahila,


Safa dan Syahila masuk ke dalam ruko dan langsung menuju lantai dua,


"Silahkan duduk dulu Safa," kata Syahila,


Safa langsung memeluk Syahila, dan menceritakan keadaan Naura.


"Tante ..., tolong Naura tante ...." ringis Safa.


"Dengan cara apa aku menolong Naura?" tanya Syahila.


"Menikah dengan papa kami, jadilah mama buatku dan Naura," lirih Safa.


"Safa ... pernikahan itu bukan hal sepele, pernikahan itu menyatukan dua kehidupan, dan itu hal yang sangat sakral, tidak bisa untuk jadi mainan," lirih Syahila.


"Tante harapan aku saat ini, papa selalu di tolak wanita yang dia lamar, menikahlah dengan papa demi menolong Naura," ringis Safa.


"Hal pernikahan kita harus bicara juga sama sama papa kamu, sekarang kita harus membuat Naura tenang dulu, jika benar Naura membutuhkanku, maka rekamanku akan membuatnya tenang. Safa, rekam tante dengan ponselmu," pinta Syahila.


"Hai Naura sayang ..., maaf ya aunty sama Rey juga Yumna pulang saat Naura belum bangun, aunty usahakan besok jenguk Naura, dengan Syarat Naura harus nurut sama papa dan kak Safa. Naura mau main lagi nggak sama Rey dan Yumna? Kalau mau, Naura harus sehat, Naura dan Reyhan satu kelas lho nantinya, cepat sembuh sayang, aunty besok ya jenguk Naura ..., bye sayang see you Naura ...."


Syahila mengangguk, Safa pun menghentikan rekamannya.


"Semoga itu bisa membuat Naura tenang malam ini," lirih Syahila.


"Iya tante, semoga, Safa pamit pulang ya tante,"


"Iya Safa, hati-hati,"


Safa pun langsung pergi menuju rumah sakit.


Setelah Safa pergi Syahila merenung. Dia kasian pada Naura yang sangat menginginkan sosok mama, tapi ayahnya tidak mampu memberikan mama yang di inginkan Naura.


"Rumah sakit itu di mana aku bertemu Rendra dan terjebak dengan sumpah cinta kami pada ayah dan ibu, sekarang ..., apa aku akan terjebak lagi dalam ikatan pernikahan karena kasian dengan anak kecil itu?" lirih Syahila.


Syahila pergi ke kamar nya, pikirannya kacau, lebih baik dia tidur, semoga besok hari dia bisa menentukan jawaban pikirnya.


Di rumah sakit.


Tengah malam Naura kembali mengamuk.


"Aku ingin mama, aku mau mama, aku mau aunty Sya jadi mama aku ...." teriak Naura.


Harri dan Safa panik, Safa langsung mengambil ponselnya, dan memutar rekaman video Syahila. Seketika Naura tenang dan berhenti menangis.


"Tuh ..., apa kata aunty, besok aunty kesini, jadi Naura bobo dulu ya sayang," lirih Safa.


Naura mengangguk, dia pun memejamkan matanya. Safa sangat lega. Sedang Harri menatap tajam Safa.

__ADS_1


"Dari mana kamu mendapat video itu? Kamu belum bertemu dengan Syahila," seru Harri.


"Aku menyalin nomer ponsel tante Syahila dari ponsel papa, aku telepon dia, dan aku datang kerumahnya," jawab Safa.


"Aku memintanya untuk jadi mama, tapi dia bilang harus bicara serius tentang masalah ini," lirih Safa.


"Kita tidur dulu, selanjutnya kita lihat besok," seru Harri.


****


Naura terlihat sangat sehat, selang infus pun sudah tidak terpasang lagi, dia sangat riang menunggu kedatangan Syahila.


Syahila datang bersama Reyhan dan Yumna.


"Aunty ...." teriak Safa berlari menuju Syahila. Syahila pun membuka kedua tangannya menyambut Naura.


"Aunty senang Naura sehat, jangan sakit lagi ya sayang, kita semua sedih kalau Naura sakit," lirih Syahila.


Syahila bermain bersama Naura, Safa, Reyhan dan Yumna. Harri memandangi mereka semua.


"Papa aku enggak mau pulang ke rumah papa, aku mau pulang sama aunty," lirih Naura.


Harri dan syahila saling pandang.


"Sya ..., boleh kita bicara?" tanya Harri. Syahila mengangguk.


"Safa, jaga adik-adik ya, papa mau bicara sama aunty Sya dulu," lirih Harri.


Safa mengacungkan jempol nya dan tersenyum. Harri dan Syahila langsung pergi dari ruang perawatan Naura, mereka berdua menuju kantin rumah sakit dan duduk di salah satu sudut kantin itu.


"Pesan makanan dulu Sya," seru Harri.


"Saya pesan minum saja," jawab Syahila.


Harri memesan pesanan mereka.


"Sya ..., apa kamu bersedia menolong Naura? Maksud aku, apa kamu bersedia menikah dengan ku dan jadi mama buat Naura?"


"Saya bingung, izinkan saya berpikir dulu," jawab Syahila.


"Iya, kamu harus berpikir keras Sya, secara kamu sudah tahu apa resekonya jika menikah denganku, selain aku tidak bisa memenuhi nafkah batin sebagai suami, aku juga tidak bisa mencintaimu, karena aku masih sangat mencintai ibu Naura," lirih Harri.


"Bagaimana kalau izinkan saja, Naura tinggal bersama kami? Setidaknya kita bisa berpikir santai jika Naura tenang," seru Syahila.


"Baik, tapi kamu harus menerima 2 pembantu yang akan membantu kamu," seru Harri.


"Deal!" lirih Syahila, Harri tersenyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Harri.


"Deal!" jawab Harri, sambil menyambut uluran tangan Syahila.


Pesanan mereka datang, Syahila dan Harri pun menikmati pesanan mereka. Setelah selesai mereka kembali ke ruangan Naura.


"Mommy ...." teriak Yumna menyambut Syahila.


"Mommy ..., Kak Safa bilang kita ini keluarga, karena papa Naura akan jadi papa kami, dan mommy juga jadi mama kak Safa dan kak Naura." lirih Yumna.


"Belum tentu sayang ..., tapi Kak Naura akan tinggal di rumah kita sayang," seru Syahila.


"Asyiik!!!" teriak Yumna dan Safa bersamaan.


Setelah Harri mengurus semua biaya rumah sakit, Naura ikut Syahila, dan akan tinggal di rumah Syahila. Sedang Safa mengambilkan keperluan Naura sekaligus mengantar 2 pembantu yang akan membantu Syahila merawat adik kecilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2